Rekap Sinopsis The Legend Of The Blue Sea Episode 9 & Preview Episode 10 (14 Desember 2016)

Di sinopsis The Legend Of The Blue Sea episode sebelumnya, kepergian Yoo Jung-Hoon (Cho Jung-Seok) karena gagal mendapatkan cinta sejatinya membuat Sim Chung (Jun Ji-Hyun) menjadi gundah. Ia pun memutuskan untuk pergi meninggalkan Heo Joon-Jae (Lee Min-Ho) dan kembali ke laut. Tanpa disangka, Joon-Jae memintanya agar jangan pergi karena ia punya rencana untuk menyukainya suatu saat nanti. Apa yang kira-kira akan terjadi selanjutnya di sinopsis drama Korea Remember the Blue Sea episode 9 kali ini?

Dok. gambar dan video © SBS of Korea Selatan

Sinopsis Episode 9

Joon-Jae mengajak Sim Chung untuk pulang, namun tiba-tiba tulang rusuknya terasa sakit dan ia tak sadarkan diri. Di alam bawah sadarnya, Joon-Jae berjalan dalam sebuah ruangan yang gelap dan bertemu dengan Dam Ryung (Lee Min-Ho). Mereka saling berhadapan.

“Aku adalah Dam Ryung,” ujar Dam Ryung, “Jika kamu adalah aku di kehidupan yang selanjutnya, ingatkan kata-kata ini setelah kamu terbangun dari mimpimu. Segalanya berulang. Takdir di dunia ini berlanjut di duniamu. Begitu pula takdir buruk. Lindungi wanita itu dari orang-orang berbahaya.”

Sesaat kemudian Joon-Jae terbangun. Sudah ada petugas medis di sana. Sim Chung yang sedari tadi khawatir langsung memeluknya lega dengan mata berkaca-kaca.

Dalam perjalanan pulang, Sim Chung menceritakan bahwa Jung-Hoon sudah pergi jauh. Joon-Jae pun jadi tahu bahwa Jung-Hoon bukanlah pria yang dimaksud oleh Sim Chung beberapa waktu lalu. Joon-Jae lantas mengajak Sim Chung untuk bermain UFO Catcher di mesin yang ada tidak jauh dari tempat mereka berada. Setelah memilih boneka gurita, Sim Chung mencoba untuk mengambilnya, dan gagal. Joon-Jae memberitahunya bahwa seperti itulah hidup. Saat kita menginginkan sesuatu, belum tentu kita berhasil mendapatkannya. Di saat seperti itu, yang perlu kita lakukan adalah mencoba lagi dan lagi hingga kita berhasil mendapatkan yang kita mau. Ia pun berharap Sim Chung melakukan hal yang sama, tidak mudah menyerah dan memutuskan untuk pergi setiap kali ia mengalami kegagalan.

Alhasil, Sim Chung terus mencoba mengambil boneka tersebut hingga akhirnya Joon-Jae bosan sendiri menunggu dan memintanya untuk berhenti, dengan dalih mesinnya sudah dicurangi dan capitannya tidak terlalu kuat.

“Jadi kita menyerah?” tanya Sim Chung.

“Tidak. Ini bukanlah menyerah, ini berhenti sejenak,” jelas Joon-Jae.

“Hingga saat berikutnya?” tanya Sim Chung lagi.

“Tentu saja,” jawab Joon-Jae.

Tiba di rumah, Jo Nam-Doo (Lee Hee-Joon) menanyakan kondisi Joon-Jae dan siapa kira-kira pelakunya. Kebetulan berita di TV memuat tentang Ma Dae-Young (Sung Dong-Il). Begitu melihatnya, Joon-Jae langsung mengenalinya sebagai orang yang sudah menyerangnya. Sim Chung menimpali bahwa orang tersebut kemarin (pada saat terakhir menemuinya) tidak menggunakan topi. Begitu tahu Dae-Young juga membuntuti Sim Chung, Nam-Doo jadi panik sekaligus heran, sementara Joon-Jae memarahi Sim Chung karena tidak menceritakan hal tersebut kepadanya. Yang lain langsung terdiam melihat respon Joon-Jae seperti itu.

