Rekap Sinopsis Shopping King Louis Episode 14, 15, 16 *TAMAT* (2016)

Ini rekap marathon, tiga sinopsis Shopping King Louis episode akhir sekaligus, yaitu episode 14, 15, dan 16. Kebetulan ketiganya tayang di minggu yang sama. Seperti bisa, sinospsis versi rekap hanya memuat poin-poin cerita dan sedikit dialog serta gambar, ya, beda dengan full sinopsis yang dialog dan gambarnya lebih lengkap. FYI aja sebelum ada yang protes, hehehe. Pun begitu, tetap saja lumayan panjang sinopsisnya, jadi semangat ya membacanya, hehehe. Eniwei, di episode sebelumnya, Ko Bok-Sil (Nam Ji-Hyun) akhirnya menyadari bahwa selama ini Louis (Seo In-Guk) diam-diam memperhatikannya. Tidak hanya mengurusi apartemennya, melainkan juga mengantarkannya berangkat ke kantor serta menyambutnya saat pulang. Sementara itu, Kim Ho-Joon (Eom Hyo-Seop) tidak berhasil menemukan kotak harta harun Louis di tempat yang disebutkan oleh Louis. Tanpa disangka, kotak itu kini berada di tangan Baek Sun-Goo (Kim Kyu-Cheol). Apa yang kira-kira akan terjadi selanjutnya di sinopsis drama korea Shopaholic Louie episode 14, 15, dan 16 kali ini?

Dok. gambar dan video © MBC of Korea Selatan

Sinopsis Episode 14

Judul Episode: The Winner Takes It All

Karyawan departemen Merchandise di Gold Line sedang membahas pria mana yang bakal dipilih oleh Bok-Sil, apakah Louis atau Joong-Won. Byung-Kook yang mendukung Louis menanyakan pendapat Ma-Ri. Ma-Ri yang sudah kadung cemburu pada Bok-Sil menanggapinya dengan emosi dan meminta yang lain untuk berhenti bergosip dan bekerja. Tanpa disangka Joong-Won juga mendengar percakapan mereka dan langsung menghampiri Byung-Kook yang jadi salah tingkah. Mereka pun segera kembali ke tempat duduk mereka masing-masing, sementara Joon-Won menatap ke arah meja Louis yang berdampingan dengan Bok-Sil dengan sebal.

Anak buah Sun-Goo, Goo, sudah berniat untuk meninggalkan Korsel saat tanpa sengaja ia bertemu dengan nenek copet yang dulu mencuri tas Bok-Sil. Curiga dengan tas yang sedang dibawa Goo, nenek itu mengakalinya dan berhasil membawa kabur tas berisi uang pemberian Sun-Goo. Ia pun terkejut girang begitu melihat isinya.

Goo mendatangi Hong Franc. Ia sebenarnya berniat untuk menemui Hong Jae-Sook saja, namun ternyata sudah ada Louis di sana, sehingga ia terpaksa hanya berbasa-basi.

Saat Louis memberitahu Ho-Joon letak ‘harta karunnya’, Sun-Goo ternyata tidak sengaja mendengarnya. Ia pun bergegas menuju ke sana terlebih dahulu dan mengambilnya. Itu sebabnya waktu Ho-Joon ke sana, ia tidak mendapati kotak harta karun Louis di tempat yang disebutkan Louis.

Di kamarnya, Sun-Goo membuka kotak harta karun Louis. Ada beberapa buah video tape serta kotak musik Penguin bertuliskan Koboshi di bagian dasarnya. Ia menjadi heran karena tidak ada yang penting di dalam kotak tersebut. Sesaat kemudian Jae-Sook menghubunginya, memberitahu ada Goo di tokonya. Dengan panik ia memberitahu Jae-Sook bahwa ia akan segera menuju ke sana.

Di Hong Franc, Louis menanyakan mengapa Goo malah ke tempat Jae-Sook, bukannya langsung menemui Sun-Goo. Goo memberitahunya bahwa tasnya dicuri dan ponselnya juga ada di dalamnya, sehingga ia tidak bisa menghubungi Sun-Goo. Ia sendiri beralasan tahu toko buku ini karena pernah sekali ke sana bersama Sun-Goo. Tanpa sadar bahwa memang pelakunya sama, Louis mengomentari bahwa dulu Bok-Sil juga pernah kecurian tas saat pertama kali tiba di Seoul.

Jae-Sook lantas menunjukkan sebuah mantel yang baru ia beli untuk Ma-Ri. Ia menanyakan apakah itu cocok untuk Ma-Ri. Louis pun menyarankan agar Ma-Ri nanti mengkombinasikannya dengan celana slim fit.

“Kadang aku pikir Ma-Ri sangat mirip denganmu, tapi ternyata dia berbeda,” ujar Louis.

“Dia memang putriku, tapi dia juga putri Sun-Goo,” respon Jae-Sook sembari tertawa.

Orang yang disebut tiba-tiba muncul. Ia pun kaget mendapati Louis juga ada di sana. Setelah menyapa Louis dengan canggung, Sun-Goo mengajak Goo untuk ngobrol empat mata dengannya. Sun-Goo kemudian memberitahunya bahwa ada yang sudah mencuri uangnya.

Ma-Ri mencari ayahnya di ruangannya. Ia mendapati kotak Louis dan penasaran dengan video yang ada di sana. Ia pun segera mengambilnya dan memasangnya di video player yang ada di ruang tengah. Apes baginya, begitu tape video dimasukkan, video player tersebut malah rusak.

Sun-Goo kesal karena Goo sudah begitu saja menghilangkan uang pemberiannya. Goo tidak peduli dan minta untuk diberikan uang lagi dan memastikan kepadanya bahwa ia akan pergi begitu mendapatkan uang itu.

Louis pergi meninggalkan Hong Franc. Di luar ia sempat memperhatikan sebuah mobil sedan silver yang sedang parkir di ujung jalan.

Bok-Sil diam-diam membelikan sebuah cincin untuk Louis. Ia menempelkan stiker Smiley di cincin tersebut lalu menyimpannya ke dalam kotak. Tak lama Louis datang. Bok-Sil segera bersiap-siap, mengira Louis hendak mengajaknya jalan.

“Ayo cari tempat paling bagus dan paling hangat di dunia,” ajak Louis.

“Dimana itu?” tanya Bok-Sil.

“Di dunianya Bok-Sil,” jawab Louis.

Ternyata Louis cuma mau berdiam di apartemen Louis, tidak kemana-mana. Bok-Sil menanyakan apa yang hendak ia lakukan untuk menghabiskan waktu. Tiba-tiba satu demi satu barang yang dipesan Louis berdatangan. Saat dibuka ternyata barang-barang kembaran yang dulu diborong Louis dengan menggunakan kartu kredit Bok-Sil, hanya saja kali ini ia beli dengan uang gajinya sendiri. Bok-Sil pun menerimanya, dengan syarat Louis tidak boleh membeli barang mahal lagi. Louis mengiyakan.

