Rekap Sinopsis The Legend Of The Blue Sea Episode 13 & Preview Episode 14 (28 Desember 2016)

Di sinopsis The Legend of The Blue Sea (TLOTBS) episode sebelumnya, Heo Joon-Jae (Lee Min-Ho) membuat kesepakatan dengan detektif Hong Dong-Pyo (Park Hae-Soo) agar ia jangan dulu ditangkap hingga setidaknya Mae Dae-Young (Sung Dong-Il) terlebih dahulu. Sementara itu, Sim Chung (Jun Ji-Hyun) semakin kepikiran perasaan Joon-Jae terhadapnya, hingga ia terus bertanya-tanya dalam hati. Joon-Jae yang bisa mendengar suara hati Sim Chung menjadi tidak bisa tidur hingga berhari-hari. Tidak tahan lagi, Joon-Jae akhirnya meminta agar Sim Chung tidak usah lagi berpikir dan ia lalu menciumnya. Apa yang kira-kira akan terjadi selanjutnya di sinopsis drama Korea Remember the Blue Sea episode 13 kali ini?

Dok. gambar dan video © SBS of Korea Selatan

Sinopsis Episode 13

Joon-Jae sedang bermimpi tentang Mr. Yang (Sung Dong-Il) yang melepaskan lentera ke langit (di era Joseon) untuk memancing Sae Hwa (Jun Ji-Hyun) muncul ke permukaan air saat Sim Chung membangunkannya. Melihat sosok Sim Chung di sampingnya, Joon-Jae lantas memeluknya.

“Apa kamu mendapat mimpi buruk?” tanya Sim Chung.

“Ya. Mengerikan sekali,” jawab Joon-Jae.

“Seperti apa?” tanya Sim Chung.

“Aku tahu. Awalnya aku tidak takut akan apapun karena tidak punya apa-apa, tapi sekarang, itu mengerikan. Sekarang aku mungkin bisa kehilangan sesuatu,” jelas Joon-Jae lirih.

“Siapa? Sae Hwa?” tanya Sim Chung, lagi-lagi tidak paham maksud Joon-Jae.

“Apa?” respon Joon-Jae bingung.

“Aku dengar semuanya. Kamu mengatakan, ‘Tidak. Sae Hwa’. Siapa itu? Siapa Sae-Hwa? Apa dia juga ikan yang sedang kamu goda?”

“Tidak, bukan itu.”

“Lalu siapa itu? Apa dia wanita?”

“Well, ya, dia seorang wanita,” jawab Joon-Jae sembari tersenyum.

“Oh, begitu, dia seorang wanita,” respon Sim Chung kesal. “Apa dia cantik?”

“Haruskah aku mengatakan kepadamu?”

“Kamu harus mengatakan kepadaku dengan jujur. Kita berjanji untuk tidak saling berbohong.”

“Dia cantik. Sangat,” jawab Joon-Jae.

“Sangat cantik? Lalu bagaimana denganku?” tanya Sim Chung cemburu.

“Kamu juga cantik.”

“Kamu harus memutuskan. Apa yang kamu coba lakukan dengan mengatakan kami berdua cantik? Apa kamu coba mengerjai kita berdua (two-timing) seperti gurita? Apa seperti itu?”

Joon-Jae kagum dengan cara bicara Sim Chung yang gaul. Sim Chung tidak mempedulikan pujian Joon-Jae dan memaksanya untuk menjawab pertanyaannya barusan.

“Ya, tentu saja… dia adalah kamu,” jawab Joon-Jae.

Sim Chung mulai berpikir dalam hati apakah yang dikatakan Joon-Jae benar. Joon-Jae mengulangi jawabannya sekali lagi hingga Sim Chung mulai yakin.

“Darn dog-good,” respon Sim Chung. “Dalam kasus ini, kata ‘dog-good’ bukan berarti aku suka anjing. Itu artinya aku menyukai ini, sangat menyukainya.”

Joon-Jae tersenyum keki mendengar penjelasan Sim Chung. Saat Sim Chung hendak naik kembali ke loteng, Joon-Jae mencegahnya.

“Kamu mau kemana?” tanyanya.

“Aku harus ke atas,” jawab Sim Chung.

“Jangan pergi,” pinta Joon-Jae.

“Heo Joon-Jae, kamu mabuk?” tanya Sim Chung. “Itu sesuatu yang kamu katakan di saat kamu mabuk.”

“Anggap saja aku mabuk. Apapun itu, jangan pergi,” respon Joon-Jae seraya menarik Sim Chung ke ranjang.