“Chung mungkin saja tidak tahu. Kamu juga baru mengetahuinya. Kenapa kamu menyalahkannya?” bela Nam-Doo.

Meski tidak berkata apa-apa seperti biasanya, Tae-O (Shin Won-Ho) menatap tajam ke arah Joon-Jae, sebagai tanda ketidaksetujuannya terhadap respon Joon-Jae barusan. Tanpa menjawab, Joon-Jae pergi meninggalkan mereka.

Joon-Jae mempertanyakan kenapa Dae-Young bisa-bisanya mengikuti Sim Chung. Saat itulah ia baru teringat perkataan Dam Ryung di mimpinya. Ia pun menceritakan hal tersebut pada Nam-Doo, tentang dirinya yang bermimpi tinggal di masa Joseon dan mengenakan gelang giok seperti yang ia miliki sekarang. Walau begitu, Joon-Jae merasa bahwa itu bukanlah masa lalunya, melainkan dunia pararel. Tentu saja Nam-Doo tidak mempercayainya sama sekali dan menganggapnya hanya bunga tidur.

“Hei, sudah sewajarnya mengalami mimpi aneh sebelum proyek besar. Itu pasti pertanda bahwa Proyek Ahn Jin Joo kita bakalan sukses besar,” ujar Nam-Doo.

Ahn Jin-Joo (Moon So-Ri) sedang asyik menelpon temannya saat suaminya masuk ke kamar dan memberitahunya bahwa ia belum berhasil mengajak Heo Gil-Joong (Choi Jung-Woo) untuk makan malam bersama dengan alasan sedang sibuk. Jin-Joo memintanya untuk terus berusaha karena mereka butuh pedekate dengannya agar kecipratan proyek investasi, sedangkan Jin-Joo sendiri sudah mengumpulkan banyak uang ‘haram’ yang harus segera diinvestasikan agar tidak keburu ketahuan.

Dae-Young mendatangi rumah Kang Seo-Hee (Hwang Shin-Hye) dengan menyamar sebagai tukang pos. Tujuannya adalah untuk meminta uang tambahan. Seo-Hee memintanya untuk segera menindak Joon-Jae karena Gil-Joong sudah berencana untuk melegalisir surat wasiatnya. Beberapa saat kemudian Heo Chi-Hyun (Lee Ji-Hoon) tiba. Seo-Hee pun meminta Dae-Young untuk lekas pergi.

Masuk ke dalam rumah, Chi-Hyun mengatakan pada ibunya bahwa ia tidak sengaja bertemu dengan Joon-Jae. Seo-Hee berusaha untuk cuek dan meminta Chi-Hyun agar tidak usah memberitahu ayahnya karena akhir-akhir ini ia sedang stress. Chi-Hyun sendiri jadi agak curiga karena ibunya sama sekali tidak mempertanyakan apakah Chi-Hyun tahu tempat tinggal Joon-Jae sekarang. Seo-Hee berdalih bahwa Joon-Jae menyebabkan luka besar di hatinya dan juga Gil-Joong, sehingga akan aneh apabila ia tiba-tiba tertarik mendengar kabar Joon-Jae sementara ayahnya sendiri tidak begitu.

“Ibu, bagaimana jika ayah tidak bisa menunjukkan emosinya karena keberadaan kita berdua?” tanya Chi-Hyun.

“Aku juga menyesal bahwa hubungan mereka menjadi kacau, tapi aku tidak yakin jika aku ingin ia kembali,” jawab Seo-Hee, “Tidakkah kamu suka keadaan seperti yang sekarang ini? Apakah kamu berpikir kita akan menjaga keadaan seperti ini di saat Joon-Jae kembali?”

Chi-Hyun menegaskan bahwa ia hanya ingin melindungi ibunya. Namun Seo-Hee memberitahunya bahwa itu adalah tugasnya untuk melindungi Chi-Hyun.

Hari berganti. Chi-Hyun mencoba menghubungi satu per satu nomer yang ada di log panggilan sekretaris Nam Seong Joon. Salah satunya ternyata adalah nomer milik Joon-Jae, yang saat itu sedang membahas strategi Proyek Ahn Jin-Joo bersama dengan Nam-Doo dan Tae-O. Mendengar suaranya, Chi-Hyun langsung tahu itu adalah Joon-Jae. Ia pun memberitahunya bahwa sekretaris Nam sedang terluka parah dan nomer Joon-Jae adalah nomer terakhir yang dihubunginya.