Bok-Sil kemudian hendak membuatkan ramyeon untuk mereka makan. Dengan pede Louis mengatakan ia saja yang membuatnya. Bok-Sil mempersilahkannya. Ternyata itu sebuah kesalahan besar karena Louis berkali-kali membuat masalah (telur jatuh ke lantai, isi panci tumpah, tangannya kepanasan kena panci, dan sebagainya) dan setiap kali itu terjadi ia memanggil Bok-Sil untuk membereskannya.

“Kau yang masak, kenapa aku yang capek, ya?” tanya Bok-Sil usai makanan selesai dibuat.

“Mungkin karena kau lapar,” jawab Louis. “Ayo makan agar kau bertenaga lagi.”

Ia pun menyuapi hasil masakannya kepada Bok-Sil. Dan ternyata rasanya tidak enak sama sekali. Tapi Bok-Sil berpura-pura mengatakan bahwa itu enak. Mendengarnya, Louis pun memberikan semua makanannya untuk Bok-Sil dan terus menyuapinya. Mau tidak mau Bok-Sil pun terpaksa memakannya.

Ho-Joon mengecek hasil pekerjaan matematika Bok-Nam. Kali ini ia hanya benar satu saja dari 20 soal yang ada. H-Joon lantas menanyakan apakah Bok-Nam mengerti tabel perkalian dan mengetesnya dengan soal 9×9. Dengan pede Bok-Nam menjawab dengan ‘es krim cone’. Ho-Joon pun jadi stress. Jung-Ran yang mengetahuinya jadi kesal pada Bok-Nam dan berniat mengurusnya.

Usai makan, Louis pun mencuci piring. Ia tidak lupa meminta upah 50 sen seperti yang biasa diberikan Bok-Sil. Bok-Sil mengiyakan. Ia hendak sekalian memberikan cincin kadonya pada Louis, tapi tiba-tiba Jung-Ran menelpon dan meminta Bok-Sil datang untuk mengurus Bok-Nam.

Sun-Goo membawa Goo ke Hong Franc dan memintanya untuk menunggu di sana hingga nanti ia memberikan uang kepadanya. Tanpa mereka disadari, di luar ada orang yang memotret mereka.

Jae-Sook tidak mendapati seorang pun di rumahnya. Ia lalu kaget begitu mengetahui video playernya rusak dan ada tape video di sana.

Bok-Nam tiba di apartemen bersama Bok-Sil. Bok-Nam mengaku sudah menyerah belajar. Saat Bok-Sil hendak memukulinya, Geum-Ja datang dan ikut memarahinya. Bok-Sil mengatakan bahwa besok ia akan ada acara kantor dan menitipkan Bok-Nam pada Geum-Ja. Dengan bersemangat Geum-Ja berniat untuk mengajari Bok-Nam hingga nanti Bok-Sil pulang.

Ho-Joon kembali menanyakan apakah benar Louis menyimpan kotaknya di rumahnya yang ada di Busan. Louis mengiyakan dan meminta Ho-Joon untuk tidak usah terlalu memikirkannya agar tidak keriput. Ia berjanji akan mencarinya nanti setelah pulang dari acara kantor.

Setelah Ho-Joon keluar dari kamarnya, Louis chattingan dengan Bok-Sil. Ia menanyakan bagaimana jika mereka menikah saja agar bisa terus bersama. Bok-Sil menanyakan apakah Louis memang sungguh menyukainya. Dengan cepat Louis mengiyakan. Louis kemudian balik menanyakan hal yang sama pada Bok-Sil, yang direspon Bok-Sil bahwa ia baru akan menjawabnya apabila besok Louis menang lomba nyanyi. Ia juga berjanji akan memberikan hadiah kepada Louis.

Louis lantas meminta Bok-Sil menciumnya. Setelah memastikan Bok-Nam yang ada di sebelahnya sudah tertidur, Bok-Sil pun mencium ponselnya dengan malu-malu. Tanpa disangka tiba-tiba Louis menelponnya dengan kesal. Ternyata yang diminta Louis adalah ciuman melalui emoticon di chatting. Louis pun menertawakannya karena sudah mencium ponselnya. Dengan malu Bok-Sil segera menyuruhnya tidur dan menutup telponnya.

Louis dan seluruh karyawan bagian merchandise, beserta Ho-Joon dan In-Sung, tiba di sebuah villa untuk acara kantor. Setelah dilakukan pembagian tim, dimana Bok-Sil masuk ke tim Joong-Won, berbagai permainan pun dimulai. Pada akhirnya, tim Louis yang berhasil menang sehingga tim Joong-Won mendapat hukuman untuk mencuci piring.

Goo sedang menunggu di Hong Franc saat tiba-tiba detektif Joo-Hyuk datang dengan menggunakan polisi. Ia mengira Sun-Goo yang menghubunginya, apalagi melihat Joo-Hyuk berjalan sembari memegang sesuatu di balik bajunya, yang ia kira adalah pistol. Diam-diam Goo kabur dari pintu belakang. Joo-Hyuk sendiri ternyata datang untuk menemui Jae-Sook karena ingin membeli buku (yang ia pegang di balik bajunya hanyalah voucher belanja). Sepeninggal Joo-Hyuk, Sun-Goo datang dan kebingungan melihat Goo sudah tidak ada di sana.

Saat makan malam, Louis mengajak Bok-Sil pergi meninggalkan yang lain. Ia memberikannya sepiring daging yang sudah ia panggang.

“Hanya kau yang boleh makan daging yang ku panggang,” ujar Louis.

Bok-Sil teringat dulu Louis mengatakan bahwa hanya dirinyalah yang boleh makan makanan Bok-Sil. Ia pun memakannya dengan suka cita.

Tak lama mereka kembali bergabung dengan yang lain. Do-Jin memberitahu bahwa mereka kekurangan daging. Joong-Won mengatakan bahwa ia sudah meminta seseorang untuk mengantarkannya. Dan orang yang dimaksud ternyata Joo-Hyuk. Ia pun diminta untuk sekalian bergabung dengan mereka. Ia menyanggupinya.

Game berikutnya dimulai setelah makan: Mask Singer. Kyung-Kook dan In-Sung yang menjadi MC-nya. Satu demi satu para pria muncul dan bernyanyi dengan menggunakan topeng, sementara para wanita yang menjadi jurinya. Louis-lah yang akhirnya memenangkan lomba itu, dengan membawakan lagu tentang pengakuan cinta. Ia pun menagih hadiah Bok-Sil. Bok-Sil memintanya untuk bersabar dengan berbisik.

Joong-Won melihat kedekatan keduanya dengan sedih. Ia turun dari panggung dengan langkah gontai. Bok-Sil tiba-tiba memanggilnya dan memuji penampilannya tadi yang juga keren. Joong-Won hanya tersenyum kecut dan pergi meninggalkan mereka.

Joong-Won berjalan di luar dengan kembali memikirkan segala kedekatan Louis dan Bok-Sil yang pernah ia lihat sendiri di depan matanya. Hatinya benar-benar hancur. Entah darimana asalnya, ia tiba-tiba mengeluarkan sehelai selendang merah dan berlari mengelilingi lapangan dengan menyanyikan lagu “The Winner Takes It All.”

Fun Fact: Adegan ini adalah tribut untuk film “Mamma Mia!” dimana Meryl Streep membawakan lagu ini dihadapan Pierce Brosnan dengan mengenakan selendang merah lantas di penghujung lagu ia berlari sambil melambai-lambaikan selendangnya!

