Rekap Sinopsis Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo Episode 20 *TAMAT* (1 November 2016)

Di sinopsis Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo episode sebelumnya, kaum budak Baekje yang memberontak dan membuat kekacauan membuat Woo Hee (Seohyun) mengorbankan dirinya demi mempersatukan mereka kembali. Kepergiannya membuat Baek Ah (Nam Joo-Hyuk) terpukul dan memutuskan untuk meninggalkan Wang So (Lee Joon-Gi). Sementara itu, Wang So, melalui Yeon Hwa (Kang Han-Na), menjebak Wang Wook (Kang Ha-Neul) dengan tuduhan pengkhianatan sehingga bisa dihukum mati. Hae Soo (IU) yang tahu itu semua adalah ulang Wang So sendiri memohon pada Wang So agar Wang Wook dibebaskan. Kejadian itu juga makin menguatkan niat Hae Soo untuk keluar dari istana. Akhirnya, berkat bantuan Wang Wook, Hae Soo berhasil meninggalkan istana dengan jalan menikah dengan Wang Jung (Ji Soo). Apa yang akan terjadi selanjutnya di (rekap) sinopsis drama korea Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo episode 20 atau episode terakhir ini?

Dok. gambar dan video © SBS of Korea Selatan

Sinopsis Episode 20

Hae Soo tiba di kediaman Wang Jung dan disambut sendiri olehnya. Ia mengajaknya masuk ke sebuah rumah yang akan menjadi tempat tinggal Hae Soo. Ia juga memberitahu bahwa Raja tidak memperbolehkan mereka untuk menggelar pesta pernikahan.

“Jangan khawatir,” ucap Wang Jung, “Aku hanya ingin membawamu keluar dari istana. Meskipun kita menikah, aku hanya akan menganggap kita sebagai teman.”

“Aku tidak kahwatir akan hal-hal seperti itu,” respon Hae Soo sembari tertawa kecil.

“Ini cukup jauh dari rumah utama yang ramai, sehingga kamu bisa tinggal di sini dengan tenang. Ini juga dekat dengan kediaman utamaku, jadi datanglah kapan pun kamu mau,” tambah Wang Jung dengan bersemangat.

Hae Soo mengangguk. Wang Jung tiba-tiba mengulurkan tangannya dan mengembalikan jepit rambut Hae Soo.

“Terima kasih untuk mengatakan kamu menginginkannya,” ujar Wang Jung, lantas pergi meninggalkan Hae Soo.

Hae Soo menghabiskan waktunya dengan menggambar ilustrasi wajah Wang So. Saat itu Wang Jung sedang berlatih pedang di dekatnya. Melihat Wang Jung yang kecapekan, Wang So datang dengan membawakan sapu tangan. Wang Jung hendak menerimanya, namun ia menyadari ada seseorang yang sedang mengintip di balik tembok.

“Sini. Mari kita lihat seberapa baiknya kamu pada suamimu,” ucap Wang Jung, berusaha mengelabui si pengintip agar mengira ia dan Hae Soo benar-benar hidup sebagai suami istri.

Hae Soo tersenyum dan mengelap keringat di muka Wang Jung dengan sapu tangan tersebut. Wang Jung lantas mengajak Hae Soo untuk masuk ke dalam karena dokter kerajaan, yang sudah pensiun, akan segera datang untuk memeriksanya. Setelah diperiksa, ternyata Hae Soo sedang dalam keadaan hamil. Wang Jung pun kaget mendengarnya. Yang menjadi masalah, kondisi kesehatan dan jantungnya tidak baik, sehingga jika dipaksakan untuk melahirkan bayi tersebut maka bisa berbahaya bagi Hae Soo. Namun demikian, Hae Soo berkeras untuk tetap melahirkan bayinya.

“Selama bayi ini selamat, aku tidak peduli,” tegas Hae Soo.

