Rekap Sinopsis The Legend Of The Blue Sea Episode 14 & Preview Episode 15 (4 Januari 2017)

Di sinopsis The Legend Of The Blue Sea (TLOTBS) episode sebelumnya, Ma Dae-Young (Sung Dong-Il) ternyata adalah pasangan dari Kang Seo-Hee (Hwang Shin-Hye). Dengan Seo-Hee yang sudah sengaja membuat Heo Gil-Joong (Choi Jung-Woo) menandatangani pemberian warisan kepada Heo Chi-Hyun (Lee Ji-Hoon) tanpa ia sadari, ia pun meminta Dae-Young untuk segera menghabisi Heo Joon-Jae (Lee Min-Ho) agar keluarga mereka bisa lekas bersatu kembali. Sementara itu, Joon-Jae yang penasaran meminta kenalannya, professor Jin Gyeong Won, untuk menghipnotisnya agar bisa melihat akhir dari mimpi yang selama ini alami. Tanpa ia sadari, Gyeong Won adalah orang yang selama ini memberikan obat penenang bagi Dae-Young. Apa yang kira-kira akan terjadi selanjutnya di sinopsis drama Korea Remember the Blue Sea episode 14 kali ini?

Dok. gambar dan video © SBS of Korea Selatan

Sinopsis Episode 14

Joon-Jae tersadar dari mimpinya.

“Aku tidak bisa melindunginya. Pada akhirnya, karena diriku…” ujar Joon-Jae sembari menangis dan memegangi dadanya. “Karena aku tidak bisa melindunginya…”

“Setelah berkata seperti itu,” lanjut Joon-Jae, “Setelah berjanji seperti itu, aku melupakan semuanya. Bahkan meski ia sudah terlahir kembali dan mencariku, bertemu denganku, dan mencintaiku, aku tidak bisa mengingat apapun. Hanya membuatnya menangis. Aku tidak bisa melindungi apapun.”

Tidak tahu apa yang dibicarakan Joon-Jae, profesor Jin hanya terdiam mendengarkannya berbicara.

Dae-Young perlahan membuka pintu ruangan profesor Jin. Saat itu Joon-Jae sedang menceritakan detil mimpinya pada profesor Jin. Diam-diam Dae-Young ikut menguping.

“Itu takdir yang menyedihkan,” respon profesor Jin usai mendengar cerita Joon-Jae.

“Kenapa kita dilahirkan kembali dan kenapa kita dipertemukan kembali?” tanya Joon-Jae.

“Untuk seseorang yang sudah terlahir kembali, bukankah itu berarti bahwa ada mimpi yang belum terpenuhi?” jawab profesor Jin. “Mimpi itu mungkin saja cinta yang belum terwujud atau bisa jadi keserakahan yang tidak ada habisnya.”

“Buat apa takdir yang menyedihkan berulang?”

“Dari keduanya, manakah yang merupakan takdir menyedihkan yang sesungguhnya? Apakah itu takdirmu dan orang yang berusaha melukaimu atau takdirmu dan orang yang kau cintai? Jika kamu tidak mencintainya, dan jika dia tidak mencintaimu, maka tidak akan ada yang namanya akhir yang tragis. Cinta kalian berdua pada akhirnya membunuh satu sama lain. Adakah takdir yang lebih buruk dari itu?”

“Menurutmu itu semua bakal terulang?” tanya Joon-Jae memastikan.

“Jika kamu berhenti di sini dan mengirimnya kembali ke tempat asalnya, tidakkah kamu akan bisa menghindari akhir yang tragis?” tanya profesor Jin balik.

“Tidak,” jawab Joon-Jae tegas, “Fakta bahwa semuanya terulang kembali bukanlah kutukan, melainkan sebuah kesempatan. Sebuah kesempatan untuk merubah akhir cerita.”

Dae-Young perlahan menutup pintu dan pergi meninggalkan tempat tersebut dengan senyum sekilas.

Joon-Jae bergegas pulang ke rumah dan mencari keberadaan Sim Chung (Jun Ji-Hyun). Namun hanya ada Jo Nam-Doo (Lee Hee-Joon) di sana, yang lantas memberitahunya bahwa Sim Chung baru saja pergi keluar beberapa waktu lalu. Joon-Jae pun pergi keluar untuk mencarinya.

Sim Chung ternyata berada di mesin UFO Catcher, masih tetap gigih berusaha untuk mengambil boneka gurita merah jambu yang ia inginkan. Ia tidak sendiri karena ada banyak anak kecil di belakangnya yang asyik menonton aksinya. Tanpa mempedulikan mereka, setibanya di sana Joon-Jae langsung memeluk Sim Chung erat.

“Heo Joon-Jae, apa kamu mendapat mimpi buruk?” tanya Sim Chung.

“Mimpi buruk, aku sudah cukup dengan itu. Aku tidak akan bermimpi lagi,” jawab Joon-Jae.

Ia kemudian melepaskan pelukannya dan menatap dalam ke arah Sim Chung hingga Sim Chung menjadi sedikit salah tingkah.

“Apa ada yang ingin kamu lakukan?” tanya Joon-Jae. “Sesuatu yang ingin kamu lakukan. Ayo kita lakukan semua.”

“Semuanya?” tanya Sim Chung heran.

“Ya, semuanya,” jawab Joon-Jae.

“Heo Joon-Jae, kalau begitu haruskah kita menikmati beberapa hal yang santai dan sia-sia?”

“Apa?” tanya Joon-Jae.

“Sebenarnya, ada tiga tahapan dari cinta: Cinta Romantis (Romantic Love), Cinta Panas (Hot Love), dan Cinta Kotor (Dirty Love). Apa yang sedang kita coba lakukan adalah cinta romantis.”