Joong-Won sedang mencuci piring. Bok-Sil datang untuk membantunya, namun ia menolaknya, karena baginya itu tanggung jawabnya sebagai ketua tim. Tiba-tiba ibunya, Kim Bo-Yeon, menelpon, memberitahu bahwa ia sedang berada di rumahnya untk mengantarkan tiga undangan kencan buta. Joong-Won kesal sekaligus malu karena Bok-Sil juga mendengarnya.

Setelah menutup telponnya, untuk membuang malu, Joong-Won meminta Bok-Sil untuk mulai mencuci piring. Saat itulah Joong-Won melihat cincin yang dikenakan Bok-Sil. Tidak ingin cincin tersebut terkena air, ia meminta Bok-Sil menggunakan sarung tangan. Bok-Sil menolak, tapi Joong-Won memaksanya. Alhasil tanpa sengaja mantel Bok-Sil justru terkena cipratan air dan jadi basah kuyub.

Dilakukan pembagian kamar dengan menggunakan game. Ho-Joon kebagian tidur sekamar dengan In-Sung dan Do-Jin, sementara Ma-ri kebagian tidur sekamar dengan Bok-Sil.

“Aku tidak bisa tidur kalau ada orang lain di kamar,” ujar Ma-Ri kesal.

“Jangan khawatir, Bok-Sil tidak berisik kok kalau tidur,” ceplos Louis.

Semuanya yang ada di sana terdiam sejenak hingga akhirnya Mi-Young memukul punggung Louis. Berikutnya adalah giliran Louis. Dengan pede ia melangkah karena yakin selalu beruntung dalam permainan. Apes, ia malah kebagian tidur di tenda. Joong-Won tertawa girang melihatnya.

Giliran selanjutnya adalah Mi-Young yang mendapat kamar bersama dengan Hye-Joo. Terakhir adalah Joong-Won, yang ternyata bernasib sama dengan Louis, tidur di tenda. Ia tidak terima dengan itu dan kembali mencobanya, tapi tentu saja hasilnya sama. Yang lain pergi begitu saja meninggalkan Joong-Won yang menangis kesal karena masih belum bisa menerima kenyataan.

Louis dan Joong-Won masuk ke tenda untuk tidur. Louis memeluk Joong-Won dari belakang karena kedinginan, tapi langsung melepaskan lagi pelukannya karena dibentak oleh Joong-Won.

“Aku harus tidur di tempat yang asing, dengan orang menempeli punggungku. Aku tidak akan bisa tidur,” gerutu Joong-Won.

Beberapa detik kemudian ia sudah ngorok. Louis pun mencoba untuk tidur. Di kamarnya, Bok-Sil kembali melihat cincin yang ia beli untuk Louis. Ia lantas mengirim pesan pada Louis dan mengajaknya ketemuan di taman. Louis yang membacanya langsung bangun dengan bersemangat sampai-sampai tidak sadar menendang Joong-Won. Saat hendak berangkat, Ma-ri yang mengetahuinya meminta Bok-Sil untuk mengenakan mantelnya saja karena mantel Bok-Sil masih basah.

Saat hendak menuju tempat pertemuan mereka, seseorang tiba-tiba membius Bok-Sil dari belakang dan membopongnya pergi ke dalam mobil. Orang tersebut, yang ternyata adalah Goo, segera mengambil ponsel yang ada di mantel Bok-Sil, dan mematikannya, sebelum akhirnya ia menjalankan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.

Louis yang tidak sabar menunggu kedatangan Bok-Sil berniat untuk menyusulnya. Saat itulah ia kemudian menemukan kotak cincin Bok-Sil yang terjatuh. Begitu dibuka, ia menyadari bahwa itu adalah hadiah untuknya (karena ada stiker Smiley di cincin tersebut). Louis pun berteriak memanggil-manggil Bok-Sil, karena mengira ia sedang bersembunyi. Karena tidak kunjung ada jawaban, Louis mencoba menghubungi ponselnya, tapi karena sudah dimatikan oleh Goo sebelumnya maka tentu saja tidak ada nada sambung.

Goo tiba di sebuah telpon umum dan menghubungi Sun-Goo. Ia memberitahunya bahwa anaknya sekarang ada di tangannya dan meminta Sun-Goo untuk menyerahkan uang tebusan kepadanya besok sore. Sun-Goo terkejut mendengarnya.


Sinopsis Episode 15

Judul Episode: My Way

Ada adegan flashback saat nenek Choi pertama kali meminta Jung-Ran, yang saat itu masih menjadi preman, untuk menjadi asistennya. Jung-Ran sempat menolak karena menganggap ia tidak pantas untuk itu.

“Aku pandai memilih barang baik, begitu juga orang baik. Bagaimana kamu telah menjalani hidupmu dan betapa pintarnya dirimu, itu tidak penting. Kamu mempertaruhkan nyawamu demi menyelamatkan orang asing, itulah yang membuatmu menjadi orang baik,” ujar nenek Choi.

Sejak itulah dengan setia Jung-Ran selalu berada di sisi nenek Choi. Hingga saat ini, dimana seperti biasa ia mengecek tensi nenek Choi di tempat tidurnya.

“Jung-Ran, dari dulu hingga sekarang kau sudah merawatku dengan baik,” ujar nenek Choi tiba-tiba, “terima kasih, aku selalu mengandalkanmu.”

“Untuk apa Anda berkata hal yang membuat saya malu seperti ini,” respon Jung-Ran.

“Jika ada yang ingin kau katakan, katakanlah selagi kau punya kesempatan. Jika tidak kau bisa kehilangan kesempatan itu selamanya.” balas nenek Choi.

“Anda berkata seolah akan pergi ke suatu tempat,” ucap Jung-Ran.

Jung-Ran lantas berpamitan untuk menyiapkan sarapan. Nenek Choi mempersilahkannya pergi. Ia kemudian mengambil sebuah pigura yang ada di samping tempat tidurnya. Ada gambar kedua orang tua Louis serta Louis kecil di sana.

Joong-Won terbangun. Melihat Louis tidak ada di sampingnya, ia mengira Louis diam-diam masuk ke dalam kamar dan pindah tidur di sana. Saat keluar, ia bertemu dengan Louis yang sedang panik. Louis menceritakan apa yang terjadi. Joong-Won lantas menyarankan untuk mengecek kamar Bok-Sil.

Setibanya di sana, Louis segera mengecek kamar Bok-Sil dan Ma-Ri, yang tentu saja tidak ada Bok-Sil di sana. Ma-Ri sendiri memberitahu Joong-Won bahwa tadi Bok-Sil keluar untuk menemui Louis. Joong-Won pun meminta Ma-Ri untuk memberitahu yang lain dan mencari Bok-Sil bersama-sama.

Pencarian Bok-Sil dimulai. Karena tidak kunjung menemukannya, detektif Joo-Hyuk berniat untuk pergi ke pos keamanan dan mengecek rekaman CCTV di sana. Louis, Joong-Won, dan Ma-Ri mengikutinya, sementara Ho-Joon dan In-Sung melanjutkan pencarian.

