Rekap Sinopsis The Legend Of The Blue Sea Episode 11 & Preview Episode 12 (21 Desember 2016)

Di sinopsis The Legend of The Blue Sea (TLOTBS) episode sebelumnya, proyek scam terhadap Ahn Jin-Joo (Moon So-Ri) gagal total gara-gara Heo Joon-Jae (Lee Min-Ho), Jo Nam-Doo (Lee Hee-Joon), dan Tae-O (Shin Won-Ho) baru mengetahui bahwa Jin-Joo adalah saudara ipar Cha Si-A (Shin Hye-Sun). Tae-O bahkan terpaksa harus berpura-pura menyatakan cinta pada Si-A untuk mencegah kedua rekannya ketahuan. Hal tersebut juga membuat Sim Chung (Jun Ji-Hyun) jadi menyadari apa sebenarnya yang dilakukan oleh Joon-Jae dkk selama ini. Setelah menyebutkan (dalam hati) bahwa ia adalah putri duyung yang tidak mungkin bersatu dengan Joon-Jae, Sim Chung menghilang begitu saja. Joon-Jae sendiri, yang ternyata bisa mendengar suara hati Sim Chung, akhirnya mendapatkan kembali seluruh ingatannya tentang Sim Chung. Apa yang kira-kira akan terjadi selanjutnya di sinopsis drama Korea Remember the Blue Sea episode 11 kali ini?

Dok. gambar dan video © SBS of Korea Selatan

Sinopsis Episode 11

Joon-Jae masih berusaha mencari Sim Chung, tapi ia belum jua menemukannya. Sebuah berita dari radio taksi terdengar, mengabarkan bahwa malam ini adalah malam terjadinya Black Moon, fenomena dimana bulan seolah menghilang di tengah kegelapan malam.

Masa Joseon. Dam Ryung (Lee Min-Ho) mendapat laporan bahwa Mr. Yang (Sung Dong-Il) telah melaporkan Dam Ryung ke pusat dengan tuduhan menjebaknya atas tuduhan pembunuhan. Dam Ryung juga disebutkan telah terperdaya oleh putri duyung jahat yang mengganggu keamanan publik. Belum lagi anak buah Mr. Yang yang terus berusaha untuk menangkap putri duyung.

Tanpa berbicara apa-apa, Dam Ryung mengambil pedangnya dan menghampiri Mr. Yang yang berada dalam tahanan. Ia lantas menghunuskan pedangnya ke arah Mr. Yang.

“Tuanku, apa yang kau lakukan?” tanya Mr. Yang.

“Matilah. Dan jangan terlahir kembali,” jawab Dam Ryung tegas seraya menebaskan pedangnya.

Masa sekarang. Ma Dae-Young (Sung Dong-Il) tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Apa yang terjadi pada Mr. Yang ternyata tergambar dalam mimpinya barusan. Ia pun heran mengapa ia bisa bermimpi seperti itu. Namun sesaat kemudian ia bertambah heran karena satu demi satu ingatan Mr. Yang masuk ke dalam dirinya, terkhusus yang berkaitan dengan putri duyung dan Dam Ryung.

Sim Chung mendatangi sebuah department store dan meminta refund untuk belanjaan yang sudah ia beli. Sementara itu, kembali ke rumahnya, Nam-Doo memberitahu Joon-Jae bahwa rekaman CCTV menunjukkan Sim Chung tadi sedang membawa-bawa tas belanjaan dari department store yang ada di wilayah Gangnam.

“Untuk melakukan apa dengan itu?” tanya Joon-Jae.

“Aku tidak tahu. Mungkin ia akan menjualnya dan menyewa kamar,” jawab Nam-Doo.

“Kenapa ia menyewa kamar, meninggalkan rumahnya sendiri?” tanya Joon-Jae lagi dengan gusar.

Ia lantas mengecek sendiri rekaman CCTV di area sekitar yang ada di laptop Tae-O.

“Ini rumah Chung?” tanya Nam-Doo balik. “Ini rumahmu. Kamu selalu bilang ini rumahmu.”

Joon-Jae tidak menghiraukannya dan berusaha mencari tahu ke department store mana tepatnya Sim Chung pergi. Ia pun meminta Tae-O untuk meng-hack rekaman-rekaman CCTV department store di area Gangnam.

“Temukan saja lokasinya dengan ponselmu,” usul Nam-Doo.

“Ponselnya dimatikan,” jawab Joon-Jae singkat.

“Hei, aku sepertinya punya perasaan buruk tentang ini. Apakah ia pergi untuk selamanya?” tanya Nam-Doo.

Joon-Jae hanya bisa terdiam.

Sim Chung melangkah dengan gontai di dalam mall. Melihat sebuah hiasan komedi putar, ia menaikinya begitu saja dan duduk termenung sembari mengikuti putarannya.

Tidak jauh dari sana, Heo Chi-Hyun (Lee Ji-Hoon) sedang berjalan bersama beberapa orang rekan bisnisnya. Ia baru saja menandatangani kontrak perpanjangan kerjasama dengan mereka. Tiba-tiba mereka melihat keberadaan Sim Chung di atas komedi putar. Salah seorang di antaranya hendak meminta Sim Chung untuk turun karena hiasan tersebut seharusnya tidak boleh dinaiki, tapi Chi-Hyun mencegahnya dan meminta mereka membiarkannya karena toh mall sudah hampir waktunya tutup.