Ia merebahkan Sim Chung di sampingnya, lantas tidur sembari memeluk tubuh Sim Chung dari belakang.

“Aku tidak akan pergi,” gumam Sim Chung.

Sim Chung tiba-tiba menanyakan apakah ia harus melupakan kejadian sebelumnya (saat Joon-Jae menciumnya). Joon-Jae merespon dengan kembali menciumnya dan memintanya untuk tidak melupakan itu.

“Ayo kita tidur,” ajak Joon-Jae. “Aku harus tidur bersamamu seperti ini agar aku tidak mendapat mimpi buruk.”

Dalam hatinya Sim Chung lalu berharap agar setiap hari Joon-Jae mendapat mimpi buruk agar mereka bisa seperti itu setiap hari.

Beberapa saat kemdudian, setelah Joon-Jae tertidur, Sim Chung diam-diam pergi ke balkon dan bersenandung girang.

“Heo Joon-Jae menyukaiku. Heo Joon-Jae menyukaiku juga,” ujarnya berulang-ulang.

Pasca tidak sengaja bertemu dengan mantan suaminya, Mo Yoo-Ran (Na Young-Hee) duduk termenung di kamarnya sembari minum soju. Ahn Jin-Joo (Moon So-Ri) tiba-tiba masuk dan minta dibuatkan air madu. Di dapur ia kemudian menanyakan kenapa Yoo-Ran minum-minum seperti itu.

“Karena aku bersyukur,” jawab Yoo-Ran. “Sudah sekian lama sejak orang menanyakan padaku apa yang salah.”

“Ada apa? Apa yang terjadi?” tanya Jin-Joo.

“Sejujurnya, aku bertemu dengan mantan suamiku hari ini.”

“Hoo, secara kebetulan?”

“Ya. Meski mata kita saling berpandangan, tapi ia berpura-pura tidak melihatku.”

“Sungguh? Ia mungkin saja terkejut.”

“Aku bisa mengerti jika ia terkejut atau gugup, tapi ia benar-benar memiliki tatapan seperti sedang melihat orang asing. Ini mungkin hal yang tidak bisa disembuhkan oleh waktu. Waktu berlalu seperti ini, tapi ini tetap saja menyakitkan,” jawab Yoo-Ran.

Jin-Joo kemudian berdiri dan mengambil dua gelas. Karena bersimpati pada Yoo-Ran, ia mengajaknya untuk minum anggur bersama. Setelah minum gelas anggurnya, ganti Jin-Joo yang curhat pada Yoo-Ran, tentang dirinya yang salah berbicara pada seseorang saat kemarin mabuk dan masih tidak dimaafkan oleh orang tersebut meski ia sudah meminta maaf sembari berlutut.

“Wanita itu, mencuri suami dari teman sekolahnya dulu untuk mengamankan posisinya. Ia benar-benar berhati busuk, bukan?” ujar Jin-Joo.

Yoo-Ran yang hendak meminum anggurnya langsung berhenti begitu mendengar ucapan Jin-Joo.

“Istri pertama tidak menerima kompensasi apapun dan ia pergi begitu saja seolah ia diusir keluar,” lanjut Jin-Joo.

“Cerita rumah tangga siapa itu?” tanya Yoo-Ran gemetar.

“Kamu mungkin tidak mengenali orang ini dengan baik. Ada orang bernama Heo Gil-Joong,” jawab Jin-Joo.

Yoo-Ran hanya bisa membelalakkan matanya tidak percaya saat Jin-Joo menjelaskan tentang sosok Gil-Joong, yang merupakan mantan suaminya itu.

“Rumah tangga itu?” tanya Yoo-Ran lirih.

“Aku sudah mengatakan,” jawab Jin-Joo singkat.

Sadar bahwa selama ini secara tidak langsung ia membuatkan makanan untuk Gil-Joon dan keluarganya, Yoo-Ran jadi bertambah syok.

“Dunia ini begitu kecil,” gumam Yoo-Ran, tidak menghiraukan Jin-Joo yang terus mengomel dan berniat untuk menyebarkan rumor buruk tentang mereka dalam waktu dekat.

Kang Seo-Hee (Hwang Shin-Hye) memastikan pada pengacara bahwa ia telah merubah surat wasiat Gil-Joong sesuai dengan yang ia minta, yaitu memberikan semua harta Gil-Joong pada Heo Chi-Hyun (Lee Ji-Hoon) tanpa menyisihkan sama sekali pada Joon-Jae. Pengacara mengiyakan. Ia juga sudah menyiapkan dua orang saksi, yang juga sudah dibayar.

