Rekap Sinopsis The Legend Of The Blue Sea Episode 10 & Preview Episode 11 (15 Desember 2016)

Di sinopsis The Legend Of The Blue Sea episode sebelumnya, untuk melancarkan proyek scam terhadap Ahn Jin-Joo (Moon So-Ri), trio Heo Joon-Jae (Lee Min-Ho), Jo Nam-Doo (Lee Hee-Joon), dan Tae-O (Shin Won-Ho) meminta Sim Chung (Jun Ji-Hyun) untuk ikut berperan sebagai tunangan Joon-Jae. Mengira aksinya untuk keperluan mulia, Sim Chung oke-oke saja melakukannya. Sementara itu, sebuah lokasi sejarah diketemukan di bekas sebuah gedung apartemen, lokasi yang diyakini sebagai rumah keluarga Kim Dam Ryung (Lee Min-Ho). Di area tersebut kemudian didapati sebuah lukisan tersimpan di dalam sebuah kotak. Ditemani oleh Cha Si-Ah (Shin Hye-Sun), Joon-Jae melihat lukisan tersebut di museum. Ia pun kaget melihat wajah Dam Ryung yang benar-benar mirip dengan dirinya. Apa yang kira-kira akan terjadi selanjutnya di sinopsis drama Korea Remember the Blue Sea episode 10 kali ini?

Dok. gambar dan video © SBS of Korea Selatan

Sinopsis Episode 10

Joon-Jae memperhatikan sudut kanan atas lukisan bergambar sosok Dam Ryung. Ada sebuah tulisan di sana, tulisan yang sama dengan kata-kata yang diucapkan oleh Dam Ryung di dalam mimpinya beberapa waktu lalu.

Jika kau adalah reinkarnasiku, bahkan jika kau bangun dari mimpimu, ingatlah ini. Segalanya akan terulang. Hubungan di sini akan terjadi juga di sana. Bahkan hal buruk sekalipun. Hal buruk karena orang berbahaya itu, kau harus melindungi wanita itu.

“Siapa kau? Apa kau benar-benar aku? Bukan mimpi… tapi diriku yang sesungguhnya?” tanya Joon-Jae.

Sesaat kemudian Si-Ah mengetuk pintu dan memberitahu Joon-Jae kalau lampunya mati. Joon-Jae pun keluar untuk menemuinya. Dengan manja Si-Ah segera memeluk lengannya, berpura-pura ketakutan. Apes baginya, sejenak kemudian lampu langsung menyala kembali.

Di dalam ruang penyimpanan sementara, Si-Ah memandangi lukisan Dam Ryung. Ia penasaran dan meyakini bahwa Kim Dam Ryung adalah leluhur Joon-Jae. Namun demikian, Joon-Jae bersikap seolah-oalh tidak begitu tertarik dan meminta Si-Ah juga merahasiakan bahwa ia pernah ke tempat itu bersamanya.

Tiba di rumah, Sim Chung yang sudah sedari tadi menunggu kedatangan Joon-Jae dengan gelisah langsung memarahinya karena pulang melebihi jam malam yang sudah ditentukan. Joon-Jae dengan santai menyatakan bahwa jam malam tidak berlaku bagi pemilik rumah. Kalah berargumen, Sim Chung memilih untuk duduk di samping tempat tidur Joon-Jae sembari melirik tajam ke arah Joon-Jae dengan kesal.

Joon-Jae yang berusaha untuk tidur jadi kaget melihatnya dan menanyakan kenapa Sim Chung bersikap demikian.

“Ini mataku, aku pemiliknya, jadi aku yang memutuskan akan menatapmu seperti ini atau dengan cara yang normal. Ini aturanku, aku akan menatapmu seperti ini jika aku marah padamu,” jawab Sim Chung.

“Jadi kau akan tetap seperti itu?” tanya Joon-Jae sambil tertawa.

“Ya,” jawab Sim Chung tegas.

“Kenapa?”

“Karena aku ingin menatapmu untuk menebus saat-saat aku tak melihatmu.”

