Rekap Sinopsis The Legend Of The Blue Sea Episode 18 & Preview Episode 19 (18 Januari 2017)

Di rekap sinopsis The Legend Of The Blue Sea (TLOTBS) episode sebelumnya, meski tidak mau ikut dengan Heo Joon-Jae (Lee Min-Ho), Heo Gil-Joong (Choi Jung-Woo) ternyata memikirkan kata-katanya. Ia jadi tidak mau lagi minum obat yang diberikan oleh Kang Seo-Hee (Hwang Shin-Hye). Ditambah lagi, tanpa sengaja Gil-Joong juga mencuri dengar pembicaraan Seo-Hee dengan Ma Dae-Young (Sung Dong-Il). Seo-Hee yang mengetahui hal itu memutuskan untuk tidak lagi menunggu lama dan meracuni Gil-Joong. Baik Heo Chi-Hyun (Lee Ji-Hoon) maupun Joon-Jae sama-sama terlambat datang dan tidak bisa mencegah kematian ayah mereka. Apa yang kira-kira akan terjadi selanjutnya di sinopsis drama Korea Remember the Blue Sea episode 18 kali ini?

Dok. gambar dan video © SBS of Korea Selatan

Sinopsis Episode 18

Flashback. Chi-Hyun tiba di kamar ayahnya dan sempat mendengar permintaan maaf terakhir ayahnya terhadap Joon-Jae. Ia menangis mendengarnya. Sesaat kemudian, Gil-Joong menghembuskan nafas terakhirnya. Chi-Hyun yang baru menyadari ada yang tidak beres perlahan menghampiri ayahnya. Ia pun syok mengetahui ayahnya sudah tiada.

Saat beranjak, Chi-Hyun melihat gelas air yang baru saja diminum ayahnya. Tahu isinya adalah racun, ia segera membuang isinya dan mencuci gelas tersebut untuk menghilangkan barang bukti. Setelah itu barulah ia menghubungi polisi.

Tak lama, setelah polisi datang dan menanyainya, mereka pun membawa jenazah Gil-Joong ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan medis dan mengetahui penyebab kematiannya. Di saat itulah Joon-Jae datang dan mendapati ayahnya telah tiada.

Melihat Chi-Hyun keluar dari rumah bersama detektif polisi, Joon-Jae tidak lagi bisa menahan diri dan langsung memukulnya sembari menyalahkan Chi-Hyun dan ibunya atas kematian Gil-Joong. Chi-Hyun pura-pura tidak berdaya dan hanya berdiam diri untuk menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak tahu apa-apa.

“Siapa kamu?” tanya detektif polisi seraya memisahkan Joon-Jae dengan Chi-Hyun.

“Aku… aku adalah putra dari Heo Gil-Joong,” jawab Joon-Jae sambil menangis. “Aku putranya…”

“Dia benar. Dia adalah saudara mudaku,” timpal Chi-Hyun.

Joon-Jae kembali emosi mendengar perkataan Chi-Hyun dan kembali memukulinya. Detektif polisi terpaksa memerintahkan beberapa orang polisi untuk memegangi Joon-Jae yang kalap. Sesaat kemudian detektif Hong Dong-Pyo (Park Hae-Soo) datang dan menenangkan Joon-Jae.

“Ayah meninggal,” ujar Joon-Jae, “Aku seharusnya bisa mencegahnya, tapi aku tidak melakukannya.”

“Itu sebabnya kamu harus tenang. Kamu harus menyelesaikan semuanya,” balas detektif Hong. “Kenapa ayahmu bisa menjadi seperti ini, kamu harus mencari tahu semuanya.”

Detektif Hong lantas meminta Joon-Jae untuk menemani ayahnya, sementara ia menyelesaikan urusan di sana.

Jo Nam-Doo (Lee Hee-Joon) menemui Sim Chung (Jun Ji-Hyun) yang sedang mondar-mandir dengan gelisah menanti kabar Joon-Jae di kolam renang. Nam-Doo menggunakan kesempatan itu untuk menanyakan tentang Dae-young.

“Apakah Ma Dae-Young sungguh kehilangan semua ingatannya?” tanya Nam-Doo. “Bagaimana kamu tahu? Mungkinkah kamu yang membuat Ma Dae-Young seperti itu?”

“Kenapa kamu menanyakan hal semacam itu?” tanya Sim Chung.

