Rekap Sinopsis Man Living At My House Episode 11 & Preview Episode 12 (28 November 2016)

Di sinopsis Man Living At My House episode sebelumnya, Hong Na-Ri (Soo-Ae) mengajak Go Nan-Gil (Kim Young-Kwang) untuk pergi naik pesawat dengannya di hari terakhirnya bekerja sebagai pramugari. Mereka pun lantas bepergian ke Busan dan menginap di sana, sembari kembali membicarakan tentang sidang gugatan pembatalan pernikahan yang akan segera digelar. Na-Ri berkeras untuk memihak pada pamannya, Shin Jung-Nam (Kim Ha-Kyun), karena ia ingin agar status pernikahan Nan-Gil dengan ibunya dibatalkan dan ia bisa menjadi sepasang kekasih yang sesungguhnya dengan Nan-Gil. Nan-Gil sendiri lebih memilih untuk tetap bisa mempertahankan tanah dan restoran warisan ibu Na-Ri. Apa yang kira-kira bakal terjadi selanjutnya di sinopsis drama korea Sweet Stranger And Me episode 11 ini?

Dok. gambar dan video © KBS2 of Korea Selatan

Sinopsis Episode 11

Episode dibuka dengan flashback beberapa waktu sebelum persidangan. Di halte bus, Nan-Gil menawarkan untuk mengirimkan foto-foto liburan mereka kemarin pada Na-Ri. Na-Ri mengiyakan.

“Orang bilang satu hari dapat menyamai seumur hidup,” ujar Nan-Gil, “Itulah kemarin bagiku. Terima kasih.”

Ucapan Nan-Gil malah membuat Na-Ri merasa seperti anak-anak yang baru saja mengajak orang tuanya jalan-jalan. Nan-Gil tersenyum simpul mendengarnya.

“Kalau begitu,” lanjut Na-Ri, “dapatkah kamu menukar hidupmu hingga sekarang ini dengan kemarin?”

“Tentu tidak. Berat sekali perjuangan untuk belajar mengaduk adonan dan membuat pangsit,” respon Nan-Gil.

Bus yang hendak ditumpangi Nan-Gil tiba. Mereka pun berpamitan untuk bertemu lagi nanti di sidang.

“Aku akan berbohong mulai sekarang,” ujar Nan-Gil sebelum melangkah masuk ke dalam bus. “Itu sebabnya kamu tidak bisa bersamaku. Aku hanya akan fokus untuk melindungi tanah.”

Bus yang ditumpangi Nan-Gil berlalu dari hadapan Na-Ri. Na-Ri melangkah pergi ke arah yang berlawanan. Beberapa langkah kemudian ia berhenti. Hatinya bimbang. Namun akhirnya ia melanjutkan kembali langkah kakinya.

1

Jung-Nam sedang berada di kantor Da Da Finance bersama dengan Kim Wan-Sik (Woo Do-Hwan), Bae Byung-Woo (Park Sang-Myeon), dan pengacara Kim Do-Suk. Mereka memastikan Jung-Nam akan bisa bebas setelah sidang besok berakhir. Asal mereka menang.

2

Kwon Duk-Bong (Lee Soo-Hyuk) menunggu kedatangan Na-Ri di depan gedung pengadilan. Ia mengira Na-Ri bakalan bersaksi untuk Nan-Gil, namun Na-Ri menegaskan bahwa ia akan bersaksi untuk pamannya. Duk-Bong lantas menanyakan sejak kapan Na-Ri menyukai Nan-Gil. Na-Ri tidak menjawabnya dan mengajak Duk-Bong untuk masuk. Duk-Bong mencegatnya dan meminta Na-Ri untuk memastikan perasaannya pada Nan-Gil, lalu membuat keputusan berdasarkan perasaannya itu.

“Bersaksilah untuk dirimu sendiri dan bukan untuk pamanmu,” nasehat Duk-Bong.

“Aku juga ingin tahu sejak kapan itu dimulai,” akhirnya Na-Ri menjawab pertanyaan Duk-Bong. “Suatu hari ia datang ke dalam hatiku dan itu terus tumbuh. Tidakkah kamu mengerti bagaimana rasanya itu?”

Duk-Bong terdiam.

3

Sidang dimulai. Duk-Bong menunjukkan bukti surat ijin pernikahan yang membuat pembatalan pernikahan tidak bisa dilakukan. Do-Suk merespon dengan mengatakan akan memanggil Jung-Nam untuk memberikan kesaksian karena ia adalah orang yang mengambil foto Nan-Gil dan Shin Jung-Im saat mereka menikah.