Di saat proses legalisasi berlangsung, Heo Gil-Joong (Choi Jung-Woo) yang kondisi matanya kian memburuk, tidak bisa membaca dengan jelas isi surat wasiat yang disodorkan padanya. Ia pun percaya begitu saja pada pengacara dan saksi yang ada, lantas membubuhkan stempelnya di surat wasiat tersebut. Dari belakang, Chi-Hyun diam-diam mengawasi kejadian tersebut.

Jo Nam-Doo (Lee Hee-Joon) tiba di ruang tengah dan heran melihat sudah banyak mebel yang berpindah tempat.

“Sepertinya banyak yang berubah,” responnya bingung pada Sim Chung yang baru saja usai mengangkat sofa.

“Ya. Karena aku tidak bisa tidur maka aku mengubahnya sedikit,” jawab Sim Chung.

“Sendirian? Ini kan berat,” tanya Nam-Doo.

“Tidak kok,” jawab Sim Chung. “Ini semua sungguh enteng.”

Sambil memegang pisau, di dapur Sim Chung kembali bersenandung dalam hati tentang Joon-Jae yang menyukainya. Joon-Jae yang baru usai mandi tersenyum mendengarnya.

Selesai berganti pakaian, Joon-Jae turun menuju ruang tengah. Sim Chung segera menghampiri dan menanyakan kemana mereka akan pindah setelah sewa rumah berakhir.

“Aku tidak tahu. Masih banyak waktu untuk memikirkannya. Kenapa?” tanya Joon-Jae heran.

“Kondisi kesehatanku begitu bagus jadi aku berpikir untuk memindahkan mebelnya satu demi satu lebih dulu,” jawab Sim Chung.

Joon-Jae hanya bisa tersenyum mendengarnya. Ia lantas menanyakan apa yang hendak dimakan untuk sarapan. Tanpa menghiraukan Nam-Doo yang meminta nasi, Joon-Jae menuruti keinginan Sim Chung untuk makan pasta. Karena persediaan pasta habis, ia pun meminta Sim Chung untuk pergi membelanya.

Dengan penuh semangat Sim Chung lalu pergi keluar. Saking bersemangatnya, di jalan ia menyempatkan diri untuk membantu orang-orang. Mulai dari mendorong gerobak, membuang sampah, hingga memindahkan mobil yang diparkir sembarangan.

Sembari sarapan, Nam-Doo meminta agar mereka menutup saja operasi Ahn Jin-Joo karena kerugiannya terlalu besar.

“Aku punya pekerjaan baru yang sedang aku siapkan,” ujar Nam-Doo.

Mendengarnya, Sim Chung langsung melirik tajam ke arah Nam-Doo.

“Tidak, kali ini bukan hal buruk. Ia orang yang lebih buruk,” respon Nam-Doo, “Ia orang yang mengumpulkan banyak uang dari voice phishing.”

Sim Chung ganti melirik tajam ke arah Joon-Jae.

“Aku katakan padamu aku tidak akan melakukannya,” ujar Joon-Jae.

“Kamu tidak?” tanya Nam-Doo kaget.

Joon-Jae mengiyakan. Sim Chung senang mendengar jawaban Joon-jae dan merasa Joon-Jae benar-benar menyukainya, sementara Nam-Doo menjadi terpukul melihat Joon-jae dan Sim Chung yang saling melempar senyum.

Nam-Doo mengajak Joon-Jae berbicara empat mata. Terang-terangan ia menyatakan ketidaksetujuannya dengan perubahan sikap Joon-Jae yang disebabkan oleh Sim Chung, padahal ia sudah lebih dulu mengenal Joon-Jae dan juga membantunya di saat ia belum punya apa-apa.

“Kamu tidak bisa melupakan teman yang kamu buat di saat kamu terpuruk dan miskin. Kamu tidak bisa membuang istri pertamamu (yang sudah melalui masa susah bersamamu),” ujar Nam-Doo.

“Apa kamu istri pertamaku, hyung?” respon Joon-Jae.

“Tidak. Aku teman yang kau buat di saat kamu terpuruk dan miskin.”

“Hei, biarkan aku bertanya sesuatu. Jika Chung dan aku jatuh ke dalam air, siapa yang akan kamu selamatkan terlebih dahulu?” tanya Nam-Doo.

Joon-Jae tersenyum mendengarnya dan menjawab bahwa ia akan menyelamatkan Nam-Doo. Nam-Doo kaget dengan jawaban Joon-Jae.

“Sungguh?” tanya Nam-Doo.