“Aku tidak pernah mengira akan mengenalmu dengan sedemikian baik,” jawab Nam-Doo seraya melangkah mendekati Sim Chung, “tapi belakangan ini, aku sungguh tidak yakin siapa dirimu sebenarnya dan kemampuan apa yang kamu miliki. Siapa kamu?”

“Aku… temanmu,” respon Sim Chung.

“Ah, teman. Tapi setelah aku membuat orang percaya aku adalah temannya, tugasku adalah mencoba menusuknya dari belakang.”

“Meskipun aku tidak suka kamu adalah orang seperti itu, bagiku, begitu aku menjadi teman, sudah cukup. Apakah hendak menusukku dari belakang atau tidak itu adalah pilihanmu. Begitu aku ditusuk dari belakang, aku akan memikirkan apa yang akan aku lakukan kepadamu. Sampai saat itu, kamu adalah temanku.”

Belum sempat Nam-Doo membalasnya, Tae-O (Shin Won-Ho) datang dan memberitahu mereka tentang ayah Joon-Jae.

Sim Chung, Nam-Doo, dan Tae-O tiba di rumah sakit dan mendapati Joon-Jae sedang duduk di lantai sambil menunduk lemas. Nam-Doo mengajak Tae-O untuk membiarkan Sim Chung menemui Joon-Jae. Perlahan Sim Chung menghampirinya, dan setelah saling bertatapan, Sim Chung memeluk Joon-Jae, yang kemudian menangis di pelukannya.

“Bisakah kamu menghapus ingatanku? Ingatan tentang ayahku. Kamu bisa melakukannya, kan?” pinta Joon-Jae. “Semua kenangan indah terasa menyakitkan karena mereka begitu indah. Semua kenangan buruk terasa menyakitkan karena mereka begitu buruk. Semua kenangan tentang ayahnya terasa sangat menyakitkan.”

“Aku tetap tidak bisa melakukannya,” respon Sim Chung, “Seberapapun sakitnya itu, kamu mencintai ayahmu. Kamu harus tetap berpegang pada kenangan tentang cinta meskipun itu menyakitkan.”

“Jika saja aku datang ke sana lebih cepat, aku bisa saja menyelamatkan ayahku. Jika saja aku tidak terlalu membencinya, aku bisa saja menyelamatkan ayahku. Jika saja..”

“Tidak, tidak seperti itu. Itu bukan salahmu,” ujar Sim Chung. “Itu bukan karenamu.”

“Aku seharusnya menerima telpon terakhirnya. Aku seharusnya mengatakan aku memaafkannya, aku mencintainya. Aku tidak bisa mengatakan kata-kata itu. Aku terlalu sibuk untuk membencinya. Satu hari saja.. tidak… satu jam saja, jika saja aku punya satu menit saja, aku ingin berbicara dengan ayahku. Sekarang aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak bisa melakukannya lagi.”

“Beberapa kata diucapkan tanpa berbicara. Aku yakin ia mengetahuinya,” ucap Sim Chung lirih.

Dengan ditemani oleh Chi-Hyun dan detektif polisi, Seo-Hee mendatangi kamar jenazah. Ia pun berakting seolah-olah terpukul atas kematian suaminya. Joon-Jae dan yang lain hanya menatap aksinya itu dengan tatapan dingin. Bahkan saat Seo-hee menutup aktingnya dengan berpura-pura pingsan, yang lain tetap tidak bergeming.

“Ia sungguh punya bakat yang hebat. Ia seharusnya menjadi aktris,” sindir Nam-Doo setelah Chi-Hyun dan detektif polisi membawa Seo-Hee ke ruang gawat darurat.

Mo Yoo-Ran (Na Young-Hee) menanyakan pada Joon-Jae apa yang terjadi pada Gil-Joong. Joon-Jae memberitahunya bahwa hasil pemeriksaan medis baru akan keluar besok pagi. Yoo-Ran kemudian menceritakan bahwa ia sempat bertemu dengan Gil-Joong sebulan lalu dan saat itu Gil-Joong berpura-pura tidak mengenalinya meski melihatnya secara langsung. Joon-Jae, teringat permintaan maaf ayahnya yang ingin agar saat terlahir kembali bisa bersama-sama dengan Joon-Jae dan Yoo-Ran seperti dulu, pun menceritakan pada ibunya bahwa ayahnya sebenarnya mengalami kerusakan kornea dan tidak bisa melihat dengan jelas. Yoo-Ran terkejut mendengarnya.

