[Backpacking Jepang] Hari 1: Drama Keberangkatan Menuju Tokyo

15 Februari 2017. Hari yang sudah lama dinanti akhirnya tiba. Hari dimana saya memulai perjalanan untuk menjejakkan kaki ke Jepang, negerinya Son Goku, Monkey D. Luffy, Naruto Uzumaki, Saitama, dan kawan-kawannya yang lain. Jadwal penerbangan pagi buta membuat saya memutuskan untuk tidak tidur di malam hari dan memilih untuk berjuang mengatur ulang isi ransel saya supaya tidak melebihi batas 7 kg apabila winter coat saya jejalkan ke dalamnya. Suprisingly I did it. Walau efeknya tas slempang jadi menggembung karena semua gadget berada di dalamnya. Untung saja pada saat itu pengetatan aturan bagasi kabin AirAsia, maskapai yang saya gunakan, belum diterapkan. Kalau sudah ya pasti bakal gagal terbang, hehehe.

Per 15 Maret 2017, AirAsia menetapkan aturan tiap penumpang maksimal hanya boleh membawa 2 buah tas ke dalam kabin pesawat dan berat TOTAL kedua tas tersebut adalah 7 kg. Sebelumnya, hanya tas yang dimasukkan ke dalam bagasi kabin saja yang cukup memenuhi aturan berat tersebut, tas lainnya (tas slempang / tas laptop / dsb) tidak ikut diperhitungkan beratnya. Untuk informasi lebih detil bisa simak penjelasan mengenai aturan bagasi kabin AirAsia.

Duo tas ransel dan tas slempang andalan

 

Menuju Bandara Internasional Juanda 2

Dengan aturan 2 jam check-in sebelum keberangkatan untuk penerbangan internasional, saya berangkat dari apartemen pada pukul 2 pagi. Perjalanan yang ditempuh dengan taksi agak terasa mendebarkan bercampur keki. Mendebarkan karena pak sopir saat itu masih mengantuk (dia mengaku baru saja tertidur saat dibangunkan untuk mengantarkan saya ke bandara) dan entah sadar atau tidak, beberapa kali taksi yang ia kendarai miring ke kiri dan ke kanan. Kekinya? Saat saya mengatakan hendak pergi ke Jepang, beliau melihat bawaan saya yang hanya dua biji dan tidak mempercayainya. Duh, untung saya sabar 🙂

Dalam perjalanan, pak sopir sempat curhat tentang menjamurnya taksi online di Surabaya yang membuatnya mengalami penurunan pendapatan. Awalnya dia masih berusaha tegar dengan mengatakan bahwa semua itu hanya cobaan dan suatu saat nanti, saat pamor taksi online turun, orang-orang akan kembali menggunakan taksi konvensional. Tapi seiring dengan kalimat demi kalimat keluh kesah yang ia lontarkan, lambat laun ketegaran tersebut berubah menjadi emosi terhadap pemerintahan Jokowi yang ia anggap tidak lagi mempedulikan nasib rakyat kecil sepertinya. Merasa pukul dua pagi bukanlah waktu yang tepat untuk beradu argumen, saya lebih memilih untuk diam dan sesekali mengiyakan perkataannya.

Saya, dan rasanya hampir semua pengguna taksi online, mungkin bisa menyebutkan 1001 alasan kenapa kini memilih menggunakan taksi online ketimbang taksi konvesional. Dan itu bukan cuma soal tarif yang lebih murah. Saya pribadi paling males kalau sudah terlanjur naik taksi dan sopirnya ternyata akting amnesia, modus untuk mengambil jalur yang lebih jauh atau melewati daerah macet.

‘Delay’ Sejak Di Luar Bandara

Saya tiba di bandara Juanda pada pukul setengah 3 kurang 5 menit. Meski tidak terlalu ramai, sudah ada tanda-tanda kehidupan di sana. Anehnya, dari jauh terlihat orang-orang lebih banyak berkumpul di depan pintu masuk, ketimbang berlalu lalang. Setelah didekati, ternyata pintu masuk bandara masih dalam keadaan tertutup!

Pintu masuk ditutup

 

Saya memang belum pernah sepagi ini tiba di bandara internasional Juanda, tapi setahu saya bandara ini buka 24 jam deh. Entah apakah memang peraturannya sudah berubah, tapi yang jelas, selain banyak calon penumpang yang juga terlihat kesal dan kaget mendapati pintu terkunci, juga ada dua orang teknisi yang sedang memperbaiki kamera CCTV di salah satu pintu masuk bagian dalam. Mungkinkah itu penyebabnya?

