Rekap Sinopsis The Legend Of The Blue Sea Episode 15 & Preview Episode 16 (5 Januari 2017)

Di rekap sinopsis The Legend Of The Blue Sea (TLOTBS) episode sebelumnya, tanpa disangka, ternyata bukan Mr. Yang (Sung Dong-Il) yang dulu membunuh Dam Ryung (Lee Min-Ho) dan Sae Hwa (Jun Ji-Hyun), melainkan justru leluhur dari Heo Chi-Hyun (Lee Ji-Hoon). Meski masih samar-samar, Ma Dae-Young (Sung Dong-Il) yang mengetahui hal itu menjadi gelisah. Sementara itu, Jo Nam-Doo (Lee Hee-Joon) secara tidak sengaja mengetahui rahasia Sim Chung (Jun Ji-Hyun) sebagai putri duyung. Melihat reaksi Nam-Doo, Sim Chung pun terpaksa menghapus memori Nam-Doo tentang kejadian tersebut. Apa yang kira-kira akan terjadi selanjutnya di sinopsis drama Korea Remember the Blue Sea episode 15 kali ini?

Dok. gambar dan video © SBS of Korea Selatan

Sinopsis Episode 15

Joon-Jae akhirnya mengaku bahwa ia bisa mendengar suara hati Sim Chung. Tidak hanya tahu tentang siapa Sim Chung sebenarnya, Joon-Jae juga ingat semuanya tentang apa yang dialaminya bersama Sim Chung di Spanyol. Sebaliknya, Sim Chung kini memberitahunya apa yang akan terjadi pada jantungnya apabila Joon-Jae tidak mencintainya.

“Jadi, kamu bilang, jika aku mati, kamu juga mati?” tanya Joon-Jae memastikan.

Sim Chung mengiyakan dan menyatakan bahwa itu sebabnya ia tidak bisa berjanji pada Joon-Jae untuk menjalani hidup dengan baik apabila Joon-Jae ‘pergi’.Joon-Jae pun jadi teringat kata-kata profesor Jin bahwa apabila keduanya saling mencintai maka itu akan menjadi takdir yang tragis.

“Kalau begitu masalahnya bukan Ma Dae-Young,” ujar Joon-Jae, “Bisa jadi aku yang membunuhmu.”

Joon-Jae berdiam diri di balkom memikirkan apa yang dulu terjadi pada Dam Ryung dan Sae Hwa. Nam-Doo beberapa saat kemudian menghampiri Joon-Jae dan menanyakan apakah mereka sedang berkelahi karena Sim Chung terus-terusan menangis.

“Hyung,” ujar Joon-Jae, “Ketika Chung datang untuk mencariku, itu berasal dari keegoisannya. Tapi tidak mengirim Chung pergi, ku rasa itu berasal dari keegoisanku.”

“Apa maksudmu?” tanya Nam-Doo bingung.

“Tapi begitu, aku tahu itu adalah keegoisanku, tapi aku tetap tidak ingin mendengar alasan kenapa aku harus mengirimnya kembali. Aku terus ingin membuat alasan untuk tidak mengirimnya pergi. Jika terus seperti ini, sesuatu yang buruk akan sungguh terjadi kepadanya,” lanjut Joon-Jae.

Alih-alih menanggapinya, Nam-Doo mengatakan bahwa ia punya sesuatu hal yang berkaitan dengan Sim Chung yang tidak bisa ia ingat. Joon-Jae pun sengaja menabok kepalanya agar Nam-Doo tidak lagi memikirkan hal itu.

Sim Chung mengingat kembali saat-saat bersama Joon-Jae dulu dan jadi tersadar bahwa Joon-Jae memang sudah lama bisa membaca suara hatinya. Perlahan ia membuka pintu kamarnya dan mendapati Joon-Jae sedang berada di bawah, berdiri menatap ke arahnya.

Sim Chung lantas turun dan menceritakan pada Joon-Jae tentang Nam-Doo yang melihatnya saat sedang berenang dan bagaimana ia terpaksa menghapus ingatan Nam-Doo karena sikap Nam-Doo yang berubah menjadi serakah.

“Tapi bagaimana denganmu?” tanya Sim Chung, “Saat kamu tahu siapa diriku, apakah kamu tidak membenciku atau takut kepadaku?”