Setelah menerima ancaman dari Goo, Sun-Goo mencoba menelpon Ma-Ri dan ternyata Ma-Ri baik-baik saja. Ma-Ri memberitahunya bahwa Bok-Sil baru saja diculik. Sun-Goo segera menyadari bahwa Goo telah salah menculik Bok-Sil, mengira itu adalah anaknya. Pun begitu, ia tetap berniat untuk memenuhi permintaan Goo dan menyelamatkan Bok-Sil.

Di kantor keamanan, rekaman CCTV yang ada mengkonfirmasi bahwa Bok-Sil memang diculik oleh seseorang. Detektif Joo-Hyuk merasa ia pernah melihat pelakunya, tapi ia tidak ingat. Louis juga tidak mengetahuinya karena di rekaman tersebut Goo masih memakai penutup muka.

Louis heran kenapa Bok-Sil bisa diculik. Ma-ri menanggapi dan mengatakan itu bisa saja karena Louis adalah orang kaya. Yang lain ikut meyakini hal itu. Joo-Hyuk lantas meminta Louis untuk standby dengan telponnya karena jika benar seperti itu si penculik pasti akan menelponnya untuk meminta uang tebusan.

Goo akhirnya menyadari bahwa yang ia culik adalah Bok-Sil. Ia salah menculik gara-gara Bok-Sil mengenakan mantel Ma-Ri. Goo segera menghubungi Sun-Goo dan menceritakan apa yang terjadi. Sun-Goo pun memintanya untuk menunggu di tempat mereka bertemu terakhir kali dimana ia akan menyerahkan uang yang diminta Goo.

Untuk mendapatkan petunjuk yang lebih jelas, Joo-Hyuk kemudian memutuskan untuk kembali ke Seoul dan menggunakan komputer di sana untuk mengecek plat nomor yang digunakan si penculik. Ia pun meminta yang lain juga ikut kembali ke Seoul karena tidak ada lagi yang bisa dilakukan di sana.

Goo memacu mobilnya menuju tempat yang dimaksud Sun-Goo. Ia sempat menoleh ke belakang untuk memastikan Bok-Sil masih belum tersadar. Apes bagi Goo, karena tidak memperhatikan jalannya di depan, mobilnya malah bertabrakan dengan mobil lain.

Louis dan Joong-Won sedang menunggu perkembangan informasi tentang Bok-Sil di kantor polisi Seoul dengan cemas. Tiba-tiba ponsel Louis berbunyi dan tercantum nama Bok-Sil sebagai penelponnya. Tapi ternyata itu bukan Bok-Sil, melainkan perawat dari rumah sakit, mengabarkan bahwa pemilik ponsel tersebut kini ada di rumah sakit karena baru saja mengalami kecelakaan. Mereka pun segera menuju ke sana.

Sun-Goo menunggu kedatangan Goo dengan gelisah karena ia masih belum juga datang. Ia pun jadi stress mengingat Goo yang berkali-kali membuat masalah.

Di rumah sakit, Joo-Hyuk, Joong-Won, dan Louis kaget mendapati yang dimaksud oleh perawat adalah Goo, bukanlah Bok-Sil. Dokter memberitahu bahwa orang tersebut mungkin tidak akan bangun lagi karena sebelumnya kepalanya juga pernah terluka. Dokter juga memberitahu mereka bahwa wanita yang ada bersamanya saat kecelakaan kondisinya baik-baik saja.

Kepala detektif memberitahu detektif Lee (rekan Joo-Hyuk) bahwa orang yang dulu berada di apartemen Bok-Sil dan kabur dari rumah sakit (alias Goo) kini sudah diketemukan oleh Joo-Hyuk. Ia meminta detektif Lee untuk menjemputnya. Karena sebelumnya sudah melakukan perjanjian dengan Sun-Goo, Lee lantas menghubungi Sun-Goo dan menceritakan tentang hal itu. Sun-Goo jadi makin panik.

Louis mendatangi kamar inap Bok-Sil dan langsung memeluknya. Joong-Won dan Joo-Hyuk tiba tak lama kemudian. Louis segera meminta maaf karena sudah mengakibatkan Bok-Sil mengalami hal itu. Ia pun menceritakan bahwa si pelaku adalah orang yang sebelumnya terpukul palu di apartemen mereka, juga ia adalah teman Sun-Goo. Joong-Won jadi menyadari ada yang tidak beres.

Sun-Goo pulang ke rumah dengan langkah gontai. Jae-Sook menyambutnya dengan khawatir. Tanpa menanggapinya, Sun-Goo meminta Jae-Sook untuk pergi ke Busan dan membawa kotak Louis yang ada di mejanya ke sana.

Sun-Goo kemudian duduk dan terdiam sejenak. Ia lantas mengambil ponselnya dan menelpon jaksa Hwang, meminta untuk bertemu.

Louis menyuapi Bok-Sil di kamar rumah sakit. Melihat Bok-Sil yang sibuk merapikan rambutnya, Louis berinisiatif utnuk mengikatkan rambutnya. Bok-Sil pun request agar ia dibuat jadi cantik. Berhubung Louis tidak pernah melakukannya, hasilnya malah sama saja acak-acakannya. Bok-Sil kemudian melihat Louis sudah mengenakan cincin yang ia belikan. Louis merespon bahwa dari pertama menemukannya ia sudah tahu bahwa itu hadiah dari Bok-Sil. Bok-Sil lalu mengatakan bahwa ia punya satu hadiah lagi. Ia pun meminta Louis untuk mendekatinya.

“Aku sangat menyukaimu,” bisik Bok-Sil di telinga Louis.

“Apa pengakuan ini hadiahmu?” tanya Louis.

Bok-Sil mengangguk sambil tersenyum.

Louis lantas hendak mencium Bok-Sil. Agar tidak dilihat orang, ia pun menutup tirai tempat tidur. Apes bagi mereka, belum apa-apa ada perawat yang datang. Mereka pun kaget dan menumpahkan makanan yang ada di tempat tidur. Dengan kesal perawat memberitahu mereka kalau Bok-Sil hari ini sudah boleh pulang, sekaligus meminta mereka untuk membersihkan tempat tidur.

Louis dan Bok-Sil tiba di apartemen. Geum-Ja, In-Sung, dan Bok-Nam yang sudah menunggu segera menyiapkan tempat tidur dan melayani Bok-Sil bagai raja. Geum-Ja dengan gemas mengomeli si pelaku penculikan yang bisa-bisa membuat Bok-Sil jadi sengsara seperti sekarang ini.

Detektif Joo-Hyuk memberitahu Joong-Won bahwa Goo adalah orang bayaran sekaligus imigran gelap. Untuk saat ini ia diawasi dengan ketat di rumah sakit oleh pihak kepolisian. Joo-Hyuk juga mengungkapkan kecurigaannya terhadap fakta bahwa Goo adalah saudara dari teman Sun-Goo, sehingga ada kemungkinan Sun-Goo telah menyewa jasa Goo. Joong-Won jadi curiga bahwa jangan-jangan selama ini Sun-Goo sudah menyadari bahwa Louis masih hidup.