Setelah berganti pakaian, Joon-Jae hendak menuju ke rumah sakit. Ia kemudian menanyakan keberadaan Sim Chung, yang dijawab Nam-Doo bahwa ia sudah pergi. Joon-Jae jadi kesal kepadanya karena khawatir akan terjadi apa-apa dengannya. Ia lantas mengecek melalui aplikasi GPS dan mendapati Sim Chung ada di daerah Gangnam seperti sebelumnya.

Sim Chung menemui temannya si gelandangan dan curhat mengenai kondisinya. Ia meminta saran agar pria yang ia sukai bisa jatuh cinta kepadanya.

“Ada 3 tahapan cinta,” jelas si gelandangan, “Tahap pertama adalah cinta romantis (romantic love), yang kedua cinta panas (hot love), yang ketiga adalah cinta kotor (dirty love). Dirty love dimiliki oleh yang sudah ahli saja. Kalau aku, aku akan langsung menuju ke yang kotor, tapi untuk kasusmu, kamu sebaiknya mulai dari yang romantis.”

Sim Chung lantas menanyakan bagaimana melakukan yang romantis tadi. Kawannya mencoba memberi contoh, mulai dari minum teh bersama hingga saling memanggil dengan nama julukan. Ia menyarankan untuk menghindari nama binatang, karena akan berujung tidak baik seperti hubungannya dahulu.

“Putri duyung?” tanya Sim Chung.

“Putri duyung apa? Kamu butuh sesuatu yang ada di dunia ini,” respon temannya.

“Di dunia ini tidak ada putri duyung?”

“Kenapa kamu berbicara seperti Hans Christian Andersen bangkit dari kematian? Jadi haruskah itu ada?”

Tiba-tiba Joon-Jae datang dan langsung terkejut melihat Sim Chung sedang bersama seorang gelandangan. Ia pun segera mengajak Sim Chung untuk ikut dengannya, sembari mempertanyakan kenapa ia berteman dengan pengemis seperti itu. Teman Sim Chung jadi kesal karena ia bukanlah pengemis, hanya gelandangan saja.

Joon-Jae menjenguk sekretaris Nam yang masih belum sadarkan diri di rumah sakit. Seperti halnya Chi-Hyun, Joon-Jae juga yakin sekretaris Nam tidak suka mabuk-mabukan. Ia pun menanyakan tentang rekaman blackbox, yang menurut istri sekretaris Nam sudah tidak ada saat sekretaris Nam ditemukan.

Sementara itu, Gil-Joong menemui dokter untuk memeriksakan kondisi matanya. Dokter memberitahunya bahwa ada kemungkinan ia terkena katarak, dan jika benar itu terjadi, maka satu-satunya jalan adalah transplantasi mata.

Di ruang tunggu, Chi-Hyun menghampiri Sim Chung yang sedang menunggu Joon-Jae. Dengan segera Sim Chung memberitahunya bahwa ia tidak akan putus dengan Joon-Jae. Chi-Hyun tertawa mendengarnya.

“Tapi kalian berdua pastilah dekat. Apakah kalian hendak menikah?” tanya Chi-Hyun.

“Untuk saat ini, kami masih merencanakan,” jawab Sim Chung.

Chi-Hyun kemudian terdiam dan melamun. Sim Chung lantas menanyakan apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dengan Joon-Jae. Belum sempat Chi-Hyun menjawab, Gil-Joong datang. Di saat yang hampir bersamaan, Joon-Jae keluar dari ruangan sekretaris Nam. Ia langsung berhenti begitu melihat ayahnya ada di hadapannya.

Gil-Joong dan Joon-Jae duduk bersama. Masing-masing mengingat kembali masa lalu mereka. Gil-Joong menanyakan kabar Joon-Jae sekarang setelah ia pergi dari rumah. Dengan tegas Joon-Jae menjawab bahwa hidupnya kini jauh lebih baik dan ia tidak pernah pergi dari rumah, hanya pergi dari sisi ayahnya saja. Gil-Joong tidak terima dan menyatakan bahwa bagaimanapun ia masih lebih memikirkan tentang Joon-Jae, anaknya sendiri, ketimbang Chi-Hyun.

