Rekap Sinopsis Goblin Episode 3 & Preview Episode 4 (9 Desember 2016)

Di sinopsis Goblin episode sebelumnya, bibi Eun-Tak (Yum Hye-Ran) yang dikejar oleh dua orang debt collector berdalih bahwa buku tabungannya dicuri oleh Ji Eun-Tak (Kim Go-Eun) sehingga ia tidak bisa membayar hutangnya. Alhasil, mereka beralih menculik Eun-Tak dan memaksanya memberitahu dimana ia menyimpan buku tabungan tersebut. Eun-Tak yang ketakutan tanpa sengaja memanggil sang Goblin, Kim Shin (Gong Yoo), yang kemudian datang menolongnya bersama dengan Wang Yeo (Lee Dong-Wook), sang malaikat pencabut nyawa. Apa yang akan terjadi selanjutnya di sinopsis drama korea Guardian: The Lonely and Great God episode 3 kali ini?

Dok. gambar dan video © tvN of Korea Selatan

Sinopsis Episode 3

Kim Shin dan Wang Yeo melangkah perlahan tapi pasti ke arah mobil yang ditumpangi preman debt collector dan Eun-Tak.

“Siapa punk itu? Apa mereka men in black?” tanya salah seorang preman.

Kaca lampu mobil mereka tiba-tiba meledak dan sosok Kim Shin serta Wang Yeo menghilang begitu saja. Mengira mereka sudah pergi, preman segera memacu mobilnya. Tanpa diduga, sebuah sinar biru melintas, dan mobil itu terbelah menjadi dua!

Sisi mobil bagian kiri, yang kebetulan ditumpangi oleh kedua orang preman debt collector, terus melaju, sementara sisi bagian kanan, tempat Eun-Tak duduk, bergerak sebentar dan akhirnya berhenti. Eun-Tak berteriak ketakutan memanggil-manggil nama ayahnya.

Di belakang, Kim Shin berdiri dengan menggenggam pedangnya. Setelah dijatuhkan, pedang tersebut menghilang. Kim Shin lantas melangkah menghampiri Eun-Tak sembari memungut syal merahnya yang terjatuh di jalan. Eun-Tak sendiri, saat membuka mata, baru menyadari ada Wang Yeo yang berdiri di samping mobil, melambaikan tangan kepadanya. Kim Shin kemudian membuka pintu mobil dan meminta Eun-Tak untuk turun sambil membawa barang-barangnya.

“Apa kamu terluka? Dimana?” tanya Kim Shin.

Eun-Tak tidak menjawab, hanya menatap ke arah Kim Shin sembari menahan tangisnya. Sesaat kemudian mobil terjatuh ketika Wang Yeo melangkah maju.

“‘Apa kamu terluka?’ Bagaimana kamu bisa menanyakannya setelah kamu membelah mobil menjadi dua seperti itu?” tanya Eun-Tak.

Kim Shin tidak menghiraukannya lalu pergi menghampiri dua orang preman yang sedang tidak berdaya karena tertimpa mobil. Mereka berteriak ketakutan begitu melihat kedatangan Kim Shin. Dengan dingin, Kim Shin mengatakan bahwa jalan tempat mereka berada saat ini akan hilang mulai dari sekarang hingga 2 hari ke depan, sehingga mereka baru akan diketemukan oleh polisi dua hari lagi.

Setelah Kim Shin pergi, giliran Wang Yeo yang menghampiri mereka. Masih dengan dingin, ia menghilangan ingatan mereka dan membuat mereka bermusuhan satu sama lain, yang sekaligus menjadi penyebab kecelakaan itu.

Dengan gontai Eun-Tak melangkah diikuti oleh Kim Shin dan Wang Yeo di belakangnya.

“Apakah kamu tidak membawa mobil?” tanyanya.

“Kamu tidak sering membawa mobil,” jawab Kim Shin.

“Apakah aku… aku bertanya ini sekedar berjaga-jaga… apakah aku sudah mati?” tanya Eun-Tak lagi. “Apakah ini jalan menuju akhirat?”

“Ini jalanan luar kota. Dan kita baru saja menyelamatkanmu,” jawab Kim Shin.

“Kalau begitu akankan kamu membunuhku sekarang? Apakah aku tertangkap hidup-hidup?”

“Aku penasaran,” tanya Wang Yeo pada Kim Shin melalui telepati, “Kapan kita akan mendengar ia berterima kasih pada kita karena telah menyelamatkan nyawanya?”

“Tenanglah,” jawab Kim Shin, melalui telepati. “Kita bersama dengan gadis berumur 19 tahun yang masih marah.”

“Aku tidak pernah membayangkan kalian berdua akan seakrab ini,” lanjut Eun-Tak. “Bagaimana bisa kamu membawa Grim Reaper ke orang yang memintamu untuk menyelamatkan nyawanya?”

“Aku penasaran,” tanya Wang Yeo yang sudah mulai kesal pada Kim Shin, masih melalui telepati, “Kapan kita akan mendengar ia berterima kasih pada kita…”

“Diamlah!” bentak Kim Shin pada Wang Yeo, yang membuat Eun-Tak ikutan kaget.