Joon-Jae jadi tak bisa berkata apa mendengar jawaban Sim Chung. Ia pun mempersilahkan Sim Chung untuk terus melakukan itu sementara ia akan mencoba tidur. Dan baru beberapa saat saja mata Sim Chung sudah kecapekan 😀

Joon-Jae tiba-tiba bangkit dan menanyakan tentang mimpi Sim Chung saat ia habis tertabrak mobil. Joon-Jae menanyakan apakah dirinya yang dilihat Sim Chung dalam mimpinya saat itu sedang mengenakan baju tradisional. Mimpi yang dialami Sim Chung ternyata adalah saat dimana ia (Sae-Wa) bertemu dengan Dam Ryung di sebuah teluk. Namun demikian, ia tidak mau mengaku dan berdalih sudah lupa sama sekali. Mengingat Sim Chung yang juga lupa namanya sendiri, Joon-Jae percaya dan meminta Sim Chung untuk naik ke kamarnya. Tidak seperti ucapannya sebelumnya, kali ini Sim Chung langsung naik ke kamarnya dan meninggalkan Joon-Jae yang gemas karena tadi Sim Chung mengatakan bakal menungguinya di samping tempat tidur sepanjang malam.

“Ku rasa dia labil dengan perkataannya,” gerutu Joon-Jae, “Aku jadi mulai gelisah tanpa alasan sekarang.”

Di kamarnya, Sim Chung memegangi dadanya.

“Berbohong rasanya seperti ini,” gumamnya, “Membuat hatiku tak tenang, tapi jauh lebih mudah. Syukurlah Heo Joon-Jae tak bisa mendengar suaraku yang sesungguhnya.”

Joon-Jae kembali bermimpi tentang masa lalunya. Kali ini tentang Dam Ryung yang menyelamatkan Sae-Wa yang disekap Mr. Yang (Sung Dong-Il). Ia pun terbangun dengan gelisah, lantas turun ke bawah. Ada Nam-Doo di sana, yang kemudian menceritakan padanya tentang keanehan pada diri Sim Chung. Mulai dari kakinya yang bisa sembuh dengan cepat, serta mutiara yang ia miliki, yang ia katakan hendak dijual dan diberikan pada Joon-Jae.

“Lalu bagaimana denganmu, hyung? Kau curiga akan itu?” tanya Joon-Jae.

“Aku? Aku cemas kau akan menjadi orang baik, Joon-Jae. Aku yang membuatmu menjadi orang jahat dan sekarang kau berguna. Setelah bertemu Chung, kau sepertinya akan menjadi orang baik dan aku mencemaskan itu. Jika kau menjadi orang baik, kau pasti akan meninggalkanku,” jawab Nam-Doo.

“Kau bilang kebaikan sama sekali tak berguna.”

“Aku penasaran sebaik apa Chung itu. Bukankah itu menyenangkan? Aku akan cari tahu.”

Nam-Doo lalu pergi ke toilet untuk buang air.

“Ku rasa memang seharusnya mencari tahu siapa dia sebenarnya,” gumam Joon-Jae.

Detektif polisi yang menangani kasus Ma Dae-Young (Sung Dong-Il) menemui adanya kejanggalan. Ia pun memberitahu kepala timnya dan menunjukkan bukti kemungkinan Dae-Young selama ini bekerja untuk seorang wanita.

Di rumahnya, wanita yang dimaksud, Kang Seo-Hee (Hwang Shin-Hye), sedang sarapan bersama Heo Gil-Joong (Choi Jung-Woo) dan Heo Chi-Hyun (Lee Ji-Hoon). Kondisi mata Gil-Joong sepertinya bertambah parah. Sembari meminta Gil-Joong agar tidak lupa meminum obatnya setelah usai makan, Seo-Hee menyarankan agar suaminya tidak usah masuk kerja saja pada hari itu agar bisa beristirahat di rumah.