Tentu saja Jung-Nam yang sudah dipengaruhi oleh Da Da Finance memberi kesaksian palsu yang memberatkan pihak Nan-Gil. Ia beralasan bahwa pada saat itu Nan-gil sudah menipu Jung-Im dan dirinya dengan menggunakan dokumen palsu untuk memaksa Jung-Im menikahinya.

Berikutnya Do-Suk meminta Wan-Sik untuk bersaksi. Kali ini Wan-Sik membeberkan masa lalu Nan-Gil sebagai tukang tagih, ditambah dengan bumbu-bumbu tentang perilaku Nan-Gil yang sadis dan tidak punya belas kasihan. Do-Suk menambahkan dengan menunjukkan laporan polisi yang diajukan oleh Jung-Nam beberapa waktu lalu.

4

Do Yeo-Joo (Jo Bo-Ah) mendatangi sekolah Kwon Duk-Sim (Shin Se-Hwui). Melihat Duk-Sim yang dibully oleh teman-temannya, Yeo-Joo mendatangi mereka dan berpura-pura minta maaf pada Duk-Sim karena adiknya telah mengambil barang milik Duk-Sim. Mendengar Yeo-Joo mengatakan bahwa pengacara keluarga Duk-Sim sangat kuat, satu demi satu teman Duk-Sim yang tadi berniat membullynya melipir meninggalkan Duk-Sim dan Yeo-Joo.

Yeo-Joo mengatakan bahwa ia datang untuk menanyakan sesuatu padanya. Bukannya berterima kasih dan menjawabnya, Duk-Sim malah pergi begitu saja meninggalkan Yeo-Joo.

5

“Apa kamu pikir pernikahan ini palsu?” tanya Do-Suk pada Na-Ri yang kini maju sebagai saksi.

Na-Ri terdiam dan menoleh ke arah Nan-Gil. Keduanya saling bertatapan sejenak.

“Tidak,” jawab Na-Ri.

Semua kaget mendengarnya. Do-Suk melangkah maju menghampiri Na-Ri dan berbisik mempertanyakan jawabannya barusan sembari mengancam keselamatan pamannya. Hakim mengingatkan Do-Suk atas tindakannya itu dan meminta pengacara dari pihak Nan-Gil untuk maju jika memang Do-Suk tidak lagi ada pertanyaan. Do-Suk kembali ke tempat duduknya dengan geram, sementara Duk-Bong maju ke depan menggantikan posisinya.

“Apa hubunganmu dengan Go Nan-Gil?” tanya Duk-Bong.

“Ia ayah tiriku,” jawab Na-Ri sambil tersenyum ke arah Nan-Gil.

Mata Na-Ri berkaca-kaca mengingat momen-momen kebersamaannya dengan Nan-Gil selama ini.

“Pada saat ibuku berjuang, ia ada di sampingnya. Setelah aku kehilangan ibuku, ia tetap berada di sisiku. Ia satu-satunya keluargaku,” tegas Na-Ri.

Nan-Gil tersenyum lega sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kamu melakukan dengan baik, Hong Na-Ri,” ujar Nan-Gil dalam hati.

6

Yeo-Joo menyusul Duk-Sim yang pergi meninggalkannya. Ia menanyakan dengan siapa ia mirip bagi Duk-Bong (lupa di episode berapa Duk-Sim menyatakan hal ini).

“Kamu mirip dengan cinta pertamanya,” jawab Duk-Sim.

Yeo-Joo ge-er dan teringat momen saat pertama kali mereka bertemu di bandara, hingga ia tersenyum-senyum sendiri.

“Apa aku benar-benar terlihat seperti dia?” tanya Yeo-Joo.

“Mereka berkencan untuk waktu yang sangat lama,” jawab Duk-Sim, “Tapi keluarga mereka kemudian saling bermusuhan dan Duk-Bong secara menyedihkan ditusuk dari belakang. Sejak saat itu, ia berhenti praktek hukum dan berdiam diri di sini.”

“Lalu kenapa kamu membicarakan kakakmu seperti ia orang asing?”

“Terserahlah! Ini memang gayaku!” respon Duk-Sim galak. Ia lalu melanjutkan, “Eniwei, tetaplah bermimpi. Ia pasti menganggap wajahmu sangat mengganggu. Dan ia menyukai Na-Ri.”

Duk-Sim pergi begitu saja meninggalkan Yeo-Joo. Yeo-Joo terlihat tetap tenang dan berkata, “Kamu tidak tahu kekuatan cinta pertama. Haruskah aku mengangkat rambutku ke atas mulai dari sekarang?”