Pukul 03.10 pintu masuk dibuka. Tanpa membuang waktu, saya langsung masuk ke dalam dan menuju bagian imigrasi yang ada di lantai 2. Saya kebetulan sudah melakukan web check-in seminggu sebelumnya, jadi tidak repot lagi untuk melakukan check-in di counter AirAsia.

Sebagai calon penumpang pertama yang menuju bagian imigrasi, saya cukup bersemangat karena sudah membayangkan tidak perlu ribet antri lagi. Pemeriksaan tiket dan barang bawaan berjalan lancar. Sempat terjadi keanehan dimana mesin X-Ray berbunyi saat saya lewati, dan setelah dicek, yang berbunyi adalah bagian kaki saya. Lutut tepatnya. Meski agak heran, petugas yang memeriksa akhirnya memperbolehkan saya untuk lewat.

Sambil meyakinkan diri saya pribadi bahwa saya bukanlah Wolverine yang tulangnya terbuat dari besi baja, saya melangkah menuju counter imigrasi yang berada sekitar 10 meter dari bagian pemeriksaan barang. Dan… counter tersebut ternyata juga masih tutup!

Pertamax di imigrasi yang masih tutup

 

Seiring pupusnya niat menjadi penumpang pertamax yang diberi cap stempel imigrasi pagi itu, saya mulai mempertanyakan nasib backpacking saya di Jepang nantinya. Selama ini saya memang selalu mengalami hal-hal di luar dugaan pada saat traveling, tapi baru kali ini kejadiannya menumpuk di saat sebelum keberangkatan. Yang paling bikin deg-degan tentu saja, jangan-jangan ini semua pertanda bahwa nantinya bakal kena random check di imigrasi Jepang dan dipulangkan secara paksa ke Indonesia tanpa diberi pesangon.

Menit demi menit berlalu, pukul 03.35 satu per satu petugas imigrasi datang dan membuka counter mereka masing-masing. Tidak ada kendala saat mendapatkan cap stempel imigrasi, hanya sempat ditanya tujuan keberangkatan dan keperluannya pada saat petugas yang bersangkutan melihat stiker visa waiver di lembaran buku ePaspor. Hal yang serupa juga terjadi pada saat melewati pemeriksaan di gerbang ruang tunggu, dikonfirmasi kembali apakah akan menggunakan connecting flight untuk menuju Jepang. Untungnya tidak pakai diminta menunjukkan bukti tiket segala.

Dibohongi ‘Pakai’ Gate

Setelah menunaikan sholat Subuh, saya duduk di salah satu kursi yang ada di dekat Gate 7, sesuai yang tercantum di lembaran web check-in dan juga layar monitor. Semakin mendekati jam keberangkatan, saya tersenyum senang melihat jumlah penumpang yang menunggu di sekitar TKP. Mungkin hanya sekitar 20 orang saja. Lega rasanya membayangkan kondisi pesawat yang bakalan tenang dan tidak sumpek.

Mendekati pukul 5 pagi, masih belum juga ada tanda-tanda petugas melakukan persiapan di Gate 7. Justru Gate 8 yang sudah dipadati calon penumpang, antri untuk melewatinya. Penasaran, saya coba mendekati Gate 8 dan mengintip tiket yang dibawa oleh beberapa orang yang antri di sana. Dan ternyata itu adalah untuk penerbangan ke Kuala Lumpur dengan menggunakan pesawat AirAsia QZ 320, penerbangan yang saya tumpangi!

Masih tidak percaya, saya kembali mengecek layar monitor informasi keberangkatan, dan masih sama, di sana tercantum keberangkatan pesawat AirAsia QZ 320 adalah melalui gate 7, bukan gate 8. Tapi setelah menguping percakapan salah satu calon penumpang dengan petugas AirAsia di Gate 8 yang mempertanyakan hal tersebut, fix memang keberangkatan penerbangan saya adalah melalui Gate 8, bukan Gate 7. Duh!

Satu harapan yang baru berkembang kembali pupus, harapan untuk menikmati penerbangan dengan lega. Pasalnya, penerbangan Surabaya – Kuala Lumpur tersebut benar-benar padat, full book. Banyak juga yang sepertinya merupakan calon TKI, calon pejuang devisa negara Indonesia. Termasuk dua orang di samping kanan saya yang mendapat penempatan kursi di bagian pojok jendela (31A). Yah, setidaknya tidak mati gaya dan bisa melihat-lihat pemandangan awan dan bumi dari ketinggian selama dalam perjalanan.

