Rekap Sinopsis The Legend Of The Blue Sea Episode 16 & Preview Episode 17 (11 Januari 2017)

Di rekap sinopsis The Legend Of The Blue Sea (TLOTBS) episode sebelumnya, Ahn Jin-Joo (Moon So-Ri) akhirnya tahu bahwa Mo Yoo-Ran (Na Young-Hee) adalah istri yang asli dari Chairman Heo Gil-Joong (Choi Jung-Woo). Ia pun memutuskan untuk membantu Yoo-Ran mendapatkan kembali posisinya di rumah chairman Heo. Jin-Joo sendiri tidak tinggal diam dan mulai menempatkan Ma Dae-Young (Sung Dong-Il) sebagai sekretaris Gil-Joong. Keberadaannya terbukti bermanfaat karena Dae-Young kemudian menyelamatkan Heo Chi-Hyun (Lee Ji-Hoon) yang kalap dan menarik selang life support sekretaris Nam di rumah sakit sehingga tindakannya tidak ketahuan oleh petugas medis. Sim Chung yang lega Heo Joon-Jae (Lee Min-Ho) sudah tahu semua tentang dirinya dan bisa menerimanya, memutuskan untuk mengadakan pesta ulang tahun. Yoo-Ran termasuk salah satu yang ia undang. Saat sedang berjalan berdua menuju rumah Sim Chung, mereka bertemu dengan Joon-Jae yang ada di seberang jalan. Baik Yoo-Ran dan Joon-Jae terkejut dan hanya saling menatap tidak percaya karena akhirnya bisa bertemu kembali setelah sekian lama. Apa yang kira-kira akan terjadi selanjutnya di sinopsis drama Korea Remember the Blue Sea episode 16 kali ini?

Dok. gambar dan video © SBS of Korea Selatan

Sinopsis Episode 16

Joon-Jae akhirnya bertemu dengan ibunya, Yoo-Ran. Yoo-Ran langsung memeluk erat anaknya, sementara Joon-Jae hanya bisa terdiam seraya meneteskan air mata.

“Ibu minta maaf… maafkan aku,” ujar Yoo-Ran sambil menangis.

Joon-Jae masih tetap tidak bisa berkata apa-apa. Ia membalas pelukan ibunya, lalu tersenyum ke arah Sim Chung.

Joon-Jae ngobrol bersama ibunya di sebuah cafe. Yoo-Ran meminta maaf karena telah pergi meninggalkannya begitu saja, namun Joon-Jae tidak mempermasalahkannya karena ia baik-baik saja menjalani hidupnya.

“Aku dengar kamu kabur dari rumah saat masih SMA. Kenapa kamu melakukan itu? Tidak bisakah kamu bertahan dan tetap tinggal di sana?” tanya Yoo-Ran.

“Karena aku merindukanmu,” jawab Joon-Jae. “Aku sangat merindukanmu.”

Yoo-Ran terdiam mendengar jawaban Joon-Jae.

“Aku pikir aku bisa menemukanmu,” lanjut Joon-Jae, “Tapi kamu tidak bisa ditemukan dimanapun. Aku sudah memikirkan berbagai macam kemungkinan. Mungkinkah ia sudah meninggal? Jadi, mohon berhenti mengatakan kamu meminta maaf. Telah hidup dengan baik selama ini, aku sangat berterimakasih.”

Yoo-Ran kembali menangis tersedu. Joon-Jae lantas berpindah duduk ke samping ibunya dan mengusap air mata ibunya dengan tisu, lalu memeluknya.

“Tapi ibuku menjadi begitu kecil,” ujar Joon-Jae, “Saat aku masih kecil, kamu selalu memelukku. Aku seharusnya memelukmu setiap hari.”