Yoo-Na (Shin Rin-Ah) mendapati makanan yang ditinggalkan ibunya di meja beserta pesan agar ia tidak lupa masuk les bahasa Korea sore nanti. Namun alih-alih masuk sekolah, ia malah memutuskan untuk membolos dan tanpa sengaja bertemu dengan Sim Chung yang masih pantang menyerah mencoba mengambil boneka gurita merah di mesin UFO Catcher.

“Apa yang kau lakukan jika kau mendapatkan gurita merah muda?” tanya Yoo-Na.

“Bagaimana kau tahu aku berusaha mengeluarkan gurita merah muda?” tanya Sim Chung heran.

“Aku tahu, kau yang mengatakannya tadi. Saat aku di belakangmu, kau bilang kau harus mendapatkannya.”

“Aku tak bilang apa-apa. Kau tak mungkin mendengar suara itu.”

“Ya, tapi aku mendengarnya.”

Meski heran kenapa Yoo-Na bisa mendengar suara hatinya, Sim Chung mengalihkan pembicaraan dan mengajak Yoo-Na melihat aksinya mencoba mengambil boneka tersebut.

Joon-Jae naik ke loteng untuk mencari Sim Chung. Tentu saja Sim Chung tidak ada di sana.

“Dia pergi kemana lagi? Dasar tukang keluyuran,” gerutu Joon-Jae.

Saat hendak turun Joon-Jae melihat sebuah mangkok kaca berisikan biji-biji mutiara seperti yang semalam ditunjukkan oleh Nam-Doo.

“Sungguh? Darimana dia mendapatkan ini? Tapi, kenapa dia bilang akan mencari uang dan memberikan semuanya padaku? Kapan aku minta uang padanya? Apa ini?” ujar Joon-Jae pada dirinya sendiri.

Tak lama Joon-Jae turun dan berjalan ke sana kemari dari satu ruangan ke ruangan lain dengan gelisah. Nam-Doo yang sedang menelpon melihat ulahnya dengan heran. Saat ditanya apakah ia sedang mencari Chung, Joon-Jae berdalih dan mengatakan ia sedang mencari Tae-O. Tae-O yang terang-terangan ada di ruang atas tersenyum sinis mendengarnya.

“Apa kau bintang film? Kenapa kau hebat sekali berbohong?” sindir Nam-Doo.

Sesaat kemudian Sim Chung muncul bersama Yoo-Na. Joon-Jae tanpa basa-basi langsung memarahinya karena lagi-lagi membiarkan ponselnya mati.

“Beri ponselmu makan. Kau saja tak pernah lupa makan, tapi kenapa kau membuat ponselmu kelaparan?” ujar Joon-Jae.

Dari balik punggung Sim Chung Yoo-Na kemudian muncul dan berkata, “Baterai ponselnya habis bukan karena ponselnya lapar.”

“Siapa kau?” tanya Joon-Jae.

“Dia temanku,” jawab Sim Chung.

“Teman apanya? Waktu itu kau berteman dengan pengemis, sekarang dengan anak SD?” sindir Joon-Jae.

“Ahjussi, kau tak punya kerjaan,” balas Yoo-Na.

“Siapa yang ahjussi dan siapa yang pengangguran? Kau salah,” respon Joon-Jae tidak terima.

“Saat orang lain bekerja, kau malah bermalas-malasan di rumah. Bermalas-malasan, nonton TV, atau bermain game. Kata mereka itu namanya pengangguran,” jelas Yoo-Na.

“Heo Joon-Jae, kau pengangguran?” tanya Sim Chung yang jadi ikut penasaran.

“Aku bukan pengangguran,” dalih Joon-Jae. “Aku freelance, aku punya pekerjaan yang spesial jadi aku bisa bekerja di rumah.”

“Benar. Heo Joon-Jae orang yang bekerja untuk pemerintah. Dia mendistribusikan kekayaan negara. Jadi kalau kau dewasa, kau harus seperti Heo Joon-Jae,” ujar Sim Chung pada Yoo-Na yang mengangguk-angguk mendengarnya.

