Rekap Sinopsis Reunited Worlds Episode 3 & 4 (20 Juli 2017)

Di cerita sebelumnya, Sung Hae-Sung (Yeo Jin-Goo) yang sudah meninggal di tahun 2005 tiba-tiba saja hidup kembali di tahun 2017 dengan penampilan yang masih sama. Ia bahkan sama sekali tidak sadar bahwa dirinya sudah (pernah) meninggal. Kenyataan tersebut membuatnya terpuruk. Sementara itu, Jung Jung-Won (Lee Yeon-Hee), sahabat sejak kecil Hae-Sung yang sudah lama menyukainya, masih saja belum bisa melupakan sosok Hae-Sung meski 12 tahun sudah berlalu. Apa yang akan terjadi selanjutnya di sinopsis Reunited Worlds episode 3 & 4 kali ini?

Dok. gambar dan video © SBS of Korea Selatan

Sinopsis Episode 3

Jung-Won yang melamun sama sekali tidak melihat keberadaan Hae-Sung yang berdiri tidak jauh di hadapannya. Ia malah buru-buru memberhentikan taksi yang sedang melintas untuk pulang ke rumah.

Shin Ho-Bang (Lee Si-Un) sesaat kemudian datang menyusul Hae-Sung. Ia hanya bisa terdiam saat Hae-Sung mengkonfirmasi bahwa dirinya memang sudah mati. Untunglah, ia masih cukup sigap untuk menyelamatkan Hae-Sung yang setelah itu hampir tertabrak mobil saat hendak kembali berlari. Hae-Sung yang makin bingung dengan apa yang telah terjadi pada dirinya melampiaskan perasaannya dengan berteriak kencang. Tanpa diduga, teriakannya membuat lampu-lampu yang ada di sekitarnya meledak tanpa sebab.

Jung-Won menemukan pesan dari Hong Jin-Joo (Park Jin-Joo) yang ditempelkan dengan permen karet ke botol air mineral. Jin-Joo kembali meminta agar Jung-Won tidak menyia-nyiakan chef Cha Min-Joon (Ahn Jae-Hyeon) yang sudah jelas-jelas menyukai dirinya. Jung-Won pun berjanji akan mengungkapkan perasaannya pada chef Cha, walau ia sendiri masih bingung apa yang nantinya akan ia ucapkan.

Pagi harinya, Jung-Won terbangun dari tidurnya dan kaget mendapati pandangannya yang gelap. Sesaat kemudian ia sadar bahwa kertas pesan Jin-Joo tanpa sengaja menempel ke poninya. Jung-Won lantas berniat untuk memotong sedikit bagian rambut poninya yang tertempel bekas permen karet dari kertas pesan. Tepat saat ia menggunting rambutnya, ibu pemilik apartemen menggedor-gedor pintu kamar apartemen Jung-Won. Ia pun kaget dan tanpa sengaja memangkas habis poninya.

Ho-Bang membawa Hae-Sung ke makamnya. Ia juga memberitahu bahwa nenek Hae-Sung sudah meninggal 3 tahun yang lalu, sementara untuk adik-adik Hae-Sung yang lain ia kebetulan tidak lagi memiliki kontak mereka. Namun ia tahu daerah tempat kerja salah satu adik Hae-Sung, Sung Hae-Cheol (Kwak Dong-Yeon).

Tak lama, Ho-Bang dan Hae-Sung berada di depan sebuah kompleks pertokoan / perkantoran kumuh. Hae-Sung yang mengira Hae-Cheol sudah menjadi pekerja kantoran mengungkapkan rasa bangganya. Ho-Bang yang tahu bahwa kenyataannya tidak demikian mencoba mengingatkan Hae-Sung bahwa dimanapun perusahaan tempat Hae-Cheol bekerja tidaklah penting, karena yang terpenting Hae-Sung bakal segera bertemu dengan adiknya.