Wang Jung lantas meminta dokter untuk menjaga rahasia tersebut dan juga memintanya untuk tinggal sementara waktu di rumahnya. Dokter mengiyakan, sekaligus memberi wejangan-wejangan pada Hae Soo untuk menjaga kesehatannya. Sementara itu, orang yang sebelumnya mengintip Hae Soo dan Wang Jung adalah orang suruhan Wang So. Wang So pun geram saat menerima laporan darinya yang menyatakan betapa keduanya saling memperhatikan.

Beberapa waktu kemudian, Wang So diam-diam datang sendiri ke tempat Wang Jung dan mengintip mereka. Secara kebetulan, pada saat itu, Hae Soo yang sedang berada di taman terbatuk-batuk karena udara yang dingin. Wang Jung yang mengetahuinya segera mengingatkannya untuk tidak terkena angin dingin karena tidak baik bagi bayinya. Wang So pun salah paham, mengira yang dimaksud itu adalah bayi Wang Jung dan Hae Soo.

Wang Jung menggendong Hae Soo dan membawanya ke tempat tidur. Ia lalu berbaring pula di tempat tidur yang ada di sebelahnya. Hae Soo membalikkan badannya dan melihat ke arah Wang Jung. Ia mengatakan agar Wang Jung tidak perlu mengkhawatirkannya dan tidur dengan nyenyak di kamarnya sendiri.

“Ini pertama kalinya aku tidur di kamar yang sama dengan istriku,” ujar Wang Jung. “Kenapa kamu terus menyuruhku untuk pergi? Sekarang saat aku melihatmu, aku lihat kita berdua sudah berumur. Waktu sudah banyak berlalu.”

Hae Soo tersenyum, lalu berkata, “Jika ada waktu yang baik, juga ada waktu yang buruk. Semua waktu itu sudah berlalu. Aku sudah cukup menjalaninya untuk belajar itu.”

Wang Jung kemudian mengajak mengobrol tentang hal-hal yang sudah mereka lalui bersama. Hae Soo menanggapinya. Dari luar rumah, Wang So yang mendengar momen kebersamaan mereka menjadi makin patah hati. Apalagi setelah itu lampu dimatikan, ia menjadi mengira yang tidak-tidak.

“Mulai dari sekarang, aku tidak ingin lagi mendengar berita mengenai Wang Jung dan Hae Soo,” perintahnya pada Choi Ji-Mong (Kim Sung-Kyun) saat kembali ke istana. “Pastikan aku tidak mendengar apapun tentang mereka.”

Hampir setiap waktu Hae Soo teringat tentang Wang So. Saat menggambar, berulang kali ia bahkan membayangkan sosok Wang So hadir di hadapan atau di sampingnya. Dalam hati ia berkata:

Akhirnya hanya kita berdua yang tersisa. Kamu dan aku, kita satu-satunya yang tersisa. Aku tidak perlu khawatir tentang apapun. Aku bisa mencintaimu semauku.

Waktu berlalu. Hae Soo akhirnya melahirkan anaknya, seorang bayi perempuan. Wang Jung meminta pelayan yang membantu persalinan Hae Soo untuk merahasiakan kelahiran bayi tersebut dari orang lain dan segera membawanya ke inang untuk dirawat. Sementara itu, kondisi Hae Soo pasca melahirkan sangatlah lemah. Begitu ia tersadar, Wang Jung segera menghampirinya dan duduk di sampingnya.

“Jangan khawatir dengan bayinya. Ia cantik dan sehat. Ia pastilah diberkati. Aku memberikannya inang terbaik di wilayah ini.” ujar Wang Jung.

“Itu melegakan,” respon Hae Soo sambil berusaha tersenyum.

Wang Jung menggenggam tangan Hae Soo dan berkata, “Jadi berhentilah mengkhawatirkan bayinya dan pikirkan dirimu sendiri. Kamu harus mengembalikan kesehatanmu secepatnya.”

