Rekap Sinopsis The Legend Of The Blue Sea Episode 20 *TAMAT* (25 Januari 2017)

Di rekap sinopsis The Legend Of The Blue Sea (TLOTBS) episode sebelumnya, tembakan Heo Chi-Hyun (Lee Ji-Hoon) tepat mengenai tubuh Sim Chung (Jun Ji-Hyun). Dihantui oleh depresi dengan semua yang terjadi, Chi-Hyun memilih untuk bunuh diri. Sim Chung sendiri juga selamat berkat daya tahan tubuhnya yang kuat, meski peluru sebenarnya sudah menembus jantungnya. Namun semenjak kejadian tersebut jantungnya sering terasa sakit. Heo Joon-Jae (Lee Min-Ho) yang mengetahuinya akhirnya mengikhlaskan Sim Chung untuk kembali ke laut dan mempersilahkan ia mengambil keputusan, apakah hendak pergi begitu saja atau sekaligus menghapus ingatannya. Apa yang kira-kira akan terjadi selanjutnya di sinopsis drama Korea Remember the Blue Sea episode 20 alias episode terakhir (END) kali ini?

Dok. gambar dan video © SBS of Korea Selatan

Sinopsis Episode 20

[Tulisan yang dicetak miring berikut ini adalah suara hati Sim Chung]

Sim Chung meninggalkan rumah Joon-Jae. Di saat bersamaan, Jo Nam-Doo (Lee Hee-Joon), Tae-O (Shin Won-Ho), dan Mo Yoo-Ran (Na Young-Hee) tiba. Sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman, Sim Chung berterimakasih kepada mereka dan berpamitan pergi untuk sementara waktu.

Sebagai penyayang binatang, Cha Si-A (Shin Hye-Sun) mengomeli iparnya, Ahn Jin-Joo (Moon So-Ri), yang mengenakan mantel bulu cerpelai. Jin-Joo tidak terima karena mantal yang digunakan Si-A sendiri terbuat dari bulu bebek.

Keluar dari pagar, tiba-tiba sudah ada Sim Chung di sana. Sama seperti sebelumnya, Sim Chung berpamitan sembari mengulurkan tangannya.

Yang ditemui Sim Chung selanjutnya adalah Yoo-Na (Shin Rin-Ah). Anehnya, Sim Chung tidak berhasil ingatan Yoo-Na. Tanpa disangka, Yoo-Na kemudian menceritakan mimpinya, dimana ia (leluhurnya) adalah anak dari pasangan seorang nelayan dan putri duyung. Dalam mimpi tersebut ia juga sempat bertemu dengan putri duyung Sim Chung. Sim Chung pun sedikit lega mengetahui bahwa dongeng yang sebelumnya diceritakan oleh Yoo-Ran kepadanya ternyata sungguh terjadi.

Sim Chung berdiri di pinggir pantai seraya menatap ke arah laut.

Ia bilang memiliki memori adalah cara untuk kembali. Kisah kita yang mana hanya aku yang bisa mengingatnya di dunia ini. Jadi agar (kisah) itu tidak akan menyedihkan dan tidak akan menghilang, aku akan melindunginya. Aku akan menyimpannya. Dan aku akan kembali.

Usai mengatakan hal itu, Sim Chung pun kembali ke dunianya, sebagai putri duyung.

Joon-Jae terbangun dan mendapati sebutir mutiara merah muda di samping tempat tidurnya. Ia terlihat kebingungan melihat mutiara tersebut.

Tiga tahun berlalu. Nam-Doo dan Tae-O masih saja tinggal di rumah Joon-Jae. Joon-Jae meminta mereka untuk pindah, tapi Yoo-Ran membela mereka dan mempersilahkan mereka berdua tetap tinggal hingga mereka menikah.