Seorang teman sekolah mereka, Ji-Young, kebetulan melintas dan menyapa Ho-Bang. Begitu melihat sosok Hae-Sung, ia langsung kaget dan jatuh pingsan. Di saat Ho-Bang dan orang-orang lainnya mencoba menyadarkannya, seorang pria (Ahn Kil-Kang) terlihat berdiri tidak jauh dari tempat mereka berada dan melirik tajam ke arah Hae-Sung.

Setelah Ji-Young dibawa oleh mobil ambulans, Ho-Bang membelikan baju dan juga topi untuk Hae-Sung, agar ia bisa mengganti baju seragamnya dan tidak mudah untuk dikenali orang lain yang mengenalinya.

Di restoran, Jung-Won menghampiri chef Cha di rooftop. Setelah mengkonfirmasi bahwa chef Cha memang benar tidak berangkat ke Paris karena dirinya dan saat semalam chef Cha tidak dalam keadaan mabuk, Jung-Won mengatakan bahwa hal itu membuatnya tersinggung. Ia pun mengancam chef Cha untuk jangan pernah melakukannya lagi seraya pergi meninggalkannya.

Tanpa disadari Jung-Won, secarik kertas terjatuh dari sakunya saat ia melangkah. Chef Cha yang melihatnya lantas memungutnya dan membacanya. Isinya ternyata rancangan kata-kata yang barusan diucapkan oleh Jung-Won, yang semalaman dibuat olehnya. Chef Cha tertawa begitu mengetahuinya.

Hae-Sung kembali mendatangi kompleks tempat Hae-Cheol bekerja. Tiga orang pria tiba-tiba lewat di hadapannya. Tanpa disangka, seorang di antaranya, yang merupakan anak buah dari kedua orang pria lainnya, adalah Hae-Cheol. Hae-Sung terhenyak melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Hae-Cheol kini sudah menjadi anak buah dari preman rentenir, yang tanpa ragu bisa menghajar orang lain.

Di kantor mereka, bos Hae-Cheol memerintahkan Hae-Cheol untuk menagih hutang Jung-Won. Hae-Cheol berusaha menolaknya, namun hal itu membuat kedua bosnya marah dan menghajar Hae-Cheol. Sementara itu, Hae-Sung sedang mencari dimana Hae-Cheol berada. Tanpa diduga, telinganya tiba-tiba bisa mendengar perkataan orang lain yang jaraknya jauh dari tempat Hae-Sung berdiri, termasuk suara Hae-Cheol yang menyebut-nyebut nama Jung-Won. Ia bergegas mendatangi sumber suara tersebut dan mendapati Hae-Cheol yang sedang dihajar.

Munculny Hae-Sung membuat 2 orang bos preman tersebut menghentikan aksinya. Hae-Cheol bergegas memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur, tanpa sempat melihat wajah Hae-Sung. Kesal, para bos preman ganti menyerang Hae-Sung. Tapi dengan kekuatannya, dengan mudah Hae-Sung mengalahkan mereka. Sebelum pergi, ia sempat meminta alamat Jung-Won dari salah satu preman tersebut.

Chef Cha diam-diam menyusul Jung-Won yang sedang diminta untuk membelikan es serut bagi teman-temannya di restoran. Ia menjelaskan bahwa ia sungguh ingin berkencan dengan Jung-Won. Jung-Won tetap tidak mau menerimanya dan memberitahunya bahwa ia bukan wanita yang sempurna dan selalu saja sial. Alih-alih ilfil, chef Cha justru semakin tertarik dengan Jung-Won.

Hae-Sung pergi menuju tempat tinggal Jung-Won dengan menggunakan bus. Pria yang sebelumnya menatap tajam ke arahnya juga ternyata ada di sana.

“Kau baru saja kembali ke sini setelah sekian lama, kan?” tanya pria tersebut tiba-tiba pada Hae-Sung. “Kapan kau kembali?”

“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan,” jawab Hae-Sung.

Tanpa berkata apa-apa lagi, pria tersebut turun begitu saja di halte bus berikutnya.