Sun-Goo mendapat telpon dari Louis. Ia bimbang hendak mengangkatnya atau tidak. Ia sudah mulai menyesali perbuatannya dan berharap seandainya kecelakaan itu tidak pernah terjadi. Faktanya, Sun-Goo memang tidak pernah memerintahkan Goo untuk menabrak mobil yang dipakai Louis sekencang itu. Goo sendiri sempat bercerita kepadanya bahwa ia juga tidak tahu kenapa sopir truk bisa tiba-tiba menginjak pedal gas begitu saja.

Louis menanyakan pada Ho-Joon apakah ia boleh menyetir mobil sendiri karena ingin mengajak Bok-Sil berjalan-jalan. Ho-Joon menjawab bahwa neneknya tidak akan memperbolehkannya karena sejak tiba di Seoul dan kabur menggunakan mobil Sun-Goo ia langsung mengalami kecelakaan. Louis pun memberitahunya bahwa sebenarnya Sun-Goo saat itu memintanya untuk berangkat terlebih dahulu dengan menggunakan mobilnya. Hal itu menambah kecurigaan Ho-Joon terhadap Sun-Goo. Setelah mengingat-ingat Sun-Goo yang sempat terkejut saat pertama kali bertemu dengannya di Gold Group serta saat Louis memberitahunya bahwa ingatannya sudah kembali, Louis berusaha mencari tahu apa sebenarnya alasan Sun-Goo tidak ingin ingatannya kembali.

Louis mendatangi rumah kediaman Sun-Goo.

“Apa Anda tahu alasanku datang kemari?” tanya Louis.

Sun-Goo tiba-tiba berlutut di hadapannya dan meminta maaf. Tanpa diminta, ia langsung mengakui semua perbuatannya dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia juga memberitahu Louis bahwa ia sama sekali tidak berniat untuk mencelakainya seberat itu. Tujuannya hanyalah ingin menakut-nakuti nenek Choi agar kembali mengirim Louis ke Perancis. Mengingat bahwa sejak kecil Sun-Goo (dan Jae-Sook) yang mengurusnya bersama dengan nenek Choi, Louis memaafkan pamannya. Hanya saja, karena ada orang yang meninggal karena perbuatannya, Louis tetap ingin agar Sun-Goo mempertanggungjawabkan hal itu. Sun-Goo sudah menyadarinya dan mengatakan bahwa ia memang sudah mengurus penyerahan dirinya ke pihak berwajib. Ia bahkan sudah mengatur agar saham miliknya dialihkan seluruhnya ke Louis.

Sun-Goo mengaku bahwa salah satu kekhawatirannya adalah apabila nenek Choi mendengar tentang perbuatannya dan akan jatuh pingsan atau sakit karena itu. Louis berjanji tidak akan memberitahu neneknya. Sun-Goo berterima kasih kepadanya.

Sun-Goo datang ke kantor polisi dengan ditemani oleh Louis. Setelah berpamitan, ia pun masuk ke dalam dan ditemui oleh detektif Joo-Hyuk.

Goo akhirnya tersadar. Begitu membuka matanya, ia terkejut mendapati tangannya yang terborgol serta detektif Joo-Hyuk sudah ada di depannya.

Saat dikonfrontasi, Goo ternyata tidak mau mengaku bahwa ia telah menculik dan meminta uang tebusan karena ia adalah orang bayaran yang tidak mungkin bertindak sendiri. Sun-Goo mati-matian membantahnya, namun karena ia tidak punya bukti, Joo-Hyuk juga tidak bisa membantunya.

Sun-Goo kemudian menceritakan hal itu pada Louis. Begitu Sun-Goo memberitahunya bahwa saat itu ia hendak bertransaksi dengan Goo di Hong Franc, Louis jadi teringat akan sesuatu. Ia pun menelpon Joong-Won dan meminta bantuannya.

Louis dan Joong-Won berada di toko buku, mengintip mobil sedan silver yang ada di ujung gang. Louis mencurigainya karena yakin mobil itu sudah ada di sana sejak lama. Dengan berpura-pura menjadi polisi, Joong-WOn pun menghampirinya. Terlihat ada sebuah kamera di sana. Orang tersebut sempat hendak kabur, tapi Louis mencegatnya.

Berbekal foto-foto yang ada di kamera orang tersebut — yang ternyata adalah stalker Jae-Sook — Sun-Goo jadi punya bukti yang menguatkan pendapatnya. Saat kembali dikonfrontasi oleh Joo-Hyuk, Goo tidak lagi bisa membantah. Ia pun memberitahunya bahwa ia terpaksa melakukan itu karena uangnya dicopet nenek-nenek.

Penyelidikan berlanjut ke si nenek-nenek. Detektif Lee ternyata pernah beberapa kali menangkapnya sehingga dengan mudah ia kembali menangkap nenek-nenek copet itu dan membawanya ke kantor polisi. Sayangnya, meski sudah ada rekaman CCTV, nenek itu tetap tidak mau mengakui perbuatannya.

Untunglah saat itu Louis datang bersama Bok-Sil, hendak menemui Sun-Goo. Bok-Sil langsung mengenali nenek itu sebagai orang yang dulu mencuri tasnya.

Bok-Sil mencoba berbicara empat mata dengan si nenek. Nenek itu sempat keukeuh tidak mau mengaku, tapi begitu melihat ketulusan dan kepolosan Bok-Sil, pikirannya berubah. Apalagi ternyata dulu pada saat Bok-Sil berhasil menangkapnya, Bok-Sil sempat memberinya uang untuk membeli makanan. Hatinya menjadi luluh. Ia pun akhirnya memberitahu dimana letak ia menyembunyikan tas yang ia curi dari Goo.

“Siapa yang menduga aku akan menukar 1 juta won demi 10 ribu won,” ujar nenek itu sambil terkekeh.

Karena dulu pernah memberikan uang kepadanya, detektif Lee mencurigai Sun-Goo memang berniat untuk mencelakai Louis. Untunglah, detektif Joo-Hyuk kemudian datang dengan membawa ponsel Goo yang ada di dalam tas uangnya. Di dalam ponsel tersebut terdapat rekaman pembicaraan Sun-Goo yang meminta agar Louis hanya ditakut-takuti saja. Sun-Go lega mendengarnya. Joo-Hyuk lalu menambahkan dengan adanya bukti itu maka hukuman Sun-Goo dapat berkurang banyak. Ia juga memberitahunya bahwa Bok-Sil-lah yang telah membantunya menemukan tas tersebut.

Keluar dari ruang penyidikan, Sun-Goo bertemu dengan Louis dan Bok-Sil. Ia segera meminta maaf pada Bok-Sil sembari menangis. Bok-Sil lantas meraih tangannya dan tersenyum. Sun-Goo jadi tambah terharu melihat ketulusan Bok-Sil.

Jae-Sook dan Ma-Ri menemukan sebuah surat yang ternyata ditinggalkan oleh Sun-Goo untuk mereka. Di dalam surat tersebut, ia meminta maaf pada mereka berdua atas perbuatannya, terutama pada Jae-Sook karena ia sudah menyakitinya selama ini pada saat ia stress memikirkan perbuatannya. Jae-Sook menangis usai membacanya. Ma-Ri memeluknya untuk menenangkannya.

