[Backpacking Jepang] Hari 3: Di Antara Penghuni Laut dan Robot Gundam

Entah pengaruh tempat tidur dan suasana hostel ENAKA Asakusa yang lumayan nyaman atau karena sempat berendam air hangat di Jakotsoyu Sento, malam kedua di Tokyo saya lalui dengan cukup lelap. Saat terbangun pada pukul 1/2 5 pagi badan terasa segar dan benar-benar fresh. Oh ya, sebelum tidur, saya juga tidak lupa untuk mengoles kaki dengan Counterpain Cool, jurus andalan saya untuk mencegah kram dan capek-capek saat sedang ber-backpacking-ria, terutama di negeri orang. Dan seperti sebelum-sebelumnya, cara ini terbukti ampuh untuk me-recharge kaki agar siap untuk kembali menempuh ribuan langkah di hari yang baru.

Saya lupa jam berapa tepatnya kami berangkat meninggalkan hostel. Tapi seingat saya saat itu kami tidak terlalu terburu-buru. Mungkin sekitar pukul 08.15. Destinasi pertama di hari Jum’at tanggal 17 Februari 2017 kala itu adalah Tsukiji Fish Market, tempat lelang ikan dan juga pusat kuliner yang berbau ikan-ikanan di Tokyo. Sebelumnya sempat terpikir untuk menyaksikan lelang ikan yang diselenggarakan dini hari. Namun dengan pertimbangan harus mengorbankan waktu istirahat malam (karena harus standby di TKP setidaknya pukul 2 pagi untuk mendaftarkan diri sebagai pengunjung lelang yang jumlahnya dibatasi), akhirnya kami batalkan wacana tersebut.

Wisata Kuliner Express di Tsukiji Fish Market

Dari stasiun Asakusa, kami menuju stasiun Tsukiji-shijo, stasiun terdekat dengan Tsukiji Fish Market. Karena hanya berniat untuk wisata kuliner, target kami setiba di sana untuk mencari gang yang dipenuhi penjual jajanan berbahan dasar binatang dan tumbuhan yang ada di laut. Siyalnya, kami justru salah jalan dan melangkah menyusuri gudang-gudang yang sepertinya digunakan untuk lelang ikan atau menyimpan daging ikan segar. Untungnya kami tidak sendiri karena ada beberapa turis yang juga ikut nyasar di depan kami, hehehe #caritemennyasar

Setelah berkeliling ke sana kemari, akhirnya kami tiba juga di area yang dimaksud. Mata dan lidah jadi kalap melihat aneka makanan dan jajanan yang berjejer ditawarkan tepat di saat perut sudah mulai keroncongan. Ada yang dibakar / dipanggang, direbus, atau disajikan segar dengan hanya dibubuhi air jeruk. Yang perdana saya coba adalah oyster atau tiram versi imut seharga ¥300 (yang gede harganya ¥700). Rasanya? Aneh-aneh gimana gitu. Maklum, ini termasuk yang disajikan mentah. Hanya ada tambahan saus entah apa. Belakangan saya baru tahu kalau untuk menyantap ‘daging’ tiram ini seharusnya langsung ditelan, tidak perlu dikunyah. Pantas rasanya tidak karuan, wkwkkw.

Salah satu sudut kuliner di Tsukiji Market

Teman saya memilih untuk membeli bulu babi. Saya sempat kagum dengan keberaniannya karena di banyak video Youtube yang saya tonton, jajanan tersebut termasuk yang banyak dihindari karena rasanya gak jelas. Ternyata ia memilihnya karena mengira harganya cuma ¥200, padahal ada angka 1 di depan yang tertutup oleh bulu babi lainnya, hehehe. Untuk rasanya, yah, sesuai dengan apa yang banyak disampaikan di Youtube… tidak perlu coba-coba 😀

Untuk menetralisir lambung setelah hidangan pertama di pagi hari yang sama-sama fail, kami memilih jajanan yang lebih konvensional. Panggangan ikan. Saya lupa dengan apa yang dipesan oleh teman saya, tapi sepertinya tidak jauh berbeda dengan yang saya pesan, belut panggang. Harganya ¥200 seporsi dan rasanya lumayan enak, setidaknya bisa melupakan rasa eneg dari bulu babi, hehehe.

Belut panggang

Satu kuliner yang memang ingin kami coba saat berada di Tsukiji Market adalah sashimi, seporsi nasi yang dihidangkan bersama potongan aneka ikan segar. Dari blog maupun video yang kami jadikan referensi, seporsi sashimi harganya sekitar ¥2,000 hingga ¥2,500. Karena lumayan mahal, beberapa hari sebelum keberangkatan ke Jepang saya sempat janjian dengan teman saya untuk membeli seporsi sashimi saja untuk dimakan berdua. Toh niatnya hanya ingin mencicipi rasanya, bukan untuk mengenyangkan perut.