“Ya. Jika aku membiarkannya, aku rasa Chung akan menyelamatkanmu. Aku tidak suka itu.”

Nam-Doo jadi kesal mendengarnya. Ia pun kini membahas tentang Tae-O (Shin Won-Ho), yang kini mengikuti Joon-Jae meski sebenarnya punya hidup yang layak di Jepang.

“Kamu memancingnya dengan koneksi internet cepat yang ada di Korea,” sergah Nam-Doo.

“Aku tidak mengatakan hal yang salah,” dalih Joon-Jae.

“Apa yang akan kamu lakukan dengan Tae-O yang punya pikiran sederhana yang telah mengikuti kita di sini karena kata-kata itu?” bentak Nam-Doo.

Belum sempat Joon-Jae menjawab, ponselnya berbunyi. Detektif Hong yang menelpon, memberitahu bahwa ia sudah ada di luar. Joon-Jae yang memang sudah janjian dengan detektif Hong untuk memberitahu lokasi taksi yang dicuri Dae-Young yang berhasil dilacak oleh Tae-O pun pergi ke luar dan meninggalkan Nam-Doo begitu saja.

Tidak diketemukannya black box di dalam taksi yang ditinggalkan Dae-Young membuat kepolisian tidak bisa meyakini 100% bahwa itu adalah mobil yang sama dengan yang sebelumnya digunakan Dae-Young. Terlebih sama sekali tidak ada bekas sidik jari maupun jejak kaki di dalam maupun di sekitar TKP. Joon-Jae memberi instruksi pada petugas forensik untuk memeriksa beberapa hal, sampai-sampai petugas forensik heran siapa sebenarnya Joon-Jae. Tidak menghiraukannya, Joon-Jae menutupnya dengan meminta petugas untuk memeriksa tempat sampah di sekitar TKP karena mungkin saja Dae-Young membuang barang-barang buktinya di sana.

Joon-Jae kemudian teringat kejadian di rumah sakit. Ia meyakini adanya kemungkinan sidik jari Dae-Young tertinggal di ember / bak yang ia gunakan untuk mengisi air. Detektif Hong berniat untuk memeriksanya, namun ia mempertanyakan apa tujuan Dae-Young mengisi bak tersebut dengan air.

Ucapan detektif Hong tersebut membuat Joon-Jae teringat dengan sosok Mr. Yang di mimpinya, yang mirip dengan Dae-Young.

Yoo-Ran mengajukan pengunduran dirinya pada Jin-Joo. Jin-Joo heran dan menanyakan apakah ada perbuatannya yang salah.

“Tidak, aku hanya ingin beristirahat,” dalih Yoo-Ran.

“Tidak. Tidak mudah untuk menemukan orang yang bekerja keras sepertimu,” respon Jin-Joo. “Awalnya, aku mengira kamu punya kepribadian yang aneh. Tapi aku sudah terbiasa sekarang.”

“Maafkan aku. Ini karena alasan pribadi,” tambah Yoo-Ran.

Cha Si-A (Shin Hye-Sun) tiba-tiba nimbrung dan curiga jangan-jangan Yoo-Ran hanya akting agar gajinya dinaikkan.

“Tidak, bukan seperti itu,” respon Yoo-Ran.

Jin-Joo meminta Si-A agar tidak ikut campur atas urusan ini. Si-A tidak peduli dan meminta Jin-Joo agar membiarkan saja Yoo-Ran pergi karena toh itu keinginannya sendiri.

“Ahjumma,” ujar Jin-Joo kemudian pada Yoo-Ran, “Bahkan jika engkau pergi setidaknya tunggu hingga kami mendapat pengantinya.”

Yoo-Ran akhirnya menyetujuinya.

“Berhubung kamu masih bekerja, ayo kita pergi ke suatu tempat setelah aku usai bekerja,” ajak Si-A tiba-tiba.

“Kemana?” tanya Yoo-Ran heran.

“Aku akan mengirimkan alamatnya kepadamu, kamu hanya perlu datang ke sana,” jawab Si-A.

Dalam perjalanan menuju tempat yang diminta Si-A, tas Yoo-Ran dijambret. Tanpa disangka, Sim Chung muncul dari belakangnya dan langsung mengejar penjambret tersebut. Tak lama kemudian, setelah terdengar bunyi orang dipukuli, Sim Chung datang dengan membawakan tas Yoo-Ran.

“Aku sangat berterimakasih sehingga aku harus melakukan sesuatu,” respon Yoo-Ran pada Sim Chung yang sedang membantunya mengemasi kembali barang bawaan Yoo-Ran yang terjatuh.