Hae Soo tiba-tiba meneteskan air matanya. Ia lalu mengambil selembar kertas dari balik bantalnya dan menyerahkannya pada Wang Jung. Kertas tersebut ternyata surat yang ditujukan pada Raja.

“Kamu ingin menunjukkan bayimu pada Raja?” tanya Wang Jung.

Hae Soo menggeleng dan berkata, “Aku ingin menemuinya.”

Meski berat hati, Wang Jung menyanggupi permintaan Hae Soo. Ia segera meminta anak buahnya untuk mengirimkan surat tersebut kepada Raja. Namun ia melihat tulisan Hae Soo sama dengan tulisan Raja, sehingga ia sengaja memasukkan surat tersebut ke dalam amplop dan membubuhkan tulisannya sendiri di amplop tersebut sebelum dikirimkan pada Raja.

Kondisi Hae Soo tidak juga membaik, malah semakin parah. Wang So belum juga datang padahal sudah beberapa kali surat kepadanya dikirimkan. Ternyata selama ini Wang So tidak mau membacanya karena melihat tulisan Jung yang ada di bagian depan amplop surat. Ji-Mong sudah menyarankan agar Wang So membacanya terlebih dahulu, namun Wang So menolak karena mengira isinya pasti kata-kata penuh kebencian kepadanya.

Hae Soo sendiri sudah hampir putus asa Wang So mau datang menemuinya.

“Apakah ia sedemikian membenciku?” tanya Hae Soo lirih pada Wang Jung. “Tolong kirim seseorang ke sana. Jika kamu mengirimkan pesanku kepadanya, ia pasti datang.”

Wang Jung hendak menjawab bahwa ia sudah melakukannya, namun ia tidak mau mengecewakan Hae Soo sehingga ia berpura-pura lupa dan berjanji akan mengirimkan orang untuk menemui Raja. Melihat wajah Hae Soo yang pucat, Wang Jung mengajaknya keluar sejenak karena ia sudah mengundang musisi terkenal dari Songak untuk bernyanyi baginya. Hae Soo mengiyakan. Kedua musisi tersebut kemudian menawarkan sebuah lagu tentang court lady yang dicintai raja. Karena serupa dengan kisahnya, Hae Soo dengan lirih mengatakan ia ingin mendengarnya.

Lagu pun mulai dimainkan. Hae Soo perlahan tersenyum mendengarnya. Ingatannya kembali ke masa lalu, saat ia bernyanyi bagi para pangeran.

“Dulu, kamu menjanjikan kamu akan memperlakukan hidupku seolah itu hidupmu. Kamu ingat itu?” dengan suara nyaris berbisik Hae Soo bergumam.

Ia lalu menoleh ke arah Wang Jung dan berkata, “Putriku, sebagai penggantiku, aku ingin kamu yang melindunginya. Kamu tidak bisa membiarkannya pergi ke istana.”

“Kenapa kamu berkata seperti itu?” respon Wang Jung, berusaha menyembunyikan kesedihannya.

“Ia tidak akan datang,” gumam Hae Soo.

Wang Jung lantas merebahkan kepala Hae Soo ke dadanya. “Soo, di kehidupanmu selanjutnya, kamu akan mengingatku, bukan?”

“Aku akan melupakanmu. Aku akan melupakan semuanya. Bahkan di mimpiku, kalian semua…”

Hae soo menghembuskan nafas terakhirnya. Sambil meneteskan air mata Wang Jung memeluknya.

—-

“Soo tidak akan membenciku sedemikian ini,” ujar Wang So dengan mata berkaca-kaca, mendengar berita kematian Hae Soo.

“Tampaknya ia sudah mengirim surat, Yang Mulia. Apakah kamu belum membacanya?” tanya Ji-Mong.

Wang So langsung menyadari surat-surat yang ia kira berasal dari Wang Jung ternyata berasal dari Hae Soo. Ia segera membuka amplop surat dan mendapati kertas bertulisan tangan Hae Soo di dalamnya. Ia pun membaca salah satu di antaranya.

