Begini Itinerary Backpacking Asia Tenggara. Berangkat? – Bagian 2

Akhirnya ketemu juga, kertas-kertas catatan perjalanan saya selama melaksanakan ritual backpacking ke beberapa negara di kawasan Indocina tahun lalu. Momennya juga pas, sebulan sebelum perjalanan backpacking selanjutnya ke Myanmar pertengahan bulan Juli mendatang. Jadi sudah gak ada tanggungan draft postingan lagi, hehehe. Perlu diketahui, itinerary berikut ini adalah bagian kedua ya, untuk perjalanan hari ke-7 hingga ke-12. Untuk jadwal perjalanan hari sebelumnya bisa dibaca di sini. Cekidot!

Itinerary Traveling Keliling Asia Tenggara Ala Backpacker – Bagian 2

Hari 7: Thailand - Kamboja
Waktu Keterangan Biaya
07.00 Check-out hotel
07.00-07.45 MRT dari stasiun Nana ke Mo Chit
07.45-08.00 Tuk-tuk dari stasiun MRT Mo Chit ke terminal bis Mo Chit
09.00-16.30 Naik bus dari Bangkok ke Siem Reap, Kamboja
16.30-18.00 Tuk-tuk ke hotel, check-in, istirahat
18.00-21.00 Keliling kota Siem Reap, makan malam

Catatan:

  • Di dalam bus yang menuju Siem Reap, terdapat tulisan bahwa khusus untuk perjalanan hari Sabtu akan dikenai biaya ekstra dikarenakan pada hari tersebut sebenarnya tidak boleh ada bus transportasi yang melintas di jalan raya. Entah benar atau tidak, tapi tidak ada satu pun penumpang yang protes ketika kondektur menagih biaya tersebut. Saya sendiri lupa nominalnya, tapi yang jelas tidak terlalu besar. Yang menarik, kondektur tersebut melewati saya begitu saja dan tidak menagih biaya tersebut. Prediksi saya karena saya dianggap orang lokal…

  • Bus dari ThaiTicketMajor ini benar-benar sip untuk urusan konsumsi. Selain roti, jus dalam kemasan kotak, dan kopi kalengan, mendekati perbatasan kita juga mendapat makan siang (yang untungnya pada saat itu tidak mengandung babi) plus air putih. Dijamin kenyang.

  • Mendekati perbatasan, bus akan berhenti dan seorang pria masuk dengan menawarkan pengurusan visa on arrival dengan biaya $10. Karena lagi-lagi dianggap orang lokal, ‘petugas’ yang bersangkutan hanya menoleh ke arah dan tersenyum kecil. Beberapa orang turis menggunakan jasa tersebut, tapi sebagian besar menolak dengan alasan itu adalah scam. Dan memang scam sih sebenarnya karena biaya pengurusan visa on arrival di Kamboja tidak semahal itu.

  • Perbatasan Thailand – Kamboja di Aranyaprathet-Poipet cukup lenggang. Atau mungkin pengaruh gedung imigrasi Thailand yang terlalu besar, sehingga terasa sepi.

  • Memasuki wilayah Poipet, Kamboja, kantor imigrasi mereka berada di tengah area hotel, kasino, dan pasar, sehingga lumayan bikin pusing mencarinya. Dan kalau kantor imigrasi Thailand berbentuk gedung, kantor imigrasi Kamboja tidak ubahnya loket kereta api yang gelap dan kumuh.

  • Bus berhenti cukup lama di Poipet karena menunggu turis-turis yang tadinya menolak jasa pengurusan visa dan saat itu jadi kebingungan sendiri berjalan ke sana kemari mengikuti prosedur resmi pengurusannya yang ‘sepertinya’ memang agak kurang jelas tata caranya. Kalau saya jadi mereka dan tahu bakal ribet seperti itu sih mending bayar aja, hehehe.

  • Sampai di kantor travel bus yang bersangkutan, sudah ada tuk-tuk yang akan mengantarkan masing-masing penumpang ke hotel secara GRATIS. Berhubung saya sudah memesan jasa tuk-tuk untuk menjelajah Angkor Wat keesokan harinya, akhirnya saya memintanya untuk nanti mengantar keliling kota Siem Reap, terutama untuk melihat Phare, sirkus kamboja yang populer karena memadukan aksi akrobatik dengan unsur cerita. Sayang ternyata menurut info dari sopir tuk-tuk dan juga setelah melihat (bagian luarnya) dengan mata kepala sendiri, sirkus ini sudah tidak populer lagi dan mulai diabaikan keberadaannya.