“Tidak, tidak apa-apa,” balas Sim Chung seraya pergi meninggalkan Yoo-Ran.

Yoo-Ran tiba di tempat yang dimaksud Si-A. Tanpa ia sadari, itu adalah rumah milik Joon-Jae.

“Rumah siapa ini?” tanya Yoo-Ran.

“Rumah pacarku… calon pacarku,” jawab Si-A. “Karena masakanmu cocok dengan selera mereka, aku biarkan kamu mengurusnya.”

Tak lama kemudian mereka masuk ke dalam. Yoo-Ran kaget melihat Sim Chung yang menyambutnya.

“Oh, nona, ini rumahmu?” tanya Yoo-Ran.

Sim Chung mengangguk sambil tersenyum.

“Ahh, apakah kamu ibu Cha Si-A?” tanya Sim Chung.

Si-A membantah dan menjelaskan bahwa itu adalah bibi yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di tempatnya. Sim Chung lantas membawakan barang-barang Yoo-Ran ke dapur, yang diikuti oleh Yoo-Ran.

Si-A menggunakan kesempatan itu untuk diam-diam masuk ke kamar Joon-Jae. Setelah meninggalkan dokumen tentang Kim Dam Ryung (Lee Min-Ho) yang diminta Joon-Jae, ia melihat foto Joon-Jae dengan ibunya di saat ia masih kecil. Sempat tidak menyadari, Si-A kemudian tersentak begitu ingat bahwa sosok dalam foto tersebut mirip dengan foto keluarga Yoo-Ran yang ia lihat di kamar Yoo-Ran.

“Tidak, tidak. Ia mungkin orang yang mirip dengannya,” gumam Si-A masih tidak percaya.

Dalam perjalanan kembali ke rumah bersama detektif Hong, Joon-Jae menanyakan penyakit apa yang diderita Dae-Young saat ia dirawat di rumah sakit.

“Well, neuropsychiatry,” jawab detektif Hong. “Karena paranoid delusion dan bipolar disorder. Ia biasanya datang sekali atau dua kali untuk perawatan dan mendapatkan resep obat. Pada saat ia tidak mengkonsumsi obatnya, ia mungkin tidak bisa mengontrol tindakan kasarnya.”

“Kalau begitu ia mungkin saja membutuhkan obatnya untuk bisa menyetir sekarang ini,” respon Joon-Jae.

Ia pun menyarankan agar detektif Hong memeriksa mantan dokter atau asisten dokter di rumah sakit tersebut, yang mungkin saja masih memberikan resep obat bagi Dae-Young hingga saat ini.

Tak lama mereka tiba di tempat Joon-Jae. Setelah menurunkan Joon-Jae, rekan detektif Hong kesal karena Joon-Jae bertingkah layaknya pemimpin tim. Detektif Hong memastikan bahwa mereka hanya akan menggunakannya untuk menangkap Dae-Young, dan nantinya pasti akan menangkap Joon-Jae.

“Kenapa aku merasa bukan seperti itu masalahnya,” gumam rekan detektif Hong tidak percaya.

Meski mencoba tenang, Si-A tetap kepikiran jangan-jangan Yoo-Ran benar adalah ibu Joon-Jae. Apalagi melihat Sim Chung yang kini akrab dengan Yoo-Ran.

“Kapan pacarmu tiba? Ini sudah hampir selesai,” tanya Yoo-Ran pada Si-A saat ia keluar dari kamar Joon-Jae.

“Pacar apa? Jangan-jangan Heo…”

Si-A buru-buru mendekap mulut Sim Chung agar ia tidak meneruskan perkataannya. Ia pun mengajak Yoo-Ran untuk pulang saja sekarang.

“Ada apa denganmu, Cha Si-A?” tanya Sim Chung kesal.

Tanpa menghiraukannya, Si-A kembali mengajak Yoo-Ran untuk pulang. Dengan bingung Yoo-Ran mengikutinya. Di luar rumah, mereka hampir saja berpapasan dengan Joon-Jae. Namun karena Joon-Jae tidak melihat, Yoo-Ran sukses membawa Yoo-Ran masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan rumah Joon-Jae tanpa terlihat olehnya.