“Pasti berat bagimu untuk anak berumur 10 tahun bisa tumbuh dewasa seperti sekarang,” respon Yoo-Ran. “Untuk sekian lamanya kamu hidup sendirian tanpa ibu. Putraku, betapa berat pastinya itu bagimu. Betapa kesepiannya dirimu. Ibu tidak bisa membayangkan sama sekali…”

“Itu sebabnya kamu tidak boleh pergi lagi kemanapun,” balas Joon-Jae. “Saat kita terpisah, kamu tidak tahu apa-apa. Jadi, jangan pergi kemanapun.”

Yoo-Ran mengangguk.

Sim Chung yang pulang pergi dulu menceritakan apa yang terjadi pada yang lainnya. Jo Nam-Doo (Lee Hee-Joon) terkejut mendengarnya karena selama ini ia sudah mencari-cari ibu Joon-Jae kemana-mana dan ternyata ia ada di rumah Cha Si-A (Shin Hye-Sun). Teman gelandangan Sim Chung kemudian meminta Nam-Doo untuk mengisi piring hidangan yang kosong. Dengan kesal Nam-Doo melakukannya.

Tanpa sengaja kaki Nam-Doo terantuk kursi. Ia mendadak teringat sepotong peristiwa yang terjadi sesaat sebelum dirinya melihat tubuh putri duyung Sim Chung di kolam renang. Namun ia berpura-pura tidak ada apa-apa saat Sim Chung menanyakan kenapa Nam-Doo mendadak terdiam.

“Ini membuatku gila. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku yakin ada sesuatu, sesuatu yang besar,” gumam Nam-Doo di dapur sembari menatap ke arah Sim Chung.

Pesta ultah Sim Chung akhirnya dimulai setelah Joon-Jae dan Yoo-Ran tiba. Mereka semua menyanyikan lagu “Happy Birthday” untuk Sim Chung yang mendengarkan dengan tersenyum bahagia. Saat Sim Chung hendak meniup lilin, Joon-Jae memintanya untuk menyebutkan keinginannya terlebih dahulu. Dengan lantang Sim Chung menyatakan bahwa ia ingin hidup bahagia selamanya bersama Joon-Jae.

Setelah lilin ditiup, Sim Chung meminta mereka menyalakan lilin sekali lagi untuk merayakan pertemuan Joon-Jae dengan ibunya. Yang lain menyetujuinya. Namun setelah Joon-Jae dan Yoo-Ran bersama-sama meniup lilin tersebut, lagi-lagi Sim Chung tidak memperbolehkan Joon-Jae untuk mengambil lilin dari kue tart.

“Tunggu. Apakah ada orang lain yang perlu untuk dirayakan?” tanya Sim Chung.

“Aku,” jawab Yoo-Na (Shin Rin-Ah), “Karena baru saja mendapat nilai 100 dalam tes bahasa inggris.”

“Oh, kita harus menyelamatinya. Ayo kita tiup lagi lilin itu,” respon Sim Chung.

“Kamu melakukan ini karena kamu pikir ini menyenangkan, bukan?” tanya Joon-Jae curiga.

Sim Chung terdiam sejenak lalu mengiyakan.

Nam-Doo menelpon Si-A dan mengajaknya untuk ikut datang ke rumah Joon-Jae, merayakan pertemuan Joon-Jae dengan ibunya. Si-A terjatuh lemas mendengarnya.

Pada akhirnya Si-A tetap tidak datang ke rumah Joon-Jae hingga pesta berakhir. Tae-O (Shin Won-Ho) mengantarkan Yoo-Na pulang, sementara teman gelandangan Sim Chung masih sempat membuat Nam-Doo kesal dengan menanyakan apakah ada goodie bag yang bisa dibawa pulang. Tentu saja Nam-Doo tidak menghiraukannya dan mempersilahkannya untuk langsung pulang.

“Hei, ada apa dengan teman-temanmu?” tanya Nam-Doo pada Sim Chung, “Apakah tidak ada yang normal?”

“Kenapa? Aku suka mereka. Aku suka semua teman yang aku buat di sini,” jawab Sim Chung. “Ibu Heo Joon-Jae juga temanku.”

“Hei, bagaimana bisa ibuku jadi temanmu?” tanya Joon-Jae tidak terima.