Joon-Jae masuk ke dalam kamarnya. Ia membayangkan Sim Chung yang selama ini tiba-tiba muncul dari balik loteng dan turun menemuinya di bawah. Joon-Jae lantas naik ke kamar Sim Chung. Sembari memperhatikan baskom kaca yang berisikan butiran-butiran mutiara, ia teringat kembali suara hati Sim Chung yang ia dengar sebelumnya.

Rahasiaku adalah aku berbeda denganmu. Aku adalah putri duyung.
Jika kamu mengetahui siapa diriku, kamu akan terkejut, terluka, dan takut terhadapku.
Kamu akan meninggalkanku.
Jadi aku mencoba sebaik mungkin untuk tidak ketahuan.

“Apa aku masuk ke dalam semacam buku anak-anak? Atau kamu yang keluar ke dunia ini?” gumam Joon-Jae.

Chi-Hyun menemui Sim Chung yang sedang berjalan di depan mall. Ia menanyakan kenapa Sim Chung berada sendirian di sana.

“Ada banyak hal cantik dan menarik di sini, tidak ada yang seperti ini di tempat dimana aku berasal,” ujar Sim Chung mengabaikan pertanyaan Chi-Hyun dan mengacu pada lampu-lampu serta hiasan natal yang indah di sekitar area mall.

“Dimana itu? Dimanapun itu berada, pasti ada persiapan untuk Natal,” tanya Chi-Hyun heran.

“Ada tempat dimana (itu) tidak ada,” jawab Sim Chung.

Chi-Hyun menanyakan kembali dimana Sim Chung tinggal. Sim Chung menjawab bahwa ia tinggal bersama Joon-Jae. Chi-Hyun lantas menawarkan untuk mengantarkan Sim Chung pulang. Alih-alih diantar pulang, Sim Chung meminta Chi-Hyun untuk mengantarkannya ke suatu tempat.

Tempat yang dimaksud ternyata adalah sauna 24 jam.

“Kamu sungguh ingin tidur di sini?” tanya Chi-Hyun tidak percaya ketika mereka sampai di sana.

“Ya. Aku lihat dari TV, banyak orang yang tidur di sini saat mereka keluar dari rumah,” jawab Sim Chung.

“Baiklah, berhati-hatilah,” pesan Chi-Hyun.

Dan belum apa-apa Sim Chung sudah membuat kehebohan dengan salah masuk ke ruang ganti laki-laki. Chi-Hyun segera menariknya keluar kembali dan memberitahunya pintu yang benar. Bukannya langsung masuk ke pintu ruang ganti wanita, Sim Chung kembali masuk ke ruang ganti pria dan meminta maaf terlebih dahulu, baru setelah itu masuk ke tempat wanita.

“Dia masuk ke dalam sudah benar, kan?” tanya Chi-Hyun pada petugas sauna dengan khawatir.

Di dalam ruang ganti, Sim Chung sempat kebingungan dengan cara membuka loker. Untung ada wanita lain yang baru saja datang tidak jauh dari tempatnya sehingga ia bisa meniru caranya. Dari ujung ruang ganti, empat orang siswi SMA diam-diam memperhatikan uang hasil refund belanjaan yang dimasukkan oleh Sim Chung ke dalam tasnya.

Sementara Tae-O berusaha membongkar rekaman CCTV untuk mencari keberadaan Sim Chung, Joon-Jae menanyakan tentang cerita Little Mermaid pada Nam-Doo. Dengan pede Nam-Doo menceritakan cerita anak-anak tersebut dengan endingnya tertukar dengan cerita Cinderella.

“Bukankah itu cerita yang lain?” tanya Joon-Jae heran.

“Bukankah semua cerita anak-anak sama saja?” respon Nam-Doo. “Seperti itu, pangeran dan putri duyung jatuh cinta lalu menikah. Tamat. Bukankah begitu?”

“Itu versi Disney,” timpal Tae-O, “Di versi aslinya ia meninggal.”

“Mati?” tanya Joon-Jae kaget. “Siapa? Pangeran? Putri duyung?”

“Itu benar. Aku rasa putri duyungnya mati,” tambah Nam-Doo.

“Kenapa putri duyungnya mati? Cerita anak-anak macam apa itu?” tanya Joon-Jae tidak terima.

“Ya, aku tahu. Anak-anak membacanya jadi kenapa mereka melakukan itu?” tanya Nam-Doo balik. “Tapi kenapa kita membicarakan tentang itu di saat fajar? Hari begini, mereka bilang anak-anak pun sudah tidak membaca cerita anak-anak klasik lagi.”

Di sauna, Sim Chung berkeliling dan memperhatikan kebanyakan orang datang bersama pasangan maupun keluarganya. Saat hendak tidur pun ia tidak kebagian tempat karena direbut oleh wanita lain.

Sementara itu, karena tidak kunjung menemukan sosok Sim Chung di rekaman CCTV, Joon-Jae memutuskan untuk menemui teman gelandangan Sim Chung dan menanyakan apakah ia tahu keberadaannya.

“Apa cerita yang terbaca bersama emosi yang besar?” tanya teman Sim Chung.

“Apa?” tanya Joon-Jae bingung.

“Aku rasa itu Romeo dan Juliet,” jawab teman Sim Chung, “Aku menangis. Shakespeare memang pantas disebut maestro.”

