Rekap Sinopsis Circle Episode 8 Part 1 (13 Juni 2017)

Di sinopsis drakor Circle: Two Worlds Connected episode sebelumnya, Kim Woo-Jin (Yeo Jin-Goo) akhirnya menemukan bukti bahwa pelaku penculikan terhadap Kim Beom-Gyoon (An Woo-Yeon) adalah profesor Han Yong-Woo (Song Young-Kyu). Ia hendak memberitahu hal tersebut pada detektif Hong Jin-Hong (Seo Hyun-Chul), namun karena Jin-Hong sedang menemui Park Min-Young(Jung In-Sun), Woo-Jin meminta bantuan pada detektif Choi (Shin Dam-soo). Siapa sangka, detektif Choi ternyata adalah rekan dari profesor Han. Alih-alih membawanya ke kantor polisi, detektif Choi justru menyerahkan Woo-Jin pada profesor Han, yang langsung menghancurkan bukti milik Woo-Jin. Apa yang akan terjadi selanjutnya di sinopsis Circle episode 8 part 1 berikut ini?

Dok. gambar dan video © tvN of Korea Selatan

Sinopsis Episode 8 Part 1

Judul: BETA Project

Tahun 2008. Park Dong-Gun (Han Sang-jin) membawakan sebuah barang pada Kim Kyu-Cheol (Kim Joong-ki) di rumahnya, yang ternyata merupakan rumah milik Yong-Woo yang ia sewa. Kyu-Cheol mengaku hendak menggunakan barang tersebut untuk keperluan penelitian yang sedang ia lakukan dan berjanji akan memberitahu Dong-Gun nantinya tentang penelitian tersebut. Tak lama kemudian mereka pergi bersama untuk makan siang. Tanpa disadari Kyu-Cheol, tepat di langit-langit di atas meja kerjanya, terdapat sebuah kamera tersembunyi yang mengawasi aksi mereka.

Profesor Han terus berusaha merayu Woo-Jin untuk membantunya menemukan data milik ayahnya, Kyu-Cheol. Woo-Jin menolak dengan alasan tidak tahu menahu mengenai hal itu.

“Woo-Jin,” ujar profesor Han, “Apa menurutmu aku ini kelihatan seperti orang waras? Hah? Aku tidak bisa mencari data itu dimana-mana setelah si bajingan itu hilang, bahkan setelah aku mencarinya di seluruh laboratorium. Aku tidak punya pilihan lain lagi selain melakukan eksperimen ilegal. Setelah aku sudah melewati batas, aku harus terus melewati batas. Dan eksperimenku akhirnya sampai membunuh orang. Aku membunuh orang.”

Woo-Jin tidak bisa berkata apa-apa mendengarnya.

“Tolong carikan data itu,” lanjut profesor Han. “Entah itu masih ada atau tidak, entah kau tahu atau tidak, yang penting carilah! Aku yakin dia menyembunyikannya di suatu tempat. Kalau tidak, dia berarti bukan ilmuwan sejati, kan! Kau itu anaknya. Walau aku tidak bisa menemukannya, harusnya kau itu bisa. Kalau kau tidak bisa menemukannya, aku takkan pernah berhenti. Eksperimen yang melelahkan ini akan terus berlanjut dan lebih banyak lagi orang yang harus mati. Maka Beom-Gyoon juga…”

“Profesor!” bentak Woo-Jin.

“Maka dari itu! Kau harus menemukan data itu! Kau paham situasinya sekarang?” ancam profesor Han.

Woo-Jin keluar dari bangunan rumah sakit Eunsung dengan langkah gontai. Detektif Choi yang menunggu di luar menghampirinya dan melemparkan ransel Woo-Jin kepadanya.

“Jangan repot-repot melaporkan hal ini atau semacamnya. Aku bukan satu-satunya polisi yang terlibat. Lagipula kau harus menyelamatkan kakakmu,” ujar detektif Choi.