“Kamu anakku, itu sebabnya aku sengaja…”

“Kamu menyerah,” potong Joon-Jae, “Pada ibuku dan aku. Dan pada masa dimana kita masih bersama, kamu membuang semua itu. Tanpa menoleh ke belakang. Karena kamu sudah menyerah untuk sesuatu yang lain, jangan menahan sesuatu yang sudah kamu lepaskan dan lupakan saja.”

“Kamu akan tahu di saat kamu hidup, hidup tidak selalu berjalan seperti yang kamu inginkan. Aku sekarang sudah tua dan sudah waktunya untuk menyelesaikan warisan. Jadi, kamu sebaiknya pulang ke rumah,” ujar Gil-Joong.

Joon-Jae menolak.

“Aku tidak mau menerima apapun darimu. Aku tidak mau terlibat denganmu. Aku tidak mau bertemu denganmu lagi,” tegas Joon-Jae. “Tapi.. tetaplah sehat.”

Joon-Jae berdiri dan memberi hormat pada ayahnya sebelum ia melangkah pergi. Gil-Joong berdiri dan hendak menyusulnya, namun matanya mendadak kabur sehingga ia terpaksa duduk kembali.

Dalam perjalanan pulang bersama Sim Chung, Joon-Jae hanya terdiam. Matanya terlihat berkaca-kaca. Setibanya di rumah, ia meminum sebutir obat.

“Kamu juga bisa pergi jika kamu mau,” ucap Joon-Jae pada Sim Chung tiba-tiba. “Ketika aku bilang kepadamu, ‘jangan menyerah pada apa yang sudah kamu pilih’, itu semua omong kosong. Adakah hal semacam itu? Aku juga.. merasa lega dan baik pada saat kamu tidak berada di sini.”

Joon-Jae meninggalkan Sim Chung yang hanya terdiam, masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Beberapa waktu kemudian, saat terbangun, sudah ada kompres di dahinya, serta Sim Chung di sampingnya. Ia pun meminta Sim Chung untuk segera naik ke loteng.

“Kamu berkata seperti itu, tapi yang kamu inginkan adalah aku tetap berada di sampingmu, bukan?” tanya Sim Chung lirih, “Tidak peduli berapa kali kamu menyuruhku untuk menyerah, ‘tidak, aku tidak ingin, aku tidak akan menyerah’, itu yang kamu ingin aku katakan, bukan? Tidak, aku tidak ingin, aku tidak akan menyerah. Tidak peduli apa yang kamu katakan, aku akan tetap di sampingmu tanpa menyerah, jadi jangan marah karena tidak bisa mengungkapkan apa yang kamu inginkan dan katakanlah saja.”

Joon-Jae menghela nafas. Sambil menangis, ia lalu menceritakan banyak hal yang sebelumnya tidak bisa ia katakan pada ayahnya.

“Seberapa besar aku merindukannya. Aku sangat merindukannya,” ujar Joon-Jae.

Tanpa berkata apa-apa Sim Chung memeluk Joon-Jae dan membiarkannya menangis di pelukannya.

“Apa kamu sudah baikan?” tanya Sim Chung.

Joon-Jae mengiyakan, lantas dengan malu-malu memberitahunya bahwa ia tadi hanya sedikit meneteskan air mata. Itu pun karena tadi sebelum tidur ia meminum obat. Ia meminta agar Sim Chung tidak menceritakan kejadian barusan pada Nam-Doo maupun Tae-O. Sim Chung berjanji akan melupakannya.

“Mulai dari sekarang, kamu bisa menceritakan apapun yang kamu inginkan, apa yang tidak bisa kamu ceritakan pada orang lain,” ujar Sim Chung. “Aku akan mendengarkan semuanya dan melupakannya.”

Sim Chung hendak naik ke loteng, namun Joon-Jae mencegahnya.

“Sungguh, kamu akan melupakannya?” tanya Joon-Jae.