“Kamu melihatnya? Chung?” tanya Joon-Jae lagi dengan kesal.

Teman Sim Chung meminta Joon-Jae untuk duduk di sebelahnya. Dengan enggan Joon-Jae melakukannya.

“Di dunia ini, ada banyak cerita cinta. Tapi dari semua cerita cinta tersebut, jika kamu mengeluarkan kata-kata retorik dan yang tidak penting, hanya ada satu kalimat yang tersisa. Menurutmu apa kalimat itu?” tanya teman Sim Chung.

“Apa itu?”

“‘Perlakukan ia dengan baik saat ia bersamamu’.”

“Aish,” respon Joon-Jae dengan kesal seraya beranjak dari duduknya.

“Yang aku katakan adalah jika kamu memperlakukannya dengan baik saat ia bersamamu, ia tidak akan pergi. Kamu tidak akan mencarinya seperti ini. Itu kebenaran yang sesungguhnya.”

“Jika kamu melihat Chung, katakan padanya untuk menghubungiku,” ujar Joon-Jae tanpa mengabaikan ucapan teman Sim Chung.

Sambil memperhatikan Joon-Jae yang berlari menjauh, teman Sim Chung yakin bahwa Joon-Jae bakalan kembali lagi. Ia pun berteriak dan berpesan pada Joon-Jae bahwa ia akan ada di tempat itu setiap hari Senin, Rabu, dan Jum’at.

Kembali ke mobilnya, Joon-Jae mencoba mengecek posisi Sim Chung via GPS. Tapi tetap saja ponselnya masih belum dalam keadaan aktif.

4 orang siswi SMA yang sebelumnya memperhatikan Sim Chung saat ini sedang berada di luar sauna dengan membawa tas milik Sim Chung. Mereka girang mendapati segepok uang di dalamnya. Salah seorang di antaranya kemudian menghidupkan ponsel Sim Chung, penasaran dengan isinya. Tanpa ia sadari, begitu ponsel menyala, Joon-Jae segera mendapati lokasinya di ponselnya. Ia pun langsung menuju ke lokasi yang ditunjukkan di peta tanpa membuang waktu lagi.

Beberapa saat kemudian, Joon-Jae tiba di tempat 4 siswi SMA tersebut berada. Setelah melihat tas dan ponsel Sim Chung ada bersama mereka, ia pun sadar apa yang sedang terjadi. Tidak butuh waktu lama baginya untuk mendapatkan kembali barang-barang Sim Chung tersebut dari mereka.

“Siapa kamu?” tanya mereka kesal.

“Aku? Aku adalah seorang penipu,” jawab Joon-Jae santai, “Jika kalian seperti ini, kalian akan menjadi sepertiku. Jika pria yang kalian suka menanyakan apa yang kalian kerjakan, maka kalian harus berbohong tentang segalanya. Berbohong. Kalian suka itu?”

Joon-Jae lantas pergi meninggalkan mereka. Meski awalnya sebal karena kehilangan hasil jarahan mereka, namun keempat siswi SMA tersebut jadi girang kembali membayangkan gaya bad boy Joon-Jae yang cool.

Chi-Hyun menemani Sim Chung makan di sauna. Meski mengaku tidak selera makan gara-gara tidak bisa tidur, Sim Chung masih bisa makan dua butir telur dengan lahap. Chi-Hyun hanya bisa melongo dan tersenyum melihatnya, terlebih melihat cara Sim Chung membuka telur, dengan memukulkannya ke dahinya.

“Sepertinya nafasu makanmu sudah kembali,” respon Chi-Hyun.

Sesaat kemudian Joon-Jae tiba di sana. Begitu melihat Sim Chung, tanpa pikir panjang ia langsung memeluknya.

“Seriusan, siapa yang memberitahumu untuk meninggalkan rumah dan tinggal di tempat seperti ini? Kamu tahu seberapa susahnya aku berusaha mencarimu? Bagaimana kamu tahu untuk datang ke tempat seperti ini?” tanya Joon-Jae.

“Heo Chi-Hyun mengantarkanku ke sini,” jawab Sim Chung.

Saat itulah Joon-Jae baru menyadari ada Chi-Hyun di sana.

“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Joon-Jae curiga.

“Jangan salah sangka dulu. Kami tidak sengaja bertemu kemarin dan Chung mengatakan ia tidak ingin pulang ke rumah,” jawab Chi-Hyun.

“Tidak pulang ke rumah?” respon Joon-Jae tidak percaya.

“Kamu mengatakan itu?” tanya Joon-Jae pada Sim Chung.

Sim Chung mengiyakan. Joon-Jae lantas meminta Chi-Hyun untuk keluar terlebih dahulu sementara ia berbicara berdua dengan Sim Chung di tempat lain.

Joon-Jae memberikan uang dan juga ponsel Sim Chung kepadanya.

“Bagaimana kamu bisa memilikinya?” tanya Sim Chung heran.

“Aku juga orang jahat, tapi ada banyak orang yang jauh lebih jahat dari aku di sini,” jelas Joon-Jae, “Jadi berhati-hatilah.”

Joon-Jae kemudian menanyakan apakah Sim Chung sudah makan. Meski menjawab tidak, tapi suara hati Sim Chung menjawab sebaliknya. Mendengarnya, Joon-Jae mencoba mengiming-imingi Sim Chung dengan steak kesukaannya. Dan kembali meski bibirnya mengucap tidak, suara hati Sim Chung menjawab sangat menginginkannya.