Setibanya kembali di rumah, Si-A segera menanyakan tentang anak Yoo-Ran pada Jin-Joo. Jin-Joo memberitahunya bahwa anak Yoo-Ran punya penampilan yang tampan serta lulusan KAIST, sama dengan Si-A. Si-A makin lemas mendengarnya, karena berarti Yoo-Ran memang benar ibu Joon-Jae. Ia jadi teringat selama ini sudah berlaku kasar pada Yoo-Ran. Dengan syok ia meninggalkan Jin-Joo dan diam-diam masuk ke kamar Yoo-Ran untuk mencocokkan foto di kamar Yoo-Ran dengan foto di kamar Joon-Jae yang tadi sempat ia foto.

Tak lama kemudian Yoo-Ran masuk ke kamar. Si-A menanyakan apakah benar yang ada di dalam foto tersebut adalah anak Yoo-Ran. Yoo-Ran mengiyakan.

“Anakmu tidak tampak seperti ibunya,” ujar Si-A basa-basi.

“Apa maksudmu? Semura orang selalu bilang ia mirip denganku,” respon Yoo-Ran.

“Aku sudah berpikir tentang ini sampai sekarang, ahjummoni, madam, bolehkah aku memanggilmu ‘ibu’?” tanya Si-A.

“Kenapa aku ibumu?” tanya Yoo-Ran heran.

“Secara teknis kamu bukan ibuku. Kamu bukan, tapi kamu tampak seperti ibuku atau bisa menjadi ibuku,” jawab Si-A.

“Apa kamu sakit?” respon Yoo-Ran.

“Tidak,” bantah Si-A. “Aku tampak seperti sakit sebelumnya. Hingga sekarang, aku tidak bisa berpikir dengan benar. Sekarang sepertinya aku sudah mendapat kesadaranku kembali. Ah, tenggorokanku kering. Bisakah kamu mengambilkan aku segelas air, ibu?”

Sadar akan ucapannya barusan yang masih menganggap Yoo-Ran sebagai pembantu, Si-A segera meralat dan berbalik menawarkan segelas air untuk Yoo-Ran. Yoo-Ran yang makin heran dengan tingkah Si-A menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.

“Sebentar lagi,” jawab Si-A, “Aku akan memberitahumu sebentar lagi. Maafkan aku, ibu.”

Ia pun pergi meninggalkan Yoo-Ran yang tambah kebingungan.

Joon-Jae menemui Sim Chung di kamarnya dan menanyakan kenapa Dae-Young pada waktu itu menyiapkan air. Mulut Sim Chung tertutup, tapi suara hatinya menjawab dan menceritakan apa yang terjadi, bahwa Dae-Young sudah tahu dirinya adalah putri duyung dan ia hendak mengkonfirmasinya.

“Tapi Heo Joon-Jae, aku tidak bisa mengatakan ini,” ucap Sim Chung dalam hati.

“Jangan. Jik aitu sesuatu yang sulit untuk dikatakan, kamu tidak perlu memaksa dirimu untuk mengatakannya,” respon Joon-jae seraya memeluk Sim Chung.

“Aku ketakutan semenjak orang itu menemukan rahasiaku,” lanjut Sim Chung dalam hati.

“Kamu tidak perlu takut,” ujar Joon-Jae, kembali merespon suara hati Sim Chung. “Tidak akan ada yang terjadi. Tidak akan ada yang berulang kembali. Apa yang pernah terjadi sebelumnya, tidak akan terjadi kali ini. Aku akan memastikannya.”

Gil-Joong keluar dari kamarnya untuk mencari istrinya, Seo-Hee. Tanpa disadari, ia menuju ke arah tangga turun. Seo-Hee yang berada di sana sengaja menyingkir dan membiarkan Gil-Joong yang kemudian terjatuh begitu saja dari tangga. Sesaat kemudian Chi-Hyun tiba. Melihat ayah tirinya tergeletak, ia segera menghampirinya dan mengecek kondisinya. Sembari menatap ibunya yang hanya berdiri terpaku di atas tangga, Chi-Hyun kemudian menelpon sekretaris Kim dan memberitahu apa yang sedang terjadi.

Meski mengalami pendarahan internal, operasi terhadap Gil-Joong berjalan lancar. Pun begitu, dokter belum bisa memastikan apakah kondisi Gil-Joong akan baik-baik saja pasca operasi. Sesaat kemudian seorang perawat memberitahu Chi-Hyun bahwa ayahnya memanggilnya.

Dengan menahan tangis Chi-Hyun bergegas menemui ayahnya. Namun hatinya menjadi hancur begitu mendengar ayahnya bergumam dalam keadaan setengah sadar memanggil nama Joon-Jae, bukan namanya.

Dengan langkah gontai, Chi-Hyun pergi meninggalkan kamar ayahnya. Ia tidak mempedulikan ibunya yang sempat berpapasan dengannya. Setibanya kembali di rumah, ia menghancurkan dan membakar semua foto-foto dirinya dengan ayah tirinya itu.