“Apa itu cinta romantis?”

“Yah, itu semacam formalitas yang sia-sia,” jawab Sim Chung. “Minum teh, nonton film, makan bareng, melakukan kegiatan yang spesial, saling menyatakan cinta, hal-hal semacam itu. Tapi semuanya itu mengarah ke cinta kotor.”

“Kotor?”

“Ya, kotor. Aku juga sangat penasaran dengan itu, tapi aku diberitahu seseorang bahwa hal itu hanyalah untuk yang sudah ahli. Dia bilang jika kita mendekatinya dengan sembrono, itu bisa berakhir dengan menjijikkan. Jadi kita harus berhati-hati. Makanya kita harus menikmati formalitas yang sia-sia terlebih dahulu.”

“Baik, ayo lakukan itu. Apa yang dilakukan orang lain, ayo kita lakukan semuanya,” respon Joon-Jae.

Joon-Jae lalu menggandeng tangan Sim Chung dan mengajaknya pergi. Mereka pun melakukan hal-hal yang diinginkan Sim Chung seperti layaknya sepasang kekasih yang sedang berpacaran. Mulai dari makan bareng sambil suap-suapan, main game sejenis Dance Dance Revolution bersama-sama, nonton film Titanic, dan terakhir minum teh di cafe.

“Kamu tahu, aku hanya mengatakan ini, jadi jangan berpikir terlalu banyak tentang ini dan jawab dengan cepat,” ujar Joon-Jae tiba-tiba.

“Yeah,” jawab Sim Chung singkat.

“Di film yang kita lihat barusan, pria tadi menyelamatkan si wanita, lalu mati, bukan?”

“Ya, dia mati,” respon Sim Chung sedih.

“Maksudku, tidak mungkin hal semacam itu bakal terjadi, tapi jika aku mati seperti itu, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Joon-Jae.

“Aku akan mengikutimu,” jawab Sim Chung tanpa ragu.

“Hei! Apa maksudmu kamu akan mengikutiku? Apa kamu gila?” sergah Joon-Jae. “Dan kamu harus memikirkannya terlebih dahulu sebelum merespon.”

“Kamu memintaku untuk langsung menjawab tanpa berpikir,” balas Sim Chung.

“Tapi tetap saja, siapa yang akan menjawab seolah-olah dia sedang diajak untuk pergi ke supermarket?”

“Jika kamu hidup, aku harus hidup bersamamu. Dan jika kamu, aku harus mati bersamamu,” tegas Sim Chung.

“Apa kamu bodoh? Lalu apa gunanya pria itu mati? Pria itu mati untuk menyelamatkan si wanita,” respon Joon-Jae. “Pria tadi berkata, ‘Ku mohon dengarkan permintaanku. Berjanjilah bahwa kamu akan tetap hidup dan tidak akan menyerah. Hiduplah hingga akhir, temukan seseorang dan hidup bahagia hingga tua.'”

“Apa kamu akan melakuknnya?” tanya Sim Chung balik. “Jika aku tidak ada di dunia ini, akankah kamu menemui orang lain dan hidup bahagia hingga tua?”

Joon-Jae terdiam sejenak. Demi mengubah pemikiran Sim Chung, ia kemudian berkata, “Ya, tentu saja aku akan melakukannya.”

“Kamu yakin akan melakukannya?”

“Ya, Kamu juga lakukan hal yang sama. Jika, benar-benar jika, sesuatu terjadi kepadaku, kamu hiduplah dengan baik. Jangan menyerah. Hal-hal yang bagus, hal-hal yang indah, milikilah semuanya,” pesan Joon-Jae.

“Apa ada yang terjadi, Heo Joon-Jae? Kamu bilang kamu hanya sekedar mengatakannya, tapi ada apa dengan nada yang serius ini?” tanya Sim Chung khawatir. “Apa sesuatu benar-benar akan terjadi kepadamu?”

“Aku sudah bilang itu hanya ‘jika’,” jawab Joon-Jae. “Berjanjilah padaku. Jika terjadi sesuatu, kamu tidak akan melakukan hal-hal yang aneh. Hingga akhir, hiduplah dengan baik.”

“Aku tidak bisa,” jawab Sim Chung setelah terdiam sejenak.

“Kenapa?”

“Aku merasa jika aku berjanji maka sesuatu yang buruk akan terjadi.”

“Makanya aku bilang ‘jika’.”

“Mau ‘jika’ atau ‘tidak jika’, aku tidak menyukainya.”

“Jadi? Kamu tidak akan berjanji?”

“Tidak.”

“Kamu sungguh tidak akan?” Joon-Jae kembali bertanya.

“Aku tidak akan berjanji,” jawab Sim Chung dengan nada tinggi.

Beberapa saat kemudian, dalam perjalanan pulang, Joon-Jae hanya terdiam. Saat Sim Chung mempertanyakan sikap Joon-Jae yang berubah menjadi dingin, Joon-Jae hanya menjawab dengan meminta Sim Chung untuk berjanji. Karena Sim Chung tetap tidak mau berjanji, Joon-Jae pun kembali membisu.

“Jangan bicara kepadaku. Aku juga tidak akan bicara kepadamu,” respon Sim Chung kesal.

Setibanya di rumah, Joon-Jae langsung meminta Tae-O (Shin Won-Ho) untuk berbicara berdua dengannya, sementara Sim Chung duduk di ruang tengah bersama Nam-Doo.

“Ada apa dengan atmosfer di antara kalian berdua? Apa kalian berantem?” tanya Nam-Doo pada Sim Chung.

