2 Minggu 5 Negara 8 Kota 1 Backpacker

I’m back :p

Sejak tanggal 22 Agustus hingga 4 September lalu saya melakukan solo travelling ke beberapa negara di Asia Tenggara: Singapure, Malaysia, Thailand, Kamboja, dan Vietnam. Jadi maap maap ya buat yang nungguin review-review komik terbaru di Curcol.Co. Kebetulan perginya backpacker mode ON, jadi gak pake bawa-bawa laptop segala biar enteng 🙂

Ada beberapa hal menarik yang saya dapatkan dari perjalanan saya kemarin.

  • Hampir semua orang suka jalan-jalan, tapi tidak semuanya berani travelling seorang diri dengan berbagai alasan. Faktanya, solo travelling tidak seseram yang dibayangkan. Apalagi jika sedari awal kita sudah punya persiapaan yang matang, baik dari segi jadwal / itinerary maupun bawaan.
  • Berkaitan dengan persiapan, tahukah teman-teman bahwa hampir segala sesuatunya yang berkaitan dengan transportasi kini dapat disiapkan terlebih dahulu via online? Seringkali ada cerita pengalaman travelling dimana si pelaku kehabisan tiket, ketinggalkan moda transportasi, dan sebagainya. Padahal semuanya itu dapat dihindari dengan melakukan perencanaan jadwal dan pemesanan tiket terlebih dahulu. Ini bukan soal tiket pesawat ya (kalo itu kan udah jelas), tapi tiket bis, kereta, kapal, van, dan sebagainya. Saya bahkan telah membooking tuk-tuk untuk tour Angkor Wat terlebih dahulu sejak 2 minggu sebelum berangkat. Dengan melakukan pemesanan tiket transportasi di awal, kita bisa mengatur jadwal kita dengan lebih akurat, sehingga tidak membuang-buang waktu hanya karena kehabisan tiket dan sejenisnya.
  • Yang ini mungkin sudah banyak yang paham — sebaiknya-baiknya persiapan, tetap ada celah untuk kejadian-kejadian tak terduga. Ditelantarkan operator tur di pulau selama berjam-jam, sleeper train yang mogok di tengah jalan, ditinggal bis di imigrasi Thailand gara-gara sempat gak dibolehin lewat perbatasan, dan kunci motor tuk-tuk yang hilang adalah sebagian kecil dari kejadian-kejadian aneh yang saya alami selama perjalanan kemarin.
  • Salah satu dari persiapan saya yang kacau adalah soal budget. Hampir semua biaya tempat wisata dan tour yang informasinya saya dapatkan dari buku maupun blog lain tidak sesuai dengan harga di TKP. Untung dari awal memang saya sudah menyiapkan cadangan dana, sehingga tidak ada yang gagal dikunjungi karena dompet kosong. Tapi ya tetep bete juga jadinya karena harus keluar uang lebih. Moral of the story, jika ingin mengunjungi tempat wisata atau ikut tur, jangan bergantung pada informasi biaya di buku atau internet, dan sediakan dana ekstra.
  • Tidak semua gerai fastfood yang di Indonesia halal juga berlabel halal di negara lain. Hanya KFC (bukan promosi) sejauh ini yang saya ketahui memiliki label halal di banyak negara. Sayangnya, menu paket mereka biasanya disesuaikan dengan menu makan penduduk negara yang bersangkutan, sehingga belum tentu cocok dengan kebiasaan kita. Untuk jenis paket yang sama misalnya, di Thailand tidak disertakan nasi, di Kamboja ada tambahan acar, dan di Malaysia ada semacam burrito bean.
  • FYI gaes, perjalanan ke luar negeri tidak semahal yang dibayangkan. Percaya gak kalau untuk trip kelima negara kemarin biaya yang saya keluarkan untuk transportasi (termasuk tiket pesawat non-promo dan transport antar kota) dan penginapan (tipe single room, bukan dorm) hanya 3 juta-an? Faktanya demikian 🙂

Cerita lebih detil tentang pengalaman travelling saya akan dituliskan dalam beberapa hari ke depan (sembari nyicil review-review komik yang terlewat dan sinopsis/review serial Dragon Ball Super). Semoga nanti bisa bermanfaat buat teman-teman yang ingin melakukan perjalanan dengan rute yang mirip 🙂

Tema artikel yang berhubungan: ,

Reply