“Ia tidak berpura-pura tidak melihatmu. Ia memang tidak bisa melihatmu,” ujar Joon-Jae, lantas memeluk ibunya yang mulai menangis.

Seo-Hee menghubungi pengacaranya dan memintanya untuk secepatnya menyelesaikan urusan warisan sesuai dengan wasiat Gil-Joong. Chi-Hyun menemuinya beberapa saat kemudian.

“Itu perbuatanmu, bukan?” bisik Chi-Hyun.

“Apa itu?” tanya Seo-Hee pura-pura tidak tahu.

“Ibu, kamu harus memberitahuku. Aku harus tahu agar aku bisa membantu.”

“Benar. Kamu benar. Tapi, seandainya saja ada sesuatu, kamu tidak tahu apa-apa,” pinta ibunya.

Keluar dari ruang gawat darurat, tanpa sengaja Chi-Hyun bertemu dengan Nam-Doo. Ia lalu mengajak Nam-Doo berbicara empat mata. Tanpa disangka, dengan menggunakan bahasa tidak formal, Chi-Hyun yang menyatakan tahu semua tentang sepak terjang Nam-Doo, mengancam akan memenjarakannya apabila Nam-Doo tidak mau mendengarkan apa yang akan ia katakan selanjutnya.

“Ada apa dengan cara berbicara seperti itu?” respon Nam-Doo dengan kata-kata yang sopan. “Harap perlakukanku dengan baik. Aku selalu ada di pihak yang memiliki banyak uang. Tampaknya kamu bakal mewarisi semua aset ayahmu, hyungnim. Jika itu kondisinya, tidak perlu untuk memperlakukanku dengan kasar seperti ini. Aku punya cukup alasan untuk memihakmu. Apa yang ingin kamu lakukan?”

“Aku ingin menyingkirkan Heo Joon-Jae,” jawab Chi-Hyun.

“Kemana?”

“Kemana saja tidak masalah. Yang penting dia tidak akan bisa kemana-mana.”

“Ah, sebenarnya, ada sesuatu yang spesial yang sungguh aku inginkan,” respon Nam-Doo. “Jika Joon-Jae menghilang, aku rasa itu akan jadi lebih mudah untukku juga. Ah, tidak masalah. Aku sedikit ragu sebelumnya karena aku merasa agak dekat dengannya, tapi baiklah, ayo kita lakukan. Toh hubungan ini ditakdirkan untuk berakhir cepat atau lambat.”

Dokter menyatakan bahwa penyebab kematian Gil-Joong adalah serangan jantung. Joon-Jae mempertanyakan apakah bukan disebabkan oleh racun, namun dari kondisi tubuh Gil-Joong serta catatan medisnya selama ini, dokter tetap meyakini bahwa penyebabnya adalah serangan jantung. Joon-Jae berargumen bahwa bisa saja gejalanya berbeda apabila racun disebabkan oleh tanaman dan sejenisnya sehingga ia minta untuk dilakukan otopsi. Chi-Hyun dan Seo-Hee terkejut mendengarnya.

“Kamu ingin membunuh ayah dua kali?” tanya Seo-Hee.

“Kenapa? Apa ada sesuatu yang kamu tidak ingin diketahui?” tantang Joon-Jae.

“Bukan itu yang aku katakan, Joon-Jae. Untuk mengirim ayahmu sendirian seperti itu saja membuatku gila. Aku tidak ingin ia dipotong-potong dengan pisau lagi,” dalih Seo-Hee berpura-pura khawatir. “Memangnya apa yang ingin kamu cari tahu hingga kamu menginginkan otopsi?”

“Bukti bahwa kamu membunuh ayahku,” jawab Joon-Jae dingin.

Seo-Hee terus berakting guna mencegah otopsi dilakukan. Ia bahkan menuduh Joon-Jae melakukan itu karena ingin mendapatkan harta ayahnya.

“Dengan akting sempurna yang bahkan bisa menipu dirimu sendiri, kamu mungkin telah menyihir banyak orang dan membutakan mata ayahku, itu tidak akan bekerja lagi,” ujar Joon-Jae tegas.