Ponsel Woo-Jin tiba-tiba berbunyi. Han Jung-Yeon (Gong Seung-yeon) yang menelpon, menanyakan apakah Woo-Jin sudah berhasil menemukan sesuatu di komputer ayahnya.

“Ya, tidak ada apa-apa di situ,” dalih Woo-Jin.

“Tidak ada?” tanya Jung-yeon di ujung telpon.

“Ya. Nanti ku telpon lagi setelah aku menelusuri tentang hal ini,” jawab Woo-jin berusaha menutup pembicaraan.

“Tapi benar tidak ada yang terjadi?” tanya Jung-yeon penasaran.

“Ya, tidak ada yang terjadi,” balas Woo-Jin sembari berpamitan dan menutup telponnya.

“Sepertinya profesor Han memberimu misi,” ujar detektif Choi sebelum pergi meninggalkan Woo-Jin. “Apapun itu, kau harus cepat selesaikan, ya.”

Di kamarnya, Woo-Jin membongkar barang-barang peninggalan ayahnya. Tidak ada yang spesial di sana selain sebuah kartu nama dari Pusat Sains Ilmu Saraf Universitas Soyang milik Kyu-Cheol. Penasaran, Woo-Jin mencoba untuk mengakses alamat email milik ayahnya yang terdaftar di sana. Saat hendak me-reset password email tersebut dan disodori pertanyaan “Barang milikmu yang paling berharga”, Woo-Jin berhasil menebak jawaban ayahnya, “Si Kembar”. Hal itu sempat membuat dirinya kesal dengan ayahnya.

“Mana bisa kami paling berharga bagi ayah padahal ayah membodohi kami? Kami milik ayah yang paling berharga? Semua ini salah ayah, kakak berakhir seperti ini!” ujar Woo-Jin kesal, lantas meremas kartu nama ayahnya dan membantingnya ke lantai.

Setelah mengusap air matanya, Woo-Jin kembali tenang dan perlahan mengambil kartu nama tersebut dan merapikannya kembali.

Detektif Choi mendatangi Jin-Hong yang sedang berpikir sambil membuat ilustrasi tidak jelas. Jin-Hong kemudian memberitahunya kalau ada seseorang yang melihat pria di dalam mobil donor darah yang mereka cari-cari itu sedang merokok. Detektif Choi yang baru saja mengambil permen lolipop dari kantongnya dan hendak mengulumnya langsung mengurungkan niatnya.

“Cari tahu itu juga,” pesan Jin-Hong. “Aku mau keluar dulu.”

Tanpa disangka, atasan Jin-Hong tiba-tiba datang dan memarahinya karena masih saja mengurusi kasus tersebut. Ia tidak mau mendengarkan alasan Jin-Hong dan minta agar Jin-Hong berhenti menangani kasus tersebut. Sepeninggal atasannya, dengan kesal Jin-Hong pergi setelah meminta permen lolipop milik detektif Choi, sementara detektif Choi sendiri tersenyum-senyum senang melihat kejadian barusan.

Dari email-email yang masuk ke alamat Kyu-Cheol, Woo-Jin menemukan sebuah email dengan arsip 0707.zip yang terproteksi password. Karena penasaran, ia mencoba membukanya, namun tidak berhasil menemukan password yang cocok. Ia lantas menghubungi Lee Dong-Soo (Jung Joon-won) dan meminta bantuannya untuk membobol file tersebut. Awalnya Dong-Soo memilih untuk menggunakan software brute force yang butuh waktu lama untuk menemukan password dari arsip tersebut, namun setelah Woo-Jin mengatakan bahwa ia sangat membutuhkan isi arsip tersebut dalam waktu cepat, Dong-Soo berjanji akan menggunakan tehnik lain.

Sembari menunggu hasilnya, Woo-Jin mendatangi tempat neneknya dirawat dan mencoba mencari petunjuk di kamar neneknya. Apes, alih-alih menemukan sesuatu, ia justru dituduh pencuri oleh neneknya yang sudah pikun akibat penyakit dementia.