“Kenapa kamu berteriak kepadaku?” tanya Eun-Tak pada Kim Shin.

Kim Shin bingung hendak menjawab apa, sementara Wang Yeo malah menunjuk ke arah Kim Shin hingga Eun-Tak makin kesal.

“Kenapa tidak ada satupun mobil di jalan bodoh ini?” bentak Eun-Tak seraya melangkah meninggalkan mereka berdua.

Wang Yeo menghampiri Kim Shin yang masih bingung hendak menjawab apa dan berkata, “Seseorang memastikan tidak ada satu pun kendaraan di jalan ini selama 2 hari.”

Di sebuah restoran, Eun-Tak menanyakan bagaimana Kim Shin bisa datang, padahal ia tidak berhasil memadamkan api. Kim Shin menjawab bahwa ia mendengar teriakan minta tolong yang diucapkan oleh Eun-Tak dalam hati. Eun-Tak lalu memberitahunya bahwa ia tidak lagi membenci Kim Shin karena sudah menyadari bahwa ia bisa terus menjalani hidupnya selama 19 tahun ini berkat Kim Shin yang dulu menyelamatkan ibunya.

“Aku ingin mengatakan ini jika suatu saat kita bertemu lagi, meski kamu mungkin berharap kita tidak akan,” ujar Eun-Tak. “Mulai dari sekarang, aku tidak akan membuat permohonan, memikirkan, atau melakukan apapun, jadi kamu bisa santai dan pergi. Ku harap perjalananmu aman dan bertemu seseorang yang baik. Seseorang yang cantik dan baik, yang akan menemukan dirimu yang sesungguhnya. Tidak wajahnya, tapi hatinya, karena kamu tidak peduli dengan penampilan.”

Eun-Tak lantas hendak pergi, tapi Kim Shin memintanya untuk makan bersamanya terlebih dahulu. Eun-Tak tetap menolak. Dengan tersenyum Kim Shin merespon bahwa Eun-Tak masih membencinya. Eun-Tak tidak mengatakan apa-apa saat mendengarnya.

Yoo Duk-Hwa (Yook Sung-Jae) menceritakan apa yang ia tahu tentang Eun-Tak pada Kim Shin. Ia lantas memberikan berkas daftar orang-orang yang telah membuat Eun-Tak menangis, termasuk tentu saja bibinya dan kedua saudara sepupunya.

“Ngomong-ngomong, buat apa kamu memintaku untuk melakukan ini?” tanya Duk-Hwa.

“Untuk menghukum mereka,” jawab Kim Shin singkat, sembari memunculkan dua emas batangan di atas meja.

Duk-Hwa yang juga ingin memilikinya langsung meminta agar Kim Shin juga menghukumnya saja. Kim Shin tidak menghiraukannya dan menutup berkas dari Duk-Hwa yang ada di meja. Dalam sekejap, emas tersebut berpindah ke laci meja Eun-Tak.

Bibi Eun-Tak jadi kesal sendiri karena belum mendapat kabar lagi dari debt collector. Ia lantas menggeledah kamar Eun-Tak dan menemukan emas batangan tersebut.

Kedua anaknya datang sesaat kemudian. Bibi Eun-Tak langsung mengira bahwa Eun-Tak telah membeli emas tersebut dengan menggunakan uang asuransi ibunya. Tanpa pikir panjang, kedua anaknya mengajak ibunya untuk menjual emas tersebut dan membagi hasilnya secara rata. Bibi Eun-Tak keberatan dan merebut kembali emas tersebut.

Setelah semalaman saling mengawasi kedua emas batangan tersebut, bibi Eun-Tak dan anak laki-lakinya terbangun, mendapati bahwa Gyeong Mi (Choi Ri) sudah membawa kabur emas tersebut. Mereka segera berusaha mencarinya kesana kemari.

Dari sebuah cafe, Kim Shin memperhatikan ibu dan anak yang panik itu dengan tampang datar. Perhatian Kim Shin kemudian tertuju pada boyband yang sedang beraksi di televisi. Saat ditanya oleh Duk-Hwa, Kim Shin mengatakan bahwa raja (Kim Min-Jae) yang dulu ia lindungi berusia sepantaran mereka, 17 tahun.

“Apa kamu kasim?” tanya Duk-Hwa penasaran.

“Aku adalah penjaganya,” jawab Kim Shin, membuat semangat Duk-Hwa hilang.

Kembali ke rumah, Kim Shin menanyakan pada Wang Yeo apakah member boyband tersebut adalah reinkarnasi dari raja yang telah membunuhnya.

“Lupakanlah. Kebencian dan keinginan untuk membalas dendam membuatmu menyedihkan,” ujar Wang Yeo.

“Apa kamu senang karena kamu tidak ingat apapun?” sergah Kim Shin.

“Aku tidak bisa menjawab hanya dengan melihat, aku harus menyentuhnya,” jawab Wang Yeo.