Hae-Sung tiba di rumah Jung-Won. Karena tidak ada yang membukakan pintu saat ia membunyikan bel, Hae-Sung menunggu di sana hingga malam tiba. Tanpa disangka, kedua bos preman yang tadi ditemuinya datang ke sana bersama dengan tiga orang anak buahnya yang lain dengan membawa pentungan. Begitu melihat Hae-Sung, tanpa basa-basi mereka langsung menghajar Hae-Sung. Anehnya, kali ini Hae-Sung sama sekali tidak mampu melawan dan pasrah dihantam pukulan demi pukulan. Kedua bos preman tadi pun kebingungan kenapa kekuatan Hae-Sung berbeda dengan sebelumnya.

Usai waktu tutup restoran, kepala chef tidak memperbolehkan Jung-Won pulang sebelum membereskan dapur. Tak lama kemudian Jin-Joo menelponnya via video call dan menanyakan apakah hari ini ia kembali didatangi rentenir. Ia lantas meminta agar lain kali Jin-Joo jangan pasrah saat mereka mendatanginya dan harus mampu menunjukkan sikapnya yang gila agar mereka tidak berani lagi kepadanya.

Sementara itu, chef Cha menanyakan kepada kepala chef apakah ada asisten koki yang bisa dipromosikan sebagai chef karena saat ini mereka sangat membutuhkan tambahan tenaga. Kepala chef sebenarnya merasa Jung-Won bisa dipromosikan, tanpa ia menganggapnya masih kurang fokus dan tidak kompeten. Baru selesai ia mengucapkan hal tersebut, kepala chef langsung kaget melihat layar CCTV yang menampilkan Jung-Won sedang ‘menunjukkan sikap gilanya’ dengan pura-pura berkelahi menggunakan wortel dan daun bawang. Tidak berhenti sampai di situ, Jung-Won melanjutkan aksinya dengan menggunakan peralatan dapur yang ada. Kepala chef makin yakin untuk tidak mempromosikan Jung-Won, sedangkan chef Cha yang awalnya ingin melakukan sebaliknya hanya bisa tersenyum kecut melihatnya.

Setibanya di rumah, Jung-Won terkejut mendapati Hae-Sung sedang tergeletak dengan penuh luka di depan rumahnya.


Sinopsis Episode 4

Meski bingung dan masih tidak percaya melihat sosok Hae-Sung di hadapannya, Jung-Won memutuskan untuk membawanya ke dalam dan membaringkannya di sofa. Ia juga mengobati luka di wajah serta lengan Hae-Sung. Ingatan Jung-Won kembali ke masa lalu, setelah Hae-Sung meninggal. Ia rupanya terus menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Hae-Sung.

Esok harinya, Hae-Sung masih belum juga bangun. Jung-Won meletakkan secarik kertas untuknya, lantas pergi menemui Jin-Joo. Tanpa mau memberitahu alasannya, ia meminta Jin-Joo untuk menemaninya hingga tiba waktunya kerja karena ia tidak bisa berada di rumah.

Beberapa saat kemudian Ho-Bang menghubungi Jin-Joo dan memberitahunya kalau Hae-Sung hidup kembali. Ia minta agar Jin-Joo menemuinya karena ia ingin membicarakan hal tersebut bersama dengan Gil Moon-Sik (Shin Soo-Ho) dan juga Cha Tae-Hoon (Kim Jin-Woo) sebelum memeberitahu Jung-Won. Tanpa disangka, Jin-Joo justru datang ke tempat pertemuan mereka bersama dengan Jung-Won.

Hae-Sung terbangun. Luka di dahi dan lengannya terlihat sudah sembuh. Setelah mendapati pesan yang ditinggalkan Jung-Won, yang mempersilahkannya untuk pergi ke dokter jika sudah bangun, Hae-Sung yang kehausan menuju ke dapur untuk mengambil minum. Di saat itulah ia melihat foto-foto Jung-Won yang tertempel di kulkas. Ia pun senang akhirnya bisa menemukan Jung-Won kembali.