Entah masih terkena pengaruh Bulu Babi atau apa, saat masuk ke salah satu warung yang menawarkan menu sashimi dengan harga sangat terjangkau (cuma ¥1,500), teman saya malah memesan 2 porsi, melupakan akad yang sudah dibuat sebelumnya. Alhasil, kami pun masing-masing berhadapan dengan semangkuk penuh berisi nasi, rumput laut, dan daging ikan segar, beserta wasabi dan entah bumbu apa lagi yang tidak saya kenal.

Satu set sashimi

Untuk daging ikan dan rumput laut memang terasa sekali segarnya. Saya tidak tahu persis penghuni laut apa saja yang ada di dalam mangkok saya. Pokoknya asal makan…. sampai tiba di tumpukan nasi yang ada di baliknya. Saya tidak yakin apa penyebabnya, tapi nasinya terasa basi. Entah terkena campuran bumbu atau memang sudah basi. Untuk membandingkan respon pengunjung lain juga tidak memungkinkan, karena di sana kebetulan hanya kami yang memesan menu yang mengandung nasi. Mengingat perjalanan hari itu masih panjang, tidak lucu kalau terganggu gara-gara sakit perut. Terpaksa saya putuskan untuk menyudahi makan di saat itu juga. Prinsip saya satu, segar okay, basi no way.

Di luar masalah nasi ‘basi’ tersebut, ¥1,500 untuk menu yang kami pesan sebenarnya cukup murah. Porsinya besar dan juga sudah mendapat gratis hot ocha dan sop miso. Recommended sih sebenarnya, dibandingkan bersantap di restoran yang harganya jauh lebih mahal.

 

Sebelum balik ke stasiun Tsukiji-shijo, kami mampir untuk membeli es krim di salah satu penjual es krim, masih di area pasar Tsukiji. Saya tidak sempat mencatat nama tokonya maupun mengabadikan es krimnya. Yang jelas rasanya sangat enak dan isinya cukup banyak, memenuhi seluruh cone hingga ke bagian dasar. ‘Kue’ cone-nya juga ada rasanya, tidak hambar seperti di Indonesia. Wajar juga sih, lha wong harganya aja ¥400 per porsi. Ngajak berantem kalau porsinya dikit, hehehe.

Inikah Rasanya: Jum’atan di Jepang

Masjid yang menjadi target lokasi Jum’atan kami adalah Arabic Islamic Institute and Mosque (atau dinamakan juga Hiroo Mosque), yang berada di gedung Arabic Islamic Institute di daerah Minato. Dari stasiun Azabu-Juban, stasiun terdekat, jaraknya hanya 950 meter saja. Masalahnya hanya satu… rute perjalanannya ternyata melalui semacam kompleks perumahan elite (karena ada beberapa pos keamanan) yang jalanannya naik turun. Tambah gempor ini kaki.

Jalan menuju masjid

Setibanya di lokasi kami sempat kebingungan. Pasalnya, tidak ada seorang pun terlihat di depan bangunan Arabic Islamic Institute. Tidak juga ada tanda-tanda keberadaan masjid di sana. Pun begitu dengan pintu besar di bagian depan yang tertutup rapat. Saat sedang celingak-celinguk di sisi kanan bangunan, seorang pria bertubuh besar dan mengenakan pakaian jas serta berpeci datang, mengucapkan salam, lantas masuk begitu saja ke dalam bangunan. Dari pintu yang sekilas terbuka terlihat bahwa masjid yang dimaksud ternyata mengambil tempat di dalam sebuah ruangan besar yang ada di dalam bangunan.

Penampakan Hiroo Mosque

Setelah mendapat pencerahan, kami pun mengikuti pria tersebut masuk ke dalam. Setelah mengambil air wudhu dan menyimpan barang bawaan di bagian belakang ruangan, saya pun duduk manis bersama jamaah yang lain. Sudah ada seorang pria di depan, juga memakai jas, sedang berkata-kata dengan bahasa Jepang sembari berdiri menghadap jamaah di tengah ruangan. Entah apa yang dibicarakannya. Saya sempat mengira bahwa khotbah Jum’at memang sudah berlangsung dan beliau itulah khotibnya. Namun sepertinya saya salah karena sekitar 10 menit kemudian ia menutup pembicaraannya dan tak lama, seorang pria lain yang mengenakan baju gamis naik ke mimbar dan mulai berkhotbah. Kali ini dengan campuran bahasa Arab dan Inggris.