  • Hotel yang saya tempati, Golden Temple Villa, LUAR BIASA pelayanannya. Biaya menginap hanya $17 per malam, tapi saya diperlakukan bak raja. Sesuatu yang tidak pernah saya dapati di negeri Indonesia, bahkan di hotel yang biaya menginapnya hampir 10 kali lipat Golden Temple Villa ini. Lokasi hotel juga dekat dengan Angkor Night Market dan Pub Stress.

Hari 8: Kamboja (Siem Reap - Phnom Penh)
Waktu Keterangan Biaya
05.00 Check-out hotel, titip tas
05.00-15.00 Keliling Angkor Wat
15.00-22.30 Keliling kota Siem Reap
22.30 Naik bus dari Siem Reap ke Phnom Penh Giant Ibis, $16

Catatan:

  • Selain pemandangan sunrise-nya, Angkor Wat sendiri tidak semegah dan semenarik yang banyak dibicarakan. Sejarahnya mungkin ya, karena tempat tersebut adalah bekas peradaban / kota jaman dahulu. Tapi ornamen candi tidak se-keren candi Prambanan atau Borobudur di Indonesia. Oh ya, untuk bisa mendapat posisi yang apik untuk menikmati atau mengambil foto / video matahari terbit di Angkor Wat, sebaiknya berangkat sepagi mungkin. Saya berangkat pukul 5 pagi (apesnya, dengan tuk-tuk yang berjalan lambreta) dan posisi-posisi wenak (di depan danau) sudah penuh terisi 🙁

  • Jika sopir tuk-tuk menawarkan makan siang di salah satu restauran di area Angkor Wat, sebaiknya ditolak. Restoran yang dituju biasanya adalah salah satu tourist trap, resto dengan tarif mahal yang memberi persenan pada sopir tuk-tuk yang sukses membawakan mereka pelanggan. Saya termasuk yang sudah terkena jebakan betmen tersebut, dengan total DC sekitar 150 ribu untuk satu orang 🙁

  • Karena bus menuju Phnom Penh baru berangkat pada malam hari, saya menghabiskan waktu dengan berkeliling ke sana kemari on foot. Termasuk menjajal Muslim Family Kitchen yang ternyata memang benar-benar enak sesuai yang banyak direkomendasikan, juga mampir ke masjid yang berada tidak jauh darinya dan berkenalan dengan imam masjid di sana, yang bisa berbahasa melayu.

  • Di dalam area Angkor Night Market ada salah satu stand penjual kaos yang unik dan berbeda dengan kaos lainnya. Saya lupa di sebelah mana, tapi jika teman-teman menyusuri tempat tersebut saya yakin bisa menemukannya. Harganya di atas rata-rata tapi desain dan bahannya eksklusif. Cocok buat bukti nyata kalau sudah pernah jalan-jalan ke Kamboja, hehehe.

Hari 9: Kamboja (Phnom Penh)
Waktu Keterangan Biaya
04.30 Tiba di Phnom Penh, naik tuk-tuk ke masjid lalu ke hotel, titip tas di hotel
06.00-07.00 Keliling area sekitar hotel
07.00-08.00 Check in, mandi, istirahat
08.00-14.00 Keliling Phnom Penh (Tuol Sleng Museum, Killing Fields of Choeung Ek)
14.00-16.00 Makan siang, balik ke hotel, istirahat
16.00-18.00 Menikmati sunset di sungai Mekong dengan Tourist Boat Dock

Catatan:

  • Bus tiba satu jam lebih cepat dari jadwal. Alhasil jadi bisa mampir ke mesjid untuk sholat subuh. Lupa nama masjidnya, tapi yang jelas besar banget. Dari gerbang masuk ke pelataran masjid aja jaraknya setara lebar lapangan sepak bola. Info dari temen, ternyata di area luar masjid terdapat penginapan dan warung-warung muslim.

  • Hotel tempat saya menginap ternyata lebih mirip bar / pub ketimbang tempat menginap. Di bagian bawah, selain resepsionis, juga ada bar, pool table, dan kalau malam hari, cewek-cewek penghibur, hehehe. Pantes aja kok murah, cuma 120 ribu-an kalau di-kurs ke rupiah pada waktu itu. Dan untung sudah kebal dengan penampakan yang beginian, sehingga tidak tergoda untuk nenteng satu ke kamar, wkwkwk. Seremnya lagi, bangunan di sebelah hotel adalah toko peti mati, wkwkwk. Segi positifnya, di samping toko peti mati adalah KFC, dan beberapa bangunan di seberang hotel adalah Gloria Coffee.

  • Tuol Sleng Genocide Museum dan Killing Fields of Choeung Ek adalah tempat yang WAJIB dikunjungi kalau teman-teman berkesempatan ke Phnom Penh. Sama seperti Siriraj Museum di Bangkok, kebangetan deh kalau sampai gak bersyukur atas hidup yang kita jalani sekarang setelah lihat sendiri isi kedua tempat itu.

  • Cita-cita saya untuk menjajal Sumatra, resto makanan padang di Phnom Penh gagal total karena ternyata mereka libur di hari Senin. Untungnya, setelah browsing-browsing, ketemu Warung Bali yang letaknya tidak jauh dari Royal Palace. Dari sertifikat-sertifikat yang dipajang di tembok sepertinya si pemilik pernah tinggal di Bali dan belajar memasak di sana.

  • Kebetulan lainnya, hotel tempat saya menginap juga tidak jauh letaknya dari Tourist Boat Dock, dermaga untuk kapal yang membawa turis (atau siapa saja) yang ingin menikmati pemandangan sunset sambil berpesiar di atas kapal mengarungi sungai Mekong. Sayang waktu saya naik masih agak terlalu sore, belum pas waktunya sunset. Dalam perjalanan pulang dan sudah hampir mendekati dermaga baru matahari mulai terbenam.

Hari 10: Kamboja (Phnom Penh) - Vietnam (Ho Chi Minh)
Waktu Keterangan Biaya
07.30 Check-out hotel
08.00-15.00 Naik bus menuju Ho Chi Minh Giant Ibis, $19
15.00-17.00 Daftar tour, Check-in hotel, istirahat
17.00-19.00 Keliling kota Ho Chi Minh, makan malam

Catatan:

  • Tidak ada penjaga di pintu gerbang perbatasan Kamboja – Vietnam, kondektur bus sampai harus membuka sendiri pintu gerbangnya, hehehe.

  • Asiknya naik Giant Ibis, segala keperluan imigrasi sudah diatur oleh mereka. Termasuk pengisian form yang diperlukan. Bahkan pada saat melalui loket penjaga, penumpang bus diarahkan ke satu jalur khusus yang tidak melalui pemeriksaan sama sekali.

  • Ini PENTING. Pada saat bus tiba di kantor travel mereka, JANGAN naik tuk-tuk yang sudah standby menunggu di sana. Rata-rata mereka adalah scam, yang punya seribu satu cara untuk menipu kita (tidak hanya satu metode saja). Sebaiknya abaikan sopir-sopir tuk-tuk yang sudah menyerbu di pintu keluar bus, berjalan beberapa ratus meter, baru kemudian mencegat tuk-tuk yang melintas. Selain itu, jika membawa barang bawaan, jangan sampai diserahkan atau dibawakan ke mereka. Apapun itu jenis bawaannya, sebaiknya tetap Anda pegang sendiri. Saya sudah tertipu di sini, gara-gara saya menolak tawaran si sopir tuk-untuk jalan ke berbagai tempat, akhirnya ia menurunkan saya di jalan dengan alasan membeli bensin (dan terlebih dahulu meminta bayaran tuk-tuk dengan harga di atas rata-rata) lalu kabur begitu saja 🙁

  • Sektor pariwisata di Vietnam benar-benar sedang berkembang dan agen tour / travel dapat dengan mudah ditemui di pinggir jalan atau pun di hotel. Banyak penginapan yang lantai satunya digunakan sebagai jasa travel. Karena kebanyakan hanya sebagai ‘calo’ dari satu atau dua jasa tour utama, kita mendaftar tour dimana saja tidak masalah. Yang jelas harga pemesanan via hotel sudah pasti lebih mahal. Di sisi lain, harga masing-masing tour amat sangat terjangkau dan murah (rata-rata hanya seratus ribuan jika dikonversi ke rupiah). Untuk tur Cu Chi Tunnel dan Mekong River Cruise yang saya pesan, total hanya menghabiskan Rp 210.000,- saja.