Pengennya sih naik yang itu

 

Emak-Emak Sakti Mengguncang Pesawat

Seperti cerita sinetron Indonesia yang butuh waktu lama untuk berakhir, drama perjalanan saya ternyata juga masih berlanjut. 15 menit duduk manis di dalam pesawat, alih-alih persiapan untuk take off, yang tersaji adalah pemandangan petugas yang tampak panik dan menanyai beberapa orang penumpang yang duduk di separuh bagian depan. Sempat pula ada 3 nama yang diminta untuk maju. Entah untuk apa, yang jelas bukan untuk menyebutkan 7 nama ikan dan mendapat hadiah sepeda, hehehe.

Tak lama didapat satu pencerahan terhadap kendala keberangkatan ini. Salah satu penumpang, seorang ibu-ibu, ternyata bisa masuk ke dalam pesawat TANPA melewati counter imigrasi alias buku paspornya belum distempel 😮 Bagaimana caranya? Kurang jelas, tapi mungkin emak-emak itu masuk melalui jalur khusus karyawan bandara yang memang tidak dijaga oleh petugas imigrasi. Alhasil, keberangkatan harus menunggu emak-emak tersebut menuju ke bagian imigrasi dengan ditemani oleh seorang petugas bandara untuk mendapatkan stempel imigrasi, lalu kembali lagi ke dalam pesawat. Warbyasah, that’s the real power of emak-emak, bisa nyaris terbang ke luar negeri tanpa perlu stempel imigrasi!

Saya sebenarnya penasaran dengan jam berapa pada akhirnya pesawat take off. Tapi karena sudah lelah dengan drama yang bertubi-tubi, saya memilih untuk memejamkan mata untuk beristirahat sepanjang perjalanan dan sesekali melihat pemandangan langit yang cerah di luar jendela.

Bandara KLIA2 Ternyata Memang Luas

Saya tiba di bandara KLIA 2 (Kuala Lumpur International Airport 2) sekitar pukul 09.05. Meski bukan penerbangan pertama saya ke Malaysia, ini pertama kali saya menjejakkan kaki di KLIA2. Sebelumnya, yang saya cicipi adalah Senai International Airport (Johor Bahru) dan KLIA (sebelum dialihkan ke KLIA2).

Layar informasi gate KLIA2

 

Banyak orang bilang bahwa bandara ini sangat luas. Dan ternyata benar. Perjalanan keluar menuju restoran KFC (kurang tahu apakah kemarin di bagian Kedatangan atau Keberangkatan), tempat janjian bertemu dengan travel mate saya kali ini yang sudah lebih dulu tiba di KLIA2, lumayan jauh. Apalagi sempat nyasar sampai pintu keluar, gara-gara tempatnya yang nyelip, hehehe.

Setelah menyantap paket KFC yang cukup murah (RM 10.8, sekitar 32 ribu) dan unik (nasi lemak, ayam, telor ceplok, dan sambal teri!) serta berleha-leha beberapa jam di sana, kami pun bersiap untuk perjalanan selanjutnya, menuju bandara Haneda, Tokyo, dengan pesawat AirAsia D7 522. Jadwal keberangkatan pukul 14.20, tapi kami putuskan untuk menuju ruang tunggu pada pukul 12 kurang. Siapa tahu antrian imigrasinya panjang.

Paket KFC, lupa namanya

 

Ternyata tidak. Antrian imigrasi lancar, pun begitu dengan antrian pemeriksaan barang. Tapi anehnya lagi-lagi mesin X-Ray berbunyi di bagian celana. Kali ini disebabkan oleh buku paspor yang memang saya selipkan ke dalam saku celana. Setelah buku paspor disingkirkan, mesin x-ray senyap. Kali ini petugas juga sempat heran karena belum pernah mengalami mesin x-ray membuat gaduh gara-gara buku paspor, tapi pada akhirnya saya kembali dipersilahkan untuk lewat tanpa perlu pemeriksaan lebih lanjut. Wew.

Berbeda dengan di bandara-bandara lain yang pernah saya singgahi, ruang tunggu di bandara KLIA2 ternyata hanya akan dibuka beberapa saat sebelum jadwal boarding. Pemeriksaan paspor dan visa juga cukup ketat, walau tidak jelas apakah ini berlaku untuk semua penerbangan atau hanya penerbangan menuju Jepang saja yang memang setahu saya lebih ketat dari penerbangan-penerbangan internasional lain pada umumnya. Pemeriksaan dilakukan dua kali, dimana petugas pertama akan memeriksa boarding pass dan selanjutnya petugas kedua yang ada di belakangnya melakukan pemeriksaan terhadap paspor dan visa. Di sini lembar pertama ePaspor saya dicek detil hologram burung garuda-nya dengan menggunakan kaca pembesar.