“Ia terus saja mengatakan hal yang aneh,” jawab Sim Chung.

“Hal aneh macam apa?” tanya Nam-Doo heran.

“Seperti mengatakan bahwa jika ada sesuatu yang terjadi kepadanya, aku harus hidup dengan baik. Aneh, bukan?”

Nam-Doo mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kenapa?” tanya Sim Chung penasaran.

“Tiba juga akhirnya, ia sudah mulai bosan,” jawab Nam-Doo. “Periode cinta yang valid adalah 3 bulan. Ini sudah 3 bulan untuk kalian berdua. Kamu harus melalui ini dengan baik atau kereta ekspress akan bergerak menuju perpisahan kalian.”

“Heo Joon-Jae bukan tipe orang seperti itu,” sergah Sim Chung tidak percaya.

“Heo Joon-Jae justru orang seperti itu. Aku sudah mengenalnya selama 10 tahun dan ia tidak pernah punya pacar lebih dari 3 bulan. Mereka semua putus sebelum itu,” cerita Nam-Doo.

Dengan kesal Sim Chung pergi ke kamarnya dengan terlebih dahulu menamparkan mantelnya ke muka Nam-Doo.

Sementara itu, di kolam renang, Joon-Jae meminta Tae-O untuk memaksimalkan pengaturan keamanan rumah.

“Apa ini karena Ma Dae-Young?” tanya Tae-O.

Joon-Jae terdiam mendengar nama itu. Di saat yang hampir bersamaan, Dae-Young menemui profesor Jin di ruangannya.

“Heo Joon-Jae tadi datang ke sini, bukan? Jangan berpikir untuk berbohong karena aku melihat semuanya,” ujar Dae-Young.

Ia lantas duduk di kursi pasien dan meminta profesor Jin untuk melakukan hal yang sama kepadanya seperti yang tadi ia lakukan pada Joon-Jae.

“Sepertinya ia tadi melihat akhir ceritanya, aku juga ingin melihat punyaku,” lanjut Dae-Young. “Aku rasa aku perlu melihatnya agar aku bisa tahu kenapa hidupku berjalan seperti ini. Sejak saat aku dilahirkan, aku selalu merasa bahwa aku sedang dihukum. Kenapa hidupku seperti ini, aku selalu bertanya-tanya. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku rasa jawabannya ada di kehidupan itu.”

Profesor Jin kemudian menghipnotis Dae-Young agar bisa melanjutkan mimpinya. Beberapa saat kemudian Dae-Young terbangun.

“Itu bukan aku, itu bukan aku,” ujarnya terkejut.

“Lalu siapa itu? Siapa yang membunuh mereka?” tanya profesor Jin.

Dae-Young tidak menjawabnya.

Dalam rapat dewan direksi, Chi-Hyun mengumumkan bahwa mulai sekarang ia akan mengambil alih posisi ayahnya, chairman Heo. Walau demikian, ia tidak mau mengakui kondisi Gil-Joong yang sebenarnya dan berdalih bahwa ayahnya sedang pergi berlibur untuk memulihkan kondisinya. Chi-Hyun menambahkan bahwa siapa saja yang tidak berniat untuk berada di bawah pimpinannya dipersilahkan untuk meninggalkan ruangan. Mau tidak mau semua yang ada di sana terdiam dan menurutinya.

Chi-Hyun mengunjungi ayahnya di rumah sakit dan memberitahunya bahwa beberapa hari lagi ia sudah bisa pulang ke rumah.

“Mataku semakin memburuk,” respon Gil-Joong. “Ini adalah masalah besar.”

“Oh, tapi karena kamu baru saja menjalani operasi pendarahan, akan sulit kalau harus melakukan operasi mata,” dalih Chi-Hyun. “Untuk saat ini, minum obat dan berhati-hati agar tidak memperburuk kondisinya.”

Gil-Joong mengiyakan.

“Kamu bisa mengontak Joon-Jae, bukan?” lanjutnya.

“Tentu saja,” jawab Chi-Hyun dengan menahan emosi. “Sesaat setelah engkau jatuh, aku langsung mengontaknya.”

“Kamu melakukannya?” tanya Gil-Joong sedikit tidak percaya.

“Ya. Sepertinya ia sedang sibuk. Aku akan mencoba menghubunginya lagi,” jawab Chi-Hyun.

Joon-Jae masih belum mau berbicara dengan Sim Chung. Sim Chung juga tidak mau kalah dan ikut berdiam diri, sambil mengomel dalam hati. Joon-Jae yang kebetulan berada di belakangnya dan sedang bersiap-siap untuk pergi jadi kesal karena mendengar suara hati Sim Chung.

“Hey!” bentak Joon-Jae.

“Apa??” balas Sim Chung tidak kalah kerasnya.

“Sudahlah. Kalau memang tidak bisa bersatu, lebih baik putus saja,” respon Nam-Doo yang baru saja keluar dari kamarnya.

“Jangan pergi kemana-mana dan tetap diam di rumah,” perintah Joon-Jae pada Sim Chung.

“Aku tidak mau. Aku punya janji,” jawab Sim Chung.

“Siapa yang kamu temui?” tanya Joon-Jae.

“Siapa yang kamu temui?” tanya Sim Chung balik.

Joon-Jae tidak mau menjawabnya.

“Lihat? Kamu bahkan tidak mau memberitahuku,” respon Sim Chung kesal.

“Itu benar. Harusnya itu adil,” timpal Nam-Doo sembari menyeruput kopinya.

“Kalau begitu, kamu pergi dengan dia, Hyung,” balas Joon-Jae.

“Buat apa aku pergi dengan dia?” respon Nam-Doo enggan.