Ia lalu menoleh ke arah detektif yang menangani kasus tersebut dan selaku anak kandung meminta dilakukan otopsi dengan menyebutkan barang bukti yang sebelumnya ia temukan di sana. Chi-Hyun tidak tinggal diam. Selaku anak tertua dan anak yang diterima di keluarga, ia menolak dilakukan otopsi dengan alasan kepergian Joon-Jae dari rumah adalah karena soal warisan.

Dengan membawa surat penggeladahan, detektif Hong bersama pihak kepolisian mendatangi rumah Seo-Hee dan melakukan pemeriksaan di sana. Seo-Hee dengan tenang menemui mereka dengan sudah mengenakan baju pemakaman.

“Ah, tidakkah terlalu cepat untuk baju pemakaman?” sindir detektif Hong.

“Pemakaman akan segera dimulai,” dalih Seo-Hee.

“Jika kita melakukan otopsi, kamu tidak akan bisa melakukan pemakaman. Sepertinya kamu cukup percaya diri,” ujar detektif Hong.

“Pikirkanlah apa yang ingin kamu pikirkan,” balas Seo-Hee, “Apapun yang aku katakan, kamu tidak akan mempercayaiku.”

“Ngomong-ngomong, apa kamu kenal dengan Kang Ji-Hyun?” tanya detektif Hong.

“Mulai dari sekarang, jika ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan, harap lakukan itu melalui pengacaraku,” respon Seo-Hee.

“Ah, pengacara. Aku rasa kamu memang punya sesuatu yang perlu dibicarakan melalui pengacaramu. Tentu saja jika kamu mau. Itu adalah nama dari saudari kembarmu,” balas detektif Hong tenang sembari menunjukkan foto masa kecil Seo-Hee dan Ji-Hyun.

“Aku tidak tahu apa yang kamu coba untuk katakan,” dalih Seo-Hee.

“Dimana saudarimu sekarang? Atau itu kamu?” tanya detektif Hong.

Seo-Hee tidak menjawabnya dan memilih untuk pergi meninggalkan detektif Hong. Sementara itu, pihak kepolisian sendiri belum berhasil menemukan sesuatu di rumah Seo-Hee.

Ahn Jin-Joo (Moon So-Ri) memberitahu suaminya, Cha Dong-Sik (Lee Jae-Won), bahwa chairman Heo telah meninggal. Mereka pun lantas membahas nasib mereka seandainya benar warisan chairman Heo diserahkan seluruhnya pada Seo-Hee dan Chi-Hyun karena sudah terlanjur ‘membelot’ ke pihak Yoo-Ran.

Acara pemakaman Gil-Joong berlangsung. Dengan ditemani oleh Jin-Joo, Yoo-Ran ikut datang menghadiri acara tersebut.

“Beraninya kamu datang ke sini,” sergah Seo-Hee.

“Bagaimana menurutmu? Jika orang-orang memperhatikanku, maka itu akan menjadi canggung untukmu,” balas Yoo-Ran.

Seo-Hee jadi tidak bisa berkata apa-apa dan membiarkan Yoo-Ran memberikan penghormatan terakhirnya pada Gil-Joong. Namun ia tidak membiarkan Yoo-Ran pergi begitu saja. Saat Yoo-Ran berada di toilet, Seo-Hee mendatanginya.

“Bagai ibu dan putranya (like mother like son),” ujar Seo-Hee, “Putramu juga tidak pernah datang untuk menemui ayahnya selama hampir 10 tahun. Sekarang saat ia sudah meninggal, tidak ada putra yang lebih baik daripada dirinya. Semuanya itu pasti karena uang. Alasanmu untuk datang ke sini adalah untuk mencari remah-remah untuk dikumpulkan, bukan? Jika kamu tetap duduk diam, aku bisa saja memberikan sesuatu kepadamu. Jika kamu keluar dengan berisik, bagaimana bisa aku punya hati untuk memberikanmu bahkan sepeser?”

Tanpa berkata apa-apa Yoo-Ran langsung menampar pipi Seo-Hee.

“Satu-satunya yang merangkak untuk mengumpulkan remah-remah adalah kamu dan anakmu,” respon Yoo-Ran. “Jika kamu melakukan itu, kamu seharusnya sudah puas dengan menghisap orang lain. Sekarang pencuri ingin bertingkah layaknya pemilik? Kamu terlalu serakah.”

“Apa? Pencuri?” balas Seo-Hee.

Ia hendak menampar Yoo-Ran namun Sim Chung tiba-tiba muncul dan menangkap tangannya.

