Catper Backpacking Ke Myanmar-Thailand 18-24 Juli 2016

Setelah melalui perjalanan pulang yang melelahkan — kombinasi capek nunggu delay, deg-degan karena turbulance, kelaparan karena gak kebagian jatah makanan di pesawat, serta bete karena lalu lintas udara bandara Juanda yang padat sehingga harus antri untuk mendarat — akhirnya semalam touchdown juga di garis finish perjalanan backpacking ke Myanmar dan Thailand. Memang, seseru apapun perjalanan di luar, tidak ada yang lebih nyaman ketimbang ada di rumah sendiri. Dan meski awalnya pesimis bakal ngerasain liburan yang ‘biasa-biasa aja’, kekuatan magis solo backpacking tetap ada, dan satu demi satu kejutan hadir… mengacaukan itinerary dan rencana yang telah dibuat 😀

catper_myanmarthaijuli2016

Negara Myanmar sendiri sudah jauh berkembang dari cerita-cerita yang saya baca di berbagai travel blog. Meski pembangunan belum merata, Yangon sudah mengarah menuju kota metropolitan. Gedung-gedung pencakar langit mulai bermunculan, juga plaza kelas menengah ke atas (yang saat ini belum diminati oleh penduduk lokal). Bandara internasionalnya gak kalah dengan terminal 2 Juanda, terlebih terminal baru mereka yang kebetulan mulai beroperasi pada awal bulan Juli ini dan sempat saya cicipi kemegahannya.

Seperti di negara-negara Asia Tenggara lain yang pernah saya singgahi, di Myanmar saya juga dianggap sebagai orang lokal. Alhasil bisa lolos masuk ke beberapa lokasi tanpa harus membayar, termasuk di Shwedagon Pagoda (Yangon) serta Bagan, hehehe. Di Mandalay semestinya juga bisa free of charge, hanya ojek yang saya tumpangi sudah langsung membawa saya ke loket Mandalay Zone tanpa babibu terlebih dahulu 🙁

Sisi negatifnya, kondisi pagoda di sana jauh lebih buruk daripada apa yang diceritakan (apalagi yang tidak banyak dikunjungi wisatawan). Tanpa bermaksud menghina budaya dan kepercayaan agama di sana, saya masih tidak habis pikir bagaimana atas nama kesucian kita harus melepaskan alas kaki yang dipakai, sementara lantai dan bangunan pagoda yang bersangkutan kotor karena kotoran binatang serta bau pesing karena bekas kencing anjing. Saya sendiri malah jadi sungkan untuk masuk ke ruangan-ruangan yang menjadi tempat ibadah mereka dan hanya melihat (dan mengambil gambar) dari luar karena merasa telapak kaki saya tidak cukup bersih untuk masuk ke dalam.

Pagoda-pagoda di Mandalay, terutama yang ada di area tour of the 4 city (Amarapura, Innwa, Sagaing Hill, Mingun), termasuk yang menurut saya tidak begitu terawat kebersihannya. Jujur, meski belum sempat menjelajahi semua lokasi yang ada di wilayah tersebut karena kondisi cuaca yang tidak bersahabat, untuk saat ini saya tidak berminat untuk kembali lagi ke sana. Berbeda dengan Bagan, yang hingga saat ini masih membuat saya menyesal mengapa tidak meluangkan waktu lebih lama di sana. Jangankan saya sendiri, pemilik guest house tempat saya menginap (setengah hari) pun menatap saya dengan wajah prihatin sambil geleng-geleng kepala ketika saya mengatakan bakal check-out malam itu juga.

Menginap di Bagan (juga Mandalay) sebenarnya bukan part of the plan. Di Mandalay saya terpaksa mengambil keputusan untuk check-in karena kondisi cuaca yang hujan sejak bus tiba di terminal pada dini hari. Untungnya, seolah mengetahui saya sebenarnya tidak berniat untuk check-in, sopir taksi yang saya gunakan membawa saya ke hotel yang biayanya sangat murah, $12 untuk single room dan private bathroom. Dan meski ada ekstra pengeluaran, ternyata ini keputusan yang benar, mengingat kondisi pagoda di sana yang kurang kondusif dan membuat saya tidak nyaman jika harus beribadah (sholat) tanpa bersih-bersih badan dengan maksimal terlebih dahulu. Sesuatu yang tidak mungkin dilakukan apabila tidak check-in di hotel.

Yah, detil keseruan-keseruan lain nanti bakal saya tulis di Curcol.Co dan Trepling.XYZ. Sambil menunggu publikasinya, berikut beberapa highlight selama perjalanan ke Myanmar dan Thailand yang saya alami pada kesempatan kali ini:

  • Susah tidur gara-gara lolongan anjing sepanjang malam di Yangon dan tiga kali merasa tempat tidur hotel bergoyang ke kiri dan ke kanan sesaat setelah mencoba memejamkan mata.
  • Ikutan sholat Maghrib berjama’ah di salah satu mesjid di Yangon, yang ternyata beberapa gerakan sholatnya berbeda dengan di Indonesia. Termasuk juga aturan haram bagi laki-laki untuk mengangkat celana / sarung lebih dari mata kaki (maksimal sekitar 5-10 cm saja di atasnya) serta larangan untuk melaksanakan sholat berjamaah sendiri (di luar waktu sholat jamaah mereka). Entah aliran apa ini.
  • Sempat mau di-scam oleh orang Pakistan, yang menawarkan untuk membelikan tiket Circular Train Ride di Yangon dengan harga $10. Harga aslinya? Hanya 200 kyat atau sekitar 2500 rupiah saja.
  • Bikin ‘heboh’ di Mandalay setelah bertanya kepada seorang sopir ojek di pangkalan yang ternyata dia tidak bisa berbahasa Inggris. Ia kemudian memanggil polisi yang berjaga di sana, dan ternyata si polisi pun tidak bisa berbahasa Inggris. Mereka berdua kemudian mengajak saya masuk ke hotel tidak jauh dari tempat tersebut untuk berbicara dengan dua orang resepsionis di sana, plus si pemilik hotelnya sendiri. Ada 1 orang polisi lain lagi juga di sana. Semua mengerubungi saya, bagai seorang turis yang lagi nyasar tak tahu jalan pulang. Padahal sebenarnya saya cuma mau tanya alamat aja di tukang ojek yang pertama tadi…
  • Girang karena sukses menemukan candi yang sepi pengunjung di waktu sunrise sesuai dengan petunjuk dari pemilik guest house, namun saat melangkah masuk dihadang oleh seekor anjing agresif yang terus menerus menggonggong dan sudah ambil ancang-ancang untuk menyerang. Termasuk mundur teratur dan kabur dari TKP.
  • Ketiduran di mini bus dalam perjalanan ke Santorini Park (Thailand) dan bangun-bangun sudah sampai kota Hua Hin, lewat hampir 30km dari tujuan awal.
  • Asyik menikmati kelucuan kucing-kucing di Caturday Cat Cafe (Bangkok) hingga satu di antara mereka memutuskan untuk eek di bantal cafe.

Tunggu cerita-cerita selengkapnya ya, gaes! 🙂 Dan buat yang nungguin kelanjutan sinopsis drakor, tenang, sebagian sudah di-updet kok. Langsung cekidot aja di artikel mereka masing-masing. Untuk updet review komik menyusul ya, juga bakal hadir sinopsis drakor terbaru “W”, yang ratingnya gak kalah dengan “Uncontrollably Fond”.

Tema artikel yang berhubungan: , ,  thailand18 2016.

4 Comments - Add Comment

Reply