“Aku tidak mau. Itu janjiku. Aku tidak butuh siapapun,” ujar Sim Chung.

“Baiklah. Lakukan apa yang kamu inginkan,” balas Joon-Jae sembari meninggalkan mereka.

Joon-Jae pergi menemui sekretaris Nam yang masih belum juga pulih kondisinya meski sudah sadarkan diri. Joon-Jae menceritakan kepadanya tentang sosok sekretaris Nam di kehidupannya yang lalu yang merupakan sahabat baiknya.

“Kali ini kamu terlahir lebih dulu dan tetap berada di sampingku bahkan sejak aku masih muda,” ujar Joon-Jae. “Sekarang, siapapun yang membuatmu seperti ini, aku akan menemukannya.”

Joon-Jae kemudian menunjukkan foto Dae-Young dan meminta sekretaris Nam untuk berkedip dua kali apabila benar itu adalah sosok orang yang telah mencelakainya. Sekretaris Nam pun melakukannya.

“Kira-kira adakah seseorang yang berkaitan dengan Ma Dae-Young di sekitarmu?” tanya Joon-Jae.

Tanpa disangka sekretaris Nam kembali berkedip dua kali. Belum sempat Joon-Jae bertanya lagi, tiba-tiba Chi-Hyun datang.

Masih di rumah sakit, Joon-Jae lalu ngobrol bersama dengan Chi-Hyun. Chi-Hyun mengatakan bahwa ia sedang mabuk saat terakhir ia menghubungi Joon-Jae.

“Mengatakan kamu akan melindungi ibumu, jadi aku harus melindungi ayahku, juga sesuatu yang kamu katakan karena kamu mabuk?” tanya Joon-Jae tidak percaya.

“Oh, aku mengatakan itu? Aku apsti benar-benar sedang mabuk,” dalih Chi-Hyun.

“Bagaimana dengan kondisi kesehatan ayah?” tanya Joon-Jae.

“Oh, ia sudah mendingan sekarang. Ayah kita menyerahkan semua pekerjaannya kepadaku dan melakukan perjalanan bersama teman-temannya,” jawab Chi-Hyun berbohong. “Juga, kamu akan tahu ini cepat atau lambat, ayah sudah melegalisir surat wasiatnya. Ia menyerahkan hampir semua hartanya padaku dan ibu. Aku beberapa kali memintanya untuk mempertimbangkannya. Setelah pertemuan denganmu terakhir kali, ia pasti patah hati.”

“Apakah kamu selalu akrab seperti ini?” respon Joon-Jae. “Aku akan membenci ayahku sendiri. Kamu tidak perlu mendorongku untuk membencinya. Jika kamu terus melakukan ini, sepertinya kamu punya maksud tersembunyi.”

Chi-Hyun hanya tersenyum tanpa membalasnya. Joon-Jae kemudian beranjak dari kursinya dan hendak pergi meninggalkan tempat.

“Bagaimana dengan Chung?” tanya Chi-Hyun tiba-tiba. “Apa ia baik-baik saja?”

“Kenapa kamu menanyakan itu?” tanya Joon-Jae balik.

“Itu dia. Aku memikirkannya dari waktu ke waktu. Aku penasaran apakah ia baik saja. Sampaikan salamku untuk dia.”

“Buat apa aku melakukannya?”

“Lupakan saja kalau kamu memang tidak mau melakukannya,” respon Chi-Hyun seraya menepuk pundak Joon-Jae dan melangkah pergi.

Cha Si-A (Shin Hye-Sun) berguling-guling di tempat tidurnya, galau memikirkan Mo Yoo-Ran (Na Young-Hee) yang ternyata adalah ibu dari Joon-Jae. Ia hendak mengirim pesan pada Joon-Jae dan memberitahu yang sesungguhnya, namun tidak berani melakukannya. Di saat itu Yoo-Ran masuk ke kamarnya untuk membawakan makanan. Dengan sikap Si-A bangkit dari tempat tidurnya dan menanyakan tujuan Yoo-Ran datang ke kamarnya dengan hormat.

“Aku dengar kamu sakit hingga tidak bisa berangkat kerja. Cobalah makan bubur ini,” ujar Yoo-Ran.

“Oh, aku jadi membuatmu bekerja ekstra,” respon Si-A seraya mengambil nampan yang sedang dipegang Yoo-Ran dan meletakkannya di meja. “Apa yang harus aku lakukan?”

“Tidak apa-apa. Panggil aku setelah kamu selesai makan jadi aku bisa membawanya,” balas Yoo-Ran dengan sedikit heran.

“Ini tidak seperti aku tidak punya tangan atau kaki. Beraninya aku sampai memanggilmu,” jawab Si-A. “Setelah aku selesai, aku akan membereskannya sendiri. Ku mohon tidak usah memikirkanku.”

“Baiklah kalau begitu,” respon Yoo-Ran.

Saat Yoo-Ran hendak keluar kamar, tiba-tiba Si-A memeluknya dari belakang hingga Yoo-Ran terkejut.

“Aku ingin melakukan ini sekali saja,” ujar Si-A.

“Maafkan aku, tapi aku jadi merasa tidak nyaman,” respon Yoo-Ran.

Si-A segera melepaskan pelukannya dan meminta maaf, sementara Yoo-Ran bergegas melangkah keluar dari kamar Si-A. Ia lalu menghampiri Ahn Jin-Joo (Moon So-Ri) yang sedang berada di ruang tengah dan memberitahunya bahwa sepertinya Si-A sedang benar-benar sakit karena tingkahnya tidak normal. Jin-Joo tidak terlalu menghiraukannya karena baginya tingkah Si-A memang seringkali tidak normal.

