Begini Itinerary Backpacking Asia Tenggara. Berangkat? – Bagian 1

Iya, Indonesia memang kaya akan alam yang indah dan memukau. Namun bagi yang doyan travelling, jalan-jalan ke luar negeri bisa memberikan banyak pengalaman yang unik dan berharga. Apalagi, biayanya tidak semahal yang dikira kebanyakan orang. Seperti yang saya lakukan pertengahan tahun lalu, berkeliling ke lima negara di sepanjang Asia Tenggara dan IndoChina selama dua minggu atau tiga belas hari tepatnya. Mulai dari Singapura, Malaysia, Thailand, Kamboja, hingga Vietnam. Total biaya untuk transport dan akomodasi? Masih lebih murah ketimbang perjalanan ke pulau Komodo. Asik, kan?

Karena banyak yang bertanya, silahkan dibaca Rencana Backpacking / Traveling saya selanjutnya. Siapa saja boleh ikut 🙂

Nah, kali ini saya mau berbagi itinerary yang saya gunakan pada perjalanan tersebut. Tapi untuk akomodasi, karena bergantung pada preference masing-masing, tidak saya sebutkan secara detil, yah. Juga, ini travelling ala ala backpacker, jadi tentu saja moda transportasinya tidak mewah. Yang penting nyaman dan cocok dengan isi kantong. Toh backpacking tidak melulu identik dengan ngegembel, kan?

Oh ya, untuk bagian perjalanan yang ‘tidak penting’ (seperti di Singapura yang karena sebelumnya sudah pernah beberapa kali ke sana kemarin saya menghabiskan waktu hanya dengan muter-muter gak jelas) tidak akan disebutkan secara detil yah. Silahkan direncanakan sendiri nanti.

Itinerary Traveling Keliling Asia Tenggara Ala Backpacker

Hari 1: Singapura/Malaysia
Waktu Keterangan Biaya
22.00-23.30 Naik pesawat dari Surabaya ke Singapura Rp 399.000,- (JetStar)
23.30-07.00 Makan, tidur, cangkrukan di Changi Airport
07.00-11.00 Keliling Singapura
11.00-17.00 Tour Singapore's Other Island, baca cerita pengalaman saya di sini SGD 18 ± Rp 175.000,-
17.00-17.30 Naik bis menuju JB Sentral, Johor Bahru SGD 5 ± Rp 50.000,-
17.30-22.30 Makan, cangkrukan di JB Sentral
22.30 Naik kereta malam dari JB Sentral ke KL Sentral, Kuala Lumpur RM 47 ± Rp 150.000,- (Senandung Sutera)

Catatan:

  • Untuk keliling Singapura sebaiknya punya EZ-Link card, bisa digunakan untuk kereta maupun bis. Info lebih lanjut di http://www.ezlink.com.sg. Selain memudahkan saat naik bis (karena jika tidak harus bayar dengan uang pas), juga bisa disimpan sebagai bukti otentik kalau kita sudah pernah ke negeri Singa, hehehe.

  • Di Singapura, makanan halal dan masjid dapat ditemui di daerah Bugis. Alternatif lain ada di stasiun Lavender, ada depot muslim kepunyaan orang Malaysia.

  • Tiket kereta malam SANGAT DISARANKAN untuk dipesankan secara online karena CEPAT HABIS. Dan meski ada beberapa opsi untuk menuju Hat Yai, sebaiknya naik kereta malam ini karena belum ada yang seperti itu di Indonesia, hehehe. Reservasi dapat dilakukan melalui http://intranet.ktmb.com.my/e-ticket.

  • Stasiun JB Sentral terletak persis di sebelah mall (lupa namanya). Jadi meski menunggu agak lama, kita bisa cuci mata di mall tersebut. Tepat di samping mall, di sebelah hotel Citrus (kalau gak salah, udah beberapa tahun lalu soalnya nginep di hotel ini), ada gang yang isinya berbagai penjual makanan. Lumayan sebagai alternatif jika ingin wisata kuliner singkat di Johor Bahru.

Hari 2: Malaysia
Waktu Keterangan Biaya
07.00 Tiba di KL Sentral, Kuala Lumpur
07.00-22.00 Keliling Kuala Lumpur (Dataran Merdeka, Masjid Jamek, KLCC, Bukit Bintang)
22.00 Naik bis dari Puduraya ke Hat Yai, Thailand RM 69.25 ± Rp 225.000,- (Alisan Golden Coach Express)

Catatan:

  • Di KL Sentral tersedia kamar mandi berbayar, biaya RM 5 untuk sekali pakai (± 30 menit)

  • Untuk keliling Kuala Lumpur, selain menggunakan MRT, juga tersedia bis wisata gratis. Namanya bis Go-KL. Untuk rute dan info lebih lanjut dapat disimak di http://www.gokl.com.my.

  • Tersedia juga kartu untuk MRT, namanya MyRapid card. Tapi karena di Kuala Lumpur kita kemungkinan besar lebih banyak menggunakan kereta, maka tidak perlu perlu amat untuk membeli kartu ini.

  • Untuk tempat makan yang enak ala prasmanan / warteg, bisa cari di dekat pintu masuk ChinaTown (jalan Petaling). Terakhir ke sana, untuk tiga orang habisnya kurang dari Rp 50.000,- (sudah termasuk minum).

  • Selain Masjid Jamek, di Puduraya juga tersedia masjid untuk jum’atan. Posisinya persis di atas ruangan tiket. Wajib nitipin barang bawaan ke tempat penitipan yang tersedia, ya. Gratis. Oh ya, kalau emang kebetulan ada di sana pada hari Jum’at, sangat disarankan untuk mengikuti ibadah sholat jum’at di sana karena ada sedikit perbedaan SOP dengan di Indonesia. Bukan yang aneh-aneh dan menyimpang dari aturan kok, malah saya berharap SOP-nya dikopi oleh masjid-masjid di Indonesia.

  • Tiket bis dapat dibeli secara online di http://busonlineticket.com. Jangan lupa untuk di-print dan ditukarkan dengan tiket asli di counter tiket Puduraya sesuai dengan nama travelnya.

Hari 3: Thailand
Waktu Keterangan Biaya
10.30 Tiba di Hat Yai, kota perbatasan Thailand
10.30-11.45 Menuju terminal bis, makan, lihat-lihat sekitar
11.45-18.45 Naik bis dari Hat Yai ke Phuket THB 405 ± Rp 150.000,- (Sri Trang Express)
18.45-20.30 Naik taksi dari Phuket ke Patong Beach THB 400 ± Rp 150.000,-
20.30 Check-in hotel, jalan-jalan menyusuri Patong Beach dan Bangla Road, istirahat

Catatan:

  • Phuket bisa di-skip jika mau dan langsung ambil bis dari Hat Yai ke Bangkok. Tiket bis sendiri, selain bisa dibeli langsung di terminal (sepertinya tidak terlalu padat arusnya kok, aman untuk go show), juga bisa dibeli online di http://busonlineticket.co.th atau di http://12go.asia

  • PENTING! Banyak scam tuktuk (ojek motor) di Hat Yai. Mereka rata-rata bekerjasama dengan travel di wilayah lain dan akan membawa kita ke sana apabila kita bilang belum punya tiket. Jadi, ada ataupun tidak ada tiket, saat minta diantar ke terminal bis, bilang saja kalau kita SUDAH punya tiket. Kalau bisa sekalian nego harga tuktuk di awal dan pastikan dia mengantar ke terminal.

  • Makanan halal yang paling gampang ditemui di Thailand adalah ayam bakar plus nasi ketan. Tidak perlu bingung pesennya, tinggal samperin orangnya dan tunjuk potongan ayamnya. Nanti dia akan tanya blablabla dalam bahasa Thailand, itu maksudnya mau pake nasi ketan atau tidak. Percaya deh, di semua tempat seperti itu SOP-nya, hehehe. Jangan lupa, harga tergantung potongan ayamnya ya. Kisarannya antara Rp 10.000,- sampai Rp 40.000,- (sudah termasuk nasi).

  • Dari Phuket Town ke Patong Beach bisa juga menggunakan tuktuk. Tapi dari info yang saya dapat, untuk malam hari, biayanya sama dengan naik taksi, yaitu 400 baht. Jadi ya mending naik taksi aja, kecuali jika ingin merasakan jalan-jalan malam naik motor di sana, hehehe.

  • Di Patong Beach, saya menginap di Hotel Festa. Tempatnya masuk ke dalam gang, tapi gang itu sendiri hanya berjarak sekitar 200 meter dari Bangla Road. Selain itu, sekitar 2-3 ruko di sebelahnya terdapat warung makan muslim. Recommended deh pokoknya.

Hari 4: Thailand
Waktu Keterangan Biaya
07.00 Check-out hotel
07.00-16.30 Tour Phi-Phi Island THB 950 ± Rp 370.000,-
16.30-18.30 Menuju Phuket Bus Terminal Gratis, nego dengan penyelenggara tour :v
18.30 Naik bis dari Phuket ke Bangkok THB 695 ± Rp 270.000,- (Phuket Travel Express)

Catatan:

  • Ada banyak pilihan tour seputar Phuket. Saya memilih tour Phi-Phi Islands dengan pertimbangan waktu kembali yang paling cepat (karena harus mengejar bis ke Bangkok) dan biaya yang murah tentunya, hehehe.

  • Hampir semua tour berhenti di kota Phi-Phi. Ini kota muslim (jangankan mushola atau masjid, kuburan muslim pun ada), jadi soal makanan halal tidak perlu pusing. Tapi biasanya untuk urusan makan siang sudah termasuk di dalam paket tour kok. Seru lagi, modelnya disaji per meja, dan dalam satu meja kita duduk bareng dengan peserta tour yang lain. Bisa sekalian bersosialisasi dan mengamati tata cara makan mereka masing-masing. Dan jangan khawatir dengan hobi orang Indonesia yang suka foto-foto makan, bule juga ada yang seperti itu kok, wkwkwk.

  • Agar tidak membuang waktu, bicarakan dengan penyedia tour untuk mengantarkan kita ke terminal bis pada saat perjalanan pulang. Jasa antar kembali ke hotel dari awal sudah termasuk dalam paket tour, sehingga nanti kita bisa diikutkan ke dalam rute hotel yang ada di daerah Phuket Town. Lumayan kan bisa hemat ongkos transport juga.

  • Seperti sebelumnya, tiket bis dapat dibeli secara online. Sekali lagi jangan lupa untuk menukarkan bukti pembelian tiket online tersebut dengan tiket sesungguhnya di counter bus masing-masing.

  • Harga makanan ataupun minuman di atas kapal tour lumayan mahal. Setidaknya beli persediaan minum terlebih dahulu pada malam harinya. Jangan harapkan untuk membeli di pagi hari karena belum ada toko yang buka 😀

Hari 5: Thailand
Waktu Keterangan Biaya
07.15 Tiba di Bangkok (Mo Chit)
07.15-09.30 Naik bis menuju Grand Palace Gratis
09.30-12.00 Keliling Grand Palace – Wat Po – Wat Arun Total THB 550 ± Rp 215.000,- (perahu menyeberang sungai THB 3 ± Rp 1.200,-)
12.00-13.30 Mengunjungi Forensic Museum di Siriraj Hospital THB 40 ± Rp 40.000,- (tuktuk THB 10 ± Rp 4.000,-)
13.30-14.30 Naik ferry menyusuri sungai menuju Harbour Dept THB 15 ± Rp 6.000,-
14.30-15.00 Naik MRT ke Silom
15.00-17.00 Check-in hotel, istirahat
17.00 Makan, jalan-jalan keliling Bangkok (night market, mall, dll), istirahat

Catatan:

  • Terminal bis Mo Chit lumayan luas dan TIDAK ADA papan penunjuk arah. Untung di dalam ada pusat informasi, yang juga sudah menyediakan fotokopi kertas berisi peta sederhana untuk menuju terminal bis lain yang menuju ke dalam kota. Masalahnya, saking sederhana petanya saya pun nyasar. Yang harusnya tinggal jalan lurus malah jalan muterin terminal, wkwkwk.

  • Untuk bis dalam kota, ada yang berbayar, ada yang gratis. Dan ini sifatnya random. Untungnya, saya kebetulan naik bis yang gratis. Sialnya? Di tengah jalan ada penumpang yang tiba-tiba kumat stressnya semenjak ngelewatin pos militer, dan sepanjang perjalanan dia ngomong sendiri sambil ngebentak-bentak. Duduknya pas di depan saya lagi.

  • Saya tidak menemukan bis yang langsung menuju Grand Palace dari terminal Mo Chit (seharusnya ada, tapi gak nongol-nongol bisnya), jadi saya mengambil jalur menuju Khao San Road, area backpacker di Bangkok, yang letaknya dekat Grand Palace. Ternyata bis tersebut berhenti lumayan dekat dengan Grand Palace, hanya tinggal berjalan menyusuri taman, sampai deh di Grand Palace. Tapi tamannya ya lumayan luas sih, ada kali 200-300 meter jalannya, hehehe.

  • Grand Palace SANGAT luas dan padat karena semua turis pasti ke sana. Jika *TIDAK* terlalu berminat dengan budaya Thailand dan selfi di dalamnya, mending di-skip aja. Apalagi tiket masuknya lumayan mahal, 400 baht. Saya aja agak nyesel masuk ke sana, bukan apa-apa, kebayang dong capeknya habis naik bis semaleman terus langsung dilanjut muterin istana segede gaban.

  • Kebalikan dari Grand Palace, Wat Po lebih nyaman dan lenggang. Enak buat leyeh-leyeh cantik sejenak. Tiket masuk sudah termasuk dua botol minum gratis pula. Mantap!

  • Forensic Museum mungkin bukan tempat tujuan wisata yang umum. Namun letaknya berada di sisi seberang sungai yang sama dengan Wat Arun dan hanya berjarak kurang lebih 1 km saja. Tuktuk aja 10 baht mau berangkat. Jadi jika ingin sesuatu yang anti-mainstream di Bangkok, cobain deh ke Forensic Museum. Pengalaman saya di sana dapat dibaca di artikel ini.

  • Berhubung kemanapun saya pergi selalu menghindari menginap di daerah backpacker atau turis, saya memilih untuk menginap di Thrive Hostel yang ada tidak jauh dari stasiun Silom. Tapi jika ada yang mau menginap di daerah yang sama, please jangan menginap di hotel itu, not recommended. Selain beberapa kali ada yang mengetuk-ngetuk pintu (pas dibuka gak ada siapa-siapa, jadi kayak ngecek aja), juga sempat ada yang nyelonong masuk ke dalam (padahal pintunya terkunci). Untung bukan pas lagi bugil, hehehe.

  • Selain aneka bar dan nightclub, di sekitar stasiun silom juga terdapat banyak pilihan restoran fastfood. Mulai dari KFC hingga Pizza Hut. Terdapat juga beberapa penjual nasi ketan + ayam bakar. Aman lah kalau soal perut.

  • Biaya MRT di Bangkok relatif lebih mahal dibandingkan Malaysia dan Singapura. Tapi tetap lebih murah dibandingkan naik tuktuk tentunya. Untuk tuktuk sendiri, sebagian pangkalan sudah menyajikan daftar tarif untuk menuju ke lokasi-lokasi di sekitar pangkalan. Sehingga sudah tidak perlu tawar menawar lagi. Masalahnya cuma satu… daftar tarif tersebut ditulis dalam bahasa Thailand, wkwkkw.

Hari 6: Thailand
Waktu Keterangan Biaya
08.00-10.30 Lanjut jalan-jalan pagi keliling Bangkok, sarapan
10.30-14.00 Check-out hotel, jum'atan di masjid Darul Aman, makan di sekitar masjid
14.00-16.00 Menuju daerah Sukhumvit, check-in hotel, istirahat
17.00-18.00 Menuju Mo Chit, beli tiket ke Siem Reap (Kamboja) THB 750 ± Rp 290.000,-
18.00 Jalan-jalan malam, makan

Catatan:

  • Tiket menuju Siem Reap (langsung) bisa dibeli secara online di http://thaiticketmajor.com. Perlu diketahui, di situsnya tertulis ada counter di mall Siam Paragon, tapi pada saat saya ke sana ternyata sudah tidak ada. Alhasil harus buang waktu (dan uang transport) untuk balik ke terminal Mo Chit lagi.

  • Masjid Darul Aman cukup unik. Selain khotbah jum’at dibawakan dalam bahasa Thailand (ya iyalah!) juga bangunan masjidnya lebih mirip rumah gede. Jadi ruangan sholatnya pun terpisah-pisah dalam beberapa ruangan. Di sana jama’ah wanita pun ikut sholat jum’at. Dan ada sesuatu yang bikin jadi inget tanah air… di sepanjang lorong menuju masjid sudah berjejer para peminta-minta dari berbagai usia 🙂

  • Kenapa saya pindah hotel? Ya tentunya supaya pengalaman stay di Bangkok bisa lebih bervariasi dong, gak ngendon di satu tempat aja. Lagipula daerah Sukhumvit sedikit banyak lebih dekat menuju ke Mo Chit, karena perjalanan ke Siem Reap akan start pada pagi hari. Hotel saya menginap namanya Suk11 Hostel, lumayan terkenal di kalangan backpacker. Tempatnya unik karena bangunan terbuat dari kayu. Minusnya, tidak ada colokan listrik sama sekali 😮


Itinerary dan rute perjalanan hari ke-7 hingga hari ke-12 bisa dibaca di artikel bagian kedua.

30 Comments - Add Comment

Reply