Ho-Bang menunjukkan baju seragam yang sebelumnya dipakai Hae-Sung sebagai barang bukti. Pun begitu, ia tidak tahu dimana Hae-Sung sekarang berada, dan meminta agar yang lainnya mencoba menahan Hae-Sung agar tidak pergi apabila suatu waktu Hae-Sung mendatangi mereka. Jung-Won yang sedari tadi terdiam tiba-tiba bangkit dari kursinya dan buru-buru berpamitan pada mereka.

Jung-Won berlari sekencang-kencangnya menuju ke rumah. Setibanya di sana, ia tidak mendapati seorang pun di sana. Mengira Hae-Sung sudah pergi, dengan lesu Jung-Won terduduk di sofa. Tanpa disangka, Jung-Won muncul dari balik pintu.

“Jung-Won,” sapa Hae-Sung gembira.

Jung-Won kaget melihatnya dan tidak mampu berkata apa-apa.

“Bagaimana…,” tanya Jung-Won.

“Aku tidak tahu bagaimana,” jawab Hae-Sung, “tapi aku kembali.”

Hae-Sung hendak menyentuh pundak Jung-Won, namun secara reflek Jung-Won menjauh dan wajahnya terlihat sedikit ketakutan. Tahu bahwa Jung-Won masih ragu dengan keberadaannya, Hae-Sung melemparkan senyumnya agar suasana tidak menjadi kaku.

Sesaat kemudian ibu pemilik apartemen datang untuk menagih uang sewa. Jung-Won berjanji akan membayarnya minggu depan. Sepeninggal ibu pemilik apartemen, Hae-Sung menanyakan kenapa Jung-Won bisa terlibat banyak hutang di sana sini.

“Apa yang kau lakukan dengan hidupmu selama ini?” tanya Hae-Sung.

Jung-Won tidak menjawabnya, tapi raut wajahnya menunjukkan kekesalan.

Karena Jung-Won tidak kunjung datang ke restoran, chef Cha memutuskan untuk mendatangi tempat tinggal Jung-Won. Bertemu dengan Jung-Won yang sedang merenung di depan rumahnya, Jung-Won mengaku hari ini ia tidak bisa masuk kerja karena kondisi kesehatan mentalnya sedang tidak baik. Ia juga sekali lagi meminta agar chef Cha mau memperlakukannya seperti karyawan biasa, sama dengan yang lainnya.

Hae-Sung masuk ke rumah Jung-Won dengan membawa es yang sengaja ia belikan untuk Jung-Won. Ia sendiri sempat melihat Jung-Won bercakap-cakap dengan chef Cha.

“Soal yang barusan,” ucap Hae-Sung, “mungkin aku sedikit keterlaluan. Saat aku melihatmu sekarang, aku merasa sepertinya kita masih di sekolah pada hari senin dan tidak bertemu satu hari saja. Itu karena aku sudah melewatkan 12 tahun itu. Mohon mengertilah.”

“Baiklah, aku akan berusaha untuk mengerti,” respon Jung-Won. “Sepertinya sekarang aku mulai memahaminya.”

“Rasanya masih seperti kemarin. Kau ingat kita berbincang di telepon, kan? Kau menyuruhku ke kelas seni untuk mengambil dompetmu. Aku ke sana tapi dompetmu tidak ada. Kau mengerjaiku, kan? Kau kan suka sekali mengerjaiku selama ini. Benar, kan? Minta maaflah padaku sekarang,” ujar Hae-Sung.

Tanpa diduga, Jung-Won menanggapinya dengan serius.

“Kenapa… kenapa kau mengatakan sesuatu macam itu? Apa kau kembali karena ingin mengatakan itu padaku?” tanya Jung-Won.

“Hei, Jung-Won, aku bercanda,” balas Hae-Sung.