Jin-Joo lantas menghubungi Kang Seo-Hee (Hwang Shin-Hye) via telpon, namun panggilannya direject.

“Dasar wanita itu, Kang Seo Hee. Lagi-lagi ia menghiraukan telponku, ha!” ujar Jin-Joo kesal.

Yoo-Ran yang hendak pergi ke dapur langsung menghentikan langkahnya begitu mendengar nama itu. Ia lalu kembali menghampiri Jin-Joo yang menanyakan tentang putra asli chairman Heo pada Jin-Joo. Jin-Joon pun menceritakan tentang putra Seo-Hee yang kini menjalankan perusahaan chairman Heo serta putra asli chairman Heo yang kabur dari rumah 10 tahun yang lalu. Yoo-Ran kaget mendengarnya. Setelah terdiam beberapa saat, Yoo-Ran berpamitan untuk pergi ke suatu tempat.

Jin-Joo mencegahnya karena anaknya sebentar lagi pulang sekolah dan Yoo-Ran harus menyiapkan makanan kecil untuknya. Si-A yang saat itu kebetulan turun dari tangga bergegas menghampiri mereka dan mempersilahkan Yoo-Ran untuk pergi dan menyerahkan urusan anak Jin-Joo kepadanya. Jin-Joo hanya bisa melongo melihat sikap Si-A. Ia bahkan jadi makin heran dengan Si-A yang mengatakan sudah menganggap Yoo-Ran sebagai ibu sendiri.

Yoo-Ran ternyata pergi ke rumah keluarga Heo dan menemui Seo-Hee. Dulu pada saat ia meninggalkan rumah, Yoo-Ran sempat bertemu dengan Seo-Hee dan pada saat itu Seo-Hee berjanji untuk merawat dan menyayangi Joon-Jae seperti anaknya sendiri. Kini, di hadapan Seo-Hee, tanpa basa-basi Yoo-Ran menanyakan keberadaan Joon-Jae.

“Kenapa kamu bertanya kepadaku tentang anakmu? Dia kan anakmu,” jawab Seo-Hee.

“Apa?”

“Sepertinya kamu datang dan sudah tahu kalau anakmu tidak ada di rumah ini. Kenapa kamu bertanya kepadaku tentang dia?” lanjut Seo-Hee. “Aku tidak pernah mengusirnya. Ia pergi sendiri. Juga, suamiku tidak pernah sungguh-sungguh mencarinya. Jadi, itu sebabnya terjadi seperti ini. Aku pikir kalian berdua saling berhubungan, tapi ku rasa tidak.”

“Kamu bilang kamu akan membesarkannya dengan baik,” respon Yoo-Ran.

“Aku berencana untuk itu. Tapi apa yang bisa aku lakukan jika ia pergi keluar?”

“Inikah sebabnya kamu tidak memperbolehkan kita untuk bertemu?” tanya Yoo-Ran. “Untuk membuat anakku milikmu, suamiku milikmu, dan posisiku milikmu. Itukah sebabnya?”

“Kamu sungguh lucu,” balas Seo-Hee tenang, “Jangan berpura-pura baik. Kamu sudah menyerah. Jika itu aku, aku tidak akan menyerah. Aku tidak kabur meninggalkan anakku. Hanya karena aku bilang kepadamu agar tidak bertemu, kamu sungguh tidak menemuinya? Apakah kamu bodoh?”

Seo-Hee menutup kata-katanya dengan mempersilahkan Yoo-Ran pergi karena ia lelah.

“Kang Ji Yeon,” bentak Yoo-Ran.

“Namaku Kang Seo-Hee,” respon Seo-Hee seraya menghampiri Yoo-Ran.

“Tidak. Namamu adalah Kang Ji-Yeon. Anakku, aku pasti akan menemukannya dan membawanya kembali ke tempat ia seharusnya berada,” balas Yoo-Ran. “Kamu juga. Aku akan membawamu kembali ke tempat asalmu.”

Seo-Hee hanya bisa terdiam menahan emosi mendengarnya. Sepeninggal Yoo-Ran, ia mengambil ponselnya dan segera menghubungi seseorang.

Yoo-Ran berjalan dengan langkah gontai. Dari belakang sebuah mobil hitam melaju ke arahnya. Di saat-saat terakhir Sim Chung muncul dan menarik Yoo-Ran ke pinggir jalan sehingga terhindar dari mobil tersebut. Sim Chung ternyata sudah janjian dengan Yoo-Ran untuk berbelanja bersama. Setelah menasehatinya agar lebih hati-hati di jalan, ia pun menggandeng lengan Yoo-Ran dan mengajaknya untuk pergi ke supermarket.

Mobil hitam yang tadi hendak menabrak Yoo-Ran muncul kembali. Si pengemudi membuka kaca jendelanya untuk melihat sosok Yoo-Ran dan Sim Chung yang berlalu. Tanpa disangka, Tae-O tiba-tiba muncul dan langsung memotretnya. Si pengemudi tadi kaget dan segera menjalankan kembali mobilnya.

Adegan flashback muncul. Selain meminta Tae-O untuk meningkatkan keamanan di rumah, Joon-Jae ternyata juga sempat meminta Tae-O untuk membuntuti Sim Chung. Dengan senang hati Tae-O mengiyakannya.

Joon-Jae sedang berada di kantor polisi untuk menemui detektif Hong Dong-Pyo (Park Hae-Soo). Ia sempat melihat foto-foto yang dikirimkan Tae-O kepadanya dan agak penasaran dengan sosok wanita yang sedang bersama Sim Chung (yang hanya terfoto bagian belakangnya saja). Tak lama kemudian detektif Hong datang dengan membawa catatan medis Dae-Young.

