Pengalaman Backpacking Selama (Hampir) 2 Minggu Ke Jepang

Terlaksana sudah rencana traveling ala backpacker ke Jepang yang berlangsung pada tanggal 15 hingga 27 Februari 2017 lalu. Setelah sabar menanti selama setahun sejak tiket promo penerbangan PP dari Surabaya ke Tokyo dan Osaka dibeli, cita-cita untuk melihat negeri yang selama ini hanya bisa dinikmati di JDrama dan anime serta manga pun terwujud. Puas rasanya menyusuri jalan-jalan kecil di pinggiran kota Tokyo, melihat anak-anak kecil bermain di taman, menaiki shinkansen, mandi bareng di sento, bermalam di hotel kapsul (tidak terlalu terasa sih kalo yang ini), hingga membaca manga dalam bahasa aslinya (lebih tepatnya lihat-lihat tulisannya berhubung belum lancar membaca tulisan kanji, hehehe).

Ada banyak hal yang berkesan selama perjalanan saya di Jepang. Beberapa di antaranya:

  • Orang Jepang sangat memegang teguh etika. Mungkin sudah banyak yang tahu bahwa orang Jepang terkenal dengan kedisiplinan mereka. Tapi setelah berada di sana dan melihat sendiri kehidupan masyarakat Jepang, saya merasa bahwa mereka bukan sekedar disiplin, tapi lebih kepada menjunjung tinggi etika, khususnya dalam hal bermasyarakat. Sebagai contoh, meski kereta tidak terlalu padat, anak muda, khususnya yang masih SMP dan SMA, akan memilih untuk tetap berdiri ketimbang duduk di kursi penumpang. Ini bisa dipahami secara nalar bahwa mereka sudah dididik secara etika bahwa kursi penumpang harus diberikan kepada yang lebih tua, walau di sana tidak ada peraturan yang tertulis. Contoh lain, apabila kita hendak memotret suatu obyek, mereka sebisa mungkin akan menghindar dari sudut pandang lensa. Bukan karena tidak mau tenar, tapi karena secara etika, tidak sopan bagi mereka untuk ‘in frame‘ ke dalam foto atau rekaman video milik orang lain. Beda ya dengan di Indonesia, hehehe.

  • Semua pekerjaan di Jepang dilakukan secara efektif. Dikombinasikan dengan etika dimana jarang ada orang yang dengan sengaja melanggar peraturan, banyak hal yang berlangsung secara efektif di Jepang. Sopir bus bisa merangkap sebagai kondektur karena di bus sudah ada mesin penukaran uang dan penumpang jarang ada yang nakal dengan turun dari pintu belakang, toko perhiasan mewah tidak perlu dijaga oleh satpam, pelayan toko biasanya hanya standby di bagian kasir (tidak ada yang sliweran ngikutin pengunjung), dan masih banyak lagi. Dengan demikian, orang yang tidak memiliki pekerjaan mau tidak mau harus berusaha untuk meningkatkan skill mereka agar bisa mendapatkan pekerjaan. Sistem ini seharusnya diadopsi di Indonesia, agar SDM Indonesia semakin lama bisa semakin berkembang.

  • Makanan Jepang sangat menggoda. Sungguh, cobaan paling berat selama di Jepang justru adalah harus menahan diri untuk tidak jajan. Meski sudah membatasi dengan tidak mengkonsumsi makanan-makanan yang tidak jelas kehalalannya, tapi tetap saja harus over budget gara-gara aneka jajanan yang terlihat lezat dan seakan melambai-lambai minta didatangi.

  • Hotel kapsul tidak seperti yang dibayangkan. Seiring dengan perkembangan jaman (dan kebutuhan), hotel kapsul sudah tidak seperti dulu lagi. Banyak ‘kapsul’ yang sudah tidak lagi tertutup, melainkan menggunakan tirai biasa seperti halnya tempat tidur tingkat di kamar dorm. Apesnya, satu-satunya hotel kapsul yang saya pilih untuk diinapi juga sudah berevolusi untuk menggunakan penutup tirai. Gagal deh merasakan sensasi khas negara Jepang.

  • Salju ternyata gitu doang. Kayak es serut. Atau mungkin pengaruh waktunya yang sudah mulai mendekati musim semi. Yang jelas tidak seperti bayangan saya semula, yang lembut-lembut empuk. Di sisi lain, bisa menyaksikan pemandangan kota dan pegunungan sekitarnya yang tertutup salju merupakan anugerah Tuhan yang luar biasa.

  • Tidak ada binatang liar di Jepang. Cuma sekali melihat ada kucing liar, di samping hostel yang saya inapi di Osaka. Selebihnya tidak satu pun, baik itu anjing maupun kucing.

  • Selalu ada hutan, sungai, dan kuil di tengah kota. Ini salah satu yang saya kagumi, keseimbangan ekosistem alamnya. Meski kotanya berkembang, tapi alam tetap diperhatikan. Bahkan habitat binatangnya pun tetap hidup. Termasuk burung-burung merpati dan gagak liar yang jinak dan cuek bercengkrama di dekat kaki kita. Pun begitu dengan urusan religi. Di tengah ‘pasar’ Dotonbori saja masih ada nyempil kuil yang tidak sepi dari penziarah.

  • Kehidupan malam datang lebih sore. Kebanyakan toko di Jepang sudah tutup pada pukul 8 malam, kecuali minimarket yang hampir semuanya buka 24 jam tentunya. Menyusuri jalanan pada pukul 1/2 9 malam di beberapa tempat rasanya sudah seperti menjelang tengah malam.

  • Orang Jepang mencintai sejarah mereka sendiri. Ini juga yang sangat terasa perbedaannya dengan di Indonesia. Museum-museum maupun tempat-tempat bersejarah di Jepang tidak hanya dipadati turis, melainkan juga warga negara Jepang sendiri. Saya sampai terkagum-kagum ketika menguping seorang ibu sedang menjelaskan kepada anaknya tentang sejarah masa lalu kota Osaka saat sedang berada di Osaka Museum of History. Di
    Indonesia? Mungkin orang hanya pernah datang ke museum saat sekolahnya mengadakan study tour…

  • Orang Jepang gemar bermain pachinko. Selain tetap bergaya optimal meski hanya untuk bermain pachinko, banyak yang rela mengantri sejak pagi sebelum tempat bermain tersebut dibuka. Sepertinya ada promo khusus bagi yang datang lebih dulu karena banyak pegawai-pegawai tempat pachinko yang heboh mempromosikan tempat mereka.

Eniwei, perjalanan selama backpacking ke Jepang saya beberkan dalam artikel-artikel terpisah berikut ini:

Silahkan di-klik tautan masing-masing untuk membaca cerita selengkapnya ya. Kalau belum bisa di-klik, berarti belum ditulis artikelnya, hehehe. Yang pasti, semoga cerita pengalaman dan perjalanan saya bisa menginspirasi dan memotivasi teman-teman untuk berlibur ke Jepang, baik ala backpacker maupun ala turis.

Tema artikel yang berhubungan: , ,  INFO KEHILANGAN KENDARAAN.

2 Comments - Add Comment

Reply