“Aku tidak membencimu maupun takut kepadamu. Hanya, karena sejak awal kamu adalah orang yang tidak biasa, aku pikir kamu orang yang memang seperti itu. Itu saja,” jawab Joon-Jae.

“Itu sudah cukup bagiku. Selama kamu tidak membenciku. Sejujurnya, aku senang karena kamu sudah tahu tentangku. Setiap malam sebelum tidur aku selalu kepikiran apakah aku akan ketahuan hari ini atau besok. Dan jika aku ketahuan, bakal seperti apa ekspresimu. Ekspresi wajahmu saat membenciku bakal jadi mimpi terburukku,” respon Sim Chung.

“Bagiku, mimpi terburukku adalah semuanya akan terulang kembali,” ujar Joon-Jae.

Untuk menjelaskan maksud perkataannya, Joon-Jae mengajak Sim Chung pergi ke museum. Di hadapan lukisan Dam Ryung, Joon-Jae pun menceritakan semuanya yang terjadi di masa lalu pada Sim Chung. Walau begitu, agar tidak membuat Sim Chung khawatir, Joon-Jae memutuskan untuk berbohong dan mengatakan bahwa pada akhirnya Dam Ryung dan Sae Hwa hidup bahagia bersama selamanya.

Selanjutnya, Joon-Jae menunjukkan guci yang menampilkan lukisan dirinya dan Sim Chung saat dulu berciuman di bawah air.

“Mereka pasti melihat kita juga dalam mimpinya,” ujar Joon-Jae.

“Lalu kenapa itu menjadi mimpi buruk?” tanya Sim Chung. “Itu adalah mimpi yang indah. Kamu takut kalau mimpi yang indah itu terulang kembali?”

Bingung menjawabnya, Joon-Jae beralasan bahwa kondisi mereka kini berbeda dengan dulu. Sim Chung memastikan bahwa selama mereka terus bersama, maka ia akan baik-baik saja. Joon-Jae kembali berdalih bahwa ia tidak yakin akan hatinya sendiri, apakah bisa terus seperti sekarang atau tidak.

“Mengetahui hidupmu bergantung pada hatiku yang aku sendiri tidak tahu…”

“Jadi kamu takut?” potong Sim Chung.

Joon-Jae mengiyakan. Sim Chung lalu terdiam.

“Kenapa?” tanya Joon-Jae.

“Itu tidak adil. Bagaimana kamu bisa mendengar hatiku sementara aku tidak bisa mendengar hatimu?” tanya Sim Chung.

“Kenapa kamu perlu mendengar suara hatiku? Aku adalah orang yang selalu mengatakan kebenaran,” dalih Joon-Jae seraya melanjutkan langkahnya.

Mo Yoo-Ran (Na Young-Hee) mencoba menghubungi istri sekretaris Nam, namun nomernya tidak bisa dihubungi. Terlihat mobil hitam yang sebelumnya hendak menabraknya sedang mengawasinya di belakang. Beberapa saat kemudian Yoo-Ran masuk kembali ke rumah Ahn Jin-Joo (Moon So-Ri) dan mobil tersebut berhenti di depan rumah Jin-Joo.

Di rumah, Sim Chung menghampiri Joon-Jae dan mengusulkan untuk menghapus memori Joon-Jae sehari sebelumnya agar Joon-Jae tidak lagi kepikiran tentang mimpinya. Joon-Jae menolak, namun Sim Chung terus memaksa, sehingga mereka malah berkejar-kejaran di dalam rumah. Nam-Doo dan Tae-O (Shin Won-Ho) yang sedang berada di dapur hanya terdiam menatap tingkah mereka berdua dengan tatapan aneh.

Sebelum tidur, Sim Chung kembali menanyakan apakah ia boleh menghapus ingatan Joon-Jae. Joon-Jae tetap tidak mau. Pada akhirnya, setelah Sim Chung berjanji tidak akan berbuat aneh-aneh, Joon-Jae mengajaknya untuk tidur bersamanya sembari berpelukan.

Orang yang sebelumnya hendak menabrak Yoo-Ran ternyata adalah sopir dari Kang Seo-Hee (Hwang Shin-Hye). Saat sedang mengantar Seo-Hee, ia memberitahunya bahwa Yoo-Ran kini bekerja sebagai asisten rumah tangga. Seo-Hee pun jadi tahu kenapa selama ini ia tidak bisa mendeteksi keberadaan Yoo-Ran.