7

Setelah sidang dihentikan sejenak, hakim membacakan keputusannya dimana ia menolak gugatan pembatalan pernikahan yang diajukan oleh Jung-Nam. Nan-Gil segera berdiri dan mencari Na-Ri. Duk-Bong memberitahunya bahwa Na-Ri sudah pergi sebelum putusan hakim dibacakan dan memilih menunggu di luar.

“Tidakkah kamu akan berterimakasih padaku?” tanya Duk-Bong.

Nan-Gil terdiam dan menatap ke arah Duk-Bong.

“Haruskah aku yang berterimakasih padamu?” tanya Duk-Bong lagi seraya pergi meninggalkan Nan-Gil.

8

Wan-Sik melapor pada Byung-Woo bahwa mereka telah kalah dalam sidang. Dengan geram Byung-Woo meminta Wan-Sik untuk menyeret Jung-Nam ke tempatnya dan memastikan Na-Ri melihat hal itu terjadi.

Sesuai dengan perintah ayahnya, Wan-Sik melakukan hal itu. Na-Ri yang melihatnya meminta Wan-Sik untuk melepaskan pamannya. Wan-Sik dengan santai meminta anak buahnya untuk melepaskan Jung-Nam dan mempersilahkan Jung-Nam untuk masuk sendiri ke mobil. Jung-Nam yang penakut tentu saja tidak butuh waktu lama untuk berpikir dan segera masuk ke dalam mobil.

“Kamu lihat itu? Ia masuk secara sukarela,” ujar Wan-Sik.

9

Na-Ri menemui Nan-Gil di depan gedung pengadilan.

“Terima kasih,” ucap Nan-Gil.

“Tidak perlu. Aku hanya melindungi tanahku,” respon Na-Ri.

“Kamu cukup bijak,” balas Nan-Gil.

“Dan itu adalah tanahku, jadi aku akan membuat keputusan. Aku tidak bisa meninggalkan paman seperti itu.”

“Aku akan mengurus pamanmu.”

Sesaat kemudian mobil Duk-Bong tiba.

“Kita sudah menegaskan hubungan kita secara legal. Jaga diri,” pamit Na-Ri seraya masuk ke dalam mobil Duk-Bong.

10

Kwon Soon-Rye (Jung Kyung-Soon) menyerahkan hasil investigasinya kepada Duk-Bong. Duk-Bong yakin ada sesuatu di balik penyerahan tanah yang dilakukan kakeknya kepada Jung-Im yang saat itu baru berusia 15 tahun, sesuatu yang dirahasiakan oleh keluarganya dan juga keluarga Na-Ri. Ia meminta pendapat Soon-Rye, namun Soon-Rye tidak mau ikut campur, malah pergi begitu saja meninggalkan bosnya.

11

Di Hong Dumplings, Nan-Gil memberitahu ketiga karyawannya agar bersiap-siap karena restoran bakal ramai setelah show mereka ditayangkan.

“Bagaimana dengan gaji kami?” tanya Lee Yong-Kyoo (Ji Yoon-Ho).

Nan-Gil meraup wajah Yong-Kyoo dengan kesal lantas pergi meninggalkan mereka, diikuti oleh Park Joon (Lee Kang-Min) dan Kang Han-Yi (Jung Ji-Hwan).

“Ia jadi makin enerjik,” gumam Yong-Kyoo.

12

Yeo-Joo menelpon Duk-Bong dan menanyakan tentang Na-Ri karena ponselnya dimatikan. Na-Ri juga tidak datang ke pesta perpisahan untuk dirinya, sehingga semua rekan-rekannya khawatir.

“Apa kau tahu alamat rumahnya?” tanya Duk-Bong.

“Haruskah aku mencari tahu?” tanya Yeo-Joo balik.

Duk-Bong tidak buang waktu dan langsung menutup telponnya. Ia kemudian mendatangi Nan-Gil dan menanyakan apakah ia tahu kontak Na-Ri. Nan-Gil jadi ikut khawatir dan segera mengecek nomer Na-Ri di ponsel yang ia berikan pada Nan-Gil. Yang ada hanyalah nomer rekan-rekannya. Ia pun meminta Duk-Bong untuk menelpon mereka saja.

13

Di tempat tinggalnya, Na-Ri sedang berlatih membuat adonan saat Kim Ran-Sook (Jeon Se-Hyun) datang dengan heboh. Ia mengaku datang karena Duk-Bong menelponnya dan menanyakan tentang kondisi Na-Ri. Ran-Sook heran dengan kondisi kamar Na-Ri yang seperti akan pindahan. Na-Ri tiba-tiba memeluk Ran-Sook.