“Itu benar. Kita berteman,” potong Yoo-Ran sambil tersenyum.

“Lihat, kan? Kita teman,” sambung Sim Chung.

“Lalu kalau kau berteman dengan ibuku, aku jadi apa?” tanya Joon-Jae.

“Rumah ini jadi makin lama makin aneh,” gumam Nam-Doo melihat ulah mereka.

Joon-Jae, Sim Chung, Yoo-Ran, dan Nam-Doo ngobrol berempat di dapur. Nam-Doo tiba-tiba menanyakan apakah Yoo-Ran kenal dengan seseorang bernama Kang Ji-Hyun. Yoo-Ran kaget mendengar nama itu dan menanyakan kenapa mereka mencarinya. Nam-Doo pun menjelaskan alasannya, walau tidak secara detil.

“Ia orang yang aku kenal. Yang aku sangat kenal,” ujar Yoo-Ran.

“Sungguh?” tanya Joon-Jae.

“Ya. Kamu mengenalnya juga,” jawab Yoo-Ran.

“Aku mengenalnya?” tanya Joon-Jae tidak percaya.

“Joon-Jae, ia adalah ibu tirimu,” jawab Yoo-Ran.

Giliran Joon-Jae yang terkejut mendengarnya. Yoo-Ran lantas menceritakan bahwa itu adalah nama asli ibu tiri Joon-Jae sebelum berganti nama menjadi Kang Seo-Hee. Nam-Doo kemudian hendak memberitahu Yoo-Ran tentang Ma Dae-Young, namun di tengah-tengah cerita Joon-Jae memotongnya dan mengalihkan pembicaraan. Sim Chung jadi penasaran dengan hal itu.

Si-A berada di depan pintu rumah Joon-Jae dan bingung tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Di saat itulah Tae-O datang. Apes baginya, Si-A memaksanya untuk menemaninya minum-minum meski ia tidak berminat untuk itu.

Di tempat minum, Si-A memberitahu Tae-O bahwa sebenarnya ia sudah tahu bahwa ahjumma-nya itu adalah ibu Joon-Jae. Ia tidak bisa langsung memberitahukannya pada Joon-Jae karena ingin memperbaiki hubungannya terlebih dahulu dengan Yoo-Ran. Kini Si-A yakin Joon-Jae pasti akan membencinya jika tahu akan hal itu.

“Aku tahu aku adalah jalang yang menyebalkan. Bagaimana perasaanmu? Setelah mendengar ini, perasaanmu kepadaku hilang sepenuhnya, bukan? Berterimakasihlah. Harapanku adalah perasaanku untuk Joon-Jae bisa hilang sepenuhnya. Tapi karena aku tidak bisa melakukannya, itu menjadi sulit bagiku. Aku memberitahumu agar kamu tidak menderita sepertiku. Perasaanmu yang penuh gairan kepadaku, cinta itu, aku katakan padamu untuk membuangnya,” ungkap Si-A sambil menangis.

Tae-O tersenyum mendengarnya.

Joon-Jae menelpon detektif Hong Dong-Pyo (Park Hae-Soo) dan memberitahunya tentang Kang Ji-Hyun. Ia yakin bahwa ibu tirinya yang telah memerintahkan Dae-Young untuk menguntitnya selama ini. Karena detektif Hong menjadi bingung dengan alasan Ji-Hyun melakukan hal itu, Joon-Jae terpaksa menceritakan siapa sebenarnya ayahnya, si chairman Heo, dan semua itu berkaitan dengan harta warisan. Detektif Hong sempat kaget mendengarnya, namun tetap tidak bisa berbuat apa-apa karena belum ada bukti untuk menangkap mereka.

“Kalau begitu aku akan melakukan ini dengan caraku. Aku akan mencari bukti dan mengungkapkan semuanya secepat mungkin,” janji Joon-Jae.