Tempat yang sekarang dituju Seo-hee ternyata adalah rumah Jin-Joo. Untuk mengecek apakah benar Yoo-Ran bekerja di sana, ia sengaja meminta untuk dibuatkan minum oleh Jin-Joo. Dengan senang hati Jin-Joo menyanggupinya dan meminta Yoo-Ran untuk membuatkan kopi untuk mereka.

Sambil menunggu kopi datang, Jin-Joo menceritakan pada Seo-Hee bahwa asistennya itu akan segera keluar. Seo-Hee terkejut sekaligus penasaran mendengarnya. Tak lama Yoo-Ran muncul sambil membawakan kopi. Ia pun kaget begitu mengetahui yang datang adalah Seo-Hee.

“Aku mendengar kamu akan keluar,” ujar Seo-Hee usai Yoo-Ran menghidangkan kopi dan hendak kembali ke dapur. “Apakah kamu sudah memutuskan hendak pergi kemana? Jika tidak, bagaimana kalau ke rumahku?”

“Oh ya? Aku boleh pergi ke rumahmu?” tanya Yoo-Ran sembari menahan emosinya.

Jin-Joo tersedak mendengarnya.

“Bolehkah aku memasak di rumahmu? Kamu tidak mau menyerahkan ruang tidur utama tapi dapur tidak masalah?” sindir Yoo-Ran.

Seo-Hee langsung terdiam.

“Aku tidak tahu kenapa kamu ada di sini dan apa yang ingin kamu verifikasi, kamu salah. Alasan aku hidup seolah aku sudah mati adalah karena Joon-Jae bisa berada dalam bahaya. Sekarang tidak ada yang bisa menghentikanku,” lanjut Yoo-Ran tegas.

Sadar suasana menjadi tidak enak, Jin-Joo pura-pura tidak mendengar dan sibuk meminum kopinya. Seo-Hee lalu meminta Jin-Joo untuk memberi waktu bagi mereka berdua. Tapi belum sempat Jin-Joo beranjak pergi, Yoo-Ran meneruskan kata-katanya.

“Kamu pernah bilang, ada seorang jalang yang mencuri suami temannya dan merebut tempatnya. Kamu tidak tahu dimana istrinya yang asli yang telah diusir pergi. Itulah aku. Istri asli yang diusir keluar. Dan orang ini, adalah jalang berhati kejam itu.”

Jin-Joo terkejut mendengarnya dan tidak bisa berkata apa-apa. Sepeninggal Seo-Hee, barulah ia dengan girang menelpon temannya dan mulai menyebarkan gosip barusan.

Detektif Hong Dong-pyo (Park Hae-Soo) dan rekannya sedang berada di rumah Joon-Jae, membahas perkembangan kasus Ma Dae-Young bersama Nam-Doo. Nam-Doo memberitahu mereka bahwa ia sudah melakukan pencarian terhadap sosok Kang Ji-Hyeon, namun tidak membuahkan hasil apapun, selain informasi tentang Ji-Hyeon yang dua kali menikah dan dua kali menerima harta warisan dan asuransi dari kematian suaminya. Yang lebih aneh lagi, keluarga yang dulu mengadopsi Ji-Hyeon saat ia masih kecil pun menghilang begitu saja. Terakhir, Nam-Doo memberitahu mereka bahwa Ji-Hyeon berasal dari sekolah yang sama dengan ibu Joon-Jae.

Kang Ji-Hyeon alias Kang Seo-Hee memapah Heo Gil-Joong (Choi Jung-Woo) masuk ke dalam mobil. Ia lantas memperkenalkan sekretarisnya yang menggantikan sekretaris Nam untuk sementara. Tanpa disadari oleh Gil-Joong, sekretaris tersebut adalah Dae-Young yang menyamar.

Setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, giliran Jin-Joo yang kini bersikap manis pada Yoo-Ran. Ia pun tidak sungkan untuk memanggil Yoo-Ran sebagai unni (big sis) dan mempersilahkannya untuk terus tinggal di rumah itu tanpa perlu bekerja lagi.

“Bagaimana bisa,” respon Yoo-Ran sungkan.

“Unni! Aku sungguh berpikir aku baru saja menonton sebuah drama sejarah yang hebat!” ujar Jin-Joo girang sembari menyamakan Yoo-Ran dengan sosok Queen Consort Inhyeon dan menyatakan niatnya untuk membantu Yoo-Ran mendapatkan kembali posisinya.