Beberapa saat kemudian Dong-Soo menghubunginya dan memberitahunya bahwa ia sudah berhasil mengakses arsip 0907.zip. Woo-Jin segera memintanya untuk mengirimkannya ke ponselnya. Namun ia pun kecewa begitu mendapati isi arsip tersebut hanyalah foto-foto rumah di Gyeodok-dong yang pernah ia tinggali bersama keluarganya dan juga Byul.

Tiba di ruang laboratorium, profesor Park mendapati Jin-Hong sudah menunggunya di sana. Setelah memperkenalkan diri, Jin-Hong menuturkan tujuannya menemui profesor Park.

“Ku dengar penelitianmu tentang bio.. cyber.. networking, bukan?” tanya Jin-Hong.

“Sibernetika,” potong profesor Park, “Yang benar bio sibernetika.”

“Oh begitu. Bukankah itu teknologi yang menghubungkan mesin ke otak?”

“Itu bukan hanya pada otak saja.”

“Kau pernah lihat ini sebelumnya?” tanya Jin-Hong sembari menunjukkan serangga biru yang ia dapatkan dari Woo-Jin.

“Tidak, baru kali ini aku melihatnya,” dalih profesor Park. “Kenapa?”

“Ah, benda ini keluar dari tubuh para mahasiswa yang meninggal.”

“Benarkah? Tapi katanya pihak kampus menyimpulkan kalau kematian itu disebabkan karena bunuh diri.”

“Kasusnya masih dalam penyelidikan. Kita juga punya saksi. Ada beberapa aspek yang nampaknya agak mencurigakan. Dan ada satu orang juga yang menghilang,” jelas Jin-Hong.

Sepeningal Jin-Hong, profesor Park menemui Lee Hyun-Seok (Shin Joo-hwan) dan mengkonfrontasinya.

“Apa yang kalian berdua lakukan dengan robotku?” tanya profesor Park. “Apa rencananya profesor Han? Aku bahkan telah jadi kaki tangan untuk ini karena kalian berdua. Bukankah aku berhak tahu?”

“Profesor Han bilang, robot itu memungkinkan melihat ingatan orang melalui file video,” jawab Hyun-Seok setelah terdiam sejenak. “Menurutnya kita bisa menghapus ingatan yang buruk.”

“Mustahil! Mekanisme penyimpanan memori itu sendiri saja bahkan belum aman,” sanggah profesor Park. “Tapi dia akan mengubah ingatan menjadi file video? Bagaimana? Dengan metode apa? Bagaimana bisa kau mahasiswa jurusan sains percaya dengan omong kosong seperti itu?”

Hyun-Seok tidak berkata apa-apa lagi hingga profesor Park pergi meninggalkannya dengan kesal.

Jung-yeon mencoba menghubungi Woo-Jin namun telponnya tidak diangkat. Penasaran dengan apa yang terjadi, ia mendatangi ruang laboratorium dan menghampiri meja ayahnya. Namun baru sempat menyalakan kamera miliknya, profesor Han masuk ke dalam ruang lab. Bergegas Jung-yeon meletakkan kamera tersebut di atas tumpukan buku dan menutupinya dengan sebuah amplop besar.

“Ayah tadi buru-buru pergi jadi aku khawatir,” sambut Jung-yeon seolah tidak ada apa-apa.

“Kau sudah tahu sebanyak apa?” respon profesor Han.

“Apa yang ayah bicarakan?” balas Jung-yeon, berpura-pura heran.

Namun melihat profesor Han yang tetap menunjukkan raut muka datar, Jung-yeon akhirnya sadar bahwa ayahnya sudah tahu apa yang terjadi.

“Byul. Ilmuwan Kim Kyu-Cheol. Ayah. Apa yang telah kalian lakukan? Serangga biru itu buat apa? Dan tentang So-Yoon dan yang lainnya.. dan Beom-Gyoon juga! Apa yang ingin ayah perbuat pada mereka?” tanya Jung-yeon bertubi-tubi.