Joon-Jae sedang membaca dokumen tentang Kim Dam Ryung yang ditinggalkan oleh Si-A. Dalam dokumen tersebut tercatat kemungkinan peristiwa meninggalnya Dam Ryung, yang disebutkan ikut tenggelam dalam kapal saat ia sedang dalam perjalanan menuju tempat pengasingan.

“Jadi, apakah kamu melindunginya dengan baik di sana?” tanya Joon-Jae pada gambar Dam Ryung yang tercetak dalam dokumen tersebut.

Sim Chung tiba-tiba menghampirinya.

“Heo Joon-Jae, ku rasa aku tahu,” ujarnya.

“Apa itu?” tanya Joon-Jae.

“Sejujurnya, hari ini aku menemukan banyak hal,” jawab Sim Chung.

Yang dimaksud Sim Chung ternyata adalah tentang hubungan asmara. Dari hasil browsing di internet, ia meyakini bahwa Sae Hwa adalah cinta pertama Joon-Jae karena Joon-Jae terus kepikiran tentangnya. Joon-Jae mencoba menjelaskan bukan seperti itu yang terjadi, tapi Sim Chung terus berasumsi bahwa mimpi buruk Joon-Jae adalah akibat Sae Hwa masih merada di kepalanya.

“Aku juga menemukan bahwa cinta pertama seorang pria tidak selalu terwujud,” tambah Sim Chung. “Jadi, stigma cinta pertama, aku akan membiarkan waktu menghapusnya. Akan jadi masalah besar jika aku adalah cinta pertamamu. Kita hampir saja tidak bisa bersama.”

Joon-Jae hanya terdiam, tidak tahu harus berkata apa.

Seo-Hee menghubungi Dae-young dan menanyakan mengapa ia belum juga menghabisi Joon-Jae. Alih-alih menjawabnya, Dae-Young menceritakan pada Seo-Hee tentang mimpinya, dimana tidak hanya dirinya dan juga Joon-Jae yang ada di sana, melainkan juga Seo-Hee.

“Dan wanita itu juga,” tambah Dae-Young.

“Wanita itu, adalah wanita yang kamu culik?” tanya Seo-Hee.

“Ya, itu benar. Dalam mimpiku, wanita itu adalah seorang putri duyung,” jawab Dae-Young sembari tertawa.

“Kamu tidak minum obatmu belakangan ini, bukan? Mungkin ini karena kamu tidak minum obat,” respon Seo-Hee tidak percaya.

“Ya, ya, kamu mungkin tidak mempercayainya tapi aku bisa gila,” balas Dae-Young. “Aku mungkin seperti orang gila, tapi mimpi itu begitu nyata.”

Seo-Hee mengabaikan ucapan Dae-Young dan kembali menegaskan perintahnya agar Dae-Young menghabisi Joon-Jae.

“CEO Heo sudah habis teratasi. Kamu hanya perlu menghabisi Heo Joon-Jae, dan kamu, aku, dan Chi-Hyun, kita bertiga bisa hidup bahagia,” ujar Seo-Hee. “Kita sudah menunggu lama untuk hari ini. Fokus dan minum obatmu. Berhenti berbicara tentang mimpi aneh.”

Dae-Young mengiyakan.

Detektif Hong dan rekannya menemukan bukti orang yang mungkin memberikan pengobatan pada Dae-Young. Ia adalah profesor Jin Gyeong Won, kenalan Joon-Jae. Joon-Jae sendiri pada saat itu sedang berkonsultasi dengan Gyeong Won mengenai mimpinya. Ia ingin agar bisa melihat akhir dari mimpi tersebut agar tahu apa yang sebenarnya ia alami. Gyeong Wong mengingatkan bahwa itu bisa menyebabkan trauma bagi Joon-Jae, tapi Joon-Jae berkeras. Ia pun mulai menghipnotis Joon-Jae agar masuk ke dalam alam bawah sadarnya dan melanjutkan mimpinya. Sementara itu, Dae-Young terlihat sedang melangkah menuju ruang kerja Gyeong Won.

Era Joseon. Setelah berpamitan dengan temannya (yang sebelumnya menyelamatkan Sae Hwa dan terjatuh dari jurang), Dam Ryung berangkat menuju tempat pengasingan dengan menggunakan perahu. Di tempat lain, Mr. Yang dan anak buahnya melepaskan lentera-lentera ke langit untuk memancing Sae Hwa keluar. Dan sesuai perkiraan, saat melihat cahaya dari lentera tersebut, Sae Hwa mulai berenang menuju permukaan laut.