Joon-Jae kemudian baru sadar kalau Yoo-Na saat itu bolos sekolah. Ia pun ditanyai penyebabnya. Dan Yoo-Na mengaku bahwa ia tidak bersekolah lagi.

“Setiap kali aku pergi sekolah, aku mengembangkan kekuatan supernatural,” ujar Yoo-Na.

Nam-Doo tertawa mengejek, “Kekuatan supernatural apaan?”

Yoo-Na melanjutkan, “Aku menjadi tak kelihatan. Anak-anak itu tak bisa melihatku. Mereka bahkan tak bicara padaku. Jadi, aku tak perlu ke sekolah. Karena, tidak ada yang akan tahu jika aku tak masuk.”

Nam-Doo tidak lagi tertawa. Yang lain juga langsung terdiam.

“Kenapa anak-anak seperti itu?” tanya Nam-Doo.

“Karena aku berbeda dengan mereka,” jawab Yoo-Na. “Cara kami hidup berbeda. Ku rasa karena aku hidup bersama ibuku sekarang. Orang-orang kadang tak suka jika ada orang lain yang berbeda dengan mereka?”

“Aku juga berbeda. Heo Joon-Jae mungkin tak akan menyukaiku jika dia tahu aku berbeda. Dia mungkin akan meninggalkanku, kan?” ujar Sim Chung dalam hati.

Joon-Jae terlihat menoleh ke arah Sim Chung.

“Kenapa kau berbeda?” tanya Yoo-Na tiba-tiba. “Jika kau berbeda, ahjussi yang bernama Heo Joon-Jae tak akan menyukaimu dan akan meninggalkanmu?”

Nam-Doo jadi bingung dengan maksud pertanyaan Yoo-Na karena ia tidak mendengar Sim Chung mengatakan apa-apa. Pun begitu dengan Tae-O. Sementara Joon-Jae masih terus menatap ke arah Sim Chung.

“Anak ini bolos sekolah pertama kali dalam hidupnya dan dia pasti sedikit tertekan dan mendengar hal tak masuk akal,” tebak Nam-Doo.

“Bukan begitu, aku mendengarnya,” ujar Yoo-Na.

Sim Chung lantas mengajak Yoo-Na ke kamarnya. Sepeninggal mereka berdua, Joon-Jae menanyakan apakah mereka mendengar Sim Chung mengatakan apa yang dikatakan oleh Yoo-Na tadi. Nam-Doo menjawab tidak. Joon-Jae pun mengaku tidak mendengarnya saat ditanya balik. Sesaat kemudian ponsel Joon-Jae berbunyi dan ternyata istri sekretaris Nam yang menelpon, mengabarkan bahwa sekretaris Nam sudah sadarkan diri.

Di kamarnya, Sim Chung memastikan apakah Yoo-Na benar-benar bisa mendengar suara hatinya. Setelah terkonfirmasi, Sim Chung meminta agar Yoo-Na merahasiakan hal itu karena akan ada masalah baginya jika Joon-Jae tahu ia berbeda. Yoo-Na menyanggupi.

Joon-Jae tiba di kamar inap sekretaris Nam. Meski sudah sadarkan diri, sekretaris Nam ternyata hanya bisa membuka mata saja dan belum bisa berbicara atau menggerakkan tubuhnya. Ia menangis melihat Joon-Jae datang menemuinya. Istrinya yakin ada sesuatu yang hendak disampaikan sekretaris Nam kepada Joon-Jae.

Saat Joon-Jae hendak pulang, istri sekretaris Nam memberitahunya bahwa sebenarnya ibu Joon-Jae dulu beberapa kali menghubunginya dan menanyakan kabar Joon-Jae. Namun agar ibunya tidak khawatir, istri sekretaris Nam tidak memberitahunya jika Joon-Jae keluar dari rumah.

Joon-Jae sedang ngebir di kamarnya saat Sim Chung menanyakan apa yang sedang ia lakukan.

“Jangan turun,” jawab Joon-Jae singkat.