Sekretaris Nam ternyata masih selamat. Dokter memberitahu kondisinya kepada istri sekretaris Nam dan juga menginformasikan bahwa setiap saat sekretaris Nam bisa tersadar dari komanya, walaupun ia selaku petugas medis tidak bisa memastikan kapan hal itu terjadi.

“Kita menyebutnya sebagai keajaiban,” ujar si dokter.

“Aku berharap akan keajaiban, dokter,” respon istri sekretaris Nam.

Di saat itu, dalam kondisi tidak sadar, sekretaris Nam bermimpi tentang kejadian di masa lalu saat leluhurnya, teman kepercayaan Dam Ryung sedang mencoba melarikan diri dari kejaran leluhur Chi-Hyun dan rekannya yang hendak mencuri dokumen milik Dam Ryung. Di saat itulah terlihat sosok teman leluhur Chi-Hyun, yang ternyata adalah leluhur Nam-Doo.

Chi-Hyun mendatang ibunya, Kang Seo-Hee (Hwang Shin-Hye), dan menanyakan apakah benar Dae-Young adalah ayah kandungnya.

“Haruskah aku mengkonfirmasinya untukmu? Aku tidak mengerti, Chi-Hyun. Tanpa tahu apapun, tanpa melakukan apapun, jika kamu hanya duduk dan menunggu, aku akan melakukan apa saja untukmu. Jadi kenapa kamu penasaran?” respon Seo-Hee.

“Fakta bahwa aku adalah putra dari orang macam itu!” bentak Chi-Hyun. “Aku begitu membencinya, karena itu… itu membuatku merasa seperti segumpal lumut kotor yang tidak akan pernah bisa keluar menuju cahaya matahari.”

“Chi-Hyun, aku sebelumnya punya saudari kembar. Kami lahir di waktu yang sama, diletakkan di keranjang yang sama, dan bersama-sama dibuang ke panti asuhan. Saudariku diadopsi di rumah yang baik, tapi tidak denganku. Ayah yang selalu mabuk dan ibu yang menyedihkan, menjadi orang miskin yang kotor tanpa ada harapan masa depan.. bahkan dalam situasi seperti itu, ada satu hal yang bekerja untukku. Orang-orang sepertinya percaya apapun yang dikatakan oleh orang yang tidak berdaya. Melangkah sejauh ini dengan menggunakan itu sebagai senjata utamaku, itu adalah jalan yang panjang dan sulit. Aku tidak ingin kamu mengambil jalan yang lebih panjang dan berliku. Apakah itu Ma Dae-Young atau Heo Gil-Joong, mereka hanyalah jalan pintas,” jelas Seo-Hee panjang lebar sembari memegang kepala Chi-Hyun.

Chi-Hyun menepis tangan ibunya.

“Ambillah jalan pintas dan pergilah menuju cahaya matahari,” pinta Seo-Hee. “Dan jalani hidup tidak seperti segumpal lumut, tapi sebagai bunga. Hanya itulah yang harus kamu lakukan.”

Tae-O mengantarkan Si-A kembali ke rumah. Sebelum pulang, Tae-O mengatakan bahwa ia akan berhenti menyukai Si-A dan meminta Si-A untuk mengungkapkan perasaannya pada Joon-Jae.

“Dalam situasi ini? Bagaimana bisa? Bagaimana kalau aku tidak bisa menemuinya lagi?” respon Si-A.

“Apakah ada artinya untuk terus menemuinya seperti sekarang ini?” tanya Tae-O sebelum ia akhirnya berpamitan pulang.

SI-A terdiam mendengar pesan Tae-O.

Di kolam renang, Sim Chung menanyakan pada Nam-Doo apa sebenarnya hubungan Dae-Young dengan wanita bernama Kang Ji-Hyun. Nam-Doo pun menceritakan semuanya pada Sim Chung, termasuk kemungkinan bahwa Chi-Hyun adalah anak dari Ji-Hyun.

Sepeninggal Sim Chung, Nam-Doo yang melihat ke arah kolam renang kembali mengingat sepotong peristiwa yang terjadi di sana saat bersama Sim Chung, yaitu saat ia meminta Sim Chung untuk menangis agar bisa mendapatkan mutiara.