“Jadi, kamu tidak akan pulang?” tanya Joon-Jae.

“Tidak,” jawab Sim Chung.

Joon-Jae menunggu suara hati Sim Chung, tapi kali ini tidak terdengar apa-apa.

“Sungguh?” tanya Joon-Jae lagi.

“Yeah,” jawab Sim Chung.

“Kenapa?” tanya Joon-Jae.

“Karena kamu penipu. Kamu orang brengsek yang menipu orang lain. Kamu menipuku juga. Tapi kenapa aku tidak kecewa kepadamu meski kamu orang jahat? Kenapa aku tidak bisa meninggalkanmu yang telah membohongiku?” jawab suara hati Sim Chung.

Joon-Jae tidak bisa lagi memaksa Sim Chung setelah mendengar hal itu.

“Jika kamu tidak ingin pulang, tinggallah di sini,” pinta Joon-Jae. “Jangan pergi ke tempat lain. Tetaplah di sini. Kamu tidak bisa pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal.”

“Oke,” jawab Sim Chung singkat.

Joon-Jae kemudian pergi meninggalkan Sim Chung. Keluar dari ruangan, ia coba untuk menguping, berharap mendengar suara hati Sim Chung mengatakan agar dirinya jangan pergi. Namun sama seperti sebelumnya, suara hati Sim Chung tetap terdiam.

“Aku pikir ia bakal mengatakan seperti itu. Kenapa ia begitu berhati dingin?” gumam Joon-Jae kesal.

Di tangga menuju pintu keluar, Joon-Jae bertemu dengan Chi-Hyun. Ia melewatinya begitu saja, namun Chi-Hyun kemudian memberitahunya bahwa ayah mereka sedang sakit belakangan ini.

“Kenapa? Dimana dan bagaimana kondisinya?” tanya Joon-Jae.

“Dokter mengatakan itu adalah katarak. Penglihatannya telah banyak berkurang,” jawab Chi-Hyun.

“Aku sudah bilang kepadamu untuk bekerja keras memenuhi tugasmu sebagai anaknya. Antarkan dia dengan baik ke rumah sakit,” respon Joon-Jae.

“Ia adalah ayah yang kamu punya dari awal, tapi ia ayah pertama yang pernah aku punya,” ujar Chi-Hyun saat Joon-Jae hendak melangkah pergi. “Oke, seperti kamu bilang, aku mungkin anak palsu yang bertingkah seolah anak yang sesungguhnya. Aku bersyukur dia menjadi ayahku, jadi aku selalu ingin berbuat baik kepadanya dan melindunginya.”

“Tentu saja. Bersyukurlah. Lanjutkan berbuat baik kepadanya dan pastikan kamu melindunginya. Agar ayahku bisa menjadi milikmu, ada banyak hal yang gagal ia lindungi dan akhirnya hilang,” balas Joon-Jae.

Dua detektif polisi memeriksa catatan milik Dae-Young dan mendapati bahwa beberapa tahun lalu ia pindah ke rumah yang sama dengan seorang wanita bernama Kang Ji-Hyun. Belum pernah mendengar nama tersebut, keduanya memutuskan untuk mulai menyelidiki tentang Kang Ji-Hyun, yang diketahui pernah menikah dua kali, dan kedua suaminya, bernama Kim Tae Heum dan Park Sang Jin, sama-sama meninggal.

Dari hasil penyelidikan, ditemukan bahwa kedua suami Kang Ji-Hyun meninggal dengan kondisi penglihatan mereka tiba-tiba berkurang dalam waktu singkat setelah pernikahan. Yang pertama mengalami kecelakaan mobil, sementara yang kedua mengalami komplikasi penyakit.

Kang Seo-Hee (Hwang Shin-Hye) menanyakan pada Heo Gil-Joong (Choi Jung-Woo) mengenai kondisi matanya. Gil-Joong mengatakan ia hendak menemui dokter Kim lagi karena obat yang diresepkan kepadanya rasanya tidak manjur. Seo-Hee merespon bahwa ia sudah menanyakan pada dokter Kim dan dokter menyarankan agar Gil-Joong terus meminum obat tersebut sembari beristirahat di rumah. Gil-Joong mengiyakan.

Di kediaman keluarga Jin-Joo, Jin-Joo dan suaminya membahas mengenai Kim Jae yang sudah tidak bisa lagi dihubungi. Mereka jadi mengira-ngira apakah pada saat makan bersama ada kesalahan yang mereka perbuat. Tapi mereka yakin masalahnya bukan pada makanan karena Kim Jae makan dua piring eggroll.

“Setelah itu, apa kira-kira masalahnya?” tanya Jin-Joo bingung.

“Terlalu menyombongkan diri,” tiba-tiba Mo Yoo-Ran (Na Young-Hee) yang ada di belakang nimbrung.

“Apa yang kamu bilang, ahjumma?” tanya Jin-Joo.

“Saat aku masuk, sepertinya ayah Ji Yong sedang sedikit menyombongkan diri,” jawab Yoo-Ran, “Mereka tampak seperti orang yang ia temui pertama kali tapi ia entah bagaimana mendapat atau memperoleh sesuatu dari mereka. Aku bisa melihat sedikit keinginan itu. Dari sudut pandang orang lain, itu bisa menjadi beban.”