Ho-Joon dan Louis tiba di rumah keluarga Louis yang ada di Busan. Karena sudah diam-diam dikembalikan oleh Jae-Sook, kotak harta karun Louis ada di sana. Karena penasaran, Ho-Joon menanyakan arti nama Kobosshi yang ditulis Louis di dasar kotak musik.

“Itu nama anak dengan senyum yang sangat cantik,” jawab Louis.

Ho-Joon membawakan salah satu video tape yang ada di kotak harta karun Louis dan menyetelkannya untuk nenek Choi. Video tersebut berisi rekaman saat Louis kecil dan kedua orang tuanya pergi berlibur. Nenek Choi menangis bahagia karena bisa mendengar lagi suara anak dan menantunya yang telah lama tiada itu.

Bok-Sil menyerahkan celengan babinya pada Louis. Ia merasa Louis lebih berhak untuk menerima uang yang ada di dalamnya karena memang Loius sendiri yang mengisinya. Louis pun menggunakan uang itu untuk membelikan nenek Choi sepatu baru. Nenek Choi menerimanya dengan senang hati.

“Sepatu heel ini hadir di dunia khusus untuk nenek,” ujar Louis.

“Yang khusus hadir di dunia ini untuk nenek adalah kau, Louie, terima kasih telah hadir untuk nenek,” balas nenek Choi.

Louis memanggil neneknya untuk makan. Setibanya di kamar nenek Choi, melihat neneknya masih terbaring di tempat tidur, Louis mencoba membangunkannya. Namun nenek Choi tetap terdiam. Louis akhirnya menyadari bahwa neneknya telah tiada. Ia pun menangis menjadi-jadi.

Pemakaman nenek Choi usai dilakukan. Louis meletakkan sepatu hak pemberiannya di makam neneknya.

“Sampai jumpa, nenek,” ujarnya.

Bok-Sil menggandeng tangan Louis untuk menguatkannya.

Jung-Ran hamil. Pun begitu, Ho-Joon masih belum melamarnya karena masih sibuk melakukan analisa.

Louis datang ke apartemen Bok-Sil. Ia sebenarnya ingin mengajak Bok-SIl makan di luar, tapi Bok-Sil ternyata sedang membuatkan ramyeon untuk Bok-Nam. Mereka pun akhirnya makan bertiga di sana.

Jae-Sook menerima video playernya yang sudah direparasi. Ia segera memutar video tape yang ada di sana dan tertawa-tawa senang melihat isinya. Tak lama kemudian ia menelpon Louis dan memberitahunya bahwa ia punya kado untuknya.


Sinopsis Episode 16

Judul Episode: When You Wish Upon A Star

Ho-Joon menunjukkan rekaman tayangan TV yang memuat Bok-Sil dan keluarganya pada Louis. Louis akhirnya ingat bahwa ia sebelumnya sudah pernah melihat Bok-Sil.

“Kau sudah jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama,” ujar Ho-Joon.

“Mana mungkin,” bantah Louis sambil tersenyum malu-malu.

Joong-Won terpilih menjadi presiden Gold Group menggantikan nenek Choi. Ia tiba di Gold Group dan disambut dengan meriah oleh karyawan departemen merchandise Gold Line. Di depan lift ia berpapasan dengan Ma-Ri. Ma-Ri yang melihat sosoknya sekarang menjadi terpesona. Setelah Joong-Won masuk ke dalam lift, Ma-Ri bingung sendiri karena ternyata ia masih suka dengan Joong-Won.

Louis dan Bok-Sil duduk di lantai dapur departemen merchandise sambil menikmati kopi Maxim Gold, sama seperti yang dulu mereka lakukan di hari pertama mereka bertemu. Ia mengungkapkan kebahagiaannya bisa mendapatkan kembali memorinya dan ingat wajah orang tuanya, sekaligus kesedihannya karena Bok-Sil tidak ingat wajah kedua orang tuanya. Louis hendak memeluknya untuk menghiburnya, namun karyawan yang lain berdatangan sehingga Bok-Sil pun bergegas pergi meninggalkannya.

Joong-Won melakukan pekerjaannya dengan kesal karena ternyata banyak sekali dokumen yang harus ia urus. Ia jadi bosan dan penasaran dengan suasana departemennya yang dulu.

Saat itu, Louis sedang memeriksa proposal usulan karyawan departemen merchandise satu persatu. Proposal mereka yang dulunya dibantai oleh Joong-Won ternyata justru dipuji oleh Louis. Mereka pun girang mendengarnya. Bahkan Louis berjanji untuk membantu membiayai sekolah anak Kyung-Kook karena kerjanya bagus (melalui perusahaan tentunya).

“Kalian semua sangat baik dalam pekerjaan,” puji Louis sembari bertepuk tangan.

Karyawan yang lain berteriak senang menyambutnya. Tiba-tiba Joong-Won datang dan memarahi mereka karena dianggapnya bersantai-santai. Tapi begitu menanyakan perihal SingSingLine pada Bok-Sil, nada suaranya langsung berubah. Ditambah dengan senyum manis pula. Ma-Ri yang melihatnya jadi bete.

Mi-Young lantas menanyakan berapa bintang yang diperoleh oleh Joong-Won dari Louis pada waktu itu. Dengan bangga Joong-Won mengeluarkan kertas penilaian Louis yang ia simpan di dalam dompetnya. Alih-alih gambar bintang, yang ada adalah gambar hati ukuran besar dengan tulisan ‘Thanks’.

“Dia tahu caranya menghancurkan formalitas. Ini adalah kehancuran yang kreatif. Kalian harus belajar dari dia,” puji Joong-Won.

Raut muka Joong-Won kembali berubah jadi manis dan ia mengajak Bok-Sil untuk rapat dengannya membahas soal SingSingLine. Usai rapat, tanpa diduga Joong-Won mengajak Bok-Sil untuk pergi keluar bersamanya. Meski heran, Bok-Sil mengiyakan.

Setelah makan siang bersama, Bok-Sil dan Joong-Won berjalan bersama di taman. Joong-Won mengatakan bahwa ini adalah terakhir kalinya mereka makan berdua karena berikutnya ia akan mengajak Louis. Tadi pun sebenarnya Louis memaksa untuk ikut karena tidak ingin mereka pergi berdua, tapi Joong-Won berhasil melarangnya.

Bok-Sil menimpali bahwa memang seperti itu sifat Louis. Ia bahkan terkadang cemburu pada Bok-Nam. Joong-Won membela Louis dan mengatakan bahwa Louis sudah lama hidup sendiri semenjak kecil, sehingga ia butuh banyak perhatian.

“Perlakukan ia dengan baik,” pesan Joong-Won.

Bok-Sil mengiyakan sembari tersenyum.

“Aku sangat senang karena kau adalah pacarnya Louis,” tambah Joong-Won.

Joong-Won kemudian pergi mengambil sesuatu dari mobilnya, sebuah tas berisi contoh soal ujian. Ia ternyata ingin agar Bok-Sil mengikuti ujian persamaan dan meneruskan ke perguruan tinggi karena ia percaya akan kemampuan Bok-Sil.

“Aku tidak tahu apa rencanamu dengan Louis, tapi ku harap kau tidak menyerah dengan belajarmu apapun alasannya,” ujar Joong-Won.

Bok-Sil terdiam terharu mendengarnya. Ia lalu berkata, “Mr. Cha, kau benar-benar orang yang baik.”