Hidup itu seperti mimpi. Benar dan salah. Cinta dan benci. Semuanya terpendam seiring berjalannya waktu dan pergi dengan tenang tanpa meninggalkan jejak. Apakah kamu masih marah akan cinta dan menyimpan kebencian? Lawan dari cinta bukanlah benci. Itu untuk mengusir seseorang pergi. Aku meninggalkanmu dengan kebencian ketimbang cinta. Aku membayangkan pada diriku sendiri seandainya aku tidak meninggalkanmu untuk beristirahat dengan tenang. Aku terus khawatir. Aku masih mencintaimu. Saat kamu membuang semuanya untuk berdiri di sampingku di saat hujan, saat kamu membuang tubuhmu di jalan panah yang melayang untuk melindungiku, aku tidak akan pernah melupakanmu sekarang. Aku merindukanmu. Bagaimanapun, aku tidak bisa pergi kepadamu. Aku sudah jenuh dengan pria yang tidak punya hati. Aku harap kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti di taman. Aku menunggumu datang setiap hari.

Wang Jung sedang membelai guci yang berisi abu jenazah Hae Soo saat Baek Ah datang menemuinya. Hae soo ternyata meninggalkan surat untuk Baek Ah. Beberapa saat kemudian Wang So pun datang. Dengan kalap ia menarik Baek Ah dan menanyakan dimana Soo berada. Baek Ah hanya terdiam.

“Soo. Berhenti bermain-main dan keluarlah. Soo. Dimana kamu?” teriak Wang So sembari menangis.

Wang So terpaku saat melihat guci yang dipegang oleh Wang Jung.

“Apa yang sudah kamu lakukan selama ini?” tanya Wang Jung. “Jangan berpura-pura sedih sekarang.”

Dengan geram Wang So menarik kerah baju Wang Jung dan berkata, “Kamu membuatnya terjadi seperti ini. Namamu yang tertulis di amplop surat. Aku tidak tahu surat dari Soo ada di dalamnya.”

“Aku melakukan itu karena tulisanmu mirip dengannya,” jawab Wang Jung lirih, “Namun begitu, kamu seharusnya tahu Soo sedang sekarat. Aku tahu kamu menyuruh seseorang untuk mengawasi rumah ini.”

“Kamu berbagi kamar dengan Soo dan berhubungan dengan baik. Ia berhenti menerima laporan dari kalian berdua,” Baek Ah yang merespon perkataan Wang Jung.

Masih menangis, Wang So memeluk guci Hae Soo dan berniat membawanya pergi. Wang Jung mencegahnya.

“Tidak. Kamu tidak bisa. Ia istriku,” teriak Wang Jung.

“Minggir. Soo mungkin sudah mati, tapi dia wanitaku.”, bantah Wang So.

Wang Jung hendak maju untuk membalasnya, namun Baek Ah segera mencegahnya. Ia mengingatkan Wang Jung, “Jung, kamu seharusnya tahu! Kamu seharusnya tahu lebih baik dari siapapun. Kamu tahu dengan siapa Soo ingin bersama.”

Wang Jung mengalah dan membiarkan Wang So pergi.

“Jika kamu benar menganggap Soo sebagai teman, jangan berkelahi lagi dengan raja,” pinta Baek Ah. “Hae Soo menghabiskan waktunya terperangkap di tengah-tengah kita. Ia tidak bisa melakukan ini dan itu. Mengetahui itu, apakah kamu ingin membuat Hae Soo lebih sedih lagi?”

Wang Jung menangis dan mengeluarkan sesuatu (?) dari balik bajunya.

“Kamu tidak sungguh-sungguh… betapa bodohnya kamu,” ujar Baek Ah, lantas memeluk Wang Jung.

Sementara itu, dengan membawa guci abu Hae Soo, Wang So berdiri terpaku di suatu tempat, mengingat kembali akan Hae Soo.