Yoo-Ran untuk sementara tidur bersama dengan Sim Chung. Saat mereka berdua naik ke kamar Sim Chung, Sim Chung kaget mendapati dua buah kotak yang ternyata merupakan hadiah ulang tahun dari Joon-Jae. Isinya adalah sepatu baru serta boneka gurita pink yang selama ini diinginkan Sim Chung. Yoo-Ran tersenyum melihat Sim Chung yang girang dengan hadiah-hadiah tersebut. Ia lantas menghampiri Sim Chung dan memeluknya.

“Karena kamu berada di sini di samping Joon-Jae, aku merasa lega dan berterimakasih,” ujarnya.

“Aku juga. Aku merasa berterimakasih dan lega karena kamu sudah datang untuk Heo Joon-Jae,” balas Sim Chung. “Tapi jika terjadi sesuatu dan aku tidak berada di samping Heo Joon-Jae lagi, ku mohon jangan pergi dan tetaplah bersamanya, oke?”

“Huh? Sesuatu seperti apa?” tanya Yoo-Ran heran.

“Aku hanya mengatakan seandainya saja,” dalih Sim Chung.

Joon-Jae mendengar suara hati Sim Chung mengucapkan terima kasih atas kado darinya. Karena Sim Chung mengatakan (dalam hati) bahwa ia tidak melihat langsung wajah Joon-Jae saat memberikan kado tersebut, Joon-Jae memintanya untuk membuka pintu kamar dimana ia sudah menunggu di sana. Setelah Sim Chung melihatnya, Joon-Jae pun memintanya untuk kembali tidur.

“Saat aku menonton TV, ciuman adalah hal wajib di hari ulang tahun,” ungkap suara hati Sim Chung.

Joon-Jae tersedak mendengarnya. Ia lalu meminta Sim Chung untuk turun dan mereka berdua pergi ke kolam renang. Di sana Joon-Jae mencium dan memeluknya.

Yoo-Ran mampir ke rumah Jin-Joo untuk mengobrol. Seperti sebelumnya, Jin-Joo kini melayaninya dengan baik layaknya tamu. Bahkan suaminya, Cha Dong-Sik (Lee Jae-Won), diam-diam ia minta untuk berbelanja untuk Yoo-Ran. Sayangnya, bahan makanan yang dibelikan oleh Dong-Sik ternyata kualitasnya tidak baik semua. Dong-Sik pun jadi sasaran amarah Jin-Joo.

Di saat itu Si-A turun. Begitu melihat ada Yoo-Ran di sana, ia bergegas kembali lagi ke kamarnya. Yoo-Ran yang sudah sempat melihatnya kemudian menyusul Si-A dan masuk ke kamarnya.

“Kamu sudah tahu sebelumnya, bukan? Kalau Joon-Jae adalah putraku,” tanya Yoo-Ran.

“Itu.. aku hendak mengatakannya.. apakah kamu akan memberitahu Joon-Jae?” tanya Si-A balik.

Yoo-Ran tersenyum dan meraih tangan Si-A. Ia lalu berkata, “Tidak, aku tidak akan melakukannya. Aku dengar kamu sudah menjadi teman yang baik untuknya. Terima kasih. Mulai dari sekarang juga, ku harap kamu melakukan hal yang sama.”

“Ya, aku akan memastikannya. Ibu, terima kasih,” respon Si-A sembari melangkah maju untuk memeluk Yoo-Ran.

Tanpa ia duga Yoo-Ran menghindar dari pelukannya dan melangkah mundur.

“Apa maksudmu ‘ibu’? Jangan jadi seperti ini dan kembalilah jadi dirimu sendiri sebelumnya,” ujar Yoo-Ran sambil tersenyum sebelum ia meninggalkan kamar Si-A.

“Ia tersenyum saat berbicara kepadaku, jadi kenapa aku merasa tidak tenang?” gumam Si-A galau. “Apakah ia baru saja membuat garis pembatas? Antara Joon-Jae dengan diriku?”