“Apa kau kembali karena ingin mendengarkan permintaan maafku?” tanya Jung-Won lagi. “Kalau begitu pergi sajalah! Jangan pernah kau muncul lagi!”

Sambil menahan tangis Jung-Won lantas pergi meninggalkan apartemennya.

Jung-Won duduk di pinggir sungai. Ingatannya kembali ke masa lalu dimana orang-orang menuduh Hae-Sung sebagai pembunuh yang telah membunuh Kyung-Chul, teman sekelasnya sendiri. Tidak sekedar menuduh, mereka juga menteror keluarga Hae-Sung dan membuat nenek serta ketiga adiknya ketakutan.

Jung-Won yang tidak tahan lagi, berdiri di hadapan foto Hae-Sung sambil menangis.

“Katakan, kau bukan pembunuh, kan? Kau kan tidak membunuh Kyung-Chul. Hiduplah kembali dan katakan pada semua orang kalau kau bukan pembunuh. Kembalilah dan katakan itu dengan mulutmu sendiri,” ujar Jung-Won.

Saat keluar dari kamar apartemen Jung-Won, tanpa sengaja Hae-Sung bertemu dengan Hae-Cheol yang hendak menuju ke sana. Mengira yang ada di hadapannya adalah hantu, dengan ketakutan Hae-Cheol meminta maaf sembari memohon agar Hae-Sung pergi meninggalkannya.

“Kenapa kau jadi begini?” tanya Hae-Sung. “Jawablah aku!”

“Aku tidak punya pilihan karena aku adalah adikmu,” jawab Hae-Cheol, “Apalagi yang bisa ku lakukan sebagai adik seorang pembunuh? Bagaimana aku bisa hidup dengan baik kalau keluargaku hancur? Jadi, ku mohon jangan muncul lagi. Pergi!”

Belum sempat Hae-Sung menjelaskan, Hae-Cheol sudah keburu berlari menjauh.

Karena penasaran, Hae-Sung pergi menemui Ho-Bang dan menanyakan apakah benar dirinya seorang pembunuh. Ho-Bang memberitahunya bahwa Kyung-Chul memang meninggal pada malam itu. Hae-Sung kemudian menjelaskan bahwa saat ia tiba di sana Kyung-Chul sudah dalam keadaan terluka parah dan ia justru pergi untuk mencari bantuan. Ho-Bang percaya kepadanya karena ia juga yakin tidak mungkin Hae-Sung mampu melakukan hal itu.

“Apa Jung-Won juga berpikir sama?” tanya Hae-Sung.

“Jung-Won? Ia menganggap semua ini terjadi karena dia memintamu pergi ke kelas seninya. Dia selalu menyalahkan diri dan menganggap kematianmu adalah kesalahannya,” jawab Ho-Bang. “Setelah itu, dia bahkan tidak datang ke sekolah dan selalu menghindari kami. Setelahnya, dia ikut terapi psikologis. Ku dengar ia mengalami masa-masa yang berat. Aku juga dengar ini dari Jin-Joo. Sebelum nenekmu meninggal 3 tahun yang lalu, dia sempat dirawat di ICU cukup lama. Jung-Won lah yang membayar semua biayanya.”

Hae-Sung terhenyak mendengarnya.

Jung-Won sedang berkemas saat Hae-Sung tiba kembali di kamar apartemen Jung-Won.

“Jung-Won, ini bukan salahmu. Aku meninggal bukan karenamu. Ini bukan salahmu. Kau tidak ada hubungannya dengan semua ini. Dan aku tidak membunuh siapa pun. Tidak mungkin aku membunuhnya. Jadi, jangan pernah lari lagi mulai dari sekarang,” pinta Hae-Sung.

Jung-Won menangis mendengarnya. Perlahan Hae-Sung maju dan mengusap air mata di pipi Jung-Won.

“Kau masih saja jelek, Jung Jung-Woon,” ucapnya sambil tersenyum.


» Bersambung ke episode 5 & 6

Tema artikel yang berhubungan: , , ,

Reply