“Aku tidak berniat seperti itu,” ungkap Yoo-Ran.

“Tidak, tidak. Bahkan jika kamu tidak punya niatan untuk itu, kamu harus melakukannya, setidaknya untukku,” balas Jin-Joo. “Apapun itu, aku akan membantumu, Unni, dan tidak akan pernah membiarkanmu pergi begitu saja.”

Jin-Joo mendatangi kamar Cha Si-A (Shin Hye-Sun) dan menanyakan apakah Si-A memang sudah tahu kalau ahjumma mereka adalah istri dari chairman Heo. Si-A yang hanya tahu kalau Yoo-Ran adalah ibu Joon-Jae pun kaget mendengarnya. Jin-Joo dengan bersemangat menceritakan hal itu pada Si-A, sementara Si-A jadi makin galau mengetahui Joon-Jae adalah anak mereka.

Si-A ndugem di klub ternama untuk menghilangkan kegalauannya. Setelah puas, ia menelpon Tae-O dan memintanya untuk menjemputnya pulang. Tae-O malas-malasan melakukannya karena saat itu sudah hampir jam 12 malam, namun seperti biasa, Si-A justru ge-er dan mengira sebaliknya.

Ketika hendak pergi, Nam-Doo yang mengetahui Tae-O menuju ke klub ternama segera ikutan. Pun begitu dengan Sim Chung, mengira di tempat itu ada ‘air segar’. Setibanya di sana, ketiganya sempat dicegat dan tidak diperbolehkan masuk oleh bodyguard penjaga pintu. Tapi begitu Sim Chung membuka mantelnya, mereka pun dipersilahkan untuk masuk.

Pesona Sim Chung tidak berhenti sampai di sana. Saat menuju ke tempat Si-A berada, semua mata memandang ke arah Sim Chung. Sim Chung sendiri cukup menikmati suasana di tempat tersebut.

Sementara itu, Joon-Jae yang tiba di rumah tidak mendapati seorang pun di sana. Ia lalu menelpon Nam-Doo dan menanyakan keberadaan mereka. Tahu Sim Chung ikut dengan mereka ke klub, Joon-Jae menyusul ke sana.

Beberapa waktu kemudian, Sim Chung sudah asyik bergoyang dan menjadi pusat perhatian. Si-A tidak mau kalah dan ikut bergoyang bersamanya. Joon-Jae yang tiba di sana kaget melihat kelakuan Sim Chung dan lantas mengajaknya untuk pulang.

Hujan ternyata tiba-tiba turun dengan deras sehingga keduanya tetap saja tidak bisa pulang dan hanya berdiri di depan pintu klub.

“Sepertinya ini adalah salah satu hal yang tidak bisa aku lakukan bersamamu,” ujar Sim Chung, “Berjalan di saat hujan. Kamu tahu aku tidak bisa.”

“Tidak ada yang kamu tidak bisa,” respon Joon-Jae, “Tunggulah di sini sebentar.”

Joon-Jae pun pergi meninggalkannya dan tak lama kemudian kembali sembari membawa payung dan sepasang sepatu bot.

“Jangan bilang aku tidak bisa atau aku tidak akan melakukannya mulai dari sekarang,” pinta Joon-Jae, “Aku akan membuatmu melakukan apa saja yang dilakukan orang lain yang tinggal di sini tanpa membiarkan tertinggal satu hal pun.”

Setelah memakaikan sepatu bot tersebut, keduanya berjalan menembus hujan dengan menggunakan payung. Sim Chung menatap wajah Joon-Jae dengan bahagia.

Sim Chung bersama dengan Yoo-Na (Shin Rin-Ah) di sebuah supermarket. Ia memberitahu Yoo-Na tentang Joon-Jae yang ternyata bisa mendengar suara hatinya dan bahwa sekarang ia lega karena sudah bisa menjalani hidup normal seperti orang lain.

“Tapi kamu tahu, dari pengalamanku, yang tersulit adalah hidup normal seperti orang lain,” respon Yoo-Na.

“Aku akan pastikan aku melakukan ini,” balas Sim Chung, “menjadi tua bersama dengan Heo Joon-Jae seperti orang lain.”

Tak lama teman gelandangan Sim Chung datang. Sambil makan bakpao, mereka bertiga melihat orang-orang yang berlarian menerobos hujan. Teman gelandangan Sim Chung menunjukkan perbedaan para wanita yang membawa tas asli dengan tas kw di saat hujan. Sim Chung heran karena menurutnya tas kw tidak jauh berbeda kualitasnya dengan yang asli.

