Rekap Sinopsis Circle Episode 7 Part 2 (12 Juni 2017)

Di sinopsis drama korea Circle episode sebelumnya, Lee Ho-Soo (Lee Gi-kwang) yang sudah buta hati akibat terganggu oleh ingatan-ingatan masa lalunya, mau menuruti apa saja yang diperintahkan oleh Lee Hyun-Seok (Min Sung-wook). Termasuk bekerjasama dengan sekretaris Shin (Yoo Young) untuk melumpuhkan Kim Joon-Hyuk (Kim Kang-Woo). Untungnya, saat Hyun-Seok hendak memasukkan chip ke dalam kepala Joon-Hyuk, Hong Jin-Hong (Seo Hyun-Chul) datang dengan disusul oleh menteri Park Dong-Gun (Han Sang-Jin), yang kemudian berujung pada pertemuan empat mata antara Joon-Hyuk dengan menteri Park. Setelah mengetahui bahwa Joon-Hyuk adalah Kim Beom-Gyeon, menteri Park memberitahunya bahwa orang yang terakhir ditemui Kim Woo-Jin sebelum menghilang adalah profesor Han Yong-Woo dan kemungkinan besar Woo-Jin adalah Ketua Human B. Han Jung-Yeon / Bluebird (Kong Seung-Yeon) yang turut dalam pembicaraan mereka dari tempat lain mendukung teori menteri Park tersebut. Apa yang akan terjadi selanjutnya di sinopsis Circle: Two Worlds Connected episode 7 part 2 berikut ini?

Dok. gambar dan video © tvN of Korea Selatan

Sinopsis Episode 7 Part 2

Judul: Brave New World

“Jung-yeon, kau dimana? Kau aman sekarang?” tanya menteri Park pada Jung-yeon.

Jung-yeon mengiyakan.

“Ku rasa kau juga mencari Woo-Jin,” lanjut menteri Park.

“Hanya inilah yang ku tahu,” balas Jung-yeon. “Kalau Woo-Jin mungkin saja ketua Human B.”

“Mustahil!” bantah Joon-Hyuk. “Kenapa pula Woo-Jin membentuk Human B? Kenapa?”

Jung-yeon hanya terdiam.

Di kantor polisi General District, Jin-Hong menginterogasi Hyun-Seok dan menanyakan keterlibatan Ketua Human B dalam aksi mereka. Hyun-Seok berdalih tindakannya hanyalah menangkap seorang pelanggar hukum yang menolak memasukkan chip perlindungan ke kepalanya.

“Pasal 1, ayat 1,” tambah Hyun-Seok. “Barang siapa yang menolak dimasukkan chip tidak diperbolehkan masuk ke Smart District. Kami hanya melaksanakan tugas agar warga Smart District tetap aman.”

“Keamanan apanya? Sistem kalian ini sangat aman sampai ada pembunuhan dan kalian menculik polisi yang bertugas untuk menyelidikinya?” balas Jin-Hong.

“Aku tak tahu apa maksudmu. Bicara saja dengan pengacaraku. Aku akan menggunakan hakku untuk tetap diam,” respon Hyun-Seok tenang.

“Woo-Jin itu bukan ketua,” ucap Joon-Hyuk masih tidak bisa menerimanya.

“Dialah orang terakhir yang punya datanya,” ujar menteri Park. “Dan data itulah dasar teknologi yang membuat Smart District terbentuk.”

“Bukan Woo-Jin, mustahil itu!”

“Aku juga ingin mempercayainya. Tapi bagaimana kalau teknologi ini tidak dicuri dari Woo-Jin melainkan dia menggunakannya sendiri?”

“Aku yang paling tahu Woo-Jin itu seperti apa. Ini tidak didasarkan pada penilaianku saja. Ingatanku ialah hanya tentang ingatan Woo-Jin saja.”

“Apa maksudmu?” tanya menteri Park heran.

“Aku sudah menonton rekaman ingatannya Woo-Jin. Ingatanku tak pernah muncul. Aku tahu segalanya melalui ingatannya Woo-Jin,” jelas Joon-Hyuk.

“Maka kau, ketahuilah hal ini juga,” balas menteri Park. “Inilah yang dikatakan Woo-Jin: hilang ingatan itu adalah perawatan terbaik.”