Dengan santai Sim Chung malah turun dan menemui Joon-Jae.

“Kau tahu apa artinya ‘jangan turun’, kan?” tanya Joon-Jae kesal.

“Itu alkohol?” tanya Sim Chung, tidak menghiraukan pertanyaan Joon-Jae.

“Kau tahu ini?” tanya Joon-Jae.

“Aku melihatnya di TV. Jika orang minum ini, mereka akan tertawa, menangis, berbicara, bertengkar, dan tidur di jalan,” jawab Sim Chung.

“Itu yang dilakukan hyung Nam-Doo,” respon Joon-Jae, “Kau tahu kenapa panggilannya anjing Nam-Doo? Karena dia seperti anjing jika sedang mabuk. Berlagak imut seolah dia tak tahu apa yang dia lakukan, menelpon mantan pacarnya atau mungkin pacarnya lalu mengganggunya, mengulang-ulang perkataannya dan selalu mengabaikan jika dia sedang mabuk. Karena itu menyentuh alkohol adalah hal yang salah. Kalau aku tak begitu suka alkohol. Aku menyentuh alkohol hanya untuk mengendalikan perasaanku.”

“Kalau begitu Heo Joon Jae, ajari aku minum alkohol,” pinta Sim Chung.

“Kau mau? Kau mau minum denganku?”

Dan mereka berdua pun mulai minum bersama di dapur. Baru saja Joon-Jae menuangkan bir ke gelas Sim Chung, ia sudah langsung menenggaknya. Joon-Jae memberitahunya bahwa kalau sedang minum bersama ia harus bersulang dulu. Sim Chung ternyata suka kegiatan ‘bersulang’ itu dan terus-terusan minta bersulang setiap kali hendak minum.

Setelah 4 botol bir, Sim Chung mulai meracau dan mengungkapkan kesedihannya pada manusia yang tega membakar, memasak, dan mengeringkan gurita, karena baginya gurita adalah seperti anjing bagi manusia.

“Bagi manusia?” tanya Joon-Jae, “Apa kau bukan manusia?”

“Tentu saja bukan,” jawab Sim Chung.

“Kau bukan manusia? Jika tidak, lalu kau makhluk apa?”

“Aku.. put…”

Mata Sim Chung tiba-tiba terbelalak dan tatapannya kembali normal sebelum ia menyelesaikan perkataannya.

“Heo Joo Jae, aku mabuk, kan?” tanyanya.

“Kau sudah sadar?” tanya Joon-Jae heran.

“Oh.. tapi aku masih pusing, tapi aku hanya pura-pura sadar. Ayo bersulang lagi,” balas Sim Chung.

“Wow, perubahan sikapmu sungguh luar biasa.”

2 botol bir kemudian, Joon-Jae mulai mengulang kata-katanya. Dan 4 botol bir kemudian, ia pun mulai mabuk. Dalam keadaan mabuk, ia menelpon ponsel Sim Chung dan ngomel-ngomel karena Sim Chung tidak mengangkatnya. Padahal Sim Chung yang ada di depannya sama sekali tidak ia perbolehkan beranjak dari tempat duduknya. Masih dalam keadaan mabuk, Joon-Jae memeluk Sim Chung dan memintanya agar tidak pergi.

“Jangan pergi, bahkan jika kita berbeda, jangan pergi, aku tak akan meninggalkanmu,” ujar Joon-Jae.

“Ku harap ini bukan kebohongan. Ku harap ini tulus,” respon Sim Chung lirih.

Hari berlalu. Pagi harinya Joon-Jae terus muntah-muntah gara-gara semalaman mabuk. Saat tahu Joon-Jae semalam sedang mengajari Sim Chung minum-minum, Nam-Doo mengatakan bahwa seharusnya Sim Chung belajar darinya karena Joon-Jae adalah muridnya.

“Tapi, orang mabuk benar-benar mengatakan kebenaran atau kebohongan?” tanya Sim Chung.