Melihat sosok Sae Hwa berenang di dekat perahu, Mr. Yang memerintahkan anak buahnya untuk melemparkan jala ke arahnya. Di saat yang sama, Dam Ryung melihat lentera yang berterbangan di langit. Ia mulai menyadari apa yang sedang terjadi. Ia pun meminta agar prajurit yang mengawalnya memutar balik kapal.

“Nyawa orang yang paling aku percaya bergantung kepadanya,” mohon Dam Ryung.

“Maafkan aku, tapi itu tidak mungkin,” si prajurit menolak.

“Aku juga tidak bisa membiarkannya,” ujar Dam Ryung seraya merebut pedang prajurit tersebut dan mengarahkannya ke leher si prajurit.

Prajurit yang lain segera mengepung Dam Ryung dan menghunus pedang mereka ke arah Dam Ryung.

“Aku berjanji, setelah hal yang harus aku lakukan selesai, aku akan melanjutkankan perjalanaku. Aku mohon kepadamu. Jika aku tidak bisa melindungi orang itu, maka tidak ada alasan bagiku untuk hidup,” lanjut Dam Ryung.

“Mundur,” perintah si prajurit pada anak buahnya, “Orang ini telah menyelamatkan ayahku yang difitnah. Aku akan bertanggung jawab jadi putar balik kapalnya.”

Di tempat lain, Mr. Yang masih belum berhasil menangkap Sae Hwa. Ia lantas memerintahkan anak buahnya untuk melemparkan senjata mereka ke arahnya.

“Meskipun kalian membunuhnya, kalian harus menangkapnya,” perintahnya. “Orang yang berhasil menangkapnya akan mendapat hadiah.”

Dan satu demi satu mulai melepaskan anak panah dan juga melemparkan tombak ke arah Sae Hwa. Salah satu panah sempat menyerempet bahu Sae Hwa.

Sesaat kemudian Dam Ryung tiba di TKP. Tanpa mempedulikan Dam Ryung dan prajurit istana, begitu melihat darah dari tubuh Sae Hwa yang mengalir di laut, Mr. Yang memerintahkan anak buahnya untuk kembali menyerang Sae Hwa.

Dam Ryung yang melihatnya tidak membuang waktu lagi dan segera melompat menuju kapal Mr. Yang. Ia mulai menyerang dan menghabisi satu persatu anak buah Mr. Yang, dengan dibantu oleh prajurit yang tadi mengawalnya. Dam Ryung sempat terjatuh saat kepalanya terkena hantaman. Namun begitu melihat Mr. Yang hendak menombak Sae Hwa, ia segera terjun ke air dan melindungi tubuh Sae Hwa, membiarkan tubuhnya sendiri terkena tusukan tombak Mr. Yang.

Sae Hwa membelai wajah Dam Ryung, yang masih sempat tersenyum kepadanya sebelum menghembuskan nyawanya. Dengan menangis Sae Hwa memeluk erat tubuh Dam Ryung, lantas mendorong tombak di punggung Dam Ryung hingga tembus menusuk tubuhnya.

Beberapa tahun sebelumnya, saat Sae Hwa dan Dam Ryung masih muda, Sae Hwa menyatakan bahwa mereka tidak mungkin bisa bersama karena dunia mereka yang berbeda. Saat mereka mati pun mungkin mereka tidak akan berada di surga yang sama.

“Surga yang akan kita tuju setelah mati… adalah tempat yang sama,” respon Dam Ryung. “Surga tidak punya perbedaan di antara air.”

“Kamu tahu, Dam Ryung,” ujar Sae Hwa, “Jika seandainya kita bertemu lagi di tempat lain, aku berharap kamu menjadi dirimu dan aku menjadi diriku sendiri. Dengan itu, aku bisa mengenalimu.”

“Baiklah kalau begitu. Saat kita bertemu lagi, kamu adalah kamu dan aku adalah aku,” balas Dam Ryung.

“Akankah kita bisa mengingat apa yang kita bicarakan sekarang?” tanya Sae Hwa.

“Aku berjanji. Bahkan jika kita dilahirkan kembali, aku akan mencarimu, menemuimu, dan melindungimu. Percakapan kita saat ini, aku akan mengingatnya.”

Preview Episode 14

Berikut ini adalah preview eps 14 dari drakor Legend Blue Sea:

=== belum tersedia ===

» Sinopsis Episode 14 Selengkapnya

Reply