“Aku senang kamu ada di sini,” ujarnya.

Ran-Sook melepaskan diri dari pelukan Na-Ri.

“Apa yang kamu lakukan dengan mematikan telponmu?” tanya Ran-Sook, “Apa kamu meminta cuti untuk menjadi pertapa kesepian?”

Na-Ri meneteskan air matanya. Ran-Sook jadi bingung, lalu memeluk sahabatnya itu menenangkannya.

14

Nan-Gil menunggu berita tentang Na-Ri dengan gelisah. Duk-Bong kemudian menelpon, memberitahu bahwa Na-Ri baik-baik saja. Na-Ri sendiri saat itu sedang berjalan-jalan mengendarai mobil dengan Ran-Sook. Ran-Sook memberitahunya bahwa Duk-Bong setiap menanyakan kabar Na-Ri.

“Mengapa kamu tidak menemuinya?” tanya Ran-Sook.

“Aku pikir aku seharusnya mengendarai mobil,” respon Na-Ri.

“Apakah ini gara-gara si preman pangsit?”

“Jangan panggil ayah tiriku preman.”

Mereka kemudian memperhatikan berita tentang hujan badai yang terjadi di luar kota Seoul.

15

Hujan badai ternyata juga melanda Seulgi-ri. Di malam hari, Nan-Gil hanya dengan mengenakan jas hujan, seorang diri bersusah payah memperbaiki atap greenhouse agar tanaman yang ada di dalamnya tidak rusak.

Alhasil, dua hari berturut-turut ia menjadi sakit. Yong-Kyoo dan Joon memintanya untuk pergi ke dokter, namun Nan-Gil menolak. Ancaman Yong-Kyoo untuk mengabari putrinya pun juga diabaikan oleh Nan-Gil.

Keluar dari kamar Nan-Gil, Yong-Kyoo berniat untuk memberitahu Na-Ri. Joon memberinya tanda untuk meminta tolong pada Duk-Sim. Meski mengatakan tidak mau melakukannya, Duk-Sim ternyata tetap melakukannya. Setelah mendapat nomer Na-Ri dari Duk-Bong, ia pun menelponnya, memberitahu Na-Ri bahwa Nan-Gil sakit parah dan mungkin malah sudah mati. Setelah menutup telponnya, Duk-Sim menangis dan pergi begitu saja meninggalkan Duk-Bong yang bingung dengan tingkah adik tirinya itu.

16

Beberapa waktu kemudian Na-Ri tiba di Seulgi-ri. Yoon-Kyoo yang melihatnya segera menghampirinya dan memberitahunya bahwa Nan-Gil menjadi sakit karena semalaman menjaga greenhouse. Na-Ri terdiam mendengarnya, lantas melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah.

“Apakah kamu tidak akan menemuinya?” tanya Yoon-Kyoo heran.

“Ia masih muda. Ia sudah besar. Ia tidak akan mati karena demam,” jawab Na-Ri sembari kembali berlalu.

Di dalam rumah, Na-Ri membuat teh untuknya. Setelah meminumnya, ia menguatkan dirinya sendiri dan berkata, “Kamu bisa melakukannya Hong Na-Ri. Ia masih ayah tirimu.”

Malam harinya, saat Nan-Gil tertidur di kamarnya, Na-Ri diam-diam mendatanginya dan duduk di sampingnya. Nan-Gil sempat membuka matanya sejenak dan melihat sosok Na-Ri di hadapannya, namun ia tertidur kembali setelahnya.

Pagi hari, Nan-Gil terbangun dan mendapati Na-Ri tertidur di sampingnya. Na-Ri ikut bangun sesaat kemudian dan langsung memeriksa suhu tubuh Nan-Gil. Meski suhu tubuh Nan-Gil sudah menurun, Na-Ri meminta agar Nan-Gil menemui dokter. Nan-Gil menolak dan mengatakan bahwa ia sudah mulai membaik karena sudah mulai lapar.

“Terserah maumu. Kamu tampak menyedihkan, ayah tiri,” ujar Na-Ri dingin.

Nan-Gil merespon dengan merapikan rambutnya.

“Aku seharusnya tidak berargumen dengan orang sakit, tapi tidakkah kamu bilang kamu terlalu sehat hingga lupa kapan terakhir kali terkena demam?” lanjut Na-Ri.

“Kamu mungkin ketularan demamku, pergilah keluar, aku akan membersihkan kamarku,” jawab Nan-Gil.