Ucapan menteri Park membuat Joon-Hyuk ingat saat Woo-Jin menemui profesor Park dan menyatakan ketertarikannya atas penelitian PTSD dan tehnik pengobatan yang Woo-Jin sarankan saat itu, yaitu membuat si penderita lupa akan masa lalunya.

“Tidak ada bukti kalau Woo-Jin itu ketua,” respon Joon-Hyuk sambil menggelengkan kepalanya.

“Betul. Tapi kita belum bisa yakin tentang apa pun. Tetap saja, tidak menutup kemungkinan kalau dia itu ketua. Apalagi aku pernah sepenelitian dengannya,” ujar menteri Park.

Joon-Hyuk menghadang Jung-yeon yang sedang berjalan di General District dan menariknya masuk ke sebuah gang.

“Kenapa kau tidak memberitahuku?” tanya Joon-Hyuk. “Kenapa kau tidak memberitahuku lebih dulu?”

“Woo-Jin ingin aku menjalani hidupku seperti Han Jung-yeon,” jawab Jung-yeon. “Dia ingin menghapus ingatanku sebagai Byul.”

“Tidakkah kau kenal Woo-Jin? Bisa-bisanya kau meragukannya? Padahal kau selalu bersamanya! Bisa-bisanya kau meragukan Woo-Jin?” bentak Joon-Hyuk.

“Karena dia juga bisa melakukan itu terhadapmu.”

“Jelaskan biar aku mengerti.”

“20 tahun lalu, saat kami menemukanmu lagi, kau tidak ingat apapun. Woo-Jin mengalami kesulitan menerima hal itu.”

“Aku dulu tidak mengenal adikku sendiri. Tentulah dia tidak bisa menerimanya saat itu.”

“Tidak. Itu karena kau tersenyum bahagia. Dia bilang dulu kau selalu merasa gelisah setelah ayah kalian menghilang. Tapi Woo-Jin bilang itu pertama kalinya dia melihat kau tersenyum dan tidak hidup bersembunyi, layaknya manusia sejati. Woo-Jin tersiksa karenanya karena kau bisa hidup nyaman seperti itu. Mungkin saja dia berkeputusan seperti itu karena kau,” ungkap Jung-yeon dengan mata berkaca-kaca.

Joon-Hyuk syok mendengarnya. Matanya juga mulai berair menahan tangis.

“Dia berkata ingatan pahit dan menyakitkan haruslah dilupakan,” lanjut Jung-yeon.

“Jadi apa ini semua karena aku?” tanya Joon-Hyuk yang sudah tidak bisa lagi menahan air matanya. “Jika Woo-Jin memang benar ketua, berarti ini semua karena aku? Setelah dia melihatku tanpa ingatan, Woo-Jin membentuk Human B, begitu?”

Jung-yeon tidak menjawabnya.

“Padahal aku berjuang mencarinya selama 10 tahun terakhir,” tambah Joon-Hyuk. “Tapi Woo-Jin tidak mencariku?”

“Terus aku sendiri? Kau pikir bagaimana perasaanku?” balas Jung-yeon lantas menarik kalung yang ada di lehernya dan menunjukkannya pada Joon-Hyuk. “Ini. Woo-Jin memberikan ini padaku. Saat dia menemui profesor Han, dia memberiku ini sebagai janji dia akan kembali! Tapi dia nyatanya tidak kembali dan semua yang ku tahu Woo-Jin mungkin saja si ketua. Ku kira dia tidak mampu kembali lagi. Tapi bagaimana kalau dia memang berkeputusan tak ingin kembali? Aku juga tidak mau kalau Woo-Jin itu memang ketua. Aku juga berharap dia bukan ketua. Sungguh.”

“Masalahnya semakin besar. Kenapa kau melibatkan diri?” tanya walikota Yoon Hak-Joo (Nam Myung-Ryul) pada menteri Park.

“Jika tidak detektif Kim tidak akan baik-baik saja. Aku sudah lama kenal dia. Karena ini sudah terjadi, aku akan membuat pengumuman. Yang harus kita lakukan secara terbuka adalah mengungkapkan perbuatan Human B. Warga perlu tahu,” jawab menteri Park.

“Tidak bisa,” tolak walikota Yoon. “Jika kita melakukannya, Smart District akan porak-poranda…”

“Dan karir politikmu juga akan berakhir,” potong menteri Park.

“Bukan hanya aku saja. Seluruh bangsa ini mengandalkan Smart District. Bisnis yang kau kelola juga akan runtuh,” dalih walikota Yoon.