“Setengahnya saja. Dalam kasus Joon-Jae, pasti semua yang dikatakannya adalah kebohongan. Perkataan Joon-Jae yang mabuk, anggap saja seperti gongonggan anak anjing. Semuanya omong kosong,” jawab Nam-Doo.

Sim Chung jadi terpuruk mendengar jawaban Nam-Doo dan melangkah masuk ke kamarnya tanpa menghiraukan Nam-Doo yang menanyakan apa yang sebenarnya sudah dikatakan oleh Joon-Jae.

Sesaat kemudian Tae-O turun dan memberitahu Nam-Doo bahwa Jin-Joo ada janji di dokter hewan pada pukul 3 sore.

Nam-Doo tiba di dokter hewan tak berapa lama setelah Jin-Joo tiba. Jin-Joo yang memang sengaja datang ke sana untuk mencari Nam-Doo, setelah berbasa-basi sejenak, kembali menanyakan apakah Nam-Doo sudah bisa mengatur acara makan dengan Kim Jae. Nam-Doo sengaja jual mahal agar terlihat lebih menyakinkan.

Beberapa saat kemudian, di rumahnya, Si-Ah kembali mengingatkan Jin-Joo kalau ia mungkin saja sedang menjadi target penipuan. Jin-Joo tetap pede Kim Jae bukanlah penipu. Moo Yoo-Ran (Na Young-Hee) tiba-tiba menghampiri mereka dan memberitahu Si-Ah agar lain kali memisahkan pakaian luar dan pakaian dalam di tempat cucian supaya pekerjaannya menjadi lebih mudah.

“Apa kau ibu mertuaku?” sergah Si-Ah kesal. “Seolah-olah aku tinggal dengan mertuaku.”

“Aku juga tak ingin jadi mertuamu,” balas Yoo-Ran tenang.

“Apa?”

“Aku juga tak berniat menjadikanmu anak mantuku,” lanjut Yoo-Ran, lantas pergi begitu saja meninggalkan Si-Ah dan Jin-Joo.

Dengan kesal Si-Ah meminta agar Jin-Joo memecat Yoo-Ran. Jin-Joo menjawab bahwa ia tidak bisa melakukannya karena masih butuh bantuan Yoo-Ran untuk menjamu Kim Jae nanti.

“Kau bilang ahjumma memiliki seorang putra, kan? Aku merasa kasihan pada orang yang akan jadi mantunya,” omel Si-Ah.

Ponsel Jin-Joo berbunyi tak lama setelah Si-Ah pergi ke kamarnya. Nam-Doo yang menelpon, memberitahunya bahwa Kim Jae sudah bisa menemuinya hari itu juga.

Dengan bersemangat Jin-Joo kemudian berganti baju. Karena Cha Dong-Sik, suaminya, tidak terlalu menanggapinya, ia pun meminta pendapat pada Yoo-Ran, yang dengan dingin memberikan komentar-komentar yang jujur. Setelah berganti baju beberapa kali, akhirnya Yoo-Ran menyetujui penampilan Jin-Joo. Di kamarnya, Jin-Joo jadi heran pada dirinya sendiri kenapa ia selalu menuruti saja perkataan Yoo-Ran.

Mobil yang ditumpangi Nam-Doo, Joon-Jae, dan Sim Chung tiba di rumah Jin-Joo. Mereka sempat melewati Si-Ah di jalan, yang saat itu sedang keluar dari sebuah supermarket. Sebelum masuk, Joon-Jae mengingatkan Sim Chung agar jangan memanggil namanya, agar penyamaran mereka tidak terbongkar.

Nam-Doo lantas membunyikan bel. Yoo-Ran yang mengecek dari layar monitor sayangnya tidak melihat wajah Joon-Jae, yang tertutupi oleh wajah Nam-Doo. Ia pun memberitahu Jin-Joo bahwa tamunya telah datang. Bergegas Jin-Joo, Dong-Sik, dan Elizabeth keluar dari rumah dan membukakan pintu untuk mereka.