Di salah satu sisi tembok masjid tercantum pengumuman bahwa khotbah Jum’at dibawakan dalam dua bahasa secara bergantian. Mungkin pria yang pertama tadi memang benar membawakan khotbah Jum’at versi bahasa Jepang. Namun saya bingung kenapa ia tidak naik ke mimbar, melainkan justru berdiri di depan ruangan bagian tengah.

Jama’ah Jum’at masjid ini sendiri kebanyakan adalah orang asing. Timur Tengah dan Afrika sepertinya. Ada yang datang — sepertinya dari benua Afrika jika melihat kulit dan wajahnya — bagai rombongan raja. Berjalan dengan gagah melewati barisan jamaah di belakang menuju ke tengah, dengan diikuti oleh beberapa orang lain di belakangnya. Semuanya mengenakan model baju gamis yang sama. Unik.

Berhubung ini adalah sholat berjama’ah saya pertama di mesjid Jepang, saya sempat was-was jangan-jangan ada kebiasaan di sana yang tidak umum di Indonesia, seperti yang pernah saya temui di salah satu masjid di Myanmar. Untungnya tidak. Gerakan sholat mereka normal-normal saja dan sesuai dengan yang umum dilakukan umat muslim di Indonesia.

Usai sholat dan menghilangkan haus dengan dispenser air minum yang tersedia, perjalanan hari itu pun kami lanjutkan. Dan iya, kami kembali harus melalui jalanan gunung dan lembah ala Ninja Hattori seperti pada saat berangkat menuju masjid 🙁

Tokyo Tower, Sah Jadi Pelancong Di Jepang

Dari stasiun Azabu-Juban kami turun di stasiun Shibakoen. Saya juga heran kenapa saya merancang rute tersebut di itinerary saya karena nyatanya ada stasiun Akanebashi yang jaraknya lebih dekat dengan Tokyo Tower, destinasi kami selanjutnya. Apesnya lagi, karena saat itu tidak ada akses internet, bukannya menyusuri Shiba Park bagian sisi timur yang lebih sedikit berjalan kakinya, kami justru memilih sisi sebelah barat. Lumayan berselisih 100 meter jaraknya.

Tapi di setiap kemalangan seringkali tersembunyi keberuntungan. Untuk kali ini pepatah bijak tersebut benar adanya. Salah arah justru membawa kami masuk ke dalam taman Shiba dan menyaksikan indahnya bunga-bunga plum yang baru bermekaran. Awalnya saya mengira itu adalah bunga sakura (maklum, belum pernah lihat yang namanya bunga sakura seperti apa, hehehe), tapi saat sudah kembali ke Indonesia dan melihat-lihat foto yang ada, saya baru menyadari adanya tulisan di papan informasi yang saya foto, bahwa pohon-pohon di taman tersebut adalah pohon plum.

Plum, bukan Sakura

Tidak sedikit warga Jepang yang berada di taman dan mengabadikan kuncup-kuncup bunga plum dengan kamera mereka. Ada beberapa petugas taman yang memberi penjelasan tentang pohon plum. Sepertinya sih, meski sudah nguping saya juga tetep gak paham maksud pembicaraan mereka, hehehe.

Setelah beruntung mendapat penampakan bunga plum, dewi fortuna rupanya masih menemani karena di sisi lain dari area taman kami bisa mendapat view keren Tokyo Tower dari kejauhan. This is one of my favorite picture.

Sekali-sekali selfie, biar ada bukti otentik

Setelah beristirahat sejenak dan sekaligus membuat rekaman video timelapse, kami melanjutkan langkah menuju menara Tokyo, yang ternyata lebih besar dari yang saya bayangkan. Bagaimana tidak besar, di dalamnya bahkan terdapat beraneka restoran, cafe, dan toko lainnya. Eksibit One Piece Tower pun ada, tapi tidak kami jadwalkan karena harga tiket masuknya lumayan mengurangi budget keseluruhan.

Penampakan Tokyo Tower

Melihat sekeliling kota Tokyo dari ketinggian 150 meter dek observasi bagian bawah (untuk bagian atas sedang direnovasi dan jika tidak pun rasanya tidak akan naik ke sana karena ada biaya tambahan) mengingatkan saya pada adegan bagian akhir dorama Juken no Cinderella. Dan mengingat jdrama tersebut jadi mengingatkan saya pada si manis Kasumi Arimura, pemeran film Flying Colors / Biri Gal yang ceritanya serupa tapi tak sama dengan Juken no Cinderella.