Ia lalu menanyakan kenapa Kim Shin yakin bahwa Raja akan bereinkarnasi sebagai pria. Di TV kemudian muncul aksi panggung sebuah girlband. Kim Shin jadi penasaran jangan-jangan salah satu dari mereka adalah reinkarnasi sang Raja.

“Itu dia, bukan?” tanya Kim Shin sambil terpana, “Ku rasa aku sudah siap untuk memaafkannya.”

“Kamu bilang itu adalah 1000 tahun kemarahanmu,” sindir Wang Yeo.

“Aku yakin ia punya alasannya tersendiri,” jawab Kim Shin, masih tetap terpana. “Seperti yang kamu tahu, kemarahan dapat ditemukan dimana saja.”

Wang Yeo jadi kesal mendengarnya. Ia pun pergi meninggalkan Kim Shin, sementara Kim Shin asyik mengikuti gerakan girlband tersebut.

Wang Yeo tiba di sebuah rumah sakit. Sudah ada 3 orang rekannya sesama Grim Reaper berada di sana. Dua di antara masih baru dan cukup bersemangat. Seorang lagi bergabung tak lama kemudian. Ia adalah rekan Grim Reaper yang ditemui Wang Yeo beberapa waktu lalu. Ia memberitahu Wang Yeo bahwa saat ini sudah dibentuk tim khusus untuk menangani jiwa-jiwa yang hilang, sehingga Wang Yeo hanya perlu memberikan daftarnya pada mereka.

Seorang Grim Reaper wanita, yang juga ‘karyawan’ baru, lewat di depan mereka. Setelah memberi salam perkenalan, ia pun berlalu.

“Ia seharusnya menjadi malaikat. Kenapa ia menjadi grim reaper?” ujar salah seorang rekan Wang Yeo.

Tak lama seorang pasien gawat darurat dibawa masuk oleh petugas emergency. Wang Yeo berdiri, hendak menjalankan tugasnya. Sebelum ia pergi, rekannya memberitahu bahwa di akhir bulan nanti ada pesta penyambutan batch baru dan akan ada penalti bagi siapa saja yang tidak hadir. Wang Yeo merespon dengan melambaikan tangannya.

Orang yang menjadi obyek tugas dari Wang Yeo ternyata adalah seorang dokter, bukan pasiet gawat darurat yang baru saja masuk. Ia mati karena kecapekan bekerja. Dokter tersebut, Yeong Jae, seakan tidak percaya mendengarnya. Namun sesaat kemudian tubuhnya terlihat sedang dibawa oleh beberapa rekannya. Wang Yeo kemudian mengucapkan terima kasih karena Yeong Jae sudah melakukan pekerjaannya dengan baik dan berhasil menyelamatkan pasien gawat darurat itu.

Eun-Tak pulang dari bekerja dan entah mengapa ia berulang kali melihat iklan yang berkaitan dengan goblin sepanjang perjalanannya. Hari berikutnya ia habiskan dengan melamun, membayangkan kembali tentang saat-saat yang telah ia lalui bersama Kim Shin. Di tempat lain, Kim Shin pun melakukan hal yang sama.

Di toko buku, Eun-Tak tidak berhasil menemukan buku tentang goblin yang ia baca beberapa hari lalu. Ia lalu mendengar seseorang hendak mengembalikan sebuah buku karena di dalamnya terdapat memori (daun maple) milik orang lain. Begitu menyadari bahwa itu adalah buku yang ia cari, Eun-Tak mengatakan bahwa ia akan membeli buku tersebut.

Tak lama, Eun-Tak dan Duk-Hwa, orang yang tadi hendak mengembalikan buku itu, duduk bersama. Duk-Hwa meminta $10 untuk buku tersebut. Saat hendak membayarnya, Eun-Tak meminta potongan karena buku tadi sudah jadi buku bekas karena ia beli dari tangan kedua. Duk-Hwa menolak. Dengan berat hati Eun-Tak memberikan uang satu-satunya yang ia miliki pada Duk-Hwa.

Duk-Hwa pulang ke rumah dan mendapati kakeknya (Kim Seong-Kyeom) berada di sana bersama dengan Wang Yeo. Ia memberitahu Duk-Hwa bahwa mereka kedatangan tamu. Salah tingkah dan takut ketahuan, Duk-Hwa lantas menanyakan siapakah Wang Yeo dan apa tujuannya datang ke rumah. Begitu melihat Kim Shin keluar dari kamarnya, Wang Yeo langsung menunjuk ke arah Kim Shin.

“Aku… Aku adalah temannya. Aku berkunjung,” ujar Wang Yeo.

“Oh, kamu berkunjung. Kamu pasti sahabat baik pamanku,” respon Duk-Hwa. “Apa kamu akan membuat pesta sebelum ia pergi keluar negeri?”

Bingung tidak tahu harus menjawab apa, Wang Yeo memandang ke arah Kim Shin dan melambaikan tangannya.

“Selamat tinggal,” ujarnya, “Jaga diri. Jangan pernah kembali.”