“Baiklah, akau kan terus jadi orang baik untukmu. Begitu saja.” respon Joong-Won.

Jung-Ran yang mual dan ingin muntah heran kenapa Ho-Joon memaksanya untuk makan. Ho-Joon mengabaikannya dan memintanya untuk membuka tudung saja berisi makanan yang sudah ia siapkan di meja makan. Sama seperti yang sebelumnya dilakukan Louis, di dalamnya ternyata berisi cincin. Jung-Ran terkejut melihatnya.

“Apa ini terlihat seperti palsu karena diletakkan di atas meja?” ujar Ho-Joon sembari tersenyum, “Bagaimanapun ini asli.”

Ho-Joon lantas menyelipkan cincin tersebut ke jari manis Jung-Ran yang mati-matian berusaha menahan tangisnya.

“Seasli cintaku,” lanjut Ho-Joon. Ia mencium tangan Jung-Ran lalu bertanya, “Jung-Ran, maukah kau menikahiku?”

Jung-Ran tidak bisa lagi menahan tangisnya. Ia mengangguk lalu memeluk Ho-Joon.

“Maaf karena lamaranku terlambat. Seniorku yang memberi ide ini. Aku melakukan beberapa riset dan ini yang terbaik,” jelas Ho-Joon.

“Aku setuju,” balas Jung-Ran.

Keduanya kembali berpelukan.

Kedua orang tua Joong-Won datang ke rumah Joong-Won dengan membawa koper di tengah malam. Tahu bahwa Joong-Won tidak betah mereka berada di sana, mereka justru berniat untuk tinggal di sana agar Joong-Won cepat menikah.

Young-Ae lalu hendak membuat ramyeon. Soo-Il mengatakan bahwa ia saja yang akan membuatnya karena tahu istrinya akan menambahkan sirup plum yang ia tidak suka, tapi Young-Ae menolak. Dan benar, Young-Ae melakukannya. Begitu melihatnya, Soo-Il yang selama ini pasrah dengan hobi istrinya itu tidak tahan lagi dan segera berteriak memintanya berhenti. Joong-Won dan Young-Ae kaget mendengarnya.

Soo-Il segera merebut botol sirup plum tersebut dan mengatakan bahwa mulai sekarang ia yang akan memegang dapur karena tidak ingin ada sirup plum lagi di sana. Young-Ae jadi kesal dan pergi meninggalkan rumah Joong-Won dengan membawa kopernya. Joong-Won tidak mau tahu dan meminta ayahnya untuk mengurusi ibunya.

Ma-Ri kembali terbayang-bayang Joong-Won sambil tersenyum-senyum sendiri. Tiba-tiba bel rumahnya berbunyi dan yang ada di depan pintu adalah Young-Ae. Ma-Ri segera membereskan penampilannya dan menyambut Young-Ae bersama ibunya dengan ramah.

“Ku harap aku tidak mengganggu waktu istirahatmu,” ujar Young Ae.

“Sama sekali tidak,” jawab Ma-Ri, “Aku hanya sedang membaca beberapa puisi kok. Aku juga berniat mau merajut sebelum tidur.”

Young-Ae kagum mendengar kegiatan Ma-Ri yang sungguh feminim, sementara Jae-Sook keheranan sendiri dengan ulah putrinya. Ma-Ri diam-diam memberi tanda pada ibunya agar tidak mempermasalahkannya.

Setelah Ma-Ri kembali ke kamarnya, Jae-Sook mengusulkan agar Young-Ae menginap saja di rumahnya. Ia juga menyarankan untuk sekalian mengundang Cleopatra a.k.a Geum Ja. Young-Ae menyetujuinya.


Tak lama kemudian ketiga ahjumma ini terlibat pembicaraan serius mengenai pembelian properti di berbagai kota besar. Ternyata mereka sedang main monopoli. Geum-Ja lantas menanyakan mengapa Young-Ae bertengkar dengan suaminnya. Namun begitu tahu alasannya, ia dan Jae-Sook jadi keki sendiri karena bukanlah hal yang besar.

Geum-Ja memberitahunya bahwa ia beruntung masih punya suami karena suaminya sendiri sudah lama meninggal. Jae-Sook menimpali bahwa suaminya kini di penjara. Suasana menjadi tidak nyaman. Tapi Jae-Sook kemudian berusaha membuat ceria kembali dan membahas persiapan pernikahan besok. Ia menyarankan agar mereka melakukan perawatan kulit. Geum-Ja dan Young-Ae menyetujuinya.

Di cafe, Bok-Sil memandangi gaun putih yang ia bawa dengan perasaan grogi menghadapi hari esok. Louis mengingatkannya agar tidak terlalu banyak makan karena besok harus mengenakan baju ketat. Bok-Sil mengiyakan.

Beberapa orang melakukan persiapan pernikahan di rumah nenek Choi. Louis yang sudah mengenakan setelan jas turun dari tangga dan memperhatikan mereka sembari teringat ajaran neneknya bahwa pola belanja seseorang menunjukkan kepribadiannya. Ia lantas diam-diam memperhatikan orang-orang yang hadir ke pesta pernikahan tersebut dan memikirkan kado yang mungkin mereka berikan.

Young-Ae yang suka pengobatan herbal tentu saja memberikan obat herbal serta sirup plum. Geum-Ja yang suka uang memberikan hadiah uang dalam amplop. Jae-Sook yang suka keindahan memberikan satu set alat minum teh.

Tak lama kemudian Soo-Il muncul. Jae-Sook ternyata yang mengundangnya, berharap agar Young-Ae bisa segera baikan. Perlahan Soo-Il menghampiri Young-Ae dan meminta maaf kepadanya.

“Aku merindukanmu,” ujarnya, sambil memberikan tanda cinta dengan jarinya.

Young-Ae berpura-pura tetap marah, walau sebenarnya terlihat bahwa hatinya sudah luluh kembali.

Joong-Won memanggil In-Sung dan memintanya untuk bekerja di departemen merchandise GoldLine. In-Sung mengira bahwa ia akan segera dipekerjakan di sana, tapi ternyata Joong-Won memintanya untuk ikut rekruitmen tahun depan.

Dari balik tembok, Louis yang memperhatikan mereka, yakin bahwa Joong-Won yang suka fashion pasti akan memberikan kado pernikahan berupa kacamata. Sementara In-Sung yang biasa memeriahkan suasana, memberikan kado lampu meja. Sesaat kemudian detektif Joo-Hyuk datang dengan membawa kadonya, sebuah tanaman dalam pot.

Sebagai MC, In-Sung lantas mempersilahkan kedua mempelai untuk maju. Jung-Ran turun tangga dengan didampingi oleh Ma-Ri dan Bok-Sil, sementara Ho-Joon diantarkan oleh Louis muncul dari balik tangga.

Louis lanjut menceritakan kado dari tamu untuk Ho-Joon dan Jung-Ran. Ma-Ri yang punya selera tentang pewangian memberi kado berupa pengharum ruangan yang biasa digunakan hotel berbintang. Bok-Sil memberikan kado berupa voucher gratis produk SingSingLine seumur hidup. Terakhir, Louis memberikan kado berupa mobil.