Untuk sensasi menyaksikan indahnya kota Tokyo dan sekitarnya dari ketinggian tidak perlu ditanya lagi. Luar biasa! Apalagi di Tokyo Tower ini juga terdapat beberapa jendela transparan di bagian lantai, yang memungkinkan kita untuk seolah-olah berdiri melayang di atas permukaan tanah. Saya sendiri tidak takut dengan ketinggian sehingga cukup menikmati pengalaman selama berada di menara Tokyo. Berbeda dengan kawan saya yang ternyata acrophobia dan baru memberitahu saya di saat itu. Untungnya dia masih kuat dan bisa bertahan beberapa waktu di bagian dek observasi. Mungkin kepikiran dengan tiket masuk yang tidak bisa dianggap murah, hehehe.

Lebih lengkap tentang menara Tokyo dapat dibaca di sini.

Saat hendak menuju ke stasiun Akanebashi, kami sempat bertemu dengan beberapa pembalap go-kart bertema Mario Bros. Namanya MariCar. Tidak memakai nama Mario sepertinya karena masalah hak cipta, yang urusannya cukup ketat di Jepang. Beda dengan Indonesia yang bisa asal comot nama, hehehe. Menurut situs web mereka, MariCar.Com, sensasi balap mobil go-kart mengelilingi kota Tokyo dengan mengenakan kostum karakter-karakter Mario Bros dapat dirasakan dengan merogoh kocek sebesar ¥8,000. Tiga pilihan rute tersedia, (a) Roppongi – Shibuya – Shinagawa – Tokyo Tower; (b) Tokyo Tower – Roppongi – Shinagawa – Rainbow Bridge – Odaiba; dan (c) Tokyo Tower – Roppongi – Shibuya – Shinagawa – Rainbow Bridge – Odaiba. Dua pertama berdurasi 2 jam, sedang yang terakhir berdurasi 3 jam.

Salah satu peserta tur MariCar, cakep yah

 

Final Days of Gundam

Di salah satu buku traveling yang saya baca, disebutkan perjalanan menuju area Odaiba dari Tokyo Tower membutuhkan sedikit perjuangan karena harus beberapa kali oper jalur kereta. Tidak salah sih, tapi ternyata juga tidak selebay itu perjuangannya. Mungkin karena sudah mulai terbiasa dengan sistem transportasi di sana.

Hari sudah menjelang malam saat kami tiba di stasiun Tokyo Teleport. Untuk menuju ke robot Gundam yang ada di depan mall DiverCity Tokyo Plaza, kami masih harus berjalan lagi sekitar 450 meter. Sempat terlihat kemegahan bangunan Fuji TV yang tersohor dari kejauhan.

Mall DiverCity Tokyo Plaza sendiri saya lihat cukup unik karena banyak menjajakan barang-barang dan merchandise bertemakan anime. Mungkin disesuaikan dengan mayoritas pengunjung yang datang, yang berasal dari kalangan pecinta anime Gundam. Saya sebenarnya tidak terlalu paham dengan robot-robot Gundam karena sudah terlanjur cinta mati dengan Voltus V 😀 tapi mengingat robot Gundam ukuran asli yang ada di sini merupakan salah satu landmark wajib kunjung, tidak ada salahnya memang meluangkan waktu untuk sekedar menyaksikan seperti apa kekerenannya.

Penampakan robot Gundam di depan Diver City Odaiba

Dan ternyata memang benar-benar keren! Begitu keluar dari pintu mall dan melihatnya, pikiran langsung membayangkan bagaimana rasanya menjadi pilot dari robot Gundam: berjalan, terbang, dan bertempur melawan musuh dari dalam robot raksasa. Sayangnya, kondisi di TKP terasa kurang nyaman dengan banyaknya wisatawan yang asik berfoto selfie dari segala sudut. Termasuk beberapa kelompok turis yang berasal dari Indonesia. Saya sampai harus berputar-putar dan mundur agak jauh ke belakang untuk bisa mendapatkan sudut pandang kamera yang lega.

Baca Juga: Foto Selfie Dengan Robot Gundam Ukuran Asli

Sebenarnya ada beberapa tempat lain di area Odaiba yang masuk dalam itinerary. Namun karena sudah kemalaman (rencana awal tiba di tempat ini adalah sekitar pukul 5 sore), akhirnya saya putuskan untuk membatalkannya dan pulang kembali ke daerah Asakusa untuk sekalian mencari makan malam sebelum balik ke hotel.