“Apa itu artinya aku harus membiarkan ini terjadi?”

“Biar aku yang cari solusinya sendiri. Tolong beri aku waktu. Aku juga akan melindungi detektif Kim,” janji walikota Yoon.

Dan solusi yang diambil oleh walikota Yoon kemudian adalah membebaskan Hyun-Seok dan rekan-rekannya dari tahanan General District. Sebagai gantinya, walikota Yoon minta untuk dipertemukan dengan ketua Human B. Tidak itu saja, ia juga minta agar mulai saat itu setiap hal yang berkaitan dengan Smart District ia bicarakan langsung dengan ketua. Raut wajah Hyun-Seok sempat berubah saat mendengarnya, namun ia kemudian berjanji akan menyampaikan hal tersebut pada ketuanya.

Park Min-Young (Kim Min-kyung) menemui Joon-Hyuk di sebuah restoran. Ia menanyakan apa yang terjadi karena Joon-Hyuk jadi susah untuk dihubungi. Dengan santai Joon-Hyuk meminta Min-Young untuk duduk saja dan makan ayam yang sudah ia pesankan. Sikap Joon-Hyuk yang terlihat cuek itu membuat Min-Young jadi heran.

“Min-Young, kau mau liburan?” tanya Joon-Hyuk tiba-tiba.

“Liburan?”

Dan liburan yang dimaksud Joon-Hyuk ternyata adalah mendatangi bioskop 3D dan menggunakan kacamata VR untuk berkunjung ke beberapa negara di dunia. Min-Young jadi makin heran terhadapnya. Usai nonton, Joon-Hyuk membelikannya minuman dari luar dan diam-diam membawanya ke bioskop.

“Hei, kita tidak bisa minum di sini,” ujar Min-Young.

“Tidak apa-apa. Dulu kita biasa bawa minuman dari luar ke tempat karaoke. Rasanya juga lebih nikmat bila kita meminumnya di tempat seperti ini,” balas Joon-Hyuk. “Cepat minum.”

Keduanya lantas meneguk minuman kaleng yang dibawa oleh Joon-Hyuk.

“Min-Young, haruskah aku hidup seperti Kim Joon-Hyuk?” tanya Joon-Hyuk tiba-tiba.

“Apa?” respon Min-Young.

“Begini. Bagaimana jika Woo-Jin tidak mau aku mencarinya. Pikiran seperti itu terbersit olehku.”

“Apa maksudmu?”

“Aku cuma bilang saja. Akhir-akhir ini aku hanya ingin menjalani kehidupan santai,” dalih Joon-Hyuk.

Jin-Hong membebaskan Park Jin-Gyu dari tahanan. Detektif Oh (Kwon Hyuk-Soo) mempertanyakan keputusan atasannya itu karena kali ini mereka sudah punya bukti bahwa Jin-Gyu terlibat dalam penculikan Kim Min-Ji beberapa tahun lalu.

“Tidak ada cara buat menuntut dia,” jelas Jin-Hong.

“Apa ini masuk akal kalau dia tidak dihukum atas kejahatannya?” tanya detektif Oh lagi.

“Jadi sekarang, bagaimana aku harus menebus kejahatanku?” timpal Jin-Gyu.

“Jalanilah hidupmui. Ingatlah kejahatanmu dan hiduplah dengan menyedihkan,” saran Jin-Hong. “Itulah hukumanmu?”

“Bagaimana dengan Min-Ji? Apa yang terjadi dengannya?” tanya Jin-Gyu.

“Kami masih mencarinya. Apa kau tahu dia mungkin ada dimana?”

Karena Jin-Gyu tidak mengetahuinya, Jin-Hong lantas meminta detektif Oh untuk mengantarkan Jin-Gyu keluar. Dengan kesal detektif Oh menurutinya. Sesaat kemudian ponsel Jin-Hong berbunyi. Min-Young yang menghubunginya, memintanya datang menemui Joon-Hyuk di bioskop.

Setibanya di sana, tanpa basa-basi Jin-Hong langsung menceritakan tentang Hyun-Seok yang sudah dibebaskan oleh walikota Yoon sehari sebelumnya. Joon-Hyuk menanggapinya dengan santai.

“Terus aku bisa apa? Aku tak punya kekuasaan,” ujar Joon-Hyuk.