Waktu demi waktu berlalu. Entah bagaimana, Wang Won kini ditahan di rumahnya dan diminta untuk bunuh diri dengan meminum racun yang disediakan. Sebelum itu, Baek Ah datang, memberikan surat dari Chae Ryung kepadanya. Baek Ah mengatakan bahwa itu adalah wasiat dari Hae Soo kepadanya. Dengan sedikit heran Wang Won membaca surat tersebut.

Aku tahu akhirnya akan segera tiba. Aku hanya orang yang tidak bisa berhenti mencinta begitu aku memulai. Aku orang bodoh seperti itu.

“Gadis bodoh. Kenapa kamu tidak membenciku?” ujar Wang Won dalam hati.

Ia lalu terduduk di hadapan mangkok berisi minuman racun.

Yeon Hwa mengkonfrontasi Wang So yang tidak mau datang ke tempat Wang Ju, anaknya. Wang So berdalih bahwa sudah cukup Yeon Hwa yang datang. Yeon Hwa jadi heran karena Wang So seolah menganggap anaknya sendiri sebagai kompetitor.

“Kamu sudah menghilangkan sepupumu Gyeongchunwon dan Heunghwagoong. Kamu seharusnya paling tidak mempercayai anakmu.” ujar Yeon Hwa.

=== baca sejarah Goryeo untuk lebih jelasnya mengenai silsilah Gyeongchun dan Heunghwa ===

“Dengarkan ini, ratu. Aku tahu dengan baik orang yang menyembunyikan dirinya yang asli di balik topeng yang tidak terlihat. Baik kamu dan anak itu… aku tahu dengan baik kamu akan mengincarku suatu hari nanti.” respon Wang So.

“Jadi.. kamu masih hanya mengingatnya?” tanya Yeon Hwa.

Wang So tidak menjawab.

“Hae Soo adalah satu-satunya orang yang berbicara dengan orang lain secara sejajar. Kamu mengemansipasi para budak karena tidak bisa melupakannya. Kamu pikir aku tidak akan tahu?” lanjut Yeon Hwa.

“Anggap seperti itu. Bagaimanapun, meski kamu tahu, apakah ada yang akan berubah?”

“Sekarang saat aku memikirkannya, aku rasa aku mengerti kenapa Hae Soo pergi. Aku rasa aku tahu kenapa.”

Wang So sedang berdiri termenung saat seorang anak kecil tiba-tiba menabraknya. Ia jadi teringat dulu juga pernah mengalami hal yang sama, ditabrak oleh Hae Soo. Dengan ramah Wang So menanyakan siapa namanya. Anak kecil itu kemudian membalikkan badannya dan berlari ke arah seorang pria yang datang menghampiri mereka.

“Ayah,” ujar anak itu.

Tanpa diduga yang datang adalah Wang Jung. Ia segera memberi salam pada Raja, yang lantas menanyakan keberadaannya di area istana mengingat ia tidak diperbolehkan meninggalkan kampung halamannya.

“Hari ini anniversary kematian Soo. Maafkan aku. Aku kehilangan akal untuk sejenak. Ini tidak akan terjadi lagi,” ucap Wang Jung.

Melihat anak Wang Jung, Wang So menjadi penasaran. Ia memang sempat memberi ijin pada Wang Jung untuk menikah, namun ia tidak menyangka anaknya akan sebesar itu. Wang Jung buru-buru menggendong anak tersebut dan berpamitan untuk menghindari kecurigaan Raja, namun Wang So justru melihat jepit rambut Hae Soo yang kini dikenakan oleh anak Wang Jung. Ia segera meminta Wang Jung untuk berhenti.

“Tinggalkan anak itu,” perintah Wang So.

Wang Jung segera menurunkan anak itu dan berlutut di hadapan Raja.

“Aku tidak bisa melakukan itu kecuali kamu membunuhku.” ujarnya.

“Sungguh?”