Jung-Ran melemparkan buket bunganya. Para wanita bersiap untuk menangkapnya dan yang berhasil ternyata justru Geum-Ja.

Ma-Ri sedang berada di kamarnya saat ia teringat perkataan Louis di pesta pernikahan. Louis menyadari bahwa Ma-Ri menyukai Joong-Won sehingga ia menyarankan agar Ma-Ri menjadi dirinya sendiri. Ma-Ri lantas memberanikan diri untuk mengirim pesan pada Joong-Won berupa emoticon cinta. Saat ditanya oleh Joong-Won kenapa ia melakukan hal itu, Ma-Ri menjawab bahwa itu adalah ungkapan perasaannya pada Joong-Won dan ia akan terus melakukan hal itu. Joong-Won tersenyum membacanya.

In-Sung meringkuk di kamarnya dengan galau. Di pesta pernikahan tadi Louis ternyata memberitahunya bahwa Ma-Ri menyukai Joong-Won, sehingga jika In-Sung ingin terus mengejarnya, ia harus siap dengan apapun yang terjadi.

Louis bersiap-siap untuk tidur. Ia membayangkan dirinya dan Bok-Sil menikah. Sambil menutupi wajahnya dengan selimut karena malu, ia membayangkan dirinya dan Bok-Sil berciuman di altar.

“Aku harus segera menikah juga,” ujarnya.

Tiba-tiba ia bangun kembali dan mengambil beberapa setelan baju. Sambil mencobanya satu persatu, di hadapan kaca Louis memikirkan kalimat yang paling tepat untuk melamar Bok-Sil.

Joong-Won tiba di kantornya dan mendadak ada seorang gadis menghadangnya. Tanpa disangka, kejadian yang dulu ia alami saat dipaksa untuk membeli ginseng oleh Bok-Sil kembali berulang. Gadis ini pun juga sama, menawarkan ginseng miliknya yang berusia 15 tahun. Namun ia melakukan hal itu bukan karena tasnya dicuri, melainkan karena orang tuanya sakit. Ia juga bukannya mau menjual gingsengnya begitu saja, melainkan ingin membuat kontrak kerjasama dengan SingSingLine.

Melihat sikap gadis itu yang polos namun gigih dalam menawarkan gingsengnya membuat Joong-Won lama-kelamaan terpana. Sama halnya saat dulu melihat Bok-Sil, kali ini ia juga melihat cahaya muncul dari belakang wajah si gadis itu. Terdengar pula lagu “She”-nya Elvis Costello.

Gadis itu lantas memperkenalkan dirinya sebagai Wang Mong Sil.

“Sampai jumpa, Ko Bok Sil, sampai jumpa” ucap Joong-Won dalam hatinya.

Semua peristiwa ini ternyata terjadi sebelum Young-Ae menelpon Louis dan memberitahu bahwa ia memiliki kado untuknya. Setelah menonton video tape yang diberikan Jae-Sook, Louis terlihat tidak bisa berkata apa-apa, hanya tersenyum bahagia dan seolah tidak percaya.

Malam harinya, ia mengajak Bok-Sil untuk besok nonton film di bioskop. Karena ingat pengalaman terakhir mereka nonton film horror, Bok-Sil mengiyakan asal bukan nonton film horror. Louis menjawab bahwa yang akan ditonton adalah film yang menyentuh.

Bok-Sil dan Louis masuk ke dalam bioskop. Ternyata tidak ada orang lain di sana karena Louis sudah menyewa seluruh theater. Sesaat sebelum film dimulai, Louis menggenggam tangan Bok-Sil.

Film pun dimulai, acara anniversary Gold Shopping Mall yang ke-30. Acara utamanya adalah pembagian kotak musik spesial yang ada patung penguin di atasnya. Bok-Sil kebingungan menontonnya.

Satu demi satu kotak musik dibagikan oleh nenek Choi, Sun-Goo, dan Young-Ae. Yang terakhir jatuh kepada nomer 77, sepasang suami istri yang sedang menggendong seorang anak perempuan. Bok-Sil kaget melihat baju yang dikenakan wanita itu, yang serupa dengan baju ibunya. Louis pun menegaskan bahwa itu memang kedua orang tuanya. Mata Bok-Sil mulai berkaca-kaca.

Usai memberikan kotak musik, nenek Choi yang melihat ibu Bok-Sil saat itu sedang hamil menanyakan siapa nama anaknya nanti. Ibu Bok-Sil menjawab ‘Ko Bok-Nam’. Nenek Choi lantas mendoakan agar Bok-Nam menjadi anak yang beruntung.

Air mata mulai meleleh membasahi pipi Bok-Sil. Ia bahagia karena akhirnya bisa melihat wajah kedua orangnya, yang seolah tersenyum kepadanya. Louis memeluknya untuk menguatkannya sembari memberitahunya untuk terus menonton karena masih ada hal yang penting setelah ini.

Tayangan film berlanjut. Terlihat Louis kecil menangis karena tidak kebagian kotak musik. Ma-Ri kecil yang ada di sana tidak mau kalah dan ikut menangis. Young-Ae lantas pergi sejenak untuk menenangkan Ma-Ri. Bok-Sil kecil yang kebetulan berada di sana bersama dengan kedua orang tuanya tiba-tiba mendatangi Louis kecil dan memberikan kotak musiknya kepada Louis kecil. Louis kecil langsung berhenti menangis dan menanyakan namanya. Karena belum bisa mengucapkan dengan jelas, Louis kecil pun mengira nama anak itu adalah ‘Koboshi’.

Bok-Shil melihatnya tanpa bisa berkata apa-apa.

“Kau pasti kaget,” tanya Louis.

Bok-Sil mengangguk. Louis lalu mengeluarkan kotak musik miliknya dari balik jasnya dan memberikannya pada Bok-Sil. Bok-Sil melihat ada tulisan namanya di dasar kotak musik itu.

“Jangan menangis, Koboshi,” ujar Louis.

Louis mengantarkan Bok-Sil pulang ke apartemen. Di dalam mereka berbaring sambil saling menggenggam. Tiba-tiba Louis bangkit dan duduk di samping Bok-Sil.

“Saat tak ada orang yang percaya padaku, kau mempercayaiku. Apa aku kelihatan seperti orang yang bisa dipercaya?” tanya Bok-Sil.

“Saat aku sudah dewasa, aku tidak punya siapapun yang bisa menjadi tempat bersandar,” jawab Bok-Sil, “Aku harus menjadi sandaran bagi Bok-Nam dan nenekku. Kau adalah orang pertama yang berkata seperti itu padaku. Apa yang kau katakan memberiku harapan. Membuatku merasa aman.”

“Bok-Sil, aku akan mengatakan kata-kata itu kepadamu seumur hidup kita,” ujar Louis perlahan, “Percayalah padaku.”

Bok-Sil tersenyum. Matanya berkaca-kaca.

“Terima kasih,” ujarnya.

Louis kemudian memeluknya.

“Bok-Sil, aku mencintaimu,” ucap Louis.

“Aku juga mencintaimu,” respon Bok-Sil.

Louis membelai rambut Bok-Sil. Keduanya tersenyum, lalu saling berciuman.

*TAMAT*

Reply