Saya sempat su’udzon dan mengira petugas tersebut terlalu berlebih mencurigai saya menggunakan paspor palsu. Tapi setelah diperhatikan, semua penumpang diperlakukan sama. Bahkan ada bule yang diminta untuk menunjukkan kartu identitasnya untuk dicocokkan dengan data identitas yang ada di buku paspor miliknya. Sudah macam pelancong Indonesia yang masuk ke Singapura melalui Batam saja, pakai diminta KTP segala, hehehe.

Pesawat yang membawa ke Jepang

 

Dibikin Baper Pasangan Kolombia

Penerbangan kali ini saya ‘terpaksa’ melakukan pemesanan kursi karena pemilihan kursi otomatis yang saya dapatkan pada saat web check-in memberikan posisi di tengah, posisi yang tidak nyaman walau padahal secara statistik merupakan posisi kursi paling AMAN di dalam pesawat apabila terjadi musibah. Keputusan ini ternyata salah besar karena kursi saya tempati, 42A, berada di samping sepasang kekasih asal Kolombia berdomisili di Melbourne (saya ngintip buku paspornya) yang sepanjang perjalanan asik memadu kasih. Mulai dari peluk-pelukan, berciuman mesra, hingga bobok bareng. Kan pengen 🙁

Fun Fact: Kursi tengah pada 1/3 bagian belakang pesawat memiliki tingkat kematian 28%, paling rendah dibandingkan bagian kursi yang lainnya di pesawat.

Untuk meredakan baper, saya memesan airline meal berupa sepaket chicken rice dan hot tea seharga RM 20 (sekitar 60 ribuan). Saya bukan pecinta makanan pesawat, terkhusus AirAsia, tapi untuk kali ini saya lebih rela makan makanan yang berminyak itu daripada cuma jadi obat nyamuk.

Nightmare Came True, Terkena Random Check di Bandara

Setelah melalui hampir 7 jam perjalanan, pesawat pun mendarat dengan selamat di bandara internasional Haneda, lebih cepat 30 menit dari jadwal. Waktu itu sekitar pukul 10 malam. Karena belum mengisi kartu embarkasi, saya dan rekan terlebih dahulu mengisinya di salah satu sudut bandara. Ada beberapa orang yang juga ikut melakukan hal yang sama di sana. Salah satunya, sepertinya turis dari Korea, sempat menanyakan nama profesinya kepada kami karena ia sendiri tidak tahu bagaimana istilahnya dalam bahasa Inggris. Karena bahasa Inggrisnya juga kurang jelas, pada akhirnya kami berdua juga tidak paham profesinya apaan, hehehe.

Kartu embarkasi

 

Untuk tata cara mengisi kartu imigrasi Jepang dapat dibaca di sini.

Antrian di counter imigrasi lumayan panjang dan kami mendapat kloter paling belakang. Di sini sudah langsung terlihat bagaimana efektifnya petugas bandara Jepang bekerja. Ada beberapa orang petugas yang langsung mengarahkan dan mengatur antrian counter, sehingga tidak butuh lama untuk melangkah menuju salah satu counter dan menyerahkan buku paspor serta kartu imigrasi.

Dan seperti sudah diduga, malapetaka pun terjadi.

Petugas imigrasi yang saya hadapi kebingungan melihat nama hotel Enaka Asakusa yang saya cantumkan di kartu imigrasi. Ia mengkonfirmasi nama hotel tersebut dengan nada seolah tidak percaya ada hotel dengan nama tersebut. Setelah membuka-buka sesuatu di balik mejanya, ia menanyakan tujuan perjalanan saya selama di Jepang. Saya lantas menyerahkan semua bukti pemesanan hotel dan bus (untuk menuju ke Kyoto) yang sudah disiapkan.

Di sini masalah lain muncul. Di lembar kartu imigrasi, saya menulis durasi berada di Jepang adalah 12 hari, dengan menyertakan hari saat kedatangan dan juga saat pulang nantinya. Sementara itu, saya hanya menginap selama 10 hari. Ketidakcocokan kedua angka ini membuat petugas imigrasi semakin curiga dan terlihat bolak-balik menghitung jumlah hari, mencocokkan tanggal, dan sebagainya. Untunglah, setelah hampir 15 menit tertahan di counter, ia akhirnya memberikan stempel di buku paspor saya setelah sebelumnya meminta saya meralat tulisan 12 hari menjadi 10 hari. Tapi dari tampangnya terlihat tidak ikhlas juga sih, hehehe.