Joon-Jae menemui Chi-Hyun di kantor dan mempertanyakan dimana ayah mereka berada. Chi-Hyun masih tetap pada kebohongannya, mengatakan bahwa ayah mereka sedang pergi berlibur ke Hawaii dengan teman-temannya. Joon-Jae tidak mempercayainya karena tahu ayahnya tidak pernah pergi berlama-lama.

“Joon-Jae, apa yang sebenarnya ingin kamu katakan?” tanya Chi-Hyun.

“Bahwa aku tidak bisa mempercayaimu. Bahwa aku membatalkan permintaanku agar kamu menjadi anak yang berbakti pada ayah,” jawab Joon-Jae tegas.

Dengan bantuan detektif Hong, Joon-Jae mengkonfirmasi bahwa ayahnya memang tidak pergi ke Hawaii dan masih berada di Korea. Joon-Jae lantas menghubungi Nam-Doo dan memberitahunya ada tempat yang hendak ia datangi untuk dicuri. Nam-Doo girang mendengarnya, mengira Joon-Jae sudah kembali seperti dulu. Karena Sim Chung sedang ada di dekatnya, Nam-Doo berpindah tempat ke kolam renang.

“Tempat siapa yang akan kita curi?” tanya Nam-Doo.

“Rumah ayahku,” jawab Joon-Jae singkat.

“Apa? Kamu bercanda? Bagaimana itu bisa masuk akal? Mencuri dari rumah ayahmu sendiri?” tanya Nam-Doo heran.

Joon-Jae memberitahu Nam-Doo tentang rencananya. Nam-Doo akhirnya menyetujuinya, walau ia agak khawatir dengan Kang Seo-Hee yang menurutnya cukup mengerikan.

Tanpa disadari Nam-Doo, Sim Chung menguping dari balik pintu.

“Aku juga akan membantu,” ujar Sim Chung.

“Membantu dengan apa?” tanya Nam-Doo.

“Mencuri dari rumah ayah Heo Joon-Jae,” jawab Sim Chung. “Aku juga akan membantu.”

“Kamu mendengar semuanya?” tanya Nam-Doo.

Nam-Doo kemudian meminta Sim Chung menemui Chi-Hyun untuk mencegahnya pulang ke rumah, namun dengan syarat tidak menceritakannya pada Joon-Jae karena Joon-Jae pasti akan marah apabila Sim Chung membantunya. Sim Chung setuju.

Tidak jelas diberitahu oleh siapa, Yoo-Ran meminta Jin-Joo untuk memanggil Seo-Hee ke luar rumah selama setidaknya dua jam. Dengan sigap Jin-Joo mendapat ide untuk melakukannya, yaitu dengan mengundang rekan-rekan sosialita mereka ke rumahnya dan menyebar gosip bahwa ia akan mengungkapkan suatu hal yang sangat penting. Mendengar berita tersebut, Seo-Hee jadi kesal sekaligus penasaran dan berniat untuk ikut datang meski tidak diundang.

Chi-Hyun menghampiri ayahnya yang sedang terbaring di tempat tidur.

“Ayah, tidak bisakah putramu hanyalah aku satu-satunya?” tanya Chi-Hyun. “Jika bisa, maka aku akan melindungimu dengan baik hingga akhir. Haruskah ada Joon-Jae juga? Sungguh?”

Gil-Joong tidak menjawabnya.

“Ini karena aku juga kesal. Aku sudah memberitahu Joon-Jae berulang kali bahwa kamu sedang sakit, tapi ia bilang ia tidak akan datang,” dalih Chi-Hyun. “Kepadaku, ia bilang ‘karena ia adalah ayahmu, uruslah dia sendiri’.”

Chi-Hyun terus menjelek-jelekkan Joon-Jae, namun alih-alih menanggapi, Gil-Joong meminta Chi-Hyun untuk beristirahat saja karena ia pasti sedang mabuk. Dengan terpaksa Chi-Hyun pergi meninggalkan ayahnya.