“Tapi ada satu hal yang tidak bisa dibohongi,” ujar temannya, “Perasaan si pemilik tas. Kamu tidak bisa menyembunyikan pemiliknya. Mereka tahu bahwa tas mereka adalah palsu. Itu sebabnya mereka menggunakannya seperti payung dan berlari saat hujan.”

“Tapi di antara para pemilik tas, tidak peduli itu asli atau palsu, ada yang merawatnya dengan baik dan menyukainya karena itu adalah milik mereka. Aku hanya mengatakan itu mungkin. Aku merasa seperti orang yang palsu di dunia ini untuk beberapa alasan. Namun begitu, aku merasa bahwa aku masih berhak untuk dicintai oleh seseorang,” balas Sim Chung.

Sim Chung kemudian memberitahu mereka untuk datang ke rumahnya besok karena ia memutuskan besok adalah hari ulang tahunnya. Teman Sim Chung menanyakan apakah ada hadiah ulang tahun yang diinginkan Sim Chung. Mendengar Sim Chung meminta ikan mackerel, teman Sim Chung hanya bisa menatapnya dengan aneh.

Chi-Hyun diam-diam mendatangi kamar inap sekretaris Nam saat istrinya sedang keluar. Sekretaris Nam terbangun dan melihatnya, namun tidak bisa berbuat apa-apa karena tubuhnya masih lumpuh. Setelah berbasa-basi, Chi-Hyun menanyakan apakah orang yang berhubungan dengan Dae-Young, seperti yang ditanyakan Joon-Jae sebelumnya, adalah ibunya. Mata sekretaris Nam terbelalak mendengar pertanyaan itu, sehingga Chi-Hyun pun tahu bahwa jawabannya adalah ya.

“Ibu sepertinya lega dengan fakta bahwa kamu hanya terbaring di sini tanpa bisa berkata apa-apa,” lanjut Chi-Hyun, “Tapi ini bukan masalah berbicara. Benar, bukan? Masalahnya adalah di sini, pikiranmu. Sesuatu yang bisa mengkhianati kita kapan saja, pikiranmu.”

Chi-Hyun menutup kalimatnya dengan mencabut selang life support sekretaris Nam.

Yoo-Ran menghubungi istri sekretaris Nam dan menanyakan apakah benar Joon-Jae pergi dari rumah. Istri sekretaris Nam akhirnya memberitahu yang sebenarnya, termasuk bahwa Joon-Jae beberapa kali membesuk suaminya yang saat ini sedang berada di rumah sakit. Yoo-Ran kemudian meminta nomer telpon Joon-Jae. Karena tidak membaca kacamatanya, istri sekretaris Nam meminta Yoo-Ran untuk menunggu sejenak sembari ia melangkah kembali ke kamar inap suaminya untuk mengambil kacamatanya.

Sementara itu, melihat kondisi sekretaris Nam yang menjadi kritis akibat selangnya dicabut membuat Chi-Hyun menjadi panik. Seseorang tiba-tiba menariknya keluar dan membawanya ke tangga darurat. Orang itu adalah Dae-Young.

Beberapa saat kemudian, petugas medis mendatangi kamar sekretaris Nam dan mendapati jantungnya sudah berhenti berdetak. Mereka segera melakukan CPR untuk menyelamatkan nyawanya. Istri sekretaris Nam yang tiba di sana langsung menjadi syok dan jatuh pingsan.

Dae-Young membawa Chi-Hyun pulang. Ia mengingatkan Chi-Hyun, yang kebingungan dengan keberadaan Dae-Young di sana, agar tidak berbuat hal yang aneh-aneh lagi.

“Jangan berbicara omong kosong!” bentak Chi-Hyun, “Aku bertanya kepadamu kenapa orang berbahaya sepertimu ada di sekitar ibuku dan aku?!”

“Apa, brengsek?! Dengarkan baik-baik. Kamu hanya harus diam dan mengambil keuntungan dari apa yang dilakukan orang lain untukmu. Jangan membalikkan meja yang sudah disiapkan. Kamu mengerti?” balas Dae-Young.

Yoo-Ran harap-harap cemas menunggu telpon dari istri sekretaris Nam tanpa menyadari apa yang terjadi di rumah sakit. Ponselnya kemudian berbunyi, namun Sim Chung yang menelpon, mengundangnya untuk datang besok ke pesta ulang tahunnya. Yoo-Ran sempat menolak untuk datang karena masih memikirkan soal Joon-Jae, namun begitu mengetahui Sim Chung belum pernah merayakan ulang tahun selama hidupnya dan ia juga tidak punya orang tua, Yoo-Ran pun menyanggupi.

Sim Chung sibuk menyiapkan pesta ulang tahunnya. Yoo-Na sudah lebih dulu datang, disusul dengan teman gelandangannya yang membawakan ikan makarel sesuai permintaan Sim Chung. Nam-Doo yang baru pertama kali melihat teman gelandangan Sim Chung hanya bisa menatap ulah teman Sim Chung yang cuek dan serampangan itu dengan jijik.

Sementara itu, Joon-Jae yang sedang pergi keluar mampir untuk membeli sebuket bunga untuk Sim Chung saat Nam-Doo memberitahunya kalau Sim Chung tiba-tiba ingin merayakan pesta ulang tahun di rumah.

Yoo-Ran sedang berjalan menuju rumah Sim Chung. Tanpa ia duga, Sim Chung menyusulnya dan menemuinya di jalan.

“Setelah memutuskan hari ini sebagai hari ulang tahunku, aku merasa seperti baru dilahirkan kembali,” ujar Sim Chung. “Perasaan seperti diberi ijin untuk menjalani hidup baru di sini.”

“Aku mencoba untuk mengatur kembali hidupku dan meninggalkan rumah yang selama ini aku tinggali. Aku telah bersembunyi selama ini. Sekarang, aku akan menemukan orang yang ingin aku temukan, mengatakan apa yang ingin aku katakan.. Aku ingin hidup seperti itu,” balas Yoo-Ran.

Keduanya saling melempar senyum dan melanjutkan kembali langkah mereka. Joon-Jae ternyata ada di seberang jalan, sedang memperhatikan Sim Chung dengan tersenyum. Tak lama mereka tiba di jalur penyeberangan. Sim Chung yang melihat Joon-Jae segera melambaikan tangan kepadanya, yang dibalas Joon-Jae dengan senyuman.

“Siapa?” tanya Yoo-Ran.

“Kekasihku,” jawab Sim Chung.

Sim Chung lantas memanggil nama Joon-Jae berulang kali sembari melambaikan tangan. Yoo-Ran terkejut mendengarnya.

“Nama kekasihmu Heo Joon-Jae?” tanya Yoo-Ran lirih.

“Ya. Ia sungguh tampan,” jawab Sim Chung.

Yoo-Ran makin terkejut. Ia sendiri masih belum bisa melihat Joon-Jae dengan jelas karena terhalang oleh mobil yang sedang lalu lalang di jalan. Matanya mulai berkaca-kaca saat Sim Chung menceritakan tentang apa yang biasa dilakukan ibu Joon-Jae saat Joon-Jae masih muda.

“Ada yang salah?” tanya Sim Chung.

“Nama anakku sama,” jawab Yoo-Ran, “Heo Joon-Jae. Aku sudah lama tidak melihatnya.”

“Heracles Lighthouse?” tanya Sim Chung.

Yoo-Ran kaget mendengar nama itu, nama tempat dimana ia dulu meninggalkan Joon-Jae. Ia hampir saja terjatuh karena syok, namun Sim Chung dengan sigap memegangi lengannya.

Sambil menatap ke arah Joon-Jae, dalam hati Sim Chung berkata, “Heo Joon-Jae, apa yang dinyatakan oleh legenda mercusuar itu adalah benar. Bahwa siapa saja yang terpisah pasti akan dipertemukan kembali. Bahwa mereka akan bertemu kembali dan saling mencinta. Selamat. Kamu akan bertemu dengan ibumu sekarang.”

Joon-Jae yang sepertinya mendengar suara hati Sim Chung tersebut mulai menatap ke arah Yoo-Ran dengan pandangan tidak percaya. Sesaat kemudian lampu penyeberangan jalan menyala. Keduanya pun melangkah perlahan sembari tetap saling bertatapan.

Preview Episode 16

Berikut ini adalah preview eps 16 dari drakor Legend Blue Sea:

» Sinopsis Episode 16 Selengkapnya

Tema artikel yang berhubungan: , , ,

Reply