“Aku akan keluar nanti, setelah melihatmu menghabiskan buburmu dan meminum obatmu,” tegas Na-Ri.

Na-Ri mulai menyiapkan bubur untuk Nan-Gil.

“Tidak perlu tersentuh. Duk-Shim membawakan bubur ini dari rumahnya, sedang obat-obatan ini dari apotek, yang aku lakukan hanyalah mengatur meja,” ujar Na-Ri.

Na-Ri memberikan mangkok bubur pada Nan-Gil. Saat Nan-Gil hendak mulai makan, Na-Ri terus memperhatikannya dengan wajah tanpa ekspresi.

“Jika kamu berencana untuk terus menatapku seperti itu, silahkan pergi saja,” ujar Nan-Gil risih.

“Jadi? Apakah kamu melindungi greenhouse kita dari angin dan hujan?” tanya Na-Ri.

“Tidak, itu ambruk,” jawab Nan-Gil.

“Kamu bahkan tidak bisa melindunginya, tapi kamu sakit di tempat tidur selama tiga hari. Aku pikir kamu bagus dalam melindungi apapun. Aku kecewa.”

“Itu bodoh untuk bertarung melawan alam.”

“Di film, semuanya berjalan lancar jika tokoh utama yang melakukannya. Kenyataan memang kejam.”

“Bahkan dalam film, itu berakhir dengan mereka ketakutan terhadap alam.”

“Kamu pasti sudah sembuh, melihat bagaimana kamu beradu pendapat denganku.”

“Adu pendapat denganmu? Perhatikan bagaimana kamu berbicara denganku.”

Setelah minta maaf, Na-Ri pun berdiri dan hendak pergi meninggalkan kamar Nan-Gil.

“Terima kasih,” ujar Nan-Gil, “Aku tidak tahu siapa yang memberitahumu, tapi kamu tidak perlu datang hanya karena aku demam.”

“Aku akan mengurusnya, ayah tiri,” jawab Na-Ri.

“Dan jangan matikan telponmu. Semua orang khawatir.”

“Semua orang khawatir, tapi kamu tidak merasa perlu untuk menelpon sendiri. Kamu biarkan Duk-Bong melakukannya sebagai gantinya.”

Dengan kesal Na-Ri menendang pelan nampan obat milik Nan-Gil.

“Aku akan segera kembali, ayah tiri,” ujar Na-Ri.

17

Dan sesuai perkataannya, beberapa saat kemudian Na-Ri kembali, kali ini dengan membawa seluruh barang-barangnya. Setibanya di depan rumahnya, ia meminta sopir pickup yang ia kendarai untuk memasukkan barang-barangnya ke lantai 2.

Duk-Bong mengamati koran-koran lama yang dibawakan oleh Soon-Rye sebelumnya. Ternyata meledaknya pabrik pembuangan limbah kimia milik kakeknya lah yang dulu membuat panti asuhan milik orang tua Jung-Im terbakar.

Setelah berpikir sejenak, Duk-Bong akhirnya menghubungnya ayahnya, ketua Kwon, yang sedang asyik bermain golf.

“Ayah, ayo kita ikuti saja blueprint-ku,” ujar Duk-Bong.

“Aku bukan pekerja sukarela,” respon ayahnya. “Kita tidak akan membuatnya menjadi taman apabila bisa menjadi bangunan.”

“Apa kamu tahu apa yang sudah dilakukan kakek terhadap tanah itu?”

“‘Orang mati tidak berbicara’, tidakkah kamu tahu pepatah populer itu?”

“Ia membangun panti asuhan di atas bahan peledak. Itu pembunuhan! Aku tidak akan menyentuh tanah itu.”

“Lupakan saja jika itu yang ingin kamu lakukan. Keluarga seharusnya melindungi satu sama lain.”

“Aku sudah muak denganmu dan juga keluarga kita,” ujar Duk-Bong sembari menutup telponnya.

18

Sesaat kemudian ia menyadari keberadaan Duk-Sim. Duk-Sim lalu memberitahunya bahwa Na-Ri kini pindah ke Seulgi-ri. Ia juga memberikan sebuket bunga pada Duk-Bong, untuk diberikan pada Na-Ri.

Nan-Gil keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur untuk membantu membuat pangsit. Yong-Kyoo segera menghampirinya dan memintanya untuk beristirahat saja karena mereka bisa mengatasi urusan restoran tanpa perlu campur tangan Nan-Gil.

“Juga, putrimu baru saja pindah kemari,” ujar Yong-Kyoo.

Nan-Gil kaget mendengarnya dan bergegas menuju rumah Na-Ri.