Percaya dengan ucapan Yoo-Ran, Jin-Joo jadi kesal dan memarahi suaminya. Suaminya berdalih ia sudah berusaha keras menyembunyikannya. Tapi Yoo-Ran kembali menimpali bahwa ia masih bisa melihatnya. Jin-Joo jadi makin kesal dan memukuli suaminya.

Joon-Jae tiba kembali di rumahnya sembari mengomel kenapa Sim Chung lebih memilih tinggal di sauna daripada di rumahnya. Nam-Doo yang sedang tidur di sofa jadi terbangun dan menanyakan tentang Sim Chung.

“Bagaimana dengan Sim Chung? Apa kamu menemukannya?”

“Ya,” jawab Joon-Jae singkat.

“Kenapa? Ia tidak datang bersamamu?” tanya Nam-Doo lagi melihat Sim Chung tidak ada di sana.

Joon-Jae tidak menjawab dan langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Nam-Doo menyusul dan ikut tidur di sampingnya, beralasan pemanas ruangan di kamarnya rusak.

“Kamu tahu? Bukankah seharusnya seperti ini? Jika ada masalah, kamu harus berhadapan satu sama lain di satu tempat dan memecahkannya melalui komunikasi,” omel Joon-Jae.

“Kenapa? Apakah Chung mengatakan ia tidak mau pulang ke rumah?” tanya Nam-Doo sembari berusaha tidur.

“Darimana dia belajar kebiasaan buruk untuk lari dari rumah?” omel Joon-Jae lagi.

“Aku tidak merasa itu sesuatu yang bisa kamu katakan, di saat kamu lari dari rumah saat SMA,” respon Nam-Doo.

“Apa? Ia bilang ia tidak mau pulang ke rumah?”

“Pada siapa Chung bilang seperti itu?”

“Ada orang bodoh yang seperti itu,” jawab Joon-Jae, mengacu pada pria yang dulu diceritakan Sim Chung kalau ia sukai.

Di saat itulah Joon-Jae baru menyadari bahwa pria yang dimaksud Sim Chung itu adalah dirinya sendiri saat berada di Spanyol bersamanya.

“Orang brengsek itu… adalah aku?” gumam Joon-Jae.

Menyadari kebodohannya, Joon-Jae berguling-guling di tempat tidur sembari memegangi kepalanya. Nam-Doo jadi terpaksa beranjak dari tempat tidur dan menatap ke arah Joon-Jae dengan pandangan prihatin.

“Itu aku? Orang bodoh itu? Aku playboy yang cantik itu?!”

Joon-Jae tiba-tiba duduk kembali.

“Tunggu. Jadi pria itu aku, bukan pria lain,” gumam Joon-Jae sembari tersenyum.

“Apa kamu bilang?” tanya Nam-Doo bingung.

“Tidak, pria itu aku, hyung. Itu aku,” gumam Joon-Jae lagi, kali ini sembari tertawa. “Pria itu aku.”

Melihat tingkah Joon-Jae yang aneh, Nam-Doo akhirnya memilih untuk kembali tidur di kamarnya yang dingin saja.

“Kamu sebaiknya beristirahat. Atau minum obat,” pesan Nam-Doo pada Joon-Jae yang masih terus tertawa girang.

Masih sambil tersenyum senang, Joon-Jae memacu mobilnya menuju sauna tempat Sim Chung menginap. Ia mencari keberadaan Sim Chung dan hendak tidur di sampingnya. Saat melihat ada pria asing tidak jauh dari tempat Sim Chung hendak bergeser ke samping Sim Chung, dengan berpura-pura tidak sengaja Joon-Jae melangkahi dadanya, hingga ia pun minggir kembali.

Perlahan Joon-Jae merebahkan tubuhnya di samping Sim Chung sembari memperhatikan wajahnya. Beberapa saat kemudian Sim Chung terbangun. Ia terkejut melihat Joon-Jae ada di sampingnya.

“Jangan buka matamu, Heo Joon-Jae. Jangan terbangun, Heo Joon-Jae. Tetap seperti ini sehingga aku bisa melihatmu. Sehingga aku bisa mengejar waktu-waktu dimana aku tidak bisa melihatmu. Aku tidak harus meminta apapun darimu. Dan kamu tidak harus menyembunyikan apapun dariku. Jangan buka matamu, Heo Joon-Jae.” ucap Sim Chung dalam hati.

Joon-Jae ternyata hanya berpura-pura tidur. Saat kemudian Sim Chung berucap dalam hati jika ia kedinginan, Joon-Jae berpura-pura menendang selimutnya hingga terbang menutupi tubuh Sim Chung. Sim Chung hendak mengembalikan selimut tersebut, namun Joon-Jae berpura-pura mengigau kepanasa. Sim Chung pun akhirnya mengenakan selimut Joon-Jae, sementara Joon-Jae diam-diam tersenyum sembari menahan dingin.

Si-A mencari Yoo-Ran di kamarnya. Karena Yoo-Ran tidak ada di sini, Si-A melihat foto keluarga Yoo-Ran bersama Joon-Jae yang masih kecil. Sesaat kemudian Yoo-Ran datang dan menanyakan keberadaan Si-A di sana dengan raut muka tidak senang. Karena Si-A menjawab ingin mencari kimchi yang sebelumnya dibuat Yoo-Ran, Yoo-Ran meminta Si-A untuk mengikutinya ke dapur.