Kim Shin membalas lambaian tangan Wang Yeo, sementara Wang Yeo masih terus memberikan pesan, “Bahagialah untuk waktu yang lama. Terus seperti itu hingga kamu mati.”

“Kamu bisa pergi. Kita bukanlah teman,” balas Kim Shin, sambil tetap melambaikan tangan. “Keluarlah dari rumahku. Jangan pernah kembali.”

“Paman, kamu tidak bisa berkata seperti itu pada sahabatmu,” timpal Duk-Hwa.

“Apa kamu pikir kamu adalah pengecualian? keluarlah secepat yang kamu bisa,” lanjut Kim Shin, masih tetap melambaikan tangannya.

Duk-Hwa duduk berdua dengan Wang Yeo di depan pintu sambil mengatai Kim Shin yang telah mengusir mereka berdua. Tak lama kemudian Kim Shin muncul dari balik pintu dan mempersilahkan Wang Yeo untuk masuk kembali.

“Satu kosong untukku,” ujar Kim Shin sembari tersenyum puas.

Dengan kesal Wang Yeo berdiri dan menghilang begitu saja.

Kim Shin sedang bersiap untuk tidur saat tiba-tiba ia melompat kaget. Ternyata ada kain putih dengan tulisan “Selamat tidur, kita seri sekarang,” yang dibuat dengan menggunakan darah kuda, sesuatu yang menjadi pantangan bagi goblin. Dengan bersusah payah Kim Shin berusaha untuk menyingkirkannya.

Kim Sun (Yoo In-Na) akhirnya tahu bahwa selama ini Eun-Tak menumpang tidur di restorannya. Eun-Tak segera meminta maaf kepadanya. Tapi begitu tahu penyebabnya adalah bibinya, Kim Sun tidak mempermasalahkannya. Ia bahkan memutuskan untuk membayar gaji Eun-Tak per minggu agar ia bisa mengurus dirinya. Setelah itu, Kim Sun meminta Eun-Tak untuk menggorengkan cumi untuknya.

Tak lama kemudian, Eun-Tak melakukan hal yang diminta oleh Kim Sun. Gara-gara melamun memikirkan Kim Shin, tanpa sengaja cuminya menjadi terbakar. Reflek, Eun-Tak meniupnya hingga mati. Ia langsung tersadar bahwa itu akan membuat Kim Shin muncul. Dan benar, sesaat kemudian Kim Shin, yang sebenarnya juga ngarep untuk dipanggil, sudah berada di dekatnya.

“Aku punya pertanyaan,” ujar Eun-Tak.

“Aku tidak akan memberimu uang $5000,” potong Kim Shin.

“Kamu mengejutkanku,” respon Eun-Tak, “Ku pikir kamu bilang kamu tidak akan mengaku padaku. Itu karena kamu hanya berasumsi dan mengatakan sesuatu secara random.”

“Sejak kapan semua ini jadi salahku?”

“Sejak kamu mengatakan padaku kalau aku seharusnya melihat sesuatu. Jadi apa tepatnya sesuatu yang seharusnya aku lihat itu agar jadi berguna untukmu?”

“Jika aku mengatakan kepadamu, apakah kamu akan mengatakn padaku kalau kamu bisa melihatnya?” tanya Kim Shin.

“Tidak, aku akan mengatakan kepadamu kalau aku tidak bisa melihatnya meskipun aku bisa,” bantah Eun-Tak. “Bagaimana kalau kamu mulai jadi baik padaku karena aku bisa melihatnya? Kamu mungkin tiba-tiba memberiku uang $5000 dan membelikanku steak. Kamu mungkin bahkan akan bertanya padaku jika aku menginginkan sesuatu. Lalu aku akan jadi lelah karena kamu begitu menjengkelkan.”

“Aku tidak pernah dengar hal semacam itu. Aku bersumpah. Aku belum pernah mendengar hal semacam itu sebelumnya.”

“Jangan menjawabku kalau kamu tidak ingin.”

“Tidakkah kamu melihat sesuatu yang spesial? Itu seharusnya terlihat menyakitkan.”

Eun-Tak melihat ke arah dada Kim Shin, lalu berkata, “Oooh, itu?”

“Kamu bisa melihatnya?” tanya Kim Shin penasaran.

“Aku mengerti sekarang. Selamat tinggal, aku sibuk, jadi aku harus pergi.”

“Hei, apa kau mau makan steak? Apa kamu menginginkan sesuatu?” cegah Kim Shin.

“Aku ingin $5000,” jawab Eun-Tak.

“Aku pikir kamu sibuk. Pergilah,” respon Kim Shin.

“Kalau begitu aku ingin steak,” jawab Eun-Tak sambil berlalu tanpa menunggu jawaban Kim Shin.

Di sebuah restoran, Eun-Tak makan potongan demi potongan steak yang dibelikan oleh Kim Shin dengan lahap. Dengan nada tinggi Kim Shin lantas menanyakan tentang apa yang sudah dilihat oleh Eun-Tak. Dengan dingin Eun-Tak mempertanyakan sikap Kim Shin yang seperti itu. Berhubung penasaran, mau tidak mau Kim Shin mengalah dan meminta maaf, lantas menanyakan apakah Eun-Tak ingin minum jus segar.

