Rekap Sinopsis Circle Episode 9 Part 1 (19 Juni 2017)

Di sinopsis Circle episode sebelumnya, pasca Kim Woo-Jin (Yeo Jin-Goo) mengetahui kedoknya, profesor Han Yong-Woo (Song Young-Kyu) curiga Han Jung-Yeon (Kong Seung-Yeon) juga sudah tahu sedikit banyak tentang dirinya. Begitu kecurigaannya terbukti, profesor Han langsung mengurung Jung-yeon di suatu tempat. Tanpa ia sadari, percakapannya dengan Jung-yeon sempat terekam oleh kamera, yang kemudian dilihat isinya oleh profesor Park Dong-Gun (Han Sang-Jin). Park Min-Young (Jung In-Sun) yang mencuri dengar rekaman video tersebut mengira profesor Park adalah kaki tangan profesor Han yang telah menculik Kim Beom-Gyoon (An Woo-Yeon). Mengetahui adanya orang yang diculik, profesor Park yakin bahwa Beom-Gyoon ada di rumah Kim Kyu-Cheol yang ada di Gyodeok-dong. Woo-Jin, setelah menerima kabar dari profesor Park, segera menuju ke rumah tersebut dan akhirnya mendapati kakaknya di sana. Apa yang akan terjadi di sinopsis Circle: Two Worlds Connected episode 9 part 1 kali ini?

Dok. gambar dan video © tvN of Korea Selatan

Sinopsis Episode 9 Part 1

Judul: BETA Project

Tahun 2007. Byul mendatangi Woo-Jin kecil (Jung Ji-Hoon) yang sedang duduk menangis di halaman rumah.

“Kenapa?” tanya Byul.

“Aku ingin melihat ibuku, tapi aku tidak bisa mengingat wajahnya,” jawab Woo-Jin kecil.

“Kau mau ingat seperti apa wajah ibumu?” tanya Byul lagi.

Woo-Jin mengangguk.

Jin-Hong, Min-Young, dan profesor Park tiba di rumah Woo-Jin dan mendapati dirinya sedang memeluk Beom-Gyoon yang terbaring di lantai. Sementara yang lain buru-buru membawa Beom-Gyoon ke mobil untuk diantarkan ke rumah sakit, profesor Park sempat memperhatikan benda kuning berbentuk bintang yang menempel di langit-langit serta layar komputer Kyu-Cheol yang menyala. Begitu Woo-Jin keluar dari ruangan, komputer tersebut kembali mati.

Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Woo-Jin memberitahu Jin-Hong bahwa detektif Choi adalah kaki tangan profesor Han. Jin-Hong dan Min-Young kaget mendengarnya. Jin-Hong segera merespon dengan meminta pihak kepolisian untuk mencari keberadaan detektif Choi. Profesor Park sendiri sibuk memikirkan tentang hubungan bintang kuning dan komputer yang ada di ruangan Kyu-Cheol.

Setibanya di rumah sakit Min milik ayah Min-Young, dokter dan perawat yang bertugas segera membawa Beom-Gyoon untuk diperiksa menggunakan CT Scan. Min-Young ikut menemani mereka, sementara yang lain menunggu di luar.

“Terima kasih,” ucap Woo-Jin seraya membungkukkan badannya ke arah profesor Park. “Berkat Anda kakakku sudah ditemukan.”

“Kau anaknya Kyu-Cheol sunbae?” respon profesor Park.

“Anda kenal ayahku?” tanya Woo-Jin heran.

“Ayahmu dan bapak.. dan profesor Han… sudah saling kenal sejak masih kuliah,” jawab profesor Park. “Kami bahkan melakukan penelitian bersama, hingga mereka berdua lanjut kuliah ke MIT.”

Profesor Park kemudian meraih tangan Woo-Jin.