Saat sedang sarapan, Nam-Doo menanyakan kenapa sampai sekarang mereka masih saja mengosongkan satu kursi di meja makan sampai ia merasa ada seseorang yang memang berhak duduk di situ. Joon-Jae hanya menjawab itu sudah jadi kebiasaan tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Tak lama Joon-Jae tiba di sebuah kantor kejaksaan. Ternyata hari itu ia mulai bekerja magang di sana. Sementara itu, di rumahnya, Jin-Joo memberitahu rekan-rekan sosialitanya bahwa Joon-Jae telah memberikan semua bagian harta warisannya pada Yoo-Ran, sedang Yoo-Ran sendiri menyumbangkan sebagian di antaranya untuk mendirikan rumah singgah dan sekolah bagi anak jalanan. Jin-Joo menambahkan bahwa Yoo-Ran sudah membantunya untuk berinvestasi, sesuatu yang selama ini ia inginkan.

Kembali ke kantor kejaksaan, karena sudah waktunya istirahat, Joon-Jae mempersilahkan kedua seniornya untuk makan siang. Mereka menolak dan meminta untuk bergantian dengan dia saja.

“Anak magang, apa menurutmu hal terpenting dalam menjadi seorang jaksa?” tanya salah satu seniornya.

“Tidak lain dan tidak bukan adalah rasa keadilan?” jawab Joon-Jae.

“Itu juga penting. Itu penting, tapi ada sesuatu yang lebih penting dari itu. Jangan pernah meninggalkan kantor,” respon seniornya.

Joon-Jae lalu ingat bahwa saat melakukan scam tiga tahun lalu di tempat itu, seniornya tersebut menempati ruangan yang sama dan di saat itu ia sedang keluar untuk makan siang. Joo-Jae pun berpura-pura tidak tahu apa-apa dan ikut kesal dengan ulah penipu yang berani-beraninya masuk ke kantor kejaksaan. Ia bahkan berjanji akan menangkap mereka dengan tangannya sendiri.

Beberapa waktu kemudian Joon-Jae dan seniornya menghadapi seorang calon klien. Setelah membaca berkas-berkasnya, Joon-Jae langsung tahu bahwa orang tersebut berbohong dan mengajukan kasus fiktif. Senior Joon-Jae jadi heran melihat aksi Joon-Jae. Saat pulang kantor, ia sempat sedikit curiga karena merasa Joon-Jae mengetahui banyak tentang kasus barusan. Joon-Jae berdalih ia hanya sempat tidak sengaja mencuri dengar saja.

Di pintu kantor sudah ada detektif Hong Dong-Pyo (Park Hae-Soo), datang menjemput Joon-Jae. Sambil makan, detektif Hong yang sudah lama tidak bertemu Joon-Jae menyatakan rasa leganya karena Joon-Jae kini sudah kembali ke jalan yang benar.

Sementara itu, di suatu tempat, Nam-Doo ternyata kini menjadi seorang pengajar. Sepertinya di sebuah sekolah hukum. Dengan kemampuan berbicaranya, semua muridnya suka dengan cara mengajarnya.

Usai mengajar, Nam-Doo bergabung dengan Joon-Jae dan detektif Hong. Ia memberitahu detektif Hong bahwa ia sedikit heran dengan keputusan Joon-Jae untuk menjadi jaksa penuntut. Detektif Hong pede bahwa itu disebabkan karena Joon-Jae bertemu orang baik seperti dirinya, sehingga ia jadi ingin bertobat. Joon-Jae membantahnya.

“Well, anggaplah ada faktor pemicunya, tapi aku tidak bisa mengingatnya dengan baik,” ujar Joon-Jae.

Mendengar hal itu, keduanya memutuskan untuk tidak lagi membahasnya dan melanjutkan minum-minum.

Acara kumpul-kumpul ketiganya berlanjut di rumah Joon-Jae. Kali ini Tae-O juga sudah bergabung. Ia kini menjadi white hacker yang bekerja dengan mencari / menguji celah keamanan sistem perusahaan, lalu menguatkannya. Meski tidak paham dengan hal itu, detektif Hong mengingatkan Tae-O agar jangan bertingkah macam-macam. Tae-O sendiri entah kenapa kini menjadi kleptomania dan suka mencuri barang-barang kecil, termasuk ponsel milik Nam-Doo dan borgol milik detektif hong.