Sim Chung mengangguk.

“Kalau begitu, akankah kamu melupakan ini juga?” tanya Joon-Jae sembari mencium bibir Sim Chung.

Joon-Jae memasak spaghetti dengan penuh suka cita. Nam-Doo datang dan mengatakan bahwa ia lebih suka nasi, sementara yang suka mie adalah Sim Chung. Dengan sambil lalu Joon-Jae mengatakan bahwa ia memasak itu untuk dirinya sendiri. Tak lama setelah masakannya usai, Sim Chung muncul dengan manisnya karena usai berdandan. Nam-Doo terang-terangan memujinya sementara Tae-O tiba-tiba muncul dan memotretnya. Dengan kesal Joon-Jae mengambil ponsel Tae-O dan menghapus foto Sim Chung, beralasan bahwa Tae-O seharusnya melakukan itu dengan meminta ijin terlebih dahulu.

Setelah mengembalikan ponsel Tae-O dan mempersilahkan Sim Chung untuk makan, Joon-Jae masuk ke kamarnya dan mengintip Sim Chung dari balik tirai. Ia sedikit kesal karena Sim Chung terlihat biasa saja, sedang ia agak salting gegara kejadian sebelumnya. Joon-Jae lantas mengambil ponselnya dan tersenyum-senyum sendiri menatap foto Sim Chung, yang sempat ia kirimkan dari ponsel Tae-O sebelumnya ia tadi menghapusnya.

Cha Si-Ah (Shin Hye-Sun) datang menemui Joon-Jae. Sim Chung yang penasaran mencoba menguping, tapi Si-Ah mengajak Joon-Jae masuk ke ruang kolam renang dan menutup pintunya, sehingga Sim Chung tidak lagi bisa mengintip. Di dalam, Si-Ah menunjukkan hasil penemuan bekas rumah keluarga Kim Dam Ryung di era Joseon pada sebuah area bekas apartemen.

Era Joseon. Dam Ryung tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Ia bermimpi tentang Joon-Jae yang baru saja menerima informasi tentang rumah keluarganya dari Si-Ah. Ia pun mencari cara agar orang yang ada di mimpinya itu (Joon-Jae) menyadari keberadaannya. Raut muka Dam Ryung mendadak berubah, sepertinya ia mendapatkan suatu ide.

Di masa sekarang. Gil-Joong memberitahu Seo-Hee bahwa ia mungkin akan mengalami katarak. Seo-Hee kemudian menanyakan apakah perlu untuk mencari pengganti sekretaris Nam. Gil-Joong meminta Seo-Hee untuk menunggu terlebih dahulu karena yakin sebentar lagi sekretaris Nam akan siuman dan sembuh.

Proyek Ahn Jin-Joo dimulai. Setelah pura-pura berkenalan dengan Jin-Joo di salon anjing langganannya, Nam-Doo menyewa seseorang untuk menyebar gosip di kelompok sosialita yang diikuti Jin-Joo, mengenai seorang pria kaya raya bernama Kim Jae yang sedang berkunjung ke Seoul di tengah-tengah kesibukannya untuk menemui tunangannya. Meski tidak diketahui siapa tunangannya, tapi gosip yang beredar adalah mereka biasa memborong belanjaan di mall Gangnam setiap harinya.

Langkah berikutnya adalah mencari orang yang memerankan tunangan Kim Jae. Awalnya Tae-O yang diminta untuk menyamar sebagai wanita, tapi melihat Tae-O yang jadi terlihat aneh saat mengenakan wig, Nam-Doo memutuskan untuk menggantinya dengan Sim Chung. Meski sempat enggan, Joon-Jae akhirnya menyetujui. Sim Chung pun tidak keberatan karena mengira ia melakukan itu untuk membantu mereka bertiga membuat film drama korea.