“Kenapa lagi kau ini? Apa karena kau habis bertemu dengan menteri Park? Apa mungkin kau diberitahu sesuatu?” tanya Jin-Hong yang heran dengan perubahan sikap Joon-Hyuk.

“Dia cuma memberitahuku cerita-cerita yang sudah ku tahu,” dalih Joon-Hyuk sembari mengenakan kembali kacamata VR-nya dan lanjut menonton bioskop.

Tiba-tiba detektif Oh menghubungi Jin-Hong dan memberitahunya sesuatu tentang Kim Min-Ji. Mendengar nama itu, Joon-Hyuk terlihat penasaran. Ternyata Min-Ji baru saja membuat video dan mengirimkannya pada detektif Oh, yang lantas meneruskannya pada Jin-Hong.

“Aku akan membuatmu mengingat apa yang kau perbuat terhadapku,” ucap Min-Ji (Choi Ji-hun) dalam video tersebut.

Terlihat Jin-Gyu dalam keadaan terikat di belakang Min-Ji. Jin-Hong segera menelpon detektif Oh dan memintanya mengamankan lokasi Jin-Gyu. Kali ini Joon-Hyuk tidak lagi bisa berpura-pura cuek. Ia pun ikut serta dengan Jin-Hong menuju apartemen tempat Jin-Gyu tinggal. Namun setibanya di sana, yang mereka temukan justru Min-Ji yang dalam keadaan sekarat karena mengiris urat nadi tangannya sendiri. Joon-Hyuk bergegas membopongnya utnuk dibawa ke rumah sakit. Untungnya, Min-Ji akhirnya bisa diselamatkan.

“Mengapa kau melakukannya? Kenapa kau melakukannya di depan Park Jin-Gyu?” tanya Joon-Hyuk pada Min-Ji yang sudah sadarkan diri.

“Balas dendam,” jawab Min-Ji. “Aku ingin memastikan bahwa dia tidak pernah melupakannya lagi. Karena itu sangat mengerikan. Ketika aku mengingat lagi tentang penculikanku, ingatan itu sangat mengerikan sampai rasanya aku ingin mati. Tapi dia tidak ingat semua itu. Mereka tidak ingat apa yang mereka perbuat terhadapku, tapi mereka hidup bahagia. Mereka tidak menebus kejahatan mereka dan tidak tahu apa kesalahan mereka serta menjalani hidup dengan bahagia. Mengerikan sekali. Detektif Kim, apa aku melakukan kesalahan?”

Ho-Soo kembali mengingat tentang Choi Soo-Bin (Tae-Ha). Sebelum Soo-Bin ia temukan tewas gantung diri, sikap Soo-Bin terhadapnya ternyata tiba-tiba berubah. Ia seperti ketakutan terhadap Ho-Soo tanpa alasan yang jelas. Ingatan itu membuat Ho-Soo memutuskan untuk menemui ayah Soo-Bin. Anehnya, pria tersebut sama sekali tidak mengingat Soo-Bin.

“Anda tak ingat Soo-Bin? Dia itu putri angkatmu,” balas Ho-Soo.

“Apa maksudmu? Anak angkat?”

“Tidakkah Anda ingat apa yang Anda perbuat terhadap Soo-Bin? Soo-Bin meninggal karena kau,” ujar Ho-Soo sembari mencengkeram kerah baju pria tersebut.

“Kau kenapa? Lepaskan aku!”

“Kau menyakitinya selama 10 tahun. Dan pada akhirnya Soo-Bin bunuh diri karena ingatan itu,” lanjut Ho-Soo yang mengakhiri ucapannya dengan pukulan ke wajah pria tersebut.

Pria tersebut tetap menyangkalnya. Saat Ho-Soo hendak kembali memukulnya, putri pria tersebut datang menghampiri dan mendorong Ho-Soo menjauh.

“Apa yang kau lakukan? Apa yang kau lakukan pada ayahku? Ayah baik-baik saja?” tanyanya.

“Aku tidak tahu siapa Soo-Bin itu. Sepertinya kau salah orang!” tambah pria tersebut sambil mengajak putrinya pergi meninggalkan Ho-Soo.

Kata-kata Min-Ji membuat Joon-Hyuk bertambah bimbang. Saat berpapasan dengan Jin-Hong, ia mengungkapkan kegelisahannya.

“Hyungnim, apa tindakan kita ini sudah tepat?” tanya Joon-Hyuk.