“Semua ini karenamu,” jawab profesor Han, “Ini semua karenamu, Jung-yeon. Bukan, Byul. Ini semua untuk membantumu memulihkan ingatanmu. Ingatan yang diblok oleh Kim Kyu-Cheol. Aku perlu menggunakan serangga untuk melakukannya. Anak-anak yang sudah meninggal itu? Itu hanya efek samping.”

“Kenapa ayah ingin sekali ingatanku pulih? Apa yang akan berubah jika ingatanku muncul?”

“Semuanya! Ayah bisa mengubah semaunya! Jika kau bisa membuat ingatan awal Byul muncul, seluruh dunia dan seluruh umat manusia bisa hidup di dunia baru nan tangguh. Dunia baru yang bahkan tak pernah terselami sebelumnya.”

“Apa ayah bilang?” tanya Jung-yeon tidak percaya.

“Aku tidak tahu Byul itu darimana, tapi lihatlah! Kau menjalani kehidupan yang baik selagi kau terlihat seperti manusia. Satu hal pasti yang bisa ayah katakan sebagai peneliti adalah DNA-mu sama dengan DNA kami. Tapi kau bisa menganalisis otak manusia. Ilmu saraf masih merupakan bidang yang tidak sepenuhnya jelas bagi manusia, tapi Byul punya pengetahuan itu. Bukan itu saja. Ingatan. Byul mampu menyimpan ingatannya dalam format file video dan bisa menggunakannya untuk menghalangi ingatan. Dia juga bisa memilih yang mana yang dia inginkan. Bisa kau bayangkan semua kemungkinan itu? Dengan menggunakan pemblokiran ingatan, manusia takkan pernah harus menderita lagi! Kau bahkan tidak pernah marah. Tidak sama sekali! Jika aku bisa menemukan caranya, sekalipun hanya sedikit, manusia bisa melakukan terobosan baru,” beber profesor Han.

Profesor Han kemudian menggenggam kedua lengan Jung-yeon.

“Byul. Kaulah penyelamat umat manusia. Aku yakin dengan ada alasan kenapa kau mendatangi kami,” lanjut profesor Han. “Tapi Kim Kyu-Cheol menghancurkan semua itu untuk kita! Aku hanya berusaha membantu mereka. Jadi tolong, Byul. Tolonglah ayah. Kita hampir selesai. Woo-Jin sedang mencari data penelitian ayahnya. Jika dia menemukan data penelitian Kim Kyu-Cheol, kita bisa mengembalikan ingatanmu. Dan jika kita melakukannya, semua ini akan berakhir. Jadi tolong, bersabarlah saja untuk sementara waktu. Jika kau menginginkan Woo-Jin dan Beom-Gyoon selamat, hanya itu caranya.”

Jin-Hong menghubungi Min-Young dan memintanya untuk banyak beristirahat mengingat ada benda asing di kepalanya. Min-Young yang sudah mengeceknya menanggapi dengan tenang karena posisi benda tersebut saat ini tidak berbahaya bagi otaknya. Min-Young kemudian mencoba menghubungi Woo-Jin, namun karena tidak diangkat, ia mendatangi ruang laboratorium dan mencari Woo-Jin di sana.

Begitu melihat meja kerja profesor Han, Min-Young segera menghampirinya dan mencoba mencari-cari petunjuk di sana. Tapi profesor Park tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Min-Young buru-buru bersembunyi di bawah meja profesor Park. Profesor Park ternyata melakukan hal yang sama, mencari petunjuk di meja profesor Han. Saat itulah ia kemudian menemukan kamera yang disembunyikan oleh Jung-yeon. Begitu memutar rekaman video yang ada di dalamnya, profesor Park jadi tahu semua yang terjadi dari percakapan antara Jung-yeon dan ayahnya. Jung-yeon sendiri saat itu sedang dikurung oleh profesor Han di sebuah ruangan.

Min-Young yang tidak sengaja mencuri dengar berusaha untuk merebut kamera tersebut dari tangan profesor Park. Mereka sempat bergumul sebentar, sebelum akhirnya Min-Young memaksa profesor Park mundur dengan senjata tasernya.