“Apa kamu pernah dengar seorang wanita bernama Kang Ji Yeon?” tanya detektif Hong.

“Kang Ji Yeon? Tidak,” jawab Joon-Jae. “Kenapa?”

“Dia adalah satu-satunya wanita yang berhubungan dengan Ma Dae-Young, tapi aku tidak bisa menemukannya,” ujar detektif Hong. “Data kependudukannya dibatalkan karena keberadaan yang tidak jelas. Kami curiga mereka juga punya seorang anak.”

“Kalau begitu, mereka bisa saja masih membantunya untuk kabur, bisa jadi wanita itu atau anaknya.”

“Bisa saja,” respon detektif Hong.

Joon-Jae kemudian meminta data tersebut agar bisa meminta bantuan Nam-Doo untuk mencarinya karena ia lebih jago dalam mencari orang dibandingkan polisi. Meski kesal dengan sindiran Joon-Jae, detektif Hong memberikan data yang diminta.

“Bagaimana aku bisa terikat dengan penipu seperti ini?” gumam detektif Hong kesal.

Joon-Jae memandangnya. Detektif Hong ternyata adalah kepala prajurit istana yang dulu membantu Dam Ryung (Lee Min-Ho) saat Mr. Yang (Sung Dong-Il) dan anak buahnya hendak menangkap Sim Chung.

“Petugas kepolisian Hong kami adalah orang yang jauh lebih baik daripada yang dibayangkan,” ujar Joon-Jae kemudian sembari tersenyum dan menepuk pundak detektif Hong.

Detektif Hong jadi makin kesal terhadapnya. Joon-Jae lalu melanjutkan membaca catatan medis Dae-Young. Ia pun kaget mendapati nama profesor Jin Kyung Won di sana.

“Kamu mengenalnya? Sejak tahun 2009, ia paling sering mengobati Ma Dae Young beberapa bulan sekali,” ujar detektif Hong.

Joon-Jae dan detektif Hong menemui profesor Jin. Ia tidak membantah Dae-Young adalah pasiennya, namun berbohong saat ditanya apakah baru-baru ini Dae-Young mendatanginya. Pun begitu, Joon-Jae yang memperhatikan gerak-gerik profesor Jin tahu bahwa saat itu ia sedang berbohong.

Sim Chung mengantarkan Yoo-Ran sampai ke rumah. Begitu tahu itu adalah rumah Si-A, Sim Chung pun sadar kenapa beberapa waktu lalu mereka buru-buru pergi meninggalkan tempat tersebut. Setelah berpamitan, Sim Chung pergi meninggalkan Yoo-Ran untuk pulang ke rumah. Tae-O yang masih membuntuti dan diam-diam memotret Sim Chung hendak melanjutkan pengawasannya, namun tanpa diduga Si-A muncul di hadapannya.

“Ini tidak seperti itu,” ujar Tae-O.

“Seperti apa?” tanya Si-A.

“Apapun yang kamu bayangkan, ini tidak seperti itu,” jawab Tae-O, lantas hendak berlari mengejar Sim Chung.

Si-A mencegahnya.

“Kamu sungguh punya gejala yang serius. Apa yang hendak kamu lakukan dengan foto pintu rumahku?” tanya Si-A. “Kamu ingin merasakan keberadaanku sampai seperti itu? Aku juga hendak jadi gila. Kepalaku serasa meledak, hanya dengan masalahku sendiri. Fakta utama bahwa tidak ada tempat bagimu di dalam hatiku.”

“Sungguh, tidak masalah kalau kamu tidak punya tempat,” respon Tae-O lirih.

Begitu melihat Sim Chung sudah menghilang dari hadapannya, Tae-O segera kembali berlari mencarinya tanpa menghiraukan Si-A.

“Apa aku terlalu kasar? Cinta sungguh merepotkan,” gumam Si-A.

Sim Chung tiba di depan rumah. Tanpa disangka, ada Chi-Hyun menunggunya di sana dan langsung mengajaknya pergi.

Sementara itu, saat hendak pulang, Joon-Jae meminta detektif Hong untuk menunggunya di mobil terlebih dahulu karena ada sesuatu yang hendak ia tanyakan pada profesor Jin. Detektif Hong menurutinya. Di hadapan Joon-Jae, profesor Jin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, bahwa kemarin Dae-Young sempat datang dan selama ini ia mengobatinya karena tahu Dae-Young butuh obat untuk mengontrol emosinya.

“Ia orang yang membunuh Dam Ryung dan Se-Hwa,” ujar Joon-Jae, “Bahkan di sini ia juga mengejar kami.”

“Ia juga melihat ending dari dirinya sendiri kemarin,” potong profesor Jin. “Dan mengatakan ini, ‘Itu bukan aku’.”

“Apa?” tanya Joon-Jae heran. “Ia tidak membunuhnya? Lalu siapa?”

“Ia tidak memberitahuku jadi aku juga tidak tahu,” jawab profesor Jin. “Aku sudah bilang kepadamu, kamu tidak bisa mengubah takdir dengan mudah. Sebaiknya kirimkan orang itu kembali ke tempat ia seharusnya berada.”

“Apakah Ma Dae-Young akan kembali ke sini?” tanya Joon-Jae.

“Aku bilang kepadanya bahwa aku akan menyiapkan obatnya,” jawab profesor Jin. “Ia akan segera datang.”

“Jika ia datang, bisakah kamu menghubungiku?” pinta Joon-Jae.

Profesor Jin menyanggupinya. Sebuah pesan tiba-tiba masuk ke ponsel Joon-Jae. Tae-O yang menghubunginya, memberitahu bahwa ia kehilangan jejak Sim Chung.