Setelah Nam-Doo dan Joon-Jae masuk bersama Dong-Sik, Jin-Joo meminta Elizabeth untuk memberi salam pada Sim Chung. Sim Chung meminta agar Elizabeth baik-baik pada Yoo-Na. Tahu harus menjilat, Jin-Joo memastikan bahwa mulai sekarang Elizabeth adalah sahabat baik Yoo-Na dan akan selalu menemaninya.

Tak lama setelah mereka masuk, Si-Ah tiba. Untunglah, sesaat sebelum ia masuk ke halaman, Jin-Joo menelponnya dan memintanya untuk membelikan buah ara bagi tamu mereka. Dengan sedikit kesal, ia pun pergi kembali untuk membelikan buah tersebut.

Di dalam rumah, Joon-Jae memberikan kartu nama perwakilannya di Jepang pada Dong-Sik. Diam-diam Dong-Sik kemudian menelpon nomor pada kartu nama tersebut untuk memastikan apakah benar Kim Jae bekerja di sana. Tae-O, yang menerima telpon di nomer tersebut, mengiyakan, hingga Dong-Sik kini yakin bahwa Kim Jae bukanlah penipu.

Acara makan sambil berbincang santai pun dimulai. Posisi duduk Joon-Jae kebetulan memunggungi dapur sehingga ia tidak melihat Yoo-Ran, ibunya, yang beberapa kali keluar dari dapur.

“Kalian berdua pasangan yang sangat serasi. Aku penasaran kapan rencananya kalian menikah?” tanya Dong-Sik.

“Kami akan melaksanakannya segera. Mungkin tahun depan, di Dubai atau Eropa,” jawab Joon-Jae tenang.

Sim Chung menoleh ke arah Joon-Jae dengan pandangan penuh tanya. Joon-Jae sendiri juga menoleh ke arah Sim Chung dengan canggung. Tahu bahwa keadaan jadi kurang nyaman, Jin-Joo mengalihkan pembicaraan dan meminta Joon-Jae untuk mencoba ikan kukus pedas dan makanan-makanan lainnya yang terhidang di meja. Saat mencoba kue ikan cincang, Joon-Jae mendadak terdiam.

“Benar-benar lexat. Rasanya mirip dengan buatan ibuku,” ujar Joon-Jae.

Jin-Joo girang mendengarnya. Ia segera meminta Yoo-Ran untuk membawakan lagi masakan yang lainnya. Dan lagi-lagi, meski posisi Yoo-Ran ada di belakang Joon-Jae, namun Joon-Jae tidak menoleh ke belakang sehingga ia tidak tahu bahwa ibunya yang selama ini ia cari-cari sebenarnya ada di sana.

Sesaat setelah Yoo-Ran meletakkan piring makanan di meja dan kembali melangkah ke dapur, Joon-Jae sempat mendapat firasat bahwa yang baru saja menyajikan makanan tersebut adalah ibunya. Namun saat ia menoleh, ia hanya melihat sosok Yoo-Ran dari belakang, sehingga ia pun menjadi tidak yakin dan kembali mengabaikan firasatnya.

Tak lama Si-Ah kembali tiba di rumah. Tae-O yang berjaga di depan segera menghampirinya dan mencegahnya masuk ke dalam. Begitu tahu itu adalah rumah Si-Ah, Tae-O jadi kebingungan harus membuat alasan apa, hingga akhirnya ia pun mengatakan bahwa ia mencintai Si-Ah 😀

Usahanya berhasil. Si-Ah batal masuk ke rumah dan mereka duduk di kafe tak jauh dari rumah Si-Ah. Tae-O hanya terdiam sambil meng-SMS Nam-Doo untuk menceritakan apa yang terjadi, sementara Si-Ah jadi galau kenapa Tae-O bisa mencintainya padahal ia tahu bahwa Si-Ah mencintai Joon-Jae.

Begitu pesan dari Tae-O masuk, Nam-Doo segera memberitahu Joon-Jae, yang lantas berpamitan pada Dong-Sik dan Jin-Joo. Mereka pun berhasil meninggalkan tempat tersebut tepat sebelum Si-Ah tiba kembali di rumahnya.