Dengan bergaya bak sosialita, Sim Chung menemani Joon-Jae melakukan aksinya, memborong belanjaan di mall, dengan ditemani oleh Nam-Doo. Jin-Joo melihat keberadaan mereka dan setelah mengingat kembali tentang gosip pria kaya dari Dubai, ia memanggil Nam-Doo dan mengkonfirmasi gosip tersebut. Ia juga meminta Nam-Doo untuk mengatur acara makan bersama dengan mereka. Sebagai bagian dari rencana mereka, Nam-Doo menjawab bahwa Kim Jae sudah lama tidak pulang ke Korea dan ingin makan masakan rumahan Korea. Teringat Mo Yoo-Ran (Na Young-Hee), asisten rumah tangganya yang jago masak, dengan segera Jin-Joo menyanggupi.

Di rumahnya, dengan gembira Jin-Joo menceritakan hal itu pada suaminya. Si-Ah mengingatkan bahwa bisa saja orang itu adalah penipu, tapi Jin-Joo dan suaminya tidak bergeming dan meminta Si-Ah untuk ikut saja makan bersama mereka nanti untuk melihat apakah benar orang yang dimaksud penipu atau bukan. Si-Ah menyetujuinya.

Di dalam perjalanan, Nam-Doo memuji Sim Chung yang sudah berakting dengan baik. Sim Chung menjawab bahwa ia senang bisa membantu Joon-Jae melakukan perbuatan baik. Yang lain langsung terdiam.

“Tapi Heo Joon-Jae, kamu tahu? Orang yang bertanggung jawab atas mesin pencapit boneka, dia itu penipu,” lanjut Sim Chung.

Sim Chung ternyata diam-diam terus mencoba mengambil boneka di mesin itu tapi selalu gagal. Ia kemudian bertanya pada orang-orang di sekitar tempat itu, dan mereka mengatakan bahwa pemilik mesin itu adalah penipu. Nam-Doo dan Joon-Jae tertawa hambar mendengarnya, mengingat mereka juga penipu.

“Tapi penipu tidak selalu orang jahat,” bela Nam-Doo. “Terkadang, ada orang brengsek yang menipu orang yang lebih brengsek.”

“Tetap saja, mereka menipu orang,” balas Sim Chung.

Bingung harus menjawab apa, Nam-Doo bertanya, “Chung, kamu tidak pernah melakukan itu? Sama sekali tidak pernah berbohong? Kamu tidak punya rahasia yang tidak kamu ceritakan? Aku merasa kamu punya.”

“Hentikan. Kenapa kamu menyudutkannya seperti itu,” sergah Joon-Jae.

Nam-Doo jadi makin curiga di antara Joon-Jae dan Sim Chung ada hubungan spesial karena Joon-Jae terus-terusan membela Sim Chung. Tidak tahu lagi harus berkata apa, Joon-Jae meminta Nam-Doo untuk konsen menyetir saja. Sesaat kemudian ponsel Joon-Jae berbunyi. Si-Ah yang menghubunginya, mengatakan ada sesuatu yang hendak ia tunjukkan pada Joon-Jae.

Bertemu di museum, Si-Ah memberitahu Joon-Jae bahwa apa yang barusan diketemukan, yang ia sendiri belum melihatnya, tersimpan dalam sebuah kotak yang terkubur dalam tanah, seperti seolah sengaja disimpan di sana agar diketemukan di masa depan. Joon-Jae jadi penasaran mendengarnya. Saat hendak memasuki ruangan eksibit penyimpanan sementara tempat obyek tersebut dipajang, Joon-Jae meminta agar ia masuk terlebih dahulu dan Si-Ah menunggunya di luar ruangan. Meski heran, Si-Ah mempersilahkannya.

Joon-Jae memasuki ruangan dan di salah satu sisi ia melihat sebuah lukisan terpajang di tembok. Petir tiba-tiba menyambar dan listrik mendadak mati. Perlahan Joon-Jae mendekati lukisan tersebut. Saat berdiri di hadapannya, ia menyalakan pemantik apinya dan langsung terkejut begitu mengetahui bahwa lukisan itu adalah lukisan sosok Dam Ryung.

Epilog. Era Joseon. Untuk membuat Joon-Jae percaya akan eksistensinya, Dam Ryung memerintahkan seorang pelukis untuk membuat lukisan dirinya.

Preview Episode 10

Berikut ini adalah preview eps 10 dari drakor Legend Blue Sea:

» Sinopsis Episode 10 Selengkapnya

Tema artikel yang berhubungan: , , ,

Reply