“Apa?”

“Maksuduku, jika Kim Min-Ji atau Park Jin-Gyu terus hidup tanpa ingatan mereka, bukankah mereka akan baik-baik saja?”

“Kau ini bicara apa?” respon Jin-Hong bingung.

“Dan aku juga. Jika aku juga tidak tahu tentang Woo-Jin dan hidup sebagai Kim Joon-Hyuk, maka kita akan hidup lebih nyaman,” lanjut Joon-Hyuk.

“Jadi maksudmu kita seharusnya tidak perlu mencari Woo-Jin? Padahal dia dulu lama sekali mencarimu!”

“Itulah maksudku! Bayangkan betapa sulitnya bagia dia. Dia berjuang menjalani hidupnya tapi kakaknya selalu menggila akan masa lalu. Bayangkan betapa sulitnya itu bagia dia. Umurnya saat itu baru 21 tahun.”

“Walaupun sulit, kalian harus saling mengingat,” balas Jin-Hong. “Itulah yang namanya keluarga!”

“Apa memang itu keinginan Woo-Jin? Woo-Jin bisa hidup baik-baik saja tanpa ingatan tentangku. Bagaimana jika aku mengganggunya saat dia baik-baik saja? Woo-Jin dan aku tidak punya ingatan indah terhadap masing-masing kami!” ujar Joon-Hyuk dengan nada tinggi. “Ingatan pahit dan menyakitkan sebaiknya harus dilupakan. Tidak ada yang lebih menakutkan atau lebih mengerikan daripada ingatan. Mungkin saja upaya Human B itu sudah tepat.”

“Tidak,” timpal Ho-Soo yang tiba-tiba sudah berada di sana. “Tetap saja mereka harus mengingat.”

“Kenapa?” tanya Joon-Hyuk. “Bukankah kau pernah bilang, jika tak ada ingatan, bukankah kita bisa bahagia?”

“Aku sudah keliru. Ingatan membuat kita berani bertanggung jawab dan ingatan menegakkan keadilan. Meski menyedihkan, kita harus mengingatnya. Hanya itu cara agar kita bisa emosi dan bertanggung jawab atas tindakan kita dan melakukan apa yang benar. Manusia harus bertanggung jawab atas tindakan mereka. Menghapus ingatan kita bukan berarti kejadian yang dialami tidak pernah terjadi,” jawab Ho-Soo.

“Hei, Lee Ho-Soo. Kenapa mendadak kau begini?” respon Joon-Hyuk.

“Ada seorang wanita yang dulu ku cintai. Tapi pria yang membuatnya menderita malah melupakan wanita itu dan hidup bahagia. Dan hal itu tidak pantas,” jawab Ho-Soo. “Detektif Kim, kau benar. Entah betapa menyakitkan, brutal, atau mengerikannya ingatan kita, ingatan itulah yang menunjukkan siapa kita sebenarnya. Kita harus menerimanya dan bertanggung jawab atas ingatan itu. Human B itu bersalah.”

Joon-Hyuk duduk merenung sendiri di ruang penyidikan sambil memainkan rubik kubus. Tiba-tiba ia beranjak dari tempat duduknya dan pergi menemui Hyun-Seok yang baru saja keluar dari gedung Human B.

“Apa lagi kali ini?” tanya Hyun-Seok.

“Sampaikan pesan ini ke ketua. Sampaikan ke dia jika dia tahu aku Kim Beom-Gyoon, kami harus bertemu. Aku, ketua, dan Bluebird, harus bertemu secara langsung,” ujar Joon-Hyuk.

Beberapa saat kemudian, seseorang datang ke ruang penyidikan dan meletakkan sebuah ponsel di sebelah rubik kubus Joon-Hyuk. Sebuah pesan muncul di layar ponsel tersebut, sebuah janji untuk bertemu pada tanggal 13 di atap gedung Goyeon, Smart District, pukul 9 malam. Setelah pesan menghilang, giliran foto Woo-Jin dan Beom-Gyoon yang tampil di layar ponsel tersebut.


Yah, baru kemarin bilang Ho-Soo lebih keren kalau jadi jahat, kenapa dia dah langsung tobat, hehehe. Tapi ini beneran ya menteri Park pro dengan Joon-Hyuk? Kok rasanya masih sulit untuk dipercaya…

» Bersambung ke episode 8

One Response - Add Comment

Reply