“Untuk anak ini, ia meminta agar ia tidak tinggal di istana. Itu begitu mengerikan dan sepi. Ia bilang ia tidak ingin anaknya di sini. Itu saja yang dikhawatirkan oleh Hae Soo hingga saat ia meninggal.” jelas Wang Jung.

Wang So terdiam sejenak. Ia kemudian berkata, “Pangeran ke-14, Wang Jung, aku membebaskanmu dari pengasinganmu di kampung halamanmu. Mulai sekarang aku ingin kamu sering-sering datang ke istana.”

Wang So pergi usai mengucapkan titahnya, sementara Wang Jung memeluk anak Hae Soo erat.

Queen Hwanbo (Jung Kyung-Soon) memaksa Wang Wook untuk membawa anaknya ke istana. Wang Wook menolak, karena toh setelah ia meninggal keluarganya akan terbebas dari pengasingan. Namun Ratu Hwanbo memaksanya karena ia berniat untuk menjadikan Wang Chi, anak Wang Wook, sebagai raja, dan ia tidak akan pernah menyerah untuk itu.

Baek Ah mengunjungi kediaman Wang Wook dan bertemu dengan anak Wang Wook yang lain, Bok Soon. Dengan ramah ia memperkenalkan dirinya sebagai pamannya, namun anak Wang Wook tidak percaya dan menganggapnya sebagai musisi jalanan. Begitu mendengar nama anak tersebut, Baek Ah langsung terdiam karena ingat itu adalah nama yang disebutkan oleh Woo Hee saat pertama kali mereka bertemu. Selain itu, hiasan baju yang digunakan Bok Soon adalah milik Woo Hee.

Tak lama kemudian Bok Soon pergi dan Wang Wook datang. Wang Wook memberitahukan perkembangan terakhir Raja yang semakin banyak mempelajari literatur dan membebaskan para budak dari tangan keluarga-keluarga bangsawan yang berkuasa. Ia pun penasaran akan menjadi raja seperti apa nantinya Wang So.

“Aku membayangkan, mungkin, Goryeo memiliki raja terkuat dalam sejarahnya,” ujar Wang Wook lirih.

“Ia juga sudah mengorbankan banyak sebagai gantinya,” respon Baek Ah.

Wang Wook mengangguk tanda setuju. Ia kemudian terbatuk-batuk dan memegang perutnya.

“Akhir-akhir ini ada wajah yang tak bisa berhenti ku lupakan,” ujar Wang Wook.

“Apa kamu masih merindukan Hae Soo?” tanya Baek Ah.

“Aku tidak tahu,” jawab Wang Wook. “Aku selalu memberikan hatiku, tapi aku selalu berbuat kesalahan. Aku baru menyadari itu sekarang.”

Ji-Mong berpamitan untuk pergi meninggalkan istana. Sebelum pergi ia memberitahu Wang So bahwa ia yakin Hae Soo bukan berasal dari dunia ini.

“Kamu harus melupakannya. Jika kamu merindukan orang yang tidak bisa kamu raih, kamu akan berakhir seperti aku,” ujar Ji-Mong sembari tertawa.

Raja menanggapinya dengan dingin. Tanpa diduga, beberapa saat setelah Ji-Mong meninggalkan gerbang istana, langit mendadak berubah menjadi gelap dan muncul gerhana matahari total.

Go Ha-Jin (Hae Soo) tiba-tiba terbangun dari tempat tidurnya dengan menangis.

“Kenapa aku seperti ini? Siapa pria itu sehingga membuatku seperti ini?” tanyanya sambil menghapus iar matanya.

Ternyata semenjak tenggelam ke dasar danau, Ha-Jin mengalami koma dan baru sadar setahun kemudian. Saat ini ia sedang bekerja sebagai SPG sebuah produk kecantikan di pameran Goryeo Era Makeup Culture. Ia menceritakan tentang sosok pria dengan luka di wajah yang ia lihat dalam mimpinya pada temannya, tapi temannya tidak terlalu menghiraukannya. Saat itulah Hae Soo tiba-tiba melihat sosok seorang pria yang mirip dengan Wang So. Pria tersebut kemudian menghampiri Hae Soo dan berdiri terdiam di hadapannya hingga Ha Jin heran sendiri.