19

Ditemui Nan-Gil, Na-Ri mengatakan bahwa rumah itu adalah rumahnya juga. Dan berhubung ia sedang menganggur, maka hanya buang-buang uang jika ia menyewa apartemen di Seoul. Ia pun berniat untuk tinggal di Seulgi-ri selama setahun.

“Temui aku setelah bekerja. Kamu harus menandatangani perjanjian,” pesan Na-Ri.

“Perjanjian apa?” tanya Nan-Gil heran.

“Setelah sidang, aku jadi suka hukum. Aku tidak ingin kamu berada di dekatku, jadi kita harus membuat perjanjian mengenai ruangan yang akan kita gunakan masing-masing. Bawa segala sesuatu yang kamu inginkan untuk ditambahkan di surat perjanjian,” jelas Na-Ri.

Nan-Gil langsung pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa. Di saat yang sama, bel pintu berbunyi. Duk-Bong yang datang, dengan membawa buket bunga.

“Silahkan, aku akan pergi bekerja,” respon Nan-Gil saat melihatnya.

Dengan malu-malu Duk-Bong menyembunyikan bunga tersebut di balik punggungnya. Ia berdalih hanya mampir karena akan pergi ke Seoul.

“Kamu bisa lebih sering mampir,” ujar Nan-Gil, lantas keluar meninggalkan mereka.

“Apa yang ia katakan?” tanya Na-Ri.

“Sudah lama tidak bertemu dan aku bahkan membawa ini,” jawab Duk-Bong sembari menunjukkan buket bunga yang ia bawa, “Bagaimana bisa kamu menyapaku seperti itu?”

Duk-Bong terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “Karena aku sudah membawanya, ambillah.”

20

Na-Ri berpura-pura senang menerimanya, tapi Duk-Bong menyadarinya dan sama sekali tidak terkesan.

“Ayah tirimu memintaku untuk lebih sering mengunjungimu,” ujar Duk-Bong kemudian.

Na-Ri kaget mendengarnya.

Byung-Woo sedang minum bersama dengan Wan-Sik di sebuah klub. Ia menanyakan seberapa jauh Wan-Sik melakukan sesuatu untuknya. Wan-Sik menjawab bahwa ia akan melakukan apa saja yang diminta Byung-Woo.

“Ada sesuatu yang aku butuh kamu lakukan,” ujar Byung-Woo.

Tanpa disangka Nan-Gil datang dan langsung ikut duduk di meja mereka.

“Kamu pasti hilang akal hingga berani datang ke sini,” respon Byung-woo. “Aku berada dalam penyidikan gara-gara kamu dan dipanggil oleh kejaksaan.”

Nan-Gil mengancam Byung-Woo untuk tidak menjebaknya atas tuduhan pembunuhan karena ia akan menceritakan pada polisi tentang segalanya.

“Kenapa ayahmu akan menjebakmu? Kamu lebih takut Na-Ri mengetahui hal itu ketimbang polisi,” balas Byung-Woo.

Nan-Gil berdiri dan berkata, “Jika kamu ingin diperlakukan seperti seorang ayah, jangan datang mengancamku dengan dokumen palsu.”

21

Nan-Gil meninggalkan tempat tersebut. Ada Joon dan Han-Yi menunggunya di luar. Nan-Gil kemudian meminta mereka untuk mendatangi satu tempat lagi, tempat Kim Jung Sook. Nan-Gil masih tidak yakin bahwa Jung-Sook mengatakan yang sebenarnya karena saat sebelumnya mereka datang, ia langsung menceritakan tentang Hong Sung-Kyu begitu saja tanpa menanyakan terlebih dahulu siapa Nan-Gil dan keperluannya. Namun di pertemuan keduanya kali ini, Nan-Gil makin bimbang karena Jung-Sook mengaku bahwa ia sendiri yang mengurus pemakaman Sung-Kyu saat ia meninggal lima tahun yang lalu.

Byung-Woo merasa heran bagaimana Nan-Gil bisa mengetahui tentang klub tempat mereka bertemu sebelumnya. Ia yakin bahwa ada seseorang yang membantunya. Setelah melihat foto-foto Nan-Gil bersama karyawan Hong Dumplings di internet, ia pun memerintahkan Wan-Sik untuk menangkap karyawan Hong Dumplings tersebut dan mengorek informasi dari mereka. Wan-Sik mengatakan bahwa setelah mereka menangkap ketiga anak buah Nan-Gil, ia akan mendatangi Hong Dumplings dan mencari informasi di sana.