“Apa kamu hendak memukulnya? Aku rasa kamu tidak berada dalam posisi untuk memukulnya,” ujar Sim Chung.

“Siapa kamu? Berani-beraninya kamu ikut campur,” sergah Seo-Hee.

“Perhatikan perkataanmu,” balas Yoo-Ran.

“Oh, dia orang yang kamu kenal? Pantas saja!” respon Seo-Hee.

Seo-Hee berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Sim Chung, namun Sim Chung tetap memegangnya dengan erat.

“Apa yang aku coba lakukan adalah.. ada sesuatu yang membuatku penasaran,” ujar Sim Chung seraya mendorong Seo-Hee ke tembok.

Sambil memejamkan mata, Sim Chung mulai masuk ke dalam pikiran Seo-Hee dan melihat isi ingatan Seo-Hee. Ia pun tahu tidak hanya tentang apa yang dilakukan Seo-Hee terhadap Gil-Jong, melainkan juga tempat dimana Seo-Hee menyembunyikan Dae-Young.

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Seo-Hee setelah Sim Chung melepaskannya.

“Aku bisa saja melakukan segalanya, tapi aku tidak melakukan apa-apa,” jawab Sim Chung. “Karena kamu tidak seharusnya melupakan semua perbuatan jahat yang kamu lakukan. Aku rasa kamu harus mengingat semuanya hingga akhir. Kamu harus mengingat semua yang kamu inginkan, jadi kamu akan lebih tersiksa karena tidak bisa mendapatkannya.”

Dengan tenang Sim Chung lalu meninggalkan Seo-Hee dan mengajak Yoo-Ran pergi. Sementara itu, saat menunggu Yoo-Ran, Jin-Joo mengetahui teman-teman sosialitanya ternyata membantu acara pemakaman untuk menjilat Seo-Hee. Ia sendiri jadi bimbang apakah hendak mengikuti jejak mereka atau tidak.

Nam-Doo mendatangi Joon-Jae yang sedang duduk di lobi. Ia menanyakan apakah Joon-Jae bakal pergi ke ruang pemakaman. Joon-Jae menjawab tidak.

“Haruskah kamu melakukannya?” tanya Nam-Doo.

“Apa?” tanya Joon-Jae balik.

“Otopsi,” jawab Nam-Doo.

“Apa?”

“Semuanya sudah berlalu. Apapun yang terungkap tidak akan membuat ayahmu yang telah mati kembali hidup. Kita hanya menuduh mereka tanpa alasan di saat ini. Sebaliknya, kamu seharusnya bersikap manis pada mereka, berusaha agar kamu setidaknya juga mendapat bagian dari warisan.”

“Meski itu bukan urusanmu, apakah itu sesuatu yang harus kamu katakan sekarang?” tanya Joon-Jae penuh emosi.

“Aku tidak merasa aku mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya. Pikirkanlah,” jawab Joon-Jae tenang seraya beranjak pergi.

Sepeninggal Nam-Doo, Sim Chung datang menghampiri Joon-Jae dan memberitahunya jika ia telah melihat sesuatu.

Joon-Jae dan Sim Chung tiba di rumah Gil-Joong. Ada detektif Hong di sana, masih melakukan pencarian. Tanpa basa-basi, Sim Chung mengajak mereka menuju basement dan membuka pintu rahasia di balik tembok kayu. Ternyata terdapat sebuah kamar di sana. Bunga Nordic Wolfsbane yang sebelumnya dicari-cari berada di sana. Tidak itu saja, detektif Hong mendapati lukisan putri duyung di salah satu sisi tembok ruangan.

“Ma Dae-Young. Ma Dae-Young ada di sini,” ujar Sim Chung.

“Dan Kang Seo-Hee adalah Kang Ji-Hyun,” tambah Joon-Jae.

Joon-Jae, Sim Chung, detektif Hong, dan beberapa petugas kepolisian mendatangi tempat acara pemakaman Gil-Joong. Dengan barang bukti yang baru saja diketemukan, detektif Hong menyatakan bahwa kematian Gil-Joong kini dinyatakan sebagai kasus pembunuhan dan dipastikan akan diotopsi. Ia juga menangkap Seo-Hee sebagai tersangka utama pembunuhan.

“Apa kamu coba mengatakan bahwa aku membunuh suamiku sekarang?” Seo-Hee masih mencoba untuk berdalih. “Kamu seharusnya menuduh orang yang tepat. Jika suamiku mendengarnya ia akan kecewa.”