Selesai? Belum, gaes.

Lewat dari imigrasi, langkah berikutnya adalah melalui bagian customs. Saya kembali tertahan gara-gara petugasnya tidak percaya saya bakalan 10 hari di Jepang mengingat bawaan saya yang cuman sedikit 😀 Selain isi tas dibongkar, petugas yang bersangkutan juga melakukan body check walau tidak sampai disuruh buka baju segala. Bahkan sebungkus abon yang saya bawa untuk bekal lauk onigiri sempat dipertanyakan isinya. Setelah menjawab dengan “beef” dan “chicken” tapi orangnya tidak yakin, saya dengan pede menambahkan bahwa isinya adalah “toriniku” (daging ayam dalam bahasa Jepang). Dan yes, abon saya pun lolos dengan selamat. Hidup abon!

Saya sendiri tidak tahu apakah dua kejadian yang saya alami di atas terkait dengan penggunaan visa waiver atau memang sedang apes saja. Teman saya, yang kebetulan menggunakan visa biasa, bisa melewati hadangan petugas imigrasi dan customs dengan lancar jaya. Apesnya dia cuma satu, harus nungguin saya total hampir 30 menit gara-gara dua kali terkena random check itu, hehehe.

Bermalam Di Bandara

Jadwal malam hari pertama adalah menginap di bandara. Setelah sholat di Prayer Room yang cukup bersih, kami berkeliling sejenak untuk mencari lokasi yang strategis untuk tidur, sekaligus mengetahui posisi kantor JR (untuk membeli kartu JR Tokyo Wide Pass) dan Tourist Information Center (untuk membeli kartu Tokyo Metro Subway Pass). Yang disebut terakhir ini ternyata masih beroperasi meski saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Agar besok tidak membuang waktu lagi, kami putuskan untuk langsung membeli dua buah kartu Tokyo Metro Subway Pass 48-Hours. Lumayan, masing-masing dapet bonus sebotol air mineral merk Tokyo Water. Rasanya? Biasa aja sih :p

Tourist Information Center

 

Air mineral Tokyo Water

 

Pencarian lokasi tidur berlanjut ke lantai atas, lantai 3 kalau tidak salah. Di lantai ini sebenarnya banyak kafe, tempat makan, dan toko yang bertemakan bangunan-bangunan Jepang tradisional. Sayangnya, saat itu semuanya sudah tutup. Ada beberapa penumpang yang melepas lelah di bangku-bangku panjang yang tersedia di area tersebut. Di lantai tersebut ternyata juga ada pintu menuju Observation Deck. Penasaran, kami pun melangkah ke sana.

Yang pertama menyambut, selain langit yang gelap, adalah udara yang sangat dingin. Jika di dalam bandara tidak begitu terasa karena banyaknya penghangat, lain cerita di bagian deck. Mau tidak mau segala kelengkapan baju dingin yang sudah dibawa terpaksa dipergunakan. Mulai dari winter coat, sarung tangan, hingga neck warmer. Semuanya demi memenuhi rasa penasaran karena selama ini saya sendiri belum pernah jalan-jalan di Observation Deck-nya bandara, apalagi pada malam hari buta, hehehe.

Observation Deck Haneda Airport

 

Setelah berjalan ke sana kemari, naik turun lantai, dari satu sudut ke sudut yang lain, mendaki gunung lewati lembah, kami putuskan untuk melewatkan malam di deretan kursi ruang tunggu yang berada tak jauh dari kantor JR. Berjaga-jaga siapa tahu esok hari harus antri untuk bisa mendapatkan kartu pass. Sebelum tidur, masih ada rasa percaya bahwa saya akhirnya bisa tiba juga di Jepang. Apalagi setelah serangkaian adegan ajaib yang terjadi sejak pagi hari. Sambil memejamkan mata, saya berharap semoga 11 hari ke depan segala sesuatunya berjalan dengan lancar dan banyak keseruan-keseruan lain yang hadir.


Cerita ini adalah bagian kedua dari tulisan berseri mengenai perjalanan backpacking ke Jepang. Untuk info lebih detil dan daftar tulisan keseluruhan dapat dibaca di sini. Jika tertarik, tulisan sebelumnya adalah mengenai “Persiapan Backpacker ke Jepang“. Selamat membaca 🙂

Reply