Detektif Hong memacu mobilnya karena Joon-Jae memintanya untuk bergegas menuju rumahnya. Sambil mengomeli detektif Hong karena tidak bisa menyetir lebih cepat lagi, Joon-Jae mencoba menghubungi Sim Chung, namun ponselnya tidak diangkat. Di saat itu, Sim Chung sedang pergi ke toilet dan meninggalkan ponselnya di meja makan. Chi-Hyun yang melihatnya diam-diam mematikan ponsel Sim Chung. Sesaat kemudian Sim Chung tiba, disusul dengan makanan pesanan mereka. Mereka pun mulai makan bersama, dengan Chi-Hyun sesekali menanyakan tentang hubungan Sim Chung dengan Joon-Jae.

Dae-Young gelisah di kamarnya, memikirkan tentang sosok orang yang telah melemparkan tombak ke arah Se-Hwa dan Dam Ryung. Ia sendiri belum bisa melihat dengan jelas wajah orang tersebut.

Joon-Jae tiba di rumah tepat di saat Sim Chung dan Chi-Hyun kembali. Tanpa basa-basi ia segera mengambil tas belanjaan Sim Chung dan menarik Sim Chung masuk ke dalam rumah. Chi-Hyun melihatnya sembari tersenyum dingin.

Di dalam rumah, Joon-Jae melemparkan belanjaan Sim Chung ke meja dapur dengan kesal.

“Heo Joon-Jae, kamu marah kepadaku sekarang?” tanya Sim Chung.

Joon-Jae tidak menjawabnya dan pergi masuk ke kamarnya begitu saja.

“Kalian berkelahi lagi? Kenapa kalian berkelahi setiap hari?” tanya Nam-Doo heran.

“Aku bertemu kakak Heo Joon-Jae hari ini dan ia jadi seperti itu. Tidakkah itu aneh?” tanya Sim Chung.

“Jika seorang pria marah kepada seorang wanita yang bertemu dengan keluarganya, itu berarti ia tidak punya niat untuk melanjutkan hubungannya dengan wanita tersebut,” jelas Nam-Doo. “Apa? Kamu bertemu kakaknya? Bagaimana?”

“Ia datang untuk makan bareng bersamaku,” jawab Sim Chung.

“Aku pikir ia tidak pernah berhubungan dengan siapapun dari keluarganya. Aku juga tidak pernah diperkenalkan pada mereka,” respon Nam-Doo. “Kamu sudah diperkenalkan?”

“Ya. Terakhir, terakhir, terakhir kali,” jawab Sim Chung.

Sim Chung hendak melangkah ke tempat tidurnya. Tiba-tiba dadanya terasa sakit.

“Apa ini karena aku sudah terlalu lama berada di luar air?” tanyanya dalam hati.

Joon-Jae yang kebetulan berada di bawah sempat mendengarnya, namun ia tidak terlalu memikirkannya. Sebaliknya, ia lantas menemui Tae-O dan menanyakan perkembangan keamanan rumah mereka. Setelah Tae-O memastikan bahwa hanya hacker yang lebih jago darinya yang bisa menembus sistem keamanan rumah mereka, Joon-Jae meminta Tae-O untuk pergi berjalan-jalan ke luar rumah. Mendengar suara hati Sim Chung sebelumnya, Joon-Jae ingin agar Sim Chung berenang di kolam renang rumahnya.

Saat Nam-Doo lewat, Joon-Jae memintanya melakukan hal yang sama, pergi keluar rumah dan jangan kembali hingga petang.

“Kenapa aku harus melakukan itu?” tanya Nam-Doo heran.

“Ini rumahku. Ketika pemilik rumah memintamu untuk melakukannya, kamu melakukannya,” jawab Joon-Jae.

Tak lama kemudian Sim Chung muncul di ruang tengah. Joon-Jae segera mengajak kedua temannya untuk keluar rumah sembari memberitahu Sim Chung bahwa tidak akan ada yang pulang hingga sore nanti.

Tahu yang lain akan pergi hingga sore, Sim Chung pun berenang dengan tenang di kolam renang. Saat sampai ke tepi, ia baru menyadari sosok Nam-Doo sedang menatapnya dari ujung ruangan. Sim Chung segera merapatkan tubuhnya ke pinggir kolam.

“Aku sedang memikirkan apa yang kamu kerjakan. Apa kamu tidak kedinginan? Kenapa kamu berenang di saat musim dingin?” tanya Nam-Doo sembari melangkah ke arah kolam renang.

Dan Nam-Doo pun akhirnya melihat ekor duyung Sim Chung.

“Apa.. apa.. yang kamu pakai? Apa yang ada di tubuhmu?” tanya Nam-Doo heran, “Ah, kamu hendak melakukan pekerjaan part-time lagi.. menggunakan itu di akuarium.. Aigoo! Chung kami sungguh lucu. Untuk sesaat, aku mengira kamu adalah putri duy… Hah! Apa yang aku katakan? Maaf, maaf. Aku terlalu banyak menonton drama Amerika. Itu tampak seperti sungguhan. Aku berpikir tentang sesuatu yang tidak mungkin…”

Nam-Doo tiba-tiba terdiam. Ia teringat kembali tentang semua yang pernah terjadi dan menyadari bahwa Sim Chung benar-benar seorang putri duyung.

“Tidak mungkin…” ujarnya.

Sim Chung lantas meminta Nam-Doo untuk memberikan mantel mandi yang ada di belakangnya. Nam-Doo pun kaget begitu melihat ekor duyung Sim Chung yang tiba-tiba menghilang dan berubah menjadi kaki manusia.