“Tutup mulutmu! Jangan bicara atas nama ayahku sebegitu mudahnya dengan mulut itu,” sergah Joon-Jae.

Detektif Hong lantas memborgol tangan Seo-Hee dan membawanya pergi. Sepeninggal Seo-Hee, Joon-Jae menoleh ke arah foto ayahnya. Sim Chung menghampirinya dan menggandeng tangan Joon-Jae.

Beberapa saat kemudian Cha Si-A (Shin Hye-Sun) tiba dan bertemu dengan Tae-O. Tae-O mengajaknya keluar sembari memberitahunya apa yang telah terjadi. Si-A jadi kasihan dengan nasib Joon-Jae yang harus mengalami hal semacam itu. Tae-O kemudian menawarkan diri untuk mengantarkan Si-A pulang.

“Tapi kamu tidak boleh punya pikiran macam-macam, oke? Itu akan menjadi bebanku nanti,” ujar Si-A.

Dan mereka berdua pun menuju rumah Si-A dengan menggunakan bus. Si-A sempat kesal dengan beberapa anak sekolah yang ngobrol dengan berisik di depan, namun dengan tenang Tae-O memasangkan headset miliknya ke telinga Si-A. Terdengar lagu tentang perasaan cinta seseorang dari headset tersebut. Si-A mendengarnya dengan tersenyum, namun sejurus kemudian kaget dengan Tae-O yang tiba-tiba merebahkan kepalanya ke pundak Si-A sambil memejamkan mata, berpura-pura tertidur.

Tak lama, bus tiba di halte yang dituju. Si-A ternyata memilih untuk tetap duduk di tempatnya dan melanjutkan perjalanannya bersama Tae-O.

Joon-Jae dan Sim Chung tiba di rumah. Di kamar, Sim Chung memberitahu Joon-Jae bahwa yang membunuh Sae Hwa dan Dam Ryung bukanlah leluhur Ma Dae-Young, melainkan orang lain yang mereka kenal.

Sementara itu, pengacara Seo-Hee memberitahu Seo-Hee untuk menghindari semua pertanyaan pihak penyidik dengan berpura-pura sakit atau menjawab tidak tahu, hingga akhirnya mereka nanti terpaksa membebaskannya karena sudah lewat batas waktu penahanan. Strategi itu berhasil dan pihak kepolisian mau tidak mau melepaskan Seo-Hee dari tahanan.

Joon-Jae sedang menuju mobilnya saat Nam-Doo tiba-tiba menghampirinya. Tanpa disangka, ia memukul kepala Joon-Jae dengan sebatang besi hingga Joon-Jae tak sadarkan diri. Tae-O yang kebetulan sedang mengecek rekaman CCTV mengetahui kejadian tersebut dan memberitahu Sim Chung yang kebetulan juga sedang berada di dekatnya. Tak lama, mereka berdua dalam perjalanan menyusul mobil Joon-Jae yang dikendarai oleh Nam-Doo.

“Tidak bisakah aku pergi sendiri? Bagaimana jika ini berbahaya?” tanya Tae-O.

“Tae-O, ada sesuatu yang tidak kamu ketahui. Jika kita mengalami perkelahian yang sesungguhnya, kamu mungkin tidak akan bisa menyelamatkan tulangmu sendiri. Cukup tahu bahwa aku jauh lebih kuat darimu dan bergegaslah tekan pedal gas,” respon Sim Chung.

Sementara itu, tiba di suatu tempat, Nam-Doo memapah tubuh Joon-Jae menemui Chi-Hyun dan Seo-Hee yang sudah menunggu di sana. Chi-Hyun memerintahkan Nam-Doo untuk mengikat Joon-Jae di kursi yang telah disediakan. Joon-Jae yang tersadar segera mempertanyakan tindakan Nam-Doo tersebut. Nam-Doo berdalih bahwa Joon-Jae sudah berubah karena Sim Chung dan telah mengkhianatinya. Ia menambahkan bahwa ia juga sudah menyiapkan surat bunuh diri untuk nantinya diletakkan di kamar Joon-Jae, berisi pengakuan rasa bersalah karena telah membunuh ayahnya sendiri. Tanpa memberi kesempatan pada Joon-Jae untuk merespon, Nam-Doo mengeluarkan sebuah suntikan yang sudah berisi cairan, lalu menyuntikkannya ke paha Joon-Jae.