“Tahukah kamu bahwa nama akhir Go adalah Hae di era Goryeo?” ujar pria tersebut setelah melihat nama di tanda pengenal Ha Jin.

“Oh ya? Kita kebetulan menjual make up dari era Goryeo. Sungguh kebetulan yang menarik,” respon Ha Jin.

“Tidak ada yang namanya kebetulan,” balas pria tersebut dengan yakin. “Semua hal hanya akan kembali ke tempatnya semula.”

Ha Jin kebingungan mendengar perkataan pria tersebut.

“Tercium bau bunga mawar di sini,” pria tersebut melanjutkan.

“Ah, itu karena produk kami banyak menggunakan minyak bunga mawar, terutama serum ini,” jawab Ha Jin. “Ini terbuat dari minyak bunga mawar Bulgaria dengan ekstrak houttuynia cordata”

“Minyak bunga mawar Bulgaria. Kamu tidak menggunakan itu, bukan?” potong si pria tersebut.

Ha Jin langsung terdiam, seolah teringat akan sesuatu. Ia mencoba kembali meneruskan penjelasannya, namun kilasan apa yang selama ini ia alami di era Goryeo bersama Wang So muncul di kepalanya. Ha Jin bahkan sempat hampir terjatuh karenanya.

“Aku rasa kamu butuh istirahat,” ujar pria tersebut.

Rekan SPG Ha Jin segera memintanya untuk pulang dan beristirahat saja di rumah. Saat melangkah keluar, Ha Jin melihat sebuah lukisan yang menggambarkan perang di era Goryeo. Kembali potongan-potongan ingatannya muncul. Ia pun melanjutkan untuk melihat-lihat lukisan lain yang ada di sana dan satu demi satu ingatannya kembali.

“Itu bukan mimpi. Itu bukan mimpi,” gumamnya.

Ha Jin mulai menangis, mengingat tentang Wang So.

“Maafkan aku,” ucapnya, “sudah meninggalkan kamu sendirian di sana. Maaf.”

Baek Ah menghampiri Wang So, mengabarkan bahwa Wang Wook sudah meninggalkan. Ia juga berpamitan untuk pergi berkeliling lagi karena sudah tidak ada lagi yang bisa ia temui di istana. Sepeninggal Baek Ah, Wang So memandang sekelilingnya. Tidak ada orang lain di sana dan ia merasa sendiri.

“Hidup yang fana,” gumamnya.

Ia teringat pernah berjalan bersama Hae Soo di pinggir danau membahas mengenai kehidupan yang fana. Waktu itu Wang So tidak mempercayai bahwa hidup itu singkat karena ada Hae Soo di sampingnya. Hae Soo hanya terdiam pada saat itu, sehingga membuat Wang So khawatir.

“Apa yang kamu takutkan? Apa yang kamu sembunyikan?” tanya Wang So.

“Aku merasa cemas setiap hari saat aku berada di sana. Setiap langkah yang aku ambil, aku merasa harus berhati-hati, seperti berjalan di atas es tipis. Terkadang, aku merasa aku tidak bisa bernafas.” ucap Hae Soo.

“Meskipun kamu memilikiku? Kamu masih merasakan itu?” tanya Wang So.

Hae Soo menoleh ke arah Wang So dan tersenyum, lalu berkata, “Jika kita bertemu di dunia lain dan di waktu lain, aku berpikir bahwa itu akan menjadi hebat. Jika saja itu bisa terjadi, aku tidak takut akan apapun. Aku bisa bebas. Aku bisa bebas mencintaimu seperti yang aku inginkan.”

Wang So menutupi sebelah mukanya yang terluka dengan tangan kanannya yang bergetar.

Jika kita tidak berasal dari dunia yang sama, aku akan menemukanmu, Soo-ku

Reply