  • Ada beberapa restoran muslim di pusat kota, dekat pasar Ben Thanh. Saat sedang makan di salah satunya, kebetulan bertemu dengan traveller dari Indonesia yang ternyata juga naik bus Giant Ibis yang sama dari Phnom Penh. Info dari kawan traveller tersebut, besok malam ada perayaan hari jadi kota Ho Chi Minh tepat di taman kota dekat Benh Thanh Market. Mantap.

Hari 11: Vietnam (Ho Chi Minh)
Waktu Keterangan Biaya
08.00-15.00 Check-out hotel, tur Cu Chi Tunnel
15.00-18.00 Check-in hotel, istirahat
18.00-21.00 Nonton perayaan dan pesta kembang api di taman kota.

Catatan:

  • Untuk tur Cu Chi Tunnel ternyata ada harga ada rupa, hehehe. Yang bayarnya murah, keliling-keliling di TKP-nya tidak terlalu lama. Ada beberapa bagian yang juga sengaja dilewati. Tapi meski demikian, tetap sudah lebih dari cukup kok. Tetap bisa ngerasain jalan-jalan menyusuri lorong terowongan yang gelap dan pendek. Juga tetap bisa (sedikit banyak) mengetahui sejarah tempat tersebut dan merasakan perjuangan masyarakat jaman dahulu.

  • Perayaan ternyata menghadirkan artis-artikel Vietnam terkenal yang sayangnya tidak ada satu pun yang saya kenal, wkwkwk. Meski tidak paham dengan bahasanya, tapi pertunjukkannya sendiri cukup menghibur. Saya sendiri mendapat posisi nonton yang strategis, tepat di belakang tim pengatur efek panggung, hehehe. Lumayan tidak terganggu orang yang lalu-lalang.

Hari 12: Vietnam (Ho Chi Minh) - Singapore
Waktu Keterangan Biaya
06.00-07.30 Keliling kota (Notre-Dame Chatedral, Independence Palace, dll)
08.00-14.00 Check-out hotel, tur Mekong River Cruise
14.00-16.00 Makan, naik taksi menuju bandara
17.00-20.00 Pesawat dari Ho Chi Minh ke Singapore

Catatan:

  • Tur Mekong River Cruise cukup seru karena salah satu agendanya adalah naik sampan melalui sungai-sungai kecil. Apesnya, saya duduk tepat di belakang ibu-ibu pendayung (iya, yang mendayung sampan rata-rata adalah ibu-ibu berumur 40 tahunan ke atas) dan saat hendak turun ia meminta uang tips kepada saya.

  • Karena harus buru-buru menuju bandara, untuk pertama kalinya saya naik taksi di kota ini dan ternyata aman-aman saja. Argo normal dan rute tidak dibikin nyasar ke sana kemari.

  • Ternyata benar, area paling enak untuk tiduran di bandara Changi adalah di area keberangkatan, yang berkarpet empuk dan cukup sepi di malam hari. Tinggal cari posisi yang dekat colokan charger, klop deh tidur sambil nge-charge handphone, hehehe.


Nah, begitulah itinerary selengkapnya dari perjalanan lintas perbatasan di negara-negara Indochina. Memang belum lengkap sih, karena belum melalui Myanmar dan Laos. Silahkan teman-teman modifikasi sendiri jika ingin menyertakan kedua negara tersebut. Kalau untuk sekedar mendapat cap stempel Myanmar di passport sebenarnya tidak terlalu sulit, cukup meluangkan waktu satu hari di Thailand untuk menuju ke perbatasan Mae Sai – Tachileik. Di sana kita bisa menyaksikan kehidupan warga suku Karen di Myanmar yang memiliki leher panjang. Sedangkan untuk Laos agak ribet karena perjalanan menuju pusat kota Laos, Vientiane, memakan waktu cukup lama dan tidak ada hal menarik apa pun (setahu saya) di antara Nong Khai (perbatasan Thailand – Laos) hingga Vientiane. Kebanyakan traveller melalui Laos sebagai jalan pintas untuk menuju Hanoi, Vietnam.

Oh ya, detil untuk tempat-tempat yang saya kunjungi di atas, maupun di artikel bagian pertama sebelumnya, akan saya tuliskan di artikel lain, bisa di Curcol.Co atau pun di Trepling.Xyz. Selamat travelling, kawan!

Tema artikel yang berhubungan: , , , , ,  samsat agya.

13 Comments - Add Comment

Reply