Tiba di rumah, Joon-Jae mengomeli Nam-Doo karena bisa saja membuat mereka terlibat masalah gara-gara ia tidak menyadari bahwa Jin-Joo punya hubungan keluarga dengan Si-Ah. Nam-Doo berdalih bahwa ia sudah memeriksanya, namun nama Si-Ah tidak ada dalam kartu keluarga Jin-Joo.

“Satu langkah yang salah bisa merusak semuanya,” ujar Nam-Doo tidak kalah kesal.

Sim Chung yang sedari tadi menundukkan kepala melihat mereka bertengkar dan hendak masuk ke kamarnya tiba-tiba menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.

“Apanya yang nyaris rusak? Kenapa kau kena masalah?” tanyanya pada Joon-Jae.

Baik Joon-Jae maupun Nam-Doo terdiam.

“Heo Joon-Jae, kau penipu? Bajingan mengerikan?” ujar Sim Chung dalam hati.

Tanpa disangka Joon-Jae tiba-tiba menoleh ke arah Sim Chung dengan tatapan tajam. Ia ternyata bisa mendengar suara hati Sim Chung, termasuk saat Sim Chung mengatakan bahwa ia berbeda dan takut Joon-Jae akan meninggalkannya.

“Jika kau bekerja, banyak hal bisa terjadi,” ujar Nam-Doo, coba untuk menenangkan Sim Chung. “Kenapa kalian tak bicara dan hanya saling menatap? Ini menakutkan.”

“Apa semua itu bohong?” tanya Sim Chung dalam hati.

“Benar, aku berbohong. Aku menipu orang untuk mendapatkan uang. Benar, aku orang semacam itu. Itulah rahasiaku,” respon Joon-Jae dingin, “Apa rahasiamu?”

“Rahasiaku adalah.. aku berbeda denganmu. Aku adalah putri duyung,” jawab Sim Chung dalam hati.

Joon-jae kaget mendengarnya. Tangannya bergetar, seraya mengingat kembali guci yang bergambarkan pria mirip dirinya dengan seorang putri duyung.

“Kenapa kalian saling menatap dan tidak berbicara?” tanya Nam-Doo.

“Jika kau tahu siapa aku, kau akan terkejut. Kau akan terluka dan takut,” lanjut Sim Chung, masih dengan suara hati. “Kau akan meninggalkanku, itu sebabnya aku mencoba agar tak ketahuan.”

“Huh? Chung, Joon-Jae, ayo masuk. Kalian berdua benar-benar sensitif,” ujar Nam-Doo yang makin bingung melihat sikap Joon-Jae dan Sim Chung.

Sim Chung perlahan membalikkan badan dan melangkah pergi ke kamarnya. Joon-Jae kemudian menanyakan apakah Nam-Doo mendengar apa yang dikatakan Sim Chung, yang tentu saja dijawab tidak.

Sim Chung berdiam diri di kamarnya sembari memegangi dadanya. Baskom kaca di mejanya kini sudah hampir penuh dengan mutiara, menandakan ia baru saja menangis. Sementara itu, Joon-Jae mengingat kembali perkataan Sim Chung barusan sembari memperhatikan gambar guci yang ia peroleh dari Si-Ah. Ia kemudian naik ke loteng untuk menemui Sim Chung, namun tanpa diduga Sim Chung sudah tidak ada lagi di sana.

Bergegas Joon-Jae pergi keluar rumah untuk mencari Sim Chung. Satu demi satu potongan peristiwa baik dari masa lalunya (Dam Ryung) maupun saat bersama Sim Chung di Spanyol muncul di kepalanya. Ia pun akhirnya mengingat semua yang terjadi.

Preview Episode 11

Berikut ini adalah preview eps 11 dari drakor Legend Blue Sea:

» Sinopsis Episode 11 Selengkapnya

Tema artikel yang berhubungan: , , ,

Reply