“Belakangan ini, kamu terlihat sangat ingin menangkap Go Nan-Gil. Kamu biasanya takut setengah mati kepadanya,” ujar Byung-Woo.

Wan-Sik hanya terdiam.

22

Yeo-Joo tiba di sebuah klub bersama pria yang sebelumnya dijodohkan untuknya oleh Duk-Bong. Duk-Bong tiba tak lama kemudian dan menyapa mereka berdua. Teman-teman Duk-Bong yang lain mulai bergosip tentang Yeo-Joo yang mirip dengan mantan tunangan Duk-Bong. Tahu dirinya dibicarakan, Duk-Bong meminta Yeo-Joo untuk ikut dengannya keluar.

Di luar, Duk-Bong langsung memarahi Yeo-Joo karena tidak membawa mantelnya.

“Aku sedang bersama pasanganku. Kenapa aku harus mengikutimu pergi?” tanya Yeo-Joo.

“Tidakkah kamu lihat orang-orang berbicara?” tanya Duk-Bong balik.

“Aku cepat dalam urusan seperti ini dan aku tidak merasakannya,” jawab Yeo-Joo.

“Aku berbicara tentangku, bukan kamu. Aku dibuat tampak bodoh,” balas Duk-Bong dengan nada tinggi.

“Kenapa kamu berteriak padaku? Aku datang ke sini dengan pasanganku. Aku tidak tahu kamu akan datang.”

“Kamu tidak tahu?” tanya Duk-Bong tidak percaya.

“Yah, aku tahu. Tapi itu tidak penting bagiku.”

“Aku benci saat orang berbicara tentangku.”

“Apakah kamu berbicara tentang mantan tunanganmu? Jika kamu bertunangan lalu putus, anggap saja itu gosip dari temanmu dan hiraukan. Mereka berpikir itu lucu karena kamu jadi sedih. Jika ia tampak seperti aku dan aku ada di sini denganmu seperti ini, mereka akan lebih membicarakanmu.”

“Siapa bilang kamu mirip dengannya?” bentak Duk-Bong.

“Kamu jadi gusar saat berbicara tentangnya. Aku rasa kamu belum bisa melupakannya.”

Duk-Bong menahan emosinya lalu melangkah mendekati Yeo-Joo. Ia berkata, “Kamu dan Na-Ri benar-benar berbeda. Apa yang kamu lihat pada Na-Ri adalah segalanya. Ia tidak pernah menyembunyikan sesuatu. Bagaimanapun, ia sulit. Di sisi lain, aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan, tapi kamu gampangan.”

Yeo-Joo tersentak mendengar kata-kata Duk-Bong. Matanya mulai berkaca-kaca dan ia berusaha menahan tangisnya.

“Jika kamu hendak berbicara omong kosong, jangan rusak hariku dan pergilah,” ujar Yeo-Joo sembari melangkah masuk ke dalam klub.

23

Yong-Kyoo, Joon, dan Han-Yi berpamitan pulang pada Nan-Gil. Sepeninggal mereka, Nan-Gil mendapat pesan dari Na-Ri untuk menemuinya dan mengecek perjanjian yang akan mereka buat. Sementara itu, Yong-Kyoo mengajak kedua rekannya untuk makan malam bersama. Ia pun kemudian ikut dengan mobil mereka. Tanpa disadari, dua buah mobil muncul dari belakang mereka dan mulai membuntuti ketiganya.

Di rumah, setelah berbasa-basi, Na-Ri menunjukkan daftar perjanjian yang sudah ia buat. Mulai dari pintu belakang harus dikunci, saling mengabarkan bila sakit, hingga dilarang membicarakan tentang ibu. Nan-Gil tidak menyetujuinya dan berargumen dengan Na-Ri.

“Tidak bisa dipercaya. Kenapa kamu tidak mau bekerjasama?” sergah Na-Ri kesal.

“Jangan seperti anak kecil. Kenapa kamu datang jika kamu merasa tidak nyaman?” tanya Nan-Gil balik. “Jika kamu sebut ini rumah kita, kenapa kamu membuat hal semacam ini?”

“Tidakkah kamu tahu kenapa? Kenapa kamu pikir aku membuatnya?”

Nan-Gil terdiam.

24

Di kota, orang-orang Da Da Finance mencegat Joon, Yong-Kyoo, dan Han-Yi. Joon meminta kedua temannya kabur sementara ia berusaha melawan mereka. Sempat kabur, Han-Yi kembali lagi untuk membantu Joon, sedang Yong-Kyoo terus berlari dengan dikejar oleh beberapa orang anak buah Da Da Finance. Kalah jumlah, Joon dan Han-Yi akhirnya tertangkap.