“Anda kaki tangannya, kan? Kalian orang yang membunuh para mahasiswa, kan? Dan kalian orang-orang yang menaruh serangga itu di kepalaku, kan?” tanya Min-Young.

“Tenanglah, itu bukan aku,” jawab profesor Park.

“Jangan bohong! Mana Beom-Gyoon?” tanya Min-Young sembari mendekatkan tasernya ke wajah profesor Park.

“Beom-Gyoon? Siapa itu Beom-Gyoon?” respon profesor Park heran.

“Kim Beom-Gyoon! Anda yang menculiknya!” bentak Min-Young.

Profesor Park jadi teringat dengan rumah di Gyeodok-dong yang didatangi oleh Hyun-Seok sebelumnya.

“Tenanglah. Aku tahu dimana orang itu. Aku bisa membantumu. Jadi tolong bantu aku juga,” pinta profesor Park.

“Benarkah?” respon Min-Young seraya perlahan menurunkan tasernya.

Min-Young menghubungi Jin-Hong dan memberitahu bahwa pelakunya adalah profesor Han sekaligus memintanya untuk menjemputnya di Universitas Handam. Sebelum berangkat, ia sempat memberitahu detektif Choi apa yang terjadi. Detektif Choi langsung mengabarkan hal tersebut pada profesor Han, yang merespon dengan menghubungi seseorang dan memintanya untuk mengirim orang ke Gyeodok-dong.

Dalam perjalanan menuju Gyeodok-dong bersama Min-Young dan Jin-Hong, profesor Park menghubungi Woo-Jin dan memberitahunya akan hal itu.

“Nanti ku jelaskan. Aku tahu dimana kakakmu,” ujar profesor Park di ujung telpon tanpa basa-basi. “Dia ada di rumahmu yang dulu, di Gyeodok-dong.”

Woo-Jin seolah tak percaya mendengarnya karena saat itu ia kebetulan memang sedang menuju ke rumahnya yang dulu dan sudah berada tak jauh dari sana.

Woo-Jin lalu mempercepat langkahnya menuju ke rumah. Ia makin kaget begitu mendapati mobil donor darah Bluebird sudah berada di sana. Namun setelah melihat tidak ada seorang pun di dalamnya, Woo-Jin melanjutkan langkah ke bagian belakang rumahnya. Di situlah ia mendapati dua orang berpakaian serba hitam hendak masuk ke dalam rumah. Setelah berusaha susah payah, Woo-Jin akhirnya bisa melumpuhkan keduanya dengan bantuan sebuah sekop.

Perlahan Woo-Jin melangkah masuk ke dalam. Tidak ada seorang pun di sana. Melihat pintu ruang kerja ayahnya, ia lantas membukanya dan terhenyak mendapati sesosok tubuh sedang terbaring tak jauh dari meja kerja ayahnya. Setelah didekati, ternyata itu adalah Beom-Gyoon.

Woo-Jin segera memeluk dan memanggil-manggil nama kakaknya, berusaha membangunkannya. Beberapa saat kemudian Beom-Gyoon membuka matanya.

“Kaukah itu, Woo-Jin?” tanya Beom-Gyoon.

“Iya, hyung. Ini aku. Woo-Jin,” jawab Woo-Jin.

“Woo-Jin, maafkan aku,” ujar Beom-Gyoon lirih.

“Hyung, akulah yang minta maaf. Maafkan aku. Terima kasih sudah bertahan. Aku memang salah,” respon Woo-Jin sembari menggenggam tangan Beom-Gyoon.

“Maafkan aku, Woo-Jin,” ujar Beom-Gyoon kembali.

Di saat itulah, kamera tersembunyi yang ada di atas meja kerja Kyu-Cheol tiba-tiba menunjukkan pesan akses telah diberikan dan sesaat kemudian, komputer milih Kyu-Cheol tiba-tiba menyala sendiri.


» Bersambung ke Part 2

Tema artikel yang berhubungan: , , ,  sinopsis circle episode 8.

Reply