Dengan dibantu oleh detektif Hong, Joon-Jae dkk mulai menjalankan rencananya, menyusup masuk ke rumah ayah Joon-Jae dengan menyamar sebagai petugas pembasmi serangga. Sementara itu, di sebuah restoran, Sim Chung mengajak Chi-Hyun menemuinya.

“Heo Chi-Hyun, sejujurnya ada sesuatu yang aku penasaran,” ujar Sim Chung.

“Apa itu?” tanya Chi-Hyun.

“Apa kamu kenal seseorang bernama Ma Dae-Young?” tanya Sim Chung. “Ma Dae-Young dan ibumu dan kamu, bagaimana kalian saling berhubungan?”

“Kenapa kamu menanyakan hal semacam itu?” tanya Chi-Hyun yang raut mukanya sudah berubah.

“Ma Dae-Young terus berada di sekitar kami. Aku tidak tahu penyebabnya. Jika itu ada hubungannya dengan keluargamu, aku pikir kamu bisa saja menghentikannya,” jawab Sim Chung.

“Maafkan aku, tapi aku tidak bisa. Aku tidak punya hubungan apapun dengan orang itu,” balas Chi-Hyun.

‘Orang itu’ alias Dae-Young, tanpa disadari oleh Sim Chung, ternyata berada beberapa meja di belakang Sim Chung, mencuri dengar pembicaraan mereka.

Kembali ke rumah Gil-Joong, sementara Nam-Doo mengalihkan perhatian asisten rumah tangga di sana, Tae-O mematikan sistem keamanan di dalam rumah dan mencari informasi dari komputer Gil-Joong, sedangkan Joon-Jae memotret dan mengambil barang-barang yang ia rasa mencurigakan. Setelah memasang alat penyadap di bawah meja, Joon-Jae diam-diam naik ke lantai dua dan menuju ke kamar ayahnya.

Pandangannya yang kabur membuat Gil-Joong tidak menyadari bahwa yang masuk ke kamarnya adalah Joon-Jae hingga akhirnya Joon-Jae menghampirinya dan berdiri di hadapannya.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Joon-Jae.

“Apa kamu sungguh Joon-Jae?” tanya Gil-Joong tidak percaya.

“Demi apa yang kamu lihat di sini? Ada apa denganmu? Kamu bahkan tidak bisa mengenali anakmu sendiri. Untuk menderita hingga seperti ini, kamu berpisah dari ibu dan memperlakukanku dengan buruk?” tanya Joon-Jae.

Suara Joon-Jae yang sempat meninggi membuat asisten rumah tangga penasaran dan hendak naik ke atas. Untunglah Nam-Doo berhasil mencegahnya.

Joon-Jae kemudian mengajak ayahnya untuk pergi dari rumah agar bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengannya. Gil-Joong yang masih belum menyadari niat jahat istrinya sendiri menolak mentah-mentah. Bahkan setelah Joon-Jae menceritakan apa yang terjadi pada sekretaris Nam juga adalah ulah Seo-Hee, Gil-Joong masih tetap tidak percaya.

“Kembali ke rumah ini setelah 10 tahun, yang bisa kamu lakukan hanyalah memfitnah ibumu?” tanya Gil-Joong.

“Siapa ibuku?” tanya Joon-Jae balik.

“Kamu mungkin ingin memberitahuku bahwa pilihanku salah,” ujar Gil-Joong.

“Ya, pilihanmu salah,” sergah Joon-Jae, “Dari awal hingga akhir. Semuanya!”

“Siapa kamu bisa menghakimiku seperti itu? Ini pilihanku! Dan ini hidupku! Tidak ada yang salah. Aku bahagia. Hanya karena penglihatanku menjadi sedikit berkurang, kamu ingin memberitahuku bahwa pilihanku dan hidupku sudah gagal? Mata ini sepenuhnya akan membaik setelah dioperasi.”

“Sepertinya kamu tidak hanya tidak bisa melihatku yang berdiri di hadapanmu, kamu tidak bisa melihat semuanya. Kamu bahkan sepertinya tidak berpikir untuk melihat hidupmu yang menuju ke bawah.”

“Sebesar itukah kamu ingin mengkritik ibu tirimu? Kamu anak bandel. Ia adalah wanita baik yang membersihkan kamarmu dan menunggumu untuk pulang ke rumah. Hidup bersama selama 17 tahun, ia yang paling mengerti aku. Apa yang kamu tahu?”

Joon-Jae lantas membeberkan identitas asli Seo-Hee, termasuk nasib pernikahannya yang terdahulu. Gil-Joong yang baru mengetahuinya terkejut mendengarnya. Namun demikian, ia masih tidak percaya dan menganggap Joon-Jae berbohong.

“Jika kamu tidak ingin mempercayainya, maka jangan mempercayainya,” ujar Joon-Jae. “Tapi aku tidak bisa membiarkanmu sendirian seperti ini. Meski harus dengan paksaan, aku akan membawamu bersamaku.”

Joon-Jae menarik lengan ayahnya untuk membawanya pergi. Gil-Joong mati-matian menolak dan membahas soal Joon-Jae yang menjadi penipu seperti yang sebelumnya diceritakan oleh Chi-Hyun kepadanya.

Di bawah, asisten rumah tangga diam-diam menghubungi Chi-Hyun dan menceritakan apa yang sedang terjadi. Chi-Hyun pun berjanji akan segera pulang ke rumah.

“Apakah ini sebabnya kamu mengajakku bertemu hari ini?” tanyanya pada Sim Chung yang ada di belakangnya.

Sim Chung tidak menjawabnya. Setelah berpamitan, Chi-Hyun masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan Sim Chung. Sesaat kemudian, dari balik pilar, Dae-Young muncul dan perlahan menghampiri Sim Chung dengan senyuman licik. Tanpa diduga, ia mengeluarkan sebuah palu dari balik punggungnya, lantas melemparkannya ke keran pemadam api yang ada di langit-langit. Air segera memancar keluar dari keran tersebut. Melihatnya, Sim Chung bergegas lari menjauhinya, dengan dikejar oleh Dae-Young di belakangnya.

Sim Chung terus berlari hingga tiba di rooftop. Sudah aman dari pancaran air membuatnya berani mencegat Dae-Young dan langsung menariknya ke tengah rooftop saat Dae-Young tiba di sana.

“Semua ingatanmu akan hilang dan aku pastikan kamu akan ditahan,” ancam Sim Chung.

Dae-Young ketakutan mendengarnya dan hendak melepaskan diri. Namun genggaman Sim Chung lebih kuat darinya.

“Meskipun kamu tidak bisa mengingat semuanya, aku berharap kamu akan merasakan neraka untuk waktu yang sangat lama,” lanjut Sim Chung.

Sim Chung memejamkan matanya dan mulai menghapus satu demi satu ingatan Dae-Young. Saat melakukan hal itu, ia ikut melihat semua peristiwa yang dialami oleh Dae-Young, termasuk juga mimpi-mimpinya yang berkaitan dengan leluhurnya dahulu, Mr. Yang (Sung Dong-Il). Dan Sim Chung pun kaget begitu mengetahui bahwa akhir hidupnya di masa lalu adalah mati bersama dengan Dam Ryung.

Perlahan Sim Chung melepaskan genggamannya terhadap Dae Young. Ia teringat ucapan Joon-Jae sebelumnya yang menyatakan bahwa Dam Ryung dan Sae Hwa hidup bahagia selamanya.

“Bohong. Lagi-lagi itu semua adalah bohong,” gumam Sim Chung sembari menangis.

Preview Episode 17

Berikut ini adalah preview eps 17 dari drakor Legend Blue Sea:

=== belum tersedia ===

» Sinopsis Episode 17 Selengkapnya

Tema artikel yang berhubungan: , , ,

Reply