“Ini berisi cairan yang membunuh ayahmu,” ujar Nam-Doo, “Antara 10 sampai 30 menit kamu akan menjadi lebih nyaman (mati).”

“Berhubung kamu tidak bisa menerima bagian dari warisan ayahmu, itu sudah cukup sebagai motif pembunuhan,” tambah Chi-Hyun. “Dan karena kamu tahu denah rumah kami juga, kamu menyembunyikan barang bukti di basement.”

Joon-Jae mulai merintih kesakitan. Seo-Hee kemudian meminta Chi-Hyun untuk menunggu di luar bersama dengan Nam-Doo.

“Bagaimana bisa kamu melakukan itu kepada ayah?” tanya Joon-Jae. “Di saat ayah memperlakukanmu dengan begitu baik!”

“Dan apakah aku tidak baik? Itu sudah 17 tahun!” balas Seo-Hee, “Aku menghabiskan 17 tahun menuruti keinginan Heo Gil-Joong dan aku benar-benar bertingkah baik. Tapi untuk urusan warisan, ia hanya melihat pada darahnya sendiri.”

“Itu sebabnya kamu membunuhnya?” tanya Joon-Jae.

“Ya. Aku membunuhnya,” jawab Seo-Hee.

Ia lalu menjelaskan bahwa bukan pada saat itu saja ia memberikan racun pada Gil-Joong, melainkan juga sebelum-sebelumnya. Efeknya sendiri tidak langsung terasa karena dosisnya tidak banyak. Walau begitu, Seo-Hee terpaksa mempercepat ‘prosesnya’ karena urusan warisan yang disegerakan oleh Gil-Joong.

“Kamu juga membunuh suami-suamimu terdahulu dengan cara itu, bukan?” tanya Joon-Jae.

“Itu benar. Tapi tidak ada yang tahu bahkan setelah 20 tahun berlalu,” jawab Seo-Hee. “Bisa jadi setelah 20 tahun berlalu tidak ada seorang pun yang tahu bahwa aku membunuhmu dan juga ayahmu.”

Joon-Jae mendadak tertawa.

“Seperti itukah?” tanya Joon-Jae.

Suara ponsel tiba-tiba berbunyi. Dari balik kardus di belakang Seo-Hee muncul detektif Hong, berpura-pura kesal karena ada yang menelponnya di saat seru seperti sekarang. Sesaat kemudian menyusul beberapa orang polisi keluar dari tempat persembunyian masing-masing di sekitar Seo-Hee. Dalam sekejab Seo-Hee kembali diborgol oleh mereka.

“Lihatlah berapa banyak orang yang harus terlibat dalam show ini untuk membuatmu mengakui kejahatanmu,” ujar Joon-Jae seraya mengeluarkan perekam suara yang ia sembunyikan di balik saku jasnya.

Adegan flashback muncul. Setelah bertemu dengan Chi-Hyun di rumah sakit, Nam-Doo ternyata menceritakan segala sesuatunya pada Joon-Jae dan detektif Hong. Ia pulalah yang mengusulkan untuk menjebak Seo-Hee dan Chi-Hyun dengan berpura-pura menuruti mereka.

Hampir bersamaan dengan Seo-Hee dibawa keluar dari gudang, beberapa mobil polisi datang dan mengepung Chi-Hyun serta Nam-Doo. Chi-Hyun hanya bisa melongo kebingungan melihat ibunya sudah dalam keadaan diborgol dan beberapa orang polisi kemudian menangkapnya. Di saat yang sama mobil yang dikendarai Tae-O dan Sim Chung tiba juga di sana.

Tanpa disangka, Chi-Hyun memberontak dan berhasil melepaskan diri dari pegangan dua orang polisi yang menahannya. Ia merebut pistol milik salah satu di antaranya, lalu mengarahkannya kepada Joon-Jae. Melihatnya, teringat bahwa leluhur Chi-Hyun-lah yang membunuh Dam Ryung, Sim Chung segera berlari dan memeluk tubuh Joon-Jae. Bersamaan dengan itu, Chi-Hyun pun menembakkan pistolnya.

Preview Episode 19

Berikut ini adalah preview eps 19 dari drakor Legend Blue Sea:

=== belum tersedia ===

» Sinopsis Episode 19 Selengkapnya

Tema artikel yang berhubungan: , , ,

Reply