“Ini.. apa ini…,” tanyanya sambil menunjuk ke arah kaki Sim Chung. “Bagaimana… bagaimana itu bisa berubah?”

Sim Chung tidak menjawab, hanya terus melangkah ke arah Nam-Doo sembari menatapnya.

“Wow, hal semacam itu sungguh ada di dunia ini!” lanjut Nam-Doo. “Haruskah aku melaporkanmu ke berita internasional, FBI, atau semacamnya?”

“Apa kamu akan memberitahu Heo Joon-Jae?” tanya Sim Chung.

“Memberitahunya? Uh, aku tidak yakin. Setelah aku melihat bagaimana kamu menjawab pertanyaanku.”

Sim Chung kembali maju selangkah.

“Jangan.. jangan mendekat..” ujar Nam-Doo. “Jadi, di saat kamu masuk air, kamu berubah menjadi seperti dirimu yang sebelumnya, dan jika kamu keluar dari air, kamu tumbuh kaki?”

Sim Chung mengiyakan. Nam-Doo kembali mengkonfirmasi tentang mutiara yang berasal dari air mata putri duyung, Sim Chung pun kembali mengiyakan. Nam-Doo tertawa senang mendengarnya. Ia bahkan berniat untuk memanfaatkan Sim Chung untuk mendapatkan kekayaan dan ketenaran, termasuk dengan membuat show putri duyung keliling dunia.

“Kamu mengatakan kamu hendak menjualku, Jo Nam-Doo?” tanya Sim Chung.

“Tidak. Aku merekomendasikanmu pekerjaan. Sulit bagi orang biasa untuk mencari pekerjaan di saat sekarang ini,” dalih Nam-Doo. “Karena ini aku, aku tidak akan melaporkanmu pada agen pemerintah. Sebaliknya, aku akan pergi keliling dunia untuk bekerja.”

“Oke,” jawab Sim Chung sambil tersenyum.

“Oke?” tanya Nam-Doo kaget.

“Oke,” jawab Sim Chung lagi, kali ini sembari menyodorkan tangannya untuk bersalaman.

Dengan agak ragu-ragu Nam-Doo menyambut uluran tangan Sim Chung. Dan begitu tangan keduanya bersambut, ingatan tentang Sim Chung barusan hilang dari kepala Nam-Doo.

“Jo Nam-Doo, kamu tidak apa-apa?” tanya Sim Chung.

“Apa kamu tadi berenang di sini? Apa tidak dingin di saat musim dingin?” respon Nam-Doo dengan agak kebingungan.

“Kamu tahu perasaan itu. Ketika kamu hendak memikirkan sesuatu, tapi tidak bisa keluar,” ucap Nam-Doo pada teman-temannya yang lain saat mereka makan bersama.

“Apa yang harus aku lakukan? Apa ia ingat?” tanya Sim Chung dalam hati dengan gelisah.

Joon-Jae yang mendengarnya jadi penasaran.

“Sesuatu seperti melihat nomer undian di mimpi tapi kita tidak bisa mengingatnya,” lanjut Nam-Doo. “Rasa frustrasi itu membuatku jadi gila.”

“Aku menghapusnya. Tapi aku sudah menghapusnya dengan benar,” respon Sim Chung dalam hati.

“Tunggu. Ku rasa aku ingat sesuatu,” ujar Nam-Doo. “Di sini.. di kolam renang ini… Chung!”

Joon-Jae tiba-tiba menempeleng kepala Nam-Doo dan berkata, “Makan daripada berteriak-teriak.”

Sementara Nam-Doo terus mengomel, Joon-Jae menatap ke arah Sim Chung.

Sim Chung mengajak Joon-Jae ke sebuah ruangan.

“Sampai kapan kamu mau terus seperti ini?” tanyanya. “Kamu tidak berbicara padaku atau menatap mataku atau tersenyum.”

“Baiklah kalau begitu. Aku akan bertanya sekali lagi. Jika sesuatu terjadi padaku…”

“Tetap saja sama meskipun kamu bertanya ratusan kali,” potong Sim Chung. “Jika terjadi sesuatu padamu, aku tidak bisa hidup.”

“Lalu kenapa?” tanya Joon-Jae.

Sim Chung terdiam. Suara hatinya yang kemudian berbicara, “Jantungku hanya bisa berdetak jika kamu mencintaiku. Di darat, jantungku punya keterbatasan waktu. Jika kamu meninggalkanku atau meninggalkan dunia ini, jantungku akan berhenti berdetak. Jung Hoon juga mati karena itu. Saat yang dicintai pergi, jantung akan mendingin, mengeras, lalu berhenti. Tanpamu aku akan jadi seperti itu. Kecuali jika aku kembali ke laut, aku mungkin akan mati.”

“Kamu akan mati?” tanya Joon-Jae.

“Apa..”

“Apa yang kamu katakan? Katakan sekali lagi. Apa yang akan berhenti, mengeras… apa yang akan terjadi?” tanya Joon-Jae.

“Kamu mendengar suaraku?” tanya Sim Chung.

“Kamu bilang jantungmu akan berhenti,” respon Joon-Jae tanpa menghiraukan pertanyaan Sim Chung.

“Sejak kapan kamu bisa mendengarnya?” tanya Sim Chung lagi.

“Kenapa kamu akan mati?”

“Sejak kapan kamu bisa mendengarnya?”

“Kenapa kamu akan mati?” bentak Joon-Jae.

Preview Episode 15

Berikut ini adalah preview eps 15 dari drakor Legend Blue Sea:

» Sinopsis Episode 15 Selengkapnya

Tema artikel yang berhubungan: , , ,

Reply