“Aku datang ke sini untuk diriku sendiri,” lanjut Na-Ri. “Aku akan menjadi egois. Aku berusaha bertingkah seolah-olah tidak ada yang terjadi, tapi energiku habis dan aku tidak bisa bergerak. Itu sebabnya aku memutuskan untuk menghadapinya. Jika aku melakukan itu, aku akan bisa menerima hubungan kita.”

“Baiklah. Ayo lakukan itu,” jawab Nan-Gil lirih. “Aku tahu kamu selalu bijaksana.”

“Tidak, aku jauh dari bijaksana.”

“Kamu harus beristirahat untuk hari ini. Kamu baru saja pindah, kamu pasti lelah. Aku harus mengaduk adonan.”

“Kamu butuh frase yang lebih baik,” respon Na-Ri.

Sebelum Nan-Gil keluar dari pintu, Na-Ri berkata, “Aku ingat tentang ayahku. Aku rasa kita pergi naik pesawat untuk mengunjungi rumah nenek.”

Nan-Gil terdiam. Na-Ri melanjutkan dengan bertanya tentang proses syuting acara TV dan apakah Nan-Gil menyebutkan tentang ayahnya di acara tersebut. Nan-Gil mengiyakan. Ia pun kemudian berpamitan dan keluar dari rumah Na-Ri.

25

Yong-Kyoo akhirnya bisa meloloskan diri dari kejaran anak buah Da Da Finance. Ia segera menghubungi Nan-Gil dan menceritakan apa yang terjadi. Nan-Gil yang saat itu sedang membuat adonan segera pergi ke kota dan mencari Yong-Kyoo.

Sementara itu, tak lama setelah Nan-Gil pergi, Wan-Sik datang ke Hong Dumplings, masuk ke dalam kamar Nan-Gil, dan mulai menggeledah isi kamarnya.

Na-Ri sendiri mendapat telpon dari Duk-Bong, mengajaknya bertemu di depan rumah Na-Ri. Na-Ri sebenarnya enggan, tapi Duk-BOng mengaku baru saja mengalami hari yang buruk.

“Tidak sebagai pria dan wanita, tapi sebagai teman. Kamu bisa membantu memberi nasehat padaku,” ujar Duk-Bong.

26

Na-Ri akhirnya mengiyakan. Saat hendak menunggu kedatangan Duk-Bong di depan rumah, Na-Ri mampir ke restoran untuk menemui Nan-Gil. Begitu melihat Nan-Gil tidak ada di sana dan ada adonan pangsit di dapur, Na-Ri jadi yakin jika Nan-Gil selama ini tidak pernah mengaduk adonan saat ia mengatakan akan melakukan hal itu.

Mengira Nan-Gil ada di dalam kamar, Na-Ri berteriak memberitahunya kalau ia akan keluar sebentar. Wan-Sik yang ada di dalam langsung bersembunyi di balik tembok. Karena tidak ada jawaban, Na-Ri hendak mengetuk pintu kamar Nan-Gil, namun ia mengurungkan niatnya.

Di saat yang sama, Nan-Gil yang sudah bertemu dengan Yong-Kyoo menuju tempat dimana sebelumnya Joon dan Han-Yi ditangkap. Sudah tidak ada seorang pun di sana. Nan-Gil lalu menghubungi Wan-Sik.

Wan-Sik yang masih bersembunyi kaget mendengar ponselnya berbunyi. Demikian pula Na-Ri yang berada di luar kamar, mendengar bunyi ponsel tersebut. Setelah berpikir sejenak, Wan-Sik memutuskan untuk menerima telpon tersebut sembari melangkah keluar kamar.

“Apa yang kamu lakukan terhadap staffku?” tanya Nan-Gil.

“Na-Ri sekarang ada di hadapanku,” jawab Wan-Sik seraya mematikan telponnya dan perlahan melangkah mendekati Na-Ri.

Mendengar hal itu, Nan-Gil segera berlari dan mencari taksi untuk kembali ke Hong Dumplings. Sesaat sebelum taksi tiba, telponnya berbunyi dan terlihat yang menelpon adalah Joon. Begitu masuk ke dalam, Nan-Gil mengangkat telpon tersebut dan menanyakan dimana Joon berada.

Preview Episode 12

Berikut ini adalah video preview episode 12 dari drakor Man Living At My House / Sweet Stranger And Me:

» Sinopsis eps 12 selengkapnya

Tema artikel yang berhubungan: , , , ,

Reply