Detektif Hong kemudian berpamitan untuk pulang. Joon-Jae yang sudah mulai mabuk mencegahnya dan memerintahkan agar tidak seorang pun pergi meninggalkan tempat hingga esok hari. Sesaat kemudian ia mulai kehilangan kesadarannya.

“Aku merindukannya,” ujar Joon-Jae sembari meratap.

Nam-Doo lalu memberitahu detektif Hong yang keheranan dengan ulah Joon-Jae bahwa kini Joon-Jae selalu bertingkah seperti itu apabila ia mabuk, tidak memperbolehkan orang pergi dan berulang kali mengatakan hal semacam itu sambil menangis. Nam-Doo menambahkan, setelah itu biasanya Joon-Jae akan mengunci diri di kamarnya, lalu pergi ke laut.

Sim Chung akhirnya kembali ke darat. Dengan menumpang bus tour, ia tiba di Seoul. Hal pertama yang ia lakukan adalah menjual mutiara-mutiara yang ia bawa ke toko perhiasan. Setelah itu tanpa sengaja ia bertemu dengan seorang putri duyung yang masih remaja. Sambil makan di restoran ikan, begitu tahu putri duyung ABG itu naik ke darat untuk mengejar pria yang belum ia kenal, Sim Chung jadi kesal dan memberitahunya perihal jantung mereka yang akan mengeras apabila tidak mendapat balasan cinta dalam jangka waktu tertentu. Ia pun menyarankan agar si putri duyung ABG itu kembali saja ke laut setelah menghabiskan makannya.

“Namun demikian, apakah kamu sudah bertemu pria semacam itu?” tanya si putri duyung ABG.

“Tentu saja,” jawab Sim Chung, “Aku sudah menemukannya. Aku bertemu pria bodoh yang sangat tampan yang hanya mencintaiku. Dengan begitu, jantungku berdetak dengan baik.”

“Kalau begitu,” tanya si ABG lagi, “kenapa kamu kembali ke laut?”

“Tidak peduli seberapa bagus jantungku berdetak, itu tidak ada artinya di hadapan pistol.”

Dan itulah ternyata alasan utama Sim Chung kembali ke laut, untuk menyembuhkan jantungnya. Butuh waktu tiga tahun baginya untuk bisa sembuh total.

“Memangnya apa alasanmu hingga bisa tertembak?” tanya si duyung ABG heran.

“Aku ingin melindungi pria itu. Jadi aku menyelamatkannya. Aku tidak menyesalinya,” jawab Sim Chung.

Sim Chung tiba di depan rumah Joon-Jae. Ia membunyikan bel dan Nam-Doo yang membukakan pintu. Mengira Sim Chung adalah gadis yang sedang ditipu oleh Joon-Jae seperti yang dulu-dulu, ia meminta Sim Chung untuk pergi saja dan melupakan Joon-Jae. Di saat itu Yoo-Ran datang. Begitu mengetahui Sim Chung hendak menemui Joon-Jae, ia mempersilahkan Sim Chung untuk menunggu di dalam rumah.

Melihat isi rumah Joon-Jae, mata Sim Chung mulai berkaca-kaca. Ia langsung mengambil tisue dari bawah meja dan ijin untuk ke kamar mandi. Melihat Sim Chung yang mengenal dengan baik keadaan rumah mereka, Nam-Doo meyakini Joon-Jae sudah beberapa kali membawanya ke rumah secara diam-diam.

Ia lantas menghubungi Joon-Jae dan memberitahunya tentang hal itu. Sesaat kemudian Sim Chung menyusul Nam-Doo di kolam renang. Begitu melihat gelang giok yang dipakai Sim Chung, Nam-Doo langsung girang dan mengaguminya. Sim Chung tersenyum dan mengatakan bahwa ia senang ada banyak hal yang tidak berubah.