Si-A makan bersama Joon-Jae, Nam-Doo, dan Tae-O di rumah Joon-Jae. Ia menawarkan pada mereka untuk berkunjung ke rumahnya agar bisa menikmati makanan yang lebih enak dan lebih hangat daripada yang ia bawakan. Tidak mungkin pergi ke sana, Joon-Jae berdalih ia lebih suka makanan dingin dan tidak masalah untuk makan di tempatnya saja.

“Apakah Chung pergi untuk selamanya?” tanya Si-A.

“Yah, aku rasa ia akan segera kembali setelah baikan dengan Joon-Jae,” jawab Nam-Doo.

Tae-O melirik tajam ke arah Joon-Jae, ingin agar Sim Chung segera kembali. Si-A yang melihatnya jadi teringat kembali tentang ungkapan cinta Tae-O kepadanya, apalagi setelah itu mereka berdua tidak sengaja sama-sama memegang teko.

Usai makan, Si-A membawa Tae-O ke samping rumah.

“Tae-O, kamu tidak bisa terlalu terang-terangan di depan orang lain,” pinta Si-A.

“Aku?” tanya Tae-O heran.

“Aku pikir kamu anak yang cerdas,” lanjut Si-A, “Memang benar, di hadapan cinta kita semua tidak berdaya. Sebelumnya, kamu cemburu pada Joon-Jae dan melirik tajam ke arahnya. Itu karena aku sekarang.”

Tae-O menahan tawa setelah baru menyadari maksud tingkah Si-A.

“Sesulit itukah menatap wajahku?” tanya Si-A.

“Tidak, aku sudah melupakan semua. Itu yang sebenarnya,” jawab Tae-O sambil menatap ke arah Si-A.

“Kamu hanya ingin membuat hatiku nyaman, bahkan dengan kebohongan?” respon Si-A tidak percaya. “Cinta adalah sesuatu yang tidak bisa diputuskan begitu saja. Kenapa aku tidak tahu itu?”

Tae-O hanya pasrah dan diam saja, tidak tahu harus berkata apa lagi. Si-A lantas memaksa memberikan nomer hpnya pada Tae-O dan memintanya untuk menelponnya apabila ia tidak kuat menahan perasaannya.

Sim Chung menatap kolam air di sauna dengan perasaan sedih. Ia ingin masuk ke sana, tapi ia tahu bahwa itu tidak memungkinkan. Tiba-tiba seseorang menabraknya dari belakang sehingga ia terhuyung dan hendak nyemplung ke dalam kolam. Tanpa disangka Joon-Jae muncul dan dengan sigap menangkapnya. Belum apa-apa, giliran orang di samping mereka yang bermain air dan menyipratkannya ke arah Sim Chung. Joon-Jae kembali dengan cekatan melindungi tubuh Sim Chung hingga bajunya menjadi basah. Setelah memarahi orang tadi, Joon-Jae mengajak Sim Chung pindah ke ruangan lain.

Di ruang lain, saat sedang duduk, seorang anak kecil tanpa sengaja menumpahkan air yang baru saja ia ambil dari dispenser hingga hampir mengenai kaki Sim Chung. Joon-Jae segera menggendong Sim Chung dan memarahi anak kecil tadi yang jadi menangis karenanya. Setelah menurunkan Sim Chung, Joon-Jae kembali memarahi anak-anak kecil, kali ini yang sedang bermain pistol air.

“Ia tidak normal,” respon salah seorang ibu-ibu yang melihatnya.

Joon-Jae kemudian menemui penjaga sauna dan menanyakan apakah mereka menyediakan baju dan celana panjang. Karena mereka tidak menyediakannya, Joon-Jae memarahi mereka dan menyarankan agar mereka menyediakannya karena kondisi di dalam ruang sauna berbahaya. Penjaga sauna hanya menatapnya dengan pandangan aneh.

Kembali ke dalam, Joon-Jae mengangkat dispenser beserta galon airnya dan memindahkannya ke tempat lain.

“Honey, kapan kamu akan pulang?” tanya ibu-ibu tadi pada Sim Chung.

“Maaf?” tanya Sim Chung heran.

“Yah, aku juga beberapa kali mengalami pertengkaran dengan pasangan. Dengan kondisiku yang sekarang tinggal di sauna, mungkin sedikit canggung jika aku mengatakan hal semacam ini, tapi kami merasa sangat tidak nyaman gegara suamimu!”

“Suamiku?” tanya Sim Chung senang.

“Itu suamimu, bukan suamiku,” jawab ibu-ibu itu. “Suamimu terlalu aneh. Kami sangat terganggu di sini.”

Ibu-ibu lain yang ada di belakangnya mengamini.

“Tidak bisakah kamu pulang saja? Aku tidak tahu apa alasannya, tapi berbaikanlah. Hmmm?” lanjut ibu-ibu tadi. “Kembalilah pada saat ia memintanya, seolah-olah kamu terpaksa. Lihatlah aku. Aku sedang berada di persimpangan, tapi ia (pasanganku) tidak datang. Ia tahu aku di sini, tapi ia tidak datang. Sudah pulanglah! Kita tidak bisa tinggal di sauna ini gara-gara suamimu. Pulanglah! Ku mohon!”

Jin-Joo menjemput anaknya, Elizabeth, di sekolah. Melihat Yoo-Na (Shin Rin-Ah) tidak bersamanya, ia pun memarahinya. Tak lama Yoo-Na lewat di dekat mereka. Jin-Joo segera menyapanya dan mengajaknya untuk bergabung di tim renang Elizabeh. Yoo-Na mengiyakan. Jin-Joo lantas meminta Yoo-Na untuk memberitahu Sim Chung tentangnya.

“Apa yang akan kamu ceritakan kepadanya?” tanya Jin-Joo sembari tersenyum.

“Seorang ahjumma secara aneh menjadi baik kepadaku belakangan ini,” jawab Yoo-Na terus terang.

“Oh, oke. Tampaknya kamu adalah anak yang jujur dan baik hati,” respon Jin-Joo dengan sedikit keki. “Bagaimana dengan ini? Belakangan ini ibu Elizabeth merawatku dengan baik hingga aku ingin pergi ke sekolah.”

Yoo-Na berada di sauna dan menceritakan apa yang diminta Jin-Joo pada Sim Chung.

“Sungguh?” tanya Sim Chung.

“Tidak,” jawab Yoo-Na jujur, “Aku hanya mengatakan itu karena ia memintaku untuk mengatakannya. Aku tidak ingin pergi ke sekolah.”

“Kenapa?” tanya Sim Chung.

“Dalam waktu dekat akan ada show dan kita seharusnya mengundang keluarga kita. Tapi aku sungguh benci itu. Aku tidak punya siapapun yang akan datang untukku.”

“Apa ibumu sibuk lagi?”

Yoo-Na mengangguk lalu berkata, “Tahun lalu, juga saat di taman kanak-kanak. Bahkan jika aku bernyanyi dan menari, tidak ada orang yang melihatku. Tidak ada orang yang melambaikan tangan kepadaku. Itu membosankan.”

Melihat sinterklas yang sedang membagikan hadiah untuk anak-anak di sauna, Sim Chung lantas mengajak Yoo-Na untuk mengajukan permohonan pada Santa Claus karena di TV ia bisa mengabulkannya.

“Unni, apa kamu anak kecil?” respon Yoo-Na. “Jika kamu ingin melakukan itu, maka kamu tidak boleh menangis. Aku sudah seringkali menangis, jadi itu tidak berhasil.”

“Aku sudah menangis beberapa kali,” ujar Sim Chung sedih.

“Aku bilang itu tidak berhasil untuk kita,” balas Yoo-Na.

Sim Chung kemudian meminta Yoo-Na untuk menanyakan pada sinterklas apakah ia bisa menyampaikan pesan pada Santa Claus. Sinterklas (yang tentu saja hanya orang biasa) itu meminta Yoo-Na untuk menuliskan saja pada selembar kertas dan menempelkannya di pohon cemara yang ada di sampingnya. Saat Sim Chung menanyakan hal yang sama, sinterklas tersebut meminta nomer hp Sim Chung dan berjanji akan menyampaikan pesannya pada Santa.

Usai menuliskan permintaannya agar ayah dan ibunya datang ke show, Yoo-Na menempelkan kertas tersebut ke pohon cemara sembari berdoa.

Di hari pertunjukan, tanpa diduga oleh Yoo-Na, Sim Chung datang dengan penuh gaya. Jin-Joo yang juga berada di sana bersama Elizabeth kaget melihatnya.

“Ibumu menyuruhku untuk datang,” ujar Sim Chung, “Ia memintaku untuk melambai kepadamu, mengambil fotomu, dan menyemangatimu sebagai penggantinya.”

“Halo,” sapa Jin-Joo, “Aku rasa kamu cukup dekat dengan ibu Yoo-Na.”

“Ya, kita benar-benar BFF,” jawab Sim Chung sambil tersenyum.

Yoo-Na menatap ke arah Sim Chung dengan sedikit heran, sementara Jin-Joo makin terkejut mendengar jawaban Sim Chung.

“Kalian sudah ada di sini,” tiba-tiba sebuah suara terdengar dari belakang.

Ternyata Joon-jae yang mengatakan. Ia datang bersama dengan Nam-Doo dan juga Tae-O. Seolah sudah janjian, Joon-Jae langsung merangkul Sim Chung dan meminta maaf karena sudah datang terlambat.

“Darimana kamu tahu?” bisik Sim Chung.

“Apa yang tidak aku tahu?” jawab Joon-Jae pede.

Ia lantas menggendong Yoo-Na dan menyemangatinya, berjanji akan terus memperhatikannya nanti saat show.

Dan sesuai dengan keinginan Yoo-Na, sepanjang pertunjukan Sim Chung dan Joon-Jae terus melihat ke arahnya dan melambaikan tangan kepadanya. Ia pun balas tersenyum pada mereka dengan bahagia.

Usai acara, setelah memfoto Yoo-Na, Yoo-Na ganti meminta agar Sim Chung dan Joon-Jae mau berfoto.

“Unni, oppa, aku ingin kalian berdekatan,” pinta Yoo-Na sebelum memotret mereka.

“Apakah aku berubah dari ahjussi ke oppa?” tanya Joon-Jae sembari tersenyum.

“Aku akan mengambil foto kalian,” respon Yoo-Na.

Meski awalnya berjauhan, Joon-Jae kemudian merangkul Sim Chung sehingga posisi mereka berdekatan. Dalam hati Sim Chung berucap, “Aku bahagia.”

Keluar dari area sekolah, tanpa disadari, Dae-Young yang menyamar menjadi sopir taksi sedang memperhatikan mereka.

“Lihatlah. Betapa bagusnya ini dengan Sim Chung kembali lagi ke rumah?” ujar Nam-Doo. “Selama Chung tidak ada, kulkas selalu penuh tapi hatiku terasa sangat kosong.”

“Aku juga. Aku berbohong karena ini demi Yoo-Na, tapi itu dapat dilakukan,” balas Sim Chung.

“Benar, kan? Di dunia ini, ada sesuatu yang namanya white lie,” ucap Nam-Doo.

“Tapi kalian mengatakan lebih dari sekedar white lie,” sergah Sim Chung.

Tidak bisa membalasnya, Nam-Doo mengalihkan pembicaraan dengan mempertanyakan kemampuan berbicara Sim Chung yang meningkat drastis. Alih-alih menjawabnya, Sim Chung meminta agar Joon-Jae berjanji.

“Heo Joon-Jae, dapatkah kamu berjanji, bahwa kamu hanya akan mengatakan kebohongan yang baik,” pinta Sim Chung. “Berjanjilah padaku kamu tidak akan mengucapkan kebohonga yang akan melukai orang lain.”

“Well, kamu ingin aku berjanji di hadapan dua orang ini?” tanya Joon-Jae.

“Yeah,” jawab Sim Chung.

Terdiam sejenak, Joon-Jae lantas mengiyakan. Nam-Doo dan Tae-O kaget mendengarnya.

“Sungguh?” tanya Sim Chung.

“Ya,” jawab Joon-Jae tanpa ragu. “Aku tidak akan. Sekalipun.”

“Apa aku mendengar sesuatu yang salah? Atau ini kebohongan juga?” tanya Nam-Doo pada Tae-O.

Joon-Jae melihat ke seberang jalan, ke arah mesin UFO Catcher yang biasa dimainkan Sim Chung. Ia lalu meminta agar Nam-Doo dan Tae-O masuk dulu ke rumah sementara ia akan melakukan sesuatu bersama Sim Chung sebentar.

Joon-Jae meminta Sim Chung untuk menunggu sejenak di dekat hiasan ornamen pohon natal raksasa. Tidak jauh dari sana, dua orang detektif polisi datang karena mendapat laporan bahwa Dae-Young terlihat di daerah itu. Mereka pun mulai berkeliling untuk mencarinya sembari menunggu backup datang.

Joon-Jae melangkah perlahan ke arah Sim Chung dari kejauhan. Di balik punggungnya tangannya menyimpan boneka gurita merah yang diidam-idamkan Sim Chung. Sim Chung masih memperhatikan pohon natal di hadapannya, sambil berucap dalam hati.

Heo Joon-Jae. Saat aku melintasi samudera panjang untuk mencarimu, aku melihat bintang-bintang yang indah ini setiap malam.
Tapi aku kesepian karena aku sendiri. Aku lelah. Aku takut.
Tapi sekarang, apakah tidak mengapa untuk merasa nyaman?
Apakah tidak mengapa untuk merasa bahagia?
Apakah tidak mengapa untuk mencintaimu?

Tidak jelas apakah Joon-Jae kali ini mendengar suara hati Sim Chung. Tapi saat langkahnya semakin dekat, tiba-tiba seseorang menariknya dan menangkapnya. Begitu Joon-Jae menoleh, orang itu adalah si detektif polisi yang memang sudah lama mengejarnya. Tanpa buang waktu, detektif tersebut langsung memborgol tangan Joon-Jae hingga boneka gurita yang dipegangnya terjatuh.

“Aku merasa aku datang untuk menangkap harimau dan aku menangkap kelinci, tapi menangkap satu tetap saja menangkap satu,” ujar detektif tersebut.

Ia lantas menghubungi rekannya dan meminta agar mengirimkan backup ke tempatnya berada. Tidak ingin Sim Chung tahu, Joon-Jae mengatakan bahwa ia akan pergi.

“Aku akan mengikutimu dengan tenang, jadi jangan panggil siapapun,” pinta Joon-Jae.

Detektif tersebut menurutinya dan segera membawanya pergi. Sesaat kemudian, Dae-Young tiba dengan taksinya dan berhenti tidak jauh dari tempat Sim Chung menunggu Joon-Jae.

Epilog. Joon-Jae yang tahu si sinterklas mencatat nomer ponsel Sim Chung mencegatnya di luar dan merebut kertas berisi nomer ponsel tersebut lantas merobeknya.

Dalam kertas keinginan yang ditulis Sim Chung, ia berharap agar ia bisa berkencan dengan Heo Joon-Jae di bawah pohon yang indah, tahun ini dan seterusnya. Sementara, tanpa diketahui oleh Sim Chung, Joon-Jae juga menempelkan kertas keinginannya di sana, bahwa ingin agar bisa menepati semua janjinya pada Sim Chung.

Preview Episode 12

Berikut ini adalah preview eps 12 dari drakor Legend Blue Sea:

» Sinopsis Episode 12 Selengkapnya

Tema artikel yang berhubungan: , , ,

Reply