“Maafkan bapak,” ujarnya, “Kalau bapak cepat tahu ini, mungkin bapak bisa menghentikannya. Rupanya dia sedang melakukan eksperimen seperti itu pada para mahasiswa. Bapak sungguh tidak tahu sama sekali.”

“Tapi bagaimana kau tahu Beom-Gyoon ada di Gyodeok-dong?” tanya Jin-Hong.

“Oh, profesor Han akhir-akhir ini selalu bertingkah aneh, jadi aku juga curiga. Dia diam-diam sering mengunjungi Gyodeok-dong. Aku tidak tahu kalau ada orang yang disekap di sana,” jelas profesor Park.

“Tapi rumah itu rumah yang dulu pernah ku tempati,” timpal Woo-Jin.

“Apa?” respon Jin-Hong kaget.

“Oh, ya. Dia benar,” tambah profesor Park. “Profesor Han meminjamkan rumah itu pada Kyu-Cheol sunbae sejak dulu.”

Baik Woo-Jin dan Jin-Hong terkejut mendengarnya.

Dalam perjalanan dengan mobilnya, profesor Han menghubungi seseorang dan memintanya untuk mengawasi bahan ruang eksperimen sembari tetap bersembunyi. Ia ternyata datang ke tempat Jung-yeon disekap. Jung-yeon sempat hendak menyerangnya dengan batang sikat gigi yang ia patahkan, namun ia mengurungkan niatnya begitu melihat ada seseorang lainnya dengan tubuh besar yang mengawalnya.

Profesor Han kemudian membawa Jung-yeon ke suatu tempat dengan alasan untuk melindunginya. Setelah terdiam sejenak, Jung-yeon tiba-tiba membuka pintu mobil dan melompat keluar. Melihatnya, profesor Han segera menghentikan mobilnya dan menghampiri Jung-yeon. Dengan segera Jung-yeon berdiri dan mengarahkan batang sikat gigi yang masih simpan ke arah profesor Han.

“Jung-yeon, tenanglah,” ujar profesor Han. “Jangan seperti ini, ayo kita ke sana dulu tanpa ribut begini.”

“Ku bilang hentikan!” respon Jung-yeon dengan nada tinggi. “Hentikan semua ini dan serahkan diri ayah!”

“Ayah sudah bilang, Jung-yeon. Ini demi umat manusia!” tolak profesor Han.

“Ayah, ku mohon,” pinta Jung-yeon sambil menggeleng. Air mata menetes di pipinya.

“Kau dan ayah bisa bersama-sama,” balas profesor Han. “Kau dan ayah akan menciptakan dunia baru nan tangguh. Kita bisa melakukannya asal ingatan Byul pulih lagi!”

“Tidak! Aku ingin menjalani hidupku sebagai Han Jung-yeon. Aku hanya ingin hidup sebagai putri ayah, seperti Han Jung-yeon!”

“Kau sudah tahu betul. Hal itu tidak mungkin sekarang. Jung-yeon, ayah mohon.”

Melihat mobil polisi yang menuju ke arah mereka dari kejauhan membuat profesor Han mulai panik. Ia mencoba untuk menarik Jung-yeon agar masuk ke dalam mobil. Reflek Jung-yeon menolak dan menyabetkan batang sikat giginya ke tangan ayahnya. Ia pun tertegun saat melihat darah yang keluar dari tangan profesor Han.

Kondisi tersebut memaksa profesor Han untuk masuk kembali ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Jung-yeon. Sesaat kemudian mobil polisi tiba dan mereka segera memanggil ambulans untuk menolong Jung-yeon. Sementara Jung-yeon sendiri terduduk di jalan sambil menangis.

Woo-Jin dan Min-Young menemani Beom-Gyoon yang masih terbaring di rumah sakit. Tiba-tiba ponsel Woo-Jin berbunyi. Jung-yeon yang menelpon, menanyakan mengenai Beom-Gyoon. Tanpa mau mengakui apa yang barusan terjadi kepadanya, Jung-yeon berjanji akan segera datang ke rumah sakit Min menemui Woo-Jin.

Beom-Gyoon sendiri terbangun tak lama kemudian.

“Hyung, orang yang menculikmu itu profesor Han, bukan?” tanya Woo-Jin.

Karena Beom-Gyoon tidak mengenal namanya, Woo-Jin lantas menunjukkan foto profesor Han kepadanya.

“Memang dia. Orang ini pelakunya,” respon Beom-Gyoon. “Dan dia yang ada di balik kematian para mahasiswa itu.”

Woo-Jin geram mendengarnya. Sementara itu, di kantor polisi, Jin-Hong mendapati detektif Choi telah kabur dan membawa semua barang-barangnya. Begitu pula dengan barang-barang profesor Han di kampus. Selain itu, detektif yang ditugaskan untuk memeriksa rumah di Gyodeok-dong juga sudah ditarik kembali oleh kepala polisi dengan alasan tidak ada apa-apa di sana.

Di suatu tempat, detektif Choi mendatangi seseorang dan melaporkan situasinya.

“Kami sudah menangani situasi ini secepat mungkin,” ujarnya.

“Bagaimana dengan profesor Han?” tanya orang tersebut.

“Dia mungkin menuju ke lokasi yang Anda sebutkan dengan data yang tersisa,” jawab detektif Choi.

Hyun-Seok menghubungi profesor Han dan memberitahunya bahwa ia sudah mengumpulkan barang-barang milik profesor Han. Ia meminta profesor Han untuk menemuinya di suatu tempat untuk mengambil barang-barang tersebut. Bergegas profesor Han menuju ke sana. Setibanya di sana, ia kaget mendapati Hyun-Seok tidak sendiri, melainkan ada profesor Park bersamanya.

“Soal anak yang kau sekap dalam rumah Kyu-Cheol sunbae, apa yang kau lakukan terhadapnya?” tanya profesor Park setelah terlebih dahulu meminta Hyun-Seok keluar.

“Ingatannya perlahan akan terhapus,” jawab profesor Han. “Aku tidak punya pilihan lagi. Karena satu-satunya pilihan adalah membunuhnya juga.”

Dengan geram profesor Park meraih kerah baju profesor Han.

“Apa yang akan kau dapat setelah melakukan sejauh itu? Apa yang kau inginkan sampai tega membunuh semua mahasiswa…”

“Kenapa kau penasaran? Kenapa kau mau tahu?” potong profesor Han.

“Kau tak tahu kenapa aku bertanya begitu? Orang-orang meninggal karena robot buatanku! Mana bisa aku diam saja dan tidak berbuat apapun,” balas profesor Park.

“Harusnya kau lapor saja polisi. Kenapa kau malah kemari? Aku yakin secara naluriah kau tahu betapa bagusnya teknologi itu. Karena kau juga seorang ilmuwan.”

“Kau sudah gila rupanya.”

Profesor Han tertawa mendengarnya.

“Aku? Aku tidak gila. Jung-yeon.. maksudku, Byul, pasti berhasil. Dengan teknologi itu, kau bisa menyaksikan ingatan seperti video dan mengubahnya. Orang bisa hidup tanpa pernah merasa menyedihkan! Kim Kyu-Cheol bilang dia melihat teknologi itu. Dan sistem itu ada di ruangan itu di dalam rumahnya,” respon profesor Han. “Tapi.. tapi itu tidak berhasil. Aku tidak tahu bagaimana cara kerja sistem itu. Aku sudah berusaha selama 10 tahun dan aku masih belum bisa mengetahuinya.”

Profesor Park jadi teringat dengan benda kuning yang ada di langit-langit ruangan kerja Kyu-Cheol.

“Kim Kyu-Cheol pasti tahu bagaimana cara kerja sistem itu,” lanjut profesor Han. “Aku yakin data itu tertinggal di suatu tempat. Aku hanya perlu mengetahuinya. Jika aku mengetahuinya… kalau saja Kim Kyu-Cheol si brengsek itu tidak berhasil menyingkirkan data itu… para manusia pasti sudah lama terbebas dari belenggu sekarang. Jika kita bisa mengetahui teknologi itu, kita bisa menciptakan dunia baru nan tangguh.”

Tak lama kemudian profesor Park keluar dengan membawa barang-barang milik profesor Han. Saat ditanya oleh Hyun-Seok, profesor Park ternyata memutuskan untuk tidak akan melaporkan hal tersebut ke pihak berwajib karena tidak mau reputasi Universitas Handam hancur karenanya. Profesor Han sendiri ia tinggalkan dalam keadaan terikat di dalam. Profesor Park lantas pergi menuju rumah Kyu-Cheol setelah meminta Hyun-Seok untuk percaya kepadanya dan tetap berada di sana untuk menjaga profesor Han.

Di ruang kerja Kyu-Cheol, profesor Park mencoba mengingat-ingat apa yang membuat komputer Kyu-Cheol bisa menyala. Ia pun curiga jangan-jangan kuncinya adalah keberadaan Woo-Jin.

Jin-Hong memberitahu Woo-Jin bahwa profesor Han sudah berhasil kabur dengan membawa barang-barang bukti miliknya, termasuk kamera yang berisi rekaman percakapannya dengan Jung-yeon.

“Jadi kita harus bagaimana?” tanya Woo-Jin.

“Satu-satunya cara ialah menyuruh Beom-Gyoon untuk bersaksi,” jawab Jin-Hong. “Hanya itu cara kita bisa menyelidiki hal ini lebih jauh.”

Anehnya, saat mereka mengkonfirmasi pada Beom-Gyoon apakah benar profesor Han yang menculiknya, ia mengaku sama sekali tidak mengenalnya.

“Oh ya, pelakunya.. Pelakunya itu Bluebird,” ucap Beom-Gyoon. “Woo-Jin. Kita harus menangkap Bluebird. Kita harus menangkapnya. Kita bisa melakukannya.”

Perkataan Beom-Gyoon membuat semuanya kaget. Beberapa saat kemudian, dokter memberitahu Woo-Jin bahwa serangga di otak Beom-Gyoon berada di posisi yang tidak memungkinkan untuk dilakukan operasi karena rawan terjadi efek samping yang berbahaya.

“Dia mungkin tidak akan bisa berjalan lagi, atau tidak bisa melihat lagi,” tambah si dokter. “Semua ingatannya bisa hilang, atau mungkin dia tidak akan bisa terbangun lagi.”

“Jadi harus bagaimana?” tanya Woo-Jin khawatir.

“Kita butuh lebih banyak informasi. Apa ada cara untuk mengetahui lebih banyak tentang serangga ini?” balas si dokter.

Saat hendak kembali ke kamar Beom-Gyoon, Woo-Jin bertemu dengan Jung-yeon. Jung-yeon hendak meluapkan perasaan galaunya pada Woo-Jin, tapi belum apa-apa Woo-Jin langsung menanyakan mengenai keberadaan profesor Han.

“Kenapa?” tanya Jung-yeon.

“Kakakku… ingatannya mulai menghilang,” jawab Woo-Jin. “Dan profesor Han-lah yang tahu penyebabnya. Kau ada dugaan dia ada dimana?”

“Maafkan aku. Aku sangat takut jadi aku langsung kabur,” ucap Jung-yeon sambil menangis. “Harusnya aku mencoba menghentikan ayah, tapi… ini semua salahku. Maafkan aku.”

Melihat respon Jung-yeon, Woo-Jin baru menyadari kondisi Jung-yeon yang berantakan. Perlahan ia memegang kedua lengan Jung-yeon.

“Itu bukan salahmu,” ujar Woo-Jin menenangkannya. “Kalau aku jadi kau, mungkin aku juga akan kabur. Kita bisa fokus mencari profesor Han mulai sekarang dan seterusnya. Maka, kita pasti bisa cari cara memperbaiki kakakku.”

Jung-yeon mengangguk mengiyakan.

Profesor Park sedang mengamati rekaman kamera di tempat Kyu-Cheol saat Woo-Jin dan Jung-yeon tiba di ruangannya. Tanpa basa-basi, Woo-Jin menunjukkan foto serangga biru di ponselnya dan menanyakan apakah profesor Park tahu tentang itu.

“Inilah robot yang dimasukkan profesor Han ke mahasiswa. Dan juga kakakku. Karena itu, kakakku jadi hilang ingatan,” jelas Woo-Jin. “Anda sedang meneliti PTSD dengan profesor Han, bukan? Apa Anda tahu tentang fitur-fiturnya atau bagaimana caranya Anda mengekstraknya?”

“Bapak melakukan penelitian bersama dia, tapi bapak belum pernah melihat hal semacam ini,” dalih profesor Park. “Dia tidak ada cerita tentang eksperimen ilegal yang sedang dilakukannya. Maaf, mungkin bapak tak bisa membantumu.”

“Tidak apa,” respon Woo-Jin dengan sedikit kecewa.

“Oh, apa menurutmu mungkin ada sesuatu di rumah Gyodeok-dong?” ucap profesor Park saat Woo-Jin dan Jung-yeon hendak meninggalkan ruangan. “Penelitian ayahmu dibuat dengan menggunakan sebuah chip untuk mengobati penyakit jiwa. Dan profesor Han bekerja bersama ayahmu.”

Mendengar hal itu, Woo-Jin dan Jung-yeon bergegas menuju Gyodeok-dong. Setibanya di sana, keduanya langsung menyadari keberadaan bintang kuning yang ada di langit-langit serta komputer yang tiba-tiba menyala saat mereka datang. Lebih kaget lagi, saat program yang ada di komputer dijalankan, yang muncul adalah rekam ingatan Woo-Jin saat sebelumnya bertemu dengan Jung-yeon di rumah sakit.

“Ini.. ingatanku..,” ucap Woo-Jin syok.

Tanpa mereka sadari, di rak buku yang ada di belakang mereka, terdapat kamera tersembunyi yang diletakkan oleh profesor Park, sehingga ia pun bisa melihat semuanya yang tampil di layar komputer.

“Bagaimana bisa?” lanjut Woo-Jin.

Komputer tiba-tiba memproses pertanyaan Woo-Jin dan kini menampilkan rekaman ingatan Woo-Jin kecil saat dulu Byul memberinya sebuah benda kuning berbentuk bintang.

“Kalau kau simpan ini di ingatanmu,” ujar Byul pada waktu itu, “kau bisa melihat ibumu.”

“Apa ini?” tanya Woo-Jin kecil.

“Kotak ingatan. Hanya kau yang bisa menggunakannya,” jawab Byul.

Kotak ingatan itu adalah bintang kuning yang tertempel di langit-langit.

“Aku.. yang membuatnya?” respon Jung-yeon dalam hati.

“Jadi karena aku… dia membuatkannya untukku?” ucap Woo-Jin, juga dalam hati.

“Bagaimana aku bisa membuat seperti itu?” ucap Jung-yeon lirih.

“Akhirnya aku paham kenapa profesor Han berusaha keras memulihkan ingatanmu,” balas Woo-Jin. “Ingatanku disimpan dalam bentuk rekaman. Tentulah setiap ilmuwan yang melihat ini tidak akan pernah menyerah. Ini bukan hanya untuk penyakit jiwa. Ada begitu banyak kemungkinan. Ini menakutkan. Profesorkan Han, atau siapapun itu, tidak akan pernah menyerah. Tidak, mereka malah tidak bisa menyerah.”


» Bersambung ke Part 2

One Response - Add Comment

Reply