Sebelum Joon-Jae datang, yang muncul duluan adalah Si-A. Ia ternyata hendak melamar Tae-O. Sim Chung sempat penasaran karena mengira Si-A hendak melamar Joon-Jae. Namun begitu tahu bukan, ia langsung tidak mempedulikan Si-A lagi dan melanjutkan menunggu kedatangan Joon-Jae.

Beberapa waktu kemudian Joon-Jae akhirnya tiba di rumah dan bertemu dengan Sim Chung.

“Siapa kamu?” tanya Joon-Jae.

Kamu jadi makin gagah, Heo Joon-Jae. Aku senang kamu terlihat baik-baik saja.

“Aku bertanya siapa dirimu?” tanya Joon-Jae lagi.

Aku… aku adalah seseorang yang kamu bilang akan kamu cintai lebih panjang dari hidupmu.

Sim Chung membisu seribu bahasa.

“Apa yang membawamu ke sini?” lanjut Joon-Jae.

“Itu karena…” respon Sim Chung.

Aku baik-baik saja sekarang. Aku ingin memberitahumu bahwa aku sudah sehat. Dan karena aku merindukanmu.

“Kamu mengenaliku?” tanya Joon-Jae.

Ya, aku mengenalmu lebih baik dari siapa saja di dunia ini.

“Tidak, aku tidak begitu mengenalmu,” dalih Sim Chung, “Kita hanya pernah bertemu secara singkat, sangat singkat. Aku tidak tahu apakah kamu akan mengingatnya, tuan Heo Joon-Jae.”

“Seperti itukah? Tapi bukankah kamu datang ke sini karena ada sesuatu yang hendak kamu katakan?” balas Joon-Jae.

Aku mencintaimu.

“Tidak. Hanya..,” Sim Chung menghentikan sejenak kata-katanya.

Aku mencintaimu.

“Sepertinya kamu baik-baik saja, jadi itu sudah cukup,” lanjut Sim Chung.

Aku mencintaimu, Heo Joon-Jae.

“I see. Tapi apa yang sebaiknya kita lakukan? Aku punya janji dalam waktu dekat. Aku hanya mampir untuk meninggalkan mobil di rumah, jadi aku harus pergi lagi,” ujar Joon-Jae.

Si-A mencegahnya karena ingin Joon-Jae ada di rumah saat ia melamar Tae-O dan mengumumkan pernikahan mereka. Setelah meminta maaf pada Si-A, Joon-Jae pergi begitu saja dari rumah dan meninggalkan Sim Chung di sana. Sim Chung terlihat berpikir sejenak, lantas pergi keluar menyusul Joon-Jae.

Salju mulai turun saat Sim Chung berkeliling mencari keberadaan Joon-Jae. Pandangannya terhenti pada pohon natal raksasa dimana dulu ia menunggu Joon-Jae. Tidak tahu harus mencari kemana, Sim Chung berjongkok di pinggir jalan.

Kamu terlihat nyaman dan bahagia sekarang. Tidak seharusnyakah aku kembali?

Seseorang tiba-tiba datang menghampiri dan memayungi Sim Chung.

“Kenapa? Agar kamu bisa pergi lagi?” tanya orang tersebut.

Sim Chung perlahan menengadahkan kepalanya dan Joon-Jae-lah yang berada di hadapannya. Dengan menyambut uluran tangan Joon-Jae, Sim Chung bangkit dari duduknya.

“Bukankah ini yang kamu inginkan?” tanya Joon-Jae lagi. “Untuk dihapuskan sepenuhnya dari dunia ini, hingga aku pun akan melupakanmu? Jika akan jadi seperti ini, kenapa kamu menghapusnya? Aku sudah bilang kepadamu untuk tidak melakukannya.”

“Kamu sungguh ingat?” tanya Sim Chung tidak percaya.

“Ya,” jawab Joon-Jae, “Di dunia ini, hanya aku yang mengingatmu.”

“Bagaimana?”

“Gadis bodoh. Hapus mereka 100 kali dan lihat apakah aku bisa melupakanmu,” respon Joon-Jae seraya memeluk Sim Chung.

“Itu tidak mungkin,” balas Sim Chung.

“Ada sesuatu yang luput darimu. Kemana kita pergi, apa yang kita lakukan, apa yang kita makan, apa yang kamu katakan, kapan kamu tertawa, bagaimana cantiknya dirimu. Kamu bisa saja menghapus semua itu, tapi kamu tidak bisa menghapus dirimu dariku. Kamu akan selalu diingat oleh tubuhku dan terpatri di hatiku, jadi tidak ada yang bisa kamu lakukan. Meski begitu, aku bekerja keras untuk itu. Untuk berjaga-jaga, setelah sekian tahun berlalu, seandainya aku sungguh melupakanmu, setiap hari aku berusaha sangat keras untuk tidak melupakanmu.”

Jauh sebelum Sim Chung pergi, Joon-Jae ternyata mencatat segala hal tentang Sim Chung di dalam buku catatan. Buku catatan itulah yang ia baca saat ia mengunci diri di dalam kamar, seperti yang diceritakan oleh Nam-Doo. Butuh waktu 1 tahun baginya (setelah kepergian Sim Chung) untuk sepenuhnya mengingat kembali tentang Sim Chung. Setelah itu, setahun berikutnya ia habiskan untuk menemukan pantai dimana Sim Chung kemungkinan besar akan kembali. Tahun terakhir digunakan Joon-Jae untuk mencari rumah yang cocok bagi dirinya dan Sim Chung.

“Kenapa kamu lakukan itu? Aku sungguh bisa saja tidak datang kembali. Apa yang akan kamu lakukan jika itu terjadi?” tanya Sim Chung.

“Maka hanya aku satu-satunya yang mengingatmu seluruh hidupku di dunia ini. Hanya aku yang mencintaimu dan…”

Tanpa melanjutkan kata-katanya, Joon-Jae kembali memeluk Sim Chung.

Kembali ke rumah Joon-Jae, di bekas kamar Sim Chung dahulu, Joon-Jae memberitahu Sim Chung bahwa ia sudah membeli rumah itu karena orang yang hendak ia ajak pindah saat masa sewanya habis sudah keburu menghilang (yang dimaksud adalah Sim Chung).

“Terima kasih sudah menungguku,” ujar Sim Chung.

“Untuk datang melalui perjalanan panjang serta tidak menyerah dan datang kembali, kamu sudah bekerja keras,” respon Joon-Jae.

Sim Chung perlahan menghampiri Joon-Jae. Reflek Joon-Jae mundur selangkah.

“Kamu tidak akan menghapusnya lagi kali ini,” sergah Joon-Jae, “Jika kamu menghapusnya 100 kali pun aku tidak akan lupa, tapi harus ku bilang kalau itu berat.”

Sim Chung berjanji untuk tidak melakukannya dan mereka pun menghabiskan malam bersama.

Sim Chung menemui teman gelandangannya. Ia tentu saja tidak mengingat Sim Chung, tapi begitu mengetahui Sim Chung tahu segala hal tentang dirinya, ia jadi yakin mereka adalah soulmate dan tidak keberatan untuk berteman dengannya.

Ujian akhir Joon-Jae ia jalani dengan hasil memuaskan. Ia pun minta diijinkan untuk bekerja di kantor cabang kejaksaan di distrik terpencil, tempat dimana ia sudah menyiapkan rumah bagi dirinya dan Sim Chung. Permintaanya dikabulkan.

Dan sejak itu, Joon-Jae dan Sim Chung menjalani hari-hari mereka yang sederhana dengan penuh kebahagiaan.

Menangis dan tertawa untuk hal-hal kecil,
menjadi bahagia, menjadi sedih, dan menjalani hari kita berdua,
melihat dalam diam, berputar jauh,
harta cinta akhirnya datang kepadaku,
jauh di sana, dengan indah dan diam-diam,
mengingat legenda kita yang indah.

*TAMAT*

Reply