Pengalaman Kena Random Check di Jepang

Sebagai pengguna kombo ePaspor dan visa waiver, saya memang sudah mempersiapkan mental apabila terkena random check di Jepang. Maraknya tenaga kerja ilegal asal Indonesia yang menyalahgunakan kemudahan membuat visa waiver memang mau tidak mau memaksa pihak imigrasi Jepang untuk memperketat proses masuk wisatawan asal Indonesia ke negara mereka. Terutama, tentu saja, yang menggunakan visa waiver, salah satu fasilitas bagi pengguna e-Paspor. Sudah banyak kasus wisatawan kita yang dipulangkan paksa karena dianggap tidak memiliki tujuan yang jelas selama berada di Jepang. Tapi siapa sangka, pada akhirnya kekhawatiran saya menjadi nyata. Bahkan tidak hanya sekali, melainkan EMPAT KALI saya terkena random check. Seperti apa ceritanya?

Baca juga: Tips Lolos Imigrasi Jepang

Random check pertama saya alami di counter imigrasi bandara internasional Haneda, Tokyo. Ini berawal dari petugas yang ternyata tidak pernah mendengar nama hotel Enaka Asakusa, yang padahal punya skor 9, baik di Booking.Com maupun Agoda.Com. Apesnya, saya juga keliru menulis durasi kunjungan saya. Seharusnya 10 malam menginap, saya tulis 12 malam. Alhasil, pada saat petugas meminta dan memeriksa bukti pemesanan hotel yang saya bawa, dahinya pun berulang kali berkernyit. Saya sendiri tidak menyadari kesalahan saya itu dan hanya bengong serta berusaha menjelaskan bahwa tidak ada yang salah dengan persiapan saya selama di Jepang, sembari memperhatikan si petugas yang berkali-kali menghitung jumlah hari saya menginap. Setelah tujuh purnama kurang lebih 15 menit berlalu, dan antrian imigrasi sudah hampir kosong, ia akhirnya mengkonfirmasi durasi keberadaan saya di Jepang yang hanya 10 hari, bukan 12 hari seperti yang saya tulis di form embarkasi.

Random check kedua saya alami tidak lama kemudian. Di bagian bea cukai. Penyebabnya adalah bawaan saya yang terlalu sedikit 😀 Si petugas jadi curiga, ini turis ngakunya bakal di Jepang selama 10 hari, tapi kenapa bawaannya kayak orang pergi liburan weekend, wkwkwk. Ya mau bagaimana lagi. Saya sengaja packing ala travelight karena sadar di Jepang bakal banyak berjalan kaki. Tidak mau energi terbuang percuma hanya gara-gara bawaan terlalu banyak. Di bagian bea cukai ini si petugas sampai melakukan body check segala (sayangnya tidak sampai strip check :p). Abon yang saya bawa juga sempat hendak disita karena si petugas tidak percaya saat saya katakan bahwa itu adalah beef. Untunglah begitu saya sebutkan toriniku (daging ayam) akhirnya abon saya dikembalikan.

Padahal abonnya kan daging sapi.

Entah memang tampang saya yang mencurigakan atau polisi-polisi di Jepang yang iseng, saat hendak pulang dan sedang bersantai menunggu counter check-in dibuka di bandara internasiol Kansai (Osaka), lagi-lagi saya terkena random check. Tidak tanggung-tanggung, dua kali berturut-turut oleh petugas yang berbeda dalam jangka waktu 10 menit. Yang mendatangi adalah semacam polisi berpakaian preman. Setelah mengenalkan diri seraya memamerkan badge, mereka lantas meminta saya menunjukkan buku paspor. Sambil mencatat nama dan nomer paspor, mereka mengajak ngobrol dalam bahasa Inggris tentang kunjungan saya ke Jepang. Setelah beberapa pertanyaan, buku paspor pun dikembalikan dan mereka pamit.

Pengalaman terkena random check di Jepang yang ruar biasa ini membuat saya sendiri bingung, harus sedih atau bangga. Mari coba dihitung-hitung. Jika dimisalkan kemungkinan orang terkena random check imigrasi adalah 50% dan terkena random check bea cukai adalah 50%, berarti kemungkinan saya terkena keduanya adalah 25% (1/2 * 1/2 = 1/4). Untuk probabilitas terkena random check oleh polisi bandara, dari hasil googling, yang paling ‘sering’ adalah satu kali dalam 6 kali penerbangan. Jika dimisalkan probabilitas terkena random check di bandara dua kali berturut-turut adalah 1/6 juga, berarti kemungkinan saya mengalami semua kejadian di atas adalah 1/2 * 1/2 * 1/6 * 1/6 = 0,69%!!!

Mantap djiwa 😀

Tapi seriusan, saya tidak terlalu panik saat menghadapi keempat kejadian di atas. Yang pertama adalah karena saya merasa semua persiapan saya sudah lengkap, sehingga apabila harus ‘diinterogasi’ saya bisa menunjukkan semua bukti dan argumen pendukung. Yang kedua tentu saja karena saya merasa tidak melakukan kesalahan apa-apa. Bahkan jujur, saat didatangi oleh polisi bandara dan mereka menunjukkan badge mereka, saya malah memandang mereka dengan kagum karena terlihat gagah sekali. Kayak di film-film detektif polisi itu loh, yang polisinya pakai jas rapi, berjalan tegap, menghampiri sambil mengeluarkan lencana lantas berkata “We are the police“. Keren!

Apakah ini bakal membuat saya kapok ke Jepang? Tentu tidak. Saya justru makin penasaran, apabila berkunjung lagi ke sana, apakah bakal mengalami hal yang sama lagi atau tidak. Dan suer, kalau sampai didatangi polisi bandara untuk ketiga kalinya, pasti nanti akan saya ajak selfie-selfie cantik 😀

Di sisi lain saya mendapat pelajaran baru. Bahwa sebenarnya kita bisa melakukan penolakan terhadap proses random check yang dilakukan oleh polisi bandara (atau polisi lain di luar bandara) apabila mereka tidak mau / tidak mampu memberikan alasan kuat untuk itu. Kenapa? Karena sesuai undang-undang, yang boleh melihat isi buku paspor kita hanyalah petugas imigrasi (dan instansi terkait) serta polisi APABILA kita dicurigai melakukan sesuatu yang melanggar hukum. Kita juga berhak untuk memeriksa badge yang mereka bawa dan mendokumentasikan proses random check jika kita inginkan, sesuatu yang sayangnya pada saat itu tidak sempat saya lakukan. Nyesel.

Yah, memang benar kata orang, traveling is a learning experience. And that’s why I love traveling.

Tema artikel yang berhubungan: , , ,

2 Comments - Add Comment

Reply