Di sebuah cafe, Kim Shin mempersilahkan Eun-Tak untuk memilih menu jus yang ia inginkan. Tanpa sungkan Eun-Tak memilih menu dengan porsi besar. Tiba-tiba Wang Yeo sudah berada di belakang mereka dan hendak ikut memesan. Eun-Tak yang kaget segera bersembunyi di balik Kim Shin, sementara Kim Shin menegaskan pada si penjual bahwa ia tidak akan membayari Wang Yeo.

Tak lama mereka duduk bertiga di satu meja. Wang Yeo ternyata pelanggan di kafe tersebut.

“Apakah aku akan mati di sini hari ini?” tanya Eun-Tak. “Apakah aku dipancing dengan daging, dan lalu tertangkap dalam perangkap dengan jus ini? Apakah kalian berdua sebenarnya satu tim?”

“Tidak, ini hanya salah paham,” jawab Wang Yeo. “Aku sebenarnya ada di pihakmu.”

Dengan menggunakan telepati, Wang Yeo mencoba menghipnotis Eun-Tak. Ia berkata (dalam hati), “Kamu bisa melihat pedang itu. Kamu bisa. Tariklah pedang itu.”

Eun-Tak sama sekali tidak mendengar suara hati Wang Yeo.

“Kamu sedang apa?” tanya Kim Shin, melihat Wang Yeo yang hanya terus terdiam sembari menatap tajam ke arah Eun-Tak.

“Apa yang kamu bicarakan? Kenapa kamu ada di pihakku?” tanya Eun-Tak heran.

“Ada apa dengannya? Kenapa aku tidak bisa mengontrolnya?” tanya Wang Yeo pada Kim Shin.

“Ia bukan seseorang yang bisa diprediksi,” jawab Kim Shin.

“Itu artinya aku harus menyiapkan banyak dokumen pelengkap untuk diserahkan,” gumam Wang Yeo.

Ia lantas berpamitan dengan alasan hendak menghadiri meeting. Sepeninggal grim reaper, Eun-Tak menanyakan apakah Wang Yeo sungguh datang ke tempat itu untuk minum jus.

“Ngomong-ngomong, kenapa ia bilang kalau ia ada di pihakku?” tanya Eun-Tak.

“Itu bukan urusan kita,” tegas Kim Shin.

Kim Shin kemudian jadi cemburu gara-gara Eun-Tak menganggap Wang Yeo tampan, sedang Kim Shin dianggap biasa saja. Dengan kesal ia merebut jus milik Eun-Tak. Eun-Tak lalu asal menunjuk pria lain dan mengatakan bahwa pria itu juga tampan. Karena penasaran, Kim Shin memperhatikan pria yang dimaksud. Dengan segera, Eun-Tak merebut kembali gelas jusnya.

Pria yang disebut Eun-Tak tadi kemudian melangkah keluar. Di saat yang sama seorang wanita masuk. Dengan kemampuannya, Kim Shin membuat mereka saling berinteraksi, hingga akhirnya keduanya saling suka. Eun-Tak bertepuk tangan melihatnya.

Tak lama kemudian, sambil berjalan menyusuri taman, Kim Shin menjelaskan bahwa keduanya sebenarnya adalah orang berkarakter buruk, sehingga ia sengaja menjodohkan mereka berdua agar pasangan mereka bisa terlepas dari keduanya. Si pria sendiri adalah reinkarnasi dari orang yang ia kenal di masa lalu, seorang pemilik tanah pertanian yang kejam.

“Kalau begitu, apakah itu karena aku berbuat kejahatan besar di kehidupanku sebelumnya hingga aku sekarang dihukum untuk itu? Apakah itu hukumanku hingga aku terlihat sebagai pengantin goblin?” tanya Eun-Tak.

“Aku tidak mengenal kehidupanmu yang sebelumnya,” jawab Kim Shin, “Kamu masih terlalu muda untuk mengevaluasi hidupmu. Dan kamu bukanlah pengantin goblin.”

“Ku rasa aku sudah bilang kepadamu, aku tahu aku punya masa yang baik dan buruk, tapi aku suka kehidupan yang aku jalani. Aku sangat dicintai oleh ibuku. Aku bahkan sudah mendapatkan payung untuk diriku. Aku bersyukur sudah bertemu denganmu. Oh, pernah bersyukur.”

“Kamu menyimpan dendam. Dan kamu belum menjawab pertanyaanku apakah kamu melihatnya atau tidak. Apakah kamu melihatnya atau tidak?”

“Ini yang dikatakan oleh ibuku. ‘Kita harus memperhatikan dimana kaki kita berada sebelum kita melangkah dan selalu tahu kemana kita menuju’. Kamu tahu artinya itu, bukan?”

“Tidak, aku tidak tahu.”

“Itu artinya di sinilah dimana kita berpisah. Aku akan pergi ke arah itu. Selamat tinggal.”

Eun-Tak melangkah pergi meninggalkan Kim Shin. Sejenak kemudian ia berhenti dan membalikkan badannya. Keduanya saling bertatapan dalam diam.

Kim Shin berjalan di dalam pigura lukisannya sambil tersenyum-senyum. Duk-Hwa tiba-tiba muncul dan mengagumi Kim Shin yang bisa melakukan hal semacam itu. Ia lantas mengatakan pada pamannya bahwa ia ingin agar setelah mati nanti bisa menjadi Grim Reaper seperti Wang Yeo.

“Mimpi,” respon Kim Shin, “Kamu kekurangan jutaan dosa. Aku tidak ingin menakutimu, tapi hanya orang yang melakukan dosa besar saja yang bisa menjadi Grim Reaper.”

Kim Shin mendadak sadar kalau Duk-Hwa tahu identitas asli Wang Yeo. Ia pun menanyakan bagaimana ia bisa mengetahuinya. Ternyata hampir sama seperti saat Duk-Hwa tahu bahwa Kim Shin adalah Goblin, dengan mengamati tingkah laku Wang Yeo selama di rumah itu. Wang Yeo tiba-tiba muncul di samping Duk-Hwa dan menuduh Kim Shin telah membicarakan dirinya di belakangnya.

“Bagaimana bisa kamu menyalahkan orang lain dengan caramu bertindak seperti itu?” jawab Kim Shin, “Kamu bisa saja seorang pembunuh di kehidupanmu sebelumnya.”

Kata-kata itu ternyata membuat Wang Yeo syok. Kim Shin juga langsung menyadari sudah melukai perasaan Wang Yeo. Dengan kesal Wang Yeo pergi meninggalkan mereka. Beberapa saat kemudian Kim Shin mendatangi Wang Yeo yang sedang membuat daftar dosa besar yang mungkin pernah ia lakukan.

“Aku tidak peduli dengan apa yang kamu lakukan atau siapakah dirimu di kehidupan lalumu,” ujar Kim Shin.

“Sungguh?” tanya Wang Yeo.

“Ya,” jawab Kim Shin, “Tidak peduli apa yang kamu lakukan, aku tetap akan membencimu.”

Wang Yeo tertawa mendengarnya, lalu sesaat kemudian berhenti, sadar bahwa itu bukanlah sesuatu yang seharusnya ia tertawakan.

Bersama kakeknya, Duk-Hwa membahas tentang bagaimana pamannya dan Wang Yeo kini terlihat akrab.

“Yang satu menderita karena kehilangan memori dari kehidupannya sebelumnya, yang lainnya menderita karena ia tidak bisa melupakan. Keduanya bergantung satu sama lain,” ujar kakeknya.

Mendengar jawaban kakeknya, Duk-Hwa baru sadar bahwa kakeknya juga sudah tahu tentang grim reaper.

Duk-Hwa mendatangi restoran Olive Chicken bersama sekretaris Kim (Jo Woo-Jin). Bangunan-bangunan di daerah itu ternyata adalah miliknya, hadiah ulang tahunnya ke-8 dahulu. Ia berniat untuk menjual bangunan-bangunan tersebut sehingga ia meminta agar sekretaris Kim mengusir para penghuninya keluar, dimulai dari restoran Olive Chicken. Sekretaris Kim menolak melakukannya.

Wang Yeo hendak pergi ke supermarket. Karena tidak percaya padanya, Kim Shin pergi bersamanya. Ternyata ia memang benar-benar pergi ke supermarket untuk berbelanja. Di sana Wang Yeo menyatakan bahwa ia benar berada di pihak Eun-Tak karena ia berharap Eun-Tak dapat menarik pedang yang ada di tubuh Kim Shin sehingga Kim Shin tidak lagi mengganggunya. Kim Shin emosi mendengarnya sampai-sampai tubuhnya mengeluarkan aura energi, namun kembali tenang setelah Wang Yeo mengingatkan banyak orang akan melihatnya.

Sebagai gantinya, Kim Shin meminta agar Wang Yeo berjanji untuk tidak mengganggu Eun-Tak apabila ia pergi. Jika ia sampai melakukannya, Kim Shin akan segera kembali.

“Kapan kamu akan pergi?” tanya Wang Yeo.

“Dalam dua hari. Puas?” jawab Kim Shin.

Setelah membayar belanjaan, keduanya keluar dari supermarket. Kim Shin yang keluar terlebih dahulu ternyata menghilang begitu saja. Ia rupanya sudah berada di depan rumah bibi Eun-Tak. Eun-Tak yang tiba sesaat kemudian segera mengajaknya keluar halaman.

Kali ini bukan Eun-Tak yang memanggil Kim Shin seperti biasanya. Sebaliknya, Kim Shin mengaku bahwa tanpa sengaja ia mungkin memikirkan Eun-Tak sehingga terbawa ke tempat itu.

“Kenapa? Aku bukan pengantinmu dan aku tidak cantik,” respon Eun-Tak. “Aku hanya penyebab masalah. Kamu selalu harus menyelamatkanku. Kenapa kamu menemuiku?”

“Ku rasa aku merindukan itu tentangmu,” jawab Kim Shin.

Kim Shin lantas mengatakan ia akan pergi setelah ini dan mempersilahkan Eun-Tak untuk masuk karena bibinya sudah tidak ada di sana. Eun-Tak kaget mendengarnya karena ia sendiri tidak tahu dan hanya datang untuk mengambil barangnya yang tertinggal. Kim Shin pun kemudian pergi meninggalkan Eun-Tak.

Kembali ke rumahnya, Kim Shin mengemasi barang-barangnya.

Wang Yeo sedang berjalan melalui jembatan saat ia melewati seorang wanita penjual aksesoris (jelmaan si nenek di episode 2). Wanita tersebut menawarkan jepit rambut dan juga kaca rias padanya. Pantulan sinar matahari dari kaca membuat mata Wang Yeo tertuju pada sebuah cincin giok. Saat ia hendak mengambilnya, seorang wanita tiba-tiba terlebih dahulu mengambilnya. Begitu Wang Yeo melihat wanita tersebut, yang ternyata adalah Kim Sun, air matanya menetes begitu saja tanpa ia sadari, hingga membuat Kim Sun heran. Mengira Wang Yeo menangis karena menginginkan cincin itu, Kim Sun memperbolehkannya untuk memilikinya asal ia mau memberikan nomer telponnya.

Berhubung tidak punya telepon, Wang Yeo meminta Kim Sun saja yang memberikan nomer telponnya. Kim Sun menyetujuinya dan mengajaknya untuk berkenalan. Saat Kim Sun menyebutkan namanya, lagi-lagi air mata meleleh di pipi Wang Yeo tanpa ia sadari.

“Sun Hee?” tanya Wang Yeo.

Kim Sun yang masih terkejut melihat Wang Yeo meneteskan air mata tidak mempermasalahkannya dan membolehkan Wang Yeo memanggilnya dengan nama itu. Si wanita penjual kemudian menanyakan siapa yang akan membayar cincin itu.

“Tidak penting siapa yang akan membayarnya,” gumam wanita tersebut, “Lagipula kalian berdua nanti akan membayar mahal untuk itu.”

Di kamarnya, Kim Shin membuka sebuah gulungan yang berisi lukisan wajah sang Ratu. Matanya berkaca-kaca melihatnya.

Sementara itu, Eun-Tak sedang bersih-bersih restoran saat hantu yang biasa mengganggunya hendak mengganggu Kim Sun. Tanpa disangka-sangka, Kim Sun tiba-tiba menghentakkan meja terlebih dahulu sehingga hantu itu pun kaget. Ia rupanya kesal karena Wang Yeo tidak kunjung menelponnya. Eun-Tak mencoba menenangkannya dan memintanya untuk melupakannya saja karena pria tampan biasanya susah untuk didapat.

Wang Yeo sendiri saat itu sedang galau sembari melihat nomer telpon di atas kertas yang diberikan oleh Kim Sun sebelumnya, lengkap dengan bekas bibir hasil ciuman Kim Sun di kertas tersebut.

Eun-Tak tiba di rumahnya dan mendapati bahwa bibinya telah menjual rumah itu. Ia pun mengambil bunga kering yang dulu diberikan oleh Kim Shin kepadanya. Sayangnya, saat duduk di taman, angin kencang bertiup dan hampir semua bagian bunga terbang tertiup angin. Ia lantas menyimpan bagian yang tersisa ke dalam bukunya.

Esok harinya, di sekolah, gurunya memintanya untuk mengosongkan isi tasnya dan juga sakunya. Ia ternyata mendapat laporan bahwa Eun-Tak merokok dan langsung meyakini kebenaran laporan tersebut begitu melihat ada kotak korek api di dalam tas Eun-Tak. Tanpa memberi kesempatan Eun-Tak menjelaskan, sang guru terus saja menuduhnya sebagai murid yang berbahaya bagi sekolah mereka karena terlihat seperti anak baik tapi punya kelakuan buruk di belakang. Temannya yang melapor diam-diam menguping dari pintu dan tersenyum puas mendengarnya.

Kim Shin hendak pergi, namun ia galau karena ingin bertemu dengan Eun-Tak terlebih dahulu, yang tidak kunjung memanggilnya. Wang Yeo menyarankan untuk menelponnya saja, tapi Kim Shin tidak punya nomernya. Setelah mengambil payungnya, Kim Shin pun pergi meninggalkan rumahnya.

Eun-Tak saat itu sedang berada di pinggir pantai, tempat pertama kali ia bertemu dengan Kim Shin. Eun-Tak yang kembali putus asa dengan hidupnya mengungkapkan kegelisahannya pada ibunya. Hujan mulai turun dengan deras. Dan saat Eun-Tak menoleh ke belakang, sudah ada Kim Shin di sana, melindunginya dengan payung.

“Ini karena aku sedang terpuruk,” ujar Kim Shin.

“Apa ‘ini’?” tanya Eun-Tak heran.

“Hujan ini,” jawab Kim Shin, “Ini akan segera berhenti.”

“Apakah turun hujan setiap kali kamu merasa terpuruk?”

Kim Shin mengiyakan. Eun-Tak tersenyum dan menanyakan seberapa terpuruknya Kim Shin apabila ia ingin membuat angin topan.

“Itu bukan aku. Itu (perbuatan) planet,” respon Kim Shin. “Bagaimana keadaanmu?”

“Hujan berhenti.”

“Aku mulai merasa baikan.”

“Aku tidak memanggilmu kali ini.”

“Ya, kamu tidak melakukannya. Aku juga sedang sibuk, melakukan ini dan itu.”

“Ini tidak bagus,” respon Eun-Tak.

“Apa?” tanya Kim Shin

“Ketika hujan turun, aku akan berpikir kamu merasa terpuruk mulai dari sekarang. Ini tidak seperti aku tidak sesuatu untuk dikhawatirkan. Terlebih sekarang aku harus khawatir tentangmu,” jawab Eun-Tak.

Eun-Tak menambahkan bahwa kesialannya selalu saja kembali setiap ia mencoba untuk melupakannya dan setiap kali cuaca berganti. Kim Shin jadi merasa Eun-Tak sedang menyindirnya sebagai penyebab masalahnya. Eun-Tak tertawa menanggapinya.

Eun-Tak lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Bunga maple kering yang sudah dilaminating.

“Kado untukmu,” ujar Eun-Tak.

“Ini indah,” respon Kim Shin, lantas membelai lembut rambut Eun-Tak.

Eun-Tak menanyakan maksud perbuatan Kim Shin itu. Kim Shin menjawab bahwa itu sebagai ucapan perpisahannya karena besok ia akan pergi. Eun-Tak terdiam mendengarnya.

Bel pintu rumah Kim Shin tiba-tiba berdering. Kim Shin dan Wang Yeo yang sedang duduk di sofa tidak terlalu mempedulikannya sampai akhirnya mereka sadar bahwa itu adalah pertama kalinya bel pintu berbunyi selama 60 tahun terakhir. Dengan panik, Kim Shin meminta Wang Yeo untuk melihat siapa yang ada di balik pintu. Wang Yeo menolak karena ia juga takut.

Pada akhirnya Wang Yeo yang membukakan pintu. Yang datang ternyata Eun-Tak. Wang Yeo berdalih bahwa itu adalah rumahnya. Eun-Tak sendiri jadi kaget dan ketakutan mengetahui yang muncul adalah Wang Yeo. Saat ia membalikkan badan, Kim Shin sudah ada di belakangnya.

“Kamu bilang kepadanya dimana kamu tinggal?” tanya Wang Yeo.

Kim Shin memberi tanda pada Wang Yeo untuk masuk ke dalam.

“Apa yang kamu lakukan di sini? Bagaimana kamu bisa tahu aku tinggal di sini?” tanya Kim Shin pada Eun-Tak.

“Aku bertanya pada para hantu dimana goblin tinggal,” jawab Eun-Tak. “Tapi kenapa ada Grim Reaper di sini…”

“Tampaknya kalian berdua sedang menjalani pertengkaran pasangan,” potong Wang Yeo, “Semoga akan berakhir baik. Untuk diriku, tidak nyaman bagiku untuk tetap di sini, jadi…”

Tanpa melanjutkan kata-katanya Wang Yeo masuk ke dalam rumah.

“Kalian berdua tinggal bersama?” tanya Eun-Tak.

“Hanya sampai hari ini. Sekarang, kenapa kamu ada di sini?” tanya Kim Shin.

“Ada sesuatu yang belum sempat aku sampaikan. Ingat ketika kamu menanyakan apakah aku melihat sesuatu? Apa yang terjadi jika aku benar melihat sesuatu?”

“Kenapa kamu bertanya? Kamu toh tidak bisa melihatnya.”

“Siapa bilang aku tidak bisa?” potong Eun-Tak. “Satu, jika aku bisa melihatnya, apakah aku harus langsung menikahimu? Dua, jika aku bisa melihatnya, apakah kamu akan memberikanku $5000 yang aku butuhkan? Tiga, jika aku bisa melihatnya, akankah kamu tinggal? Jangan pergi. Tetaplah di sini, di Korea. Apakah itu tidak mungkin?”

“Bisakah kamu sungguh melihatnya? Buktikan.”

“Jawab aku dulu. Skenario mana yang akan terjadi? Skenario satu, dua, atau tiga?”

“Kamu tidak bisa melihatnya.”

“Aku bisa melihatnya, sungguh!” tegas Eun-Tak. “Aku sungguh bisa melihatnya. Pedang ini!”

Eun-Tak menunjuk ke arah dada Kim Shin, tepat dimana pedang Kim Shin menancap di dadanya. Raut muka Kim Shin langsung berubah saat mendengarnya.

=== bersambung ===

Preview Episode 4

Berikut ini preview episode 4 dari drama korea Goblin (Guardian: The Lonely and Great God):

» Sinopsis eps 4 selengkapnya

Tema artikel yang berhubungan: , , ,  pedang goblinkim dam ryung.

Reply