Bersua Orang Jepang Yang Pernah Tinggal di Semarang

Menu restoran Toriyoshi

Setelah berkeliling daerah Asakusa, kami memutuskan untuk bismillah masuk ke sebuah restoran yang hanya menjual hidangan berbahan dasar ayam. Namanya restoran Toriyoshi. Kemarin sebenarnya sudah diniatkan untuk mencoba salah satu restoran seafood yang ada di dekat hostel. Namun berhubung masih syok dengan sashimi di Tsukiji Market, kami sepakat untuk tidak mengkonsumsi ikan terlebih dahulu 😀

Sistem order di restoran ini ternyata sudah modern. Kita tidak perlu lagi memanggil pelayan, melainkan langsung memesan melalui layar sentuh yang ada di setiap meja. Selain bisa melihat penampakan makanan yang tersedia, kita juga bisa langsung mengetahui total dana yang harus disiapkan untuk membayar. Nantinya, jika sudah usai bersantap, layar yang sama digunakan untuk memberitahukan kepada bagian kasir bahwa kita sudah siap untuk pulang dan membayar. Keren. Dan uniknya lagi, ada fitur untuk menghitung pembagian pembayaran berdasarkan jumlah orang. Buat yang makan bersama-sama tapi BDD (Bayar Dhewe Dhewe), fitur ini sangat membantu, hehehe.

Tablet untuk order makanan

Karena tidak terlalu paham juga dengan pilihan makanan yang ada, saya memilih untuk mencoba yang belum pernah saya cicipi: Oyako-don. Untuk minumnya yang biasa saja, Teh Oolong. Teman saya memesan Chicken Rice (semacam nasi goreng) dan Strawberry Soda. Total harga pesanan kami adalah ¥2,138. Oyako-don sendiri adalah kombinasi ayam dan telur yang dituangkan di atas semangkuk nasi. Istilah bulenya, Japanese Chicken and Egg Rice Bowl.

Oyako-don

Saat sedang menunggu pesanan tiba, tanpa disangka, sepasang suami istri yang ada di meja sebelah kami menyapa dalam bahasa Indonesia! Ya, kedua orang Jepang paruh baya tersebut ternyata cukup lancar berbahasa Indonesia. Bahkan, yang pria mengaku sejak kecil tinggal di Indonesia, tepatnya di Semarang, dan memeluk agama Islam sejak kecil. Walau sebenarnya memang berharap bisa berkenalan dengan penduduk lokal saat berada di Jepang, rasanya lucu juga karena saat kesampaian, penduduk lokalnya justru ada hubungannya dengan Indonesia.

Pembicaraan yang tak seberapa lama lebih banyak didominasi oleh pertanyaan sang suami tentang berapa lama kami akan berada di Jepang. Entah berapa kali ia mengulangnya. Istrinya meminta kami untuk memaklumi faktor pikun dan juga kemungkinan ia sudah mulai mabuk, hehehe. Ia juga mengatakan bahwa dalam beberapa hari akan berangkat ke Bali untuk berlibur. Ah, sayang sekali tidak mampir ke Surabaya.

Aktivitas bersosialisasi kami hentikan sejenak beberapa saat setelah hidangan utama tiba. Rasanya? Yah, begitulah. Sudah bukan rahasia lagi bahwa lidah orang Jepang dan orang Indonesia berbeda, sehingga untuk urusan makanan pun sudah pasti terdapat perbedaan rasa yang menyolok. Gampang-gampanganya, selezat apapun ramen menurut orang Jepang, tidak akan bisa mengalahkan mie goreng instan atau kuahnya Indomie. Tapi setidaknya porsi tidak pelit dan malam itu perut terjamin bisa menjauh dari rasa lapar.

Sebelum berpisah, kami mengajak teman baru kami untuk berfoto bersama. Kebetulan kita pulang dalam waktu yang hampir bersamaan. Kami juga sempat berjalan bersama hingga akhirnya berpisah di sebuah perempatan. Saya tidak yakin bakal bisa bertemu lagi dengan pasangan suami istri tersebut, tapi memori perkenalan singkat dengan mereka akan selalu abadi — setidaknya dalam bentuk foto di bawah ini — dan akan selalu mengingatkan saya akan betapa asyiknya menjadi traveler di negeri orang.

Wefie dulu bersama pasangan Jepang yang pernah tinggal di Indonesia


Cerita ini adalah bagian keempat dari tulisan berseri mengenai perjalanan backpacking ke Jepang. Untuk info lebih detil dan daftar tulisan keseluruhan dapat dibaca di sini. Jika tertarik, tulisan sebelumnya adalah mengenai “Mencari Jejak Captain Tsubasa dan Malam Yang Berkesan di